Inspirasi

Inspirasi
Telat


__ADS_3

Tanpa sadar, tempat sampah Dewi sudah penuh dengan kertas warna-warni berisi sketsa lagu yang dianggap kurang pas untuk dijadikan lagu barunya. Ketika Dewi melihat kearah jam, betapa terkejutnya ia karena jam sudah menunjukkan pukul 18.40 WIB dan Mawar sahabatnya tak kunjung datang, hingga membuat Dewi bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa Mawar belum datang? apakah ia tidak jadi datang? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu pada dirinya. Dewi yang khawatir akhirnya memutuskan untuk menelepon Mawar, akan tetapi tak diangkat olehnya. Hal ini semakin membuat Dewi bertambah khawatir lalu mencoba menelepon Mawar lagi, tetapi kali ini bukan hanya tidak diangkat, smartphone-nya justru sedang tidak aktif. Dewi yang bingung dan juga khawatir bangun dari kursi belajarnya lalu berjalan mondar-mandir dari sudut kamar ke pintu kamar, dari pintu kamar ke sudut kamar, dan begitu seterusnya sambil berbicara sendiri, “ Kalau telat biasanya dia gak pernah selama ini, duh gimana nih? Malah smartphone-nya gak aktif pula. Apa aku nyusul ke rumahnya aja? Tapi kalau aku ke rumahnya terus dia tiba disini gimana dong? Yang ada malah selisih di jalan nanti. Oh iya, aku telepon mamanya Mawar aja siapa tahu diangkat.” Dewi menelepon mamanya Mawar akan tetapi sama saja dengan putrinya, mamanya juga tidak mengangkat telepon dari Dewi. Saat Dewi masih mondar-mandir di kamarnya, lebih tepatnya saat membelakangi pintu kamar, tiba-tiba Mawar muncul dan mengejutkan Dewi dari belakang “Darr…” Entah bagaimana perasaan Dewi saat itu karena ia sangat terkejut, marah, bete dan sebal yang membuatnya seakan-akan seperti bom yang akan meledak saja. Tapi tiba-tiba ekspresi itu berubah menjadi sebuah senyuman manis yang membuat Mawar yang tadinya takut akan diomeli oleh Dewi, menjadi heran dan bertanya pada Dewi yang setahunya sangat-sangat cerewet sekali. “Dewi, loe kenapa senyum-senyum sendiri? Udah gila ya?” Mawar berkata dengan santainya sambil tertawa seakan-akan tidak ada yang terjadi. Dewi yang masih tersenyum kemudian berkata “ Mawar, coba loe lihat disitu jam berapa sekarang?” “Jaamm 7 Dew.” Jawab Mawar dengan sedikit takut. “Eh, kok jam 7 sih? Ini kan masih jam 5? Iya kan Mawar?” Tanya Dewi dengan sangat manis hingga membuat Mawar menjadi lebih takut lagi dan tidak berani menjawab, tapi Dewi berkata lagi pada Mawar “ Ya ampun… pasti jamnya sudah rusak deh, atau mungkin baterainya habis. Iya kan Mawar? Coba gue liat dulu jam di smartphone gue.” Dewi membuka kunci layar smartphone-nya yang masih dipegang erat olehnya untuk menelepon Mawar dan mamanya Mawar tadi. Kemudian Dewi melihat jam disana yang menunjukkan pukul 19.02 dan berkata “Mawar, sepertinya jam di smartphone gue juga sudah rusak. Bagaimana ini? Kamu kan tidak pernah terlambat, lagipula kamu kan orangnya selalu on time.” Mawar yang mulai takut melihat sikap temannya ini mulai berusaha untuk menjelaskan kejadian yang membuatnya terlambat datang ke rumah Dewi. "Dewi, tadi itu sebenarnya gue gak bermaksud datang terlambat…” “ Terlambat ???” Dewi memotong pembicaraan Mawar sambil berdiri membelakanginya dan berjalan menuju kursi belajarnya. “Elo gak telat kok, ini masih jam 5 sore. Jam di rumah ini semuanya sudah rusak jadi pada kelewatan semua.” Kata Dewi sambil duduk di kursi belajarnya tanpa melihat wajah Mawar yang mulai terlihat kesal dengan semua sikap Dewi yang seperti kekanakan itu. Dengan memberanikan diri Mawar berusaha menjelaskan sekali lagi apa yang sebenarnya terjadi pada Dewi yang masih saja tak mau melihatnya. Mawar berjalan menghampiri Dewi dan berkata “Dew, gue bisa jelasin semuanya. Ini tuh gak seperti yang loe bayangin seb…” Dewi bangkit dari kursi belajarnya dan berdiri menghadap Mawar. “Udahlah Mawar, gak ada yang perlu loe jelasin karena memang gak ada yang perlu untuk dijelasin.” Mawar yang sudah muak melihat sikap Dewi masih terus berusaha meyakinkan Dewi jikalau dirinya tidak bersalah. “Loe itu harus tahu ini semua bukan kesalahan gue. Karena…” “Dua jam.” Dewi memotong perkataan Mawar dengan sambil menunjukkan mimik wajah yang sedang marah lalu mengacungkan jari kepada Mawar.” Loe itu gak tahu bagaimana keadaan gue saat ini. Bisa-bisanya loe telat sampai 2 jam kayak gini. Dan yang lebih parahnya lagi, loe itu gak ngangkat panggilan dari gue terus loe matiin smartphone loe. Gue tuh heran ya sama loe, tadi ngakunya mau bantuin gue, tapi sikapnya kayak gini. Huuuhh….” Dewi menghela napas dari mulutnya lalu menatap mata Mawar dengan tajam dan berkata, “Loe itu sebenarnya niat gak sih mau bantuin gue?” tanpa mau mendengar jawaban dari Mawar Dewi langsung berbalik dan kembali duduk di kursi belajarnya, sedangkan Mawar yang sudah putus asa melihat sikap Dewi yang keras kepala dan susah untuk dibuat mengerti duduk di tempat tidur dan menundukkan kepala karena tak habis pikir melihat tingkah laku temannya yang sangat aneh ini. Memang Dewi adalah anak yang baik, ramah dan juga sopan. Namun Dewi memiliki 1 masalah yang sampai kini belum bisa teratasi, dia tidak bisa mengendalikan emosinya saat sedang marah, sedih maupun tertekan. Mawar yang sudah mengerti dengan semua sikap Dewi hanya bisa duduk dan menunggu sampai kemarahan Dewi sedikit mereda. Dari tempat tidur Mawar dapat melihat betapa gelisahnya Dewi yang kemudian berdiri dan menghampiri Mawar dengan mimik wajah yang sudah tidak kelihatan terlalu marah seperti tadi. Dewi yang ingin tahu kejadian apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Mawar terlambat selama 2 jam bertanya pada Mawar sambil menaikkan alis kirinya dan menatap Mawar dengan serius. “Coba sekarang loe jelasin apa yang membuat loe telat selama 2 jam gini.” “ Buat apa gue jelasin? Lagian kejadiannya udah lewat. Dan lagipula, memangnya loe peduli sama penjelasan gue?” Jawab Mawar yang sepertinya mulai terlihat marah seperti apa yang dirasakan Dewi tadi. Mendengar jawaban Mawar yang seperti itu, Dewi pun terdiam sejenak, lalu tiba-tiba berkata “Oh yaudah kalau loe gak mau cerita.” Kemudian Dewi kembali duduk di kursi belajarnya seakan-akan tidak terjadi apa-apa di ruangan yang berwarna hijau muda itu. Memang seperti itulah sifat Dewi, dia tidak pernah mau mengalah dan hanya mau menang sendiri. Terkadang untuk menutupi perasaan dan kemarahannya ia bersikap seakan-akan tidak ada yang terjadi dan tidak peduli pada orang lain, walaupun sebenarnya ia sangat peduli. Mawar yang tadinya berpikir kalau Dewi akan membujuknya karena rasa penasarannya ternyata benar-benar tidak mempedulikannya. Alhasil, Mawar yang mulai merasa tidak nyaman dengan semua ini akhirnya menghampiri Dewi sekali lagi dan meminta maaf atas perlakuan dan perkataanya tadi terhadap Dewi. “Dew, gue minta maaf karena gue udah telat selama 2 jam. Sebenarnya jam setengah 5 tadi gue tuh udah mau berangkat ke rumah loe, tapi mama gue nyuruh bantuin dia untuk nganterin pesanan katering diet mayonya ke rumah tante sherly. Loe kan tau rumahnya tante sherly itu jauh, lagipula jalanan disana itu macet banget gara-gara ada yang kecelakaan. Awalnya gue juga udah nolak mama karena gak mau ngecewain loe, tapi berhubung mama mau pergi ke arisan dan maksain banget kehendaknya, ya gue jadi gak bisa nolak. Loe kan juga tau kalau gue nolak mama gue bisa-bisa dunia bakalan kiamat gara-gara gak sanggup dengar omelannya.” Jelas Mawar panjang lebar pada Dewi yang walaupun tak melihat wajah Mawar tetapi mendengarkan semua yang Mawar jelaskan. Memang benar jika Mawar berasal dari keluarga yang cukup kaya karena papanya merupakan pemilik perusahaan yang bermitra dengan perusahaan papanya Dewi. Akan tetapi, mamanya Mawar sangat aktif dengan kegiatan-kegiatan sosial apalagi jika menyangkut dengan kesehatan. Hal itulah yang mendorongnya menjadi pengusaha katering diet mayo yang sehat untuk tubuh. Bukan untuk uang, tetapi untuk bisa bersosialisasi dengan masyarakat luas mengenai pentingnya kesehatan bagi setiap makhluk hidup. Biasanya, uang hasil penjualan kateringnya akan disumbangkan ke panti asuhan ataupun organisasi-organisasi kesehatan masyarakat lingkungan sekitar perumahan tempat Mawar tinggal. Mamanya juga cukup aktif dalam media sosial untuk memberikan informasi-informasi mengenai pentingnya kesehatan serta memberikan tips-tips kesehatan dan kecantikan ala mamanya Mawar yang bernama Rosalinda. Setelah mendengar penjelasan dari Mawar, ternyata Dewi masih belum puas juga dan langsung bertanya pada Mawar. “Kalau memang begitu kejadiannya, kenapa loe gak bisa ngubungin gue dan bilang kalau loe bakalan telat? Terus kenapa pas gue nelpon loe tolak dan kedua kalinya gue nelpon smartphone-nya loe matiin? Loe tau, gue tuh benar-benar khawatir sampai-sampai gue nelpon tante Rosa. Tapi sama aja sama loe, panggilan gue juga gak dijawab.” “ Duuh, kan gue udah bilang kalau mama gue tuh lagi arisan, jadi gak mungkinlah mama gue angkat telpon dari loe. Kan smartphone-nya selalu dimatiin kalau lagi arisan.dan kalau masalah hp gue, sebenarnya tadi tuh gue lupa nge-charge, jadi baterainya tinggal 5 % pas loe nelpon, gue takut baterainya habis total jadi gue tolak panggilan loe. Eh gak taunya pas loe nelpon gue kedua kalinya smartphone-nya langsung mati. Nih buktinya kalau gak percaya.” Kata Mawar sambil menunjukkan smartphone-nya yang sudah mati pada Dewi. “Yaudah charge dulu sana, siapa tahu tadi ada telepon penting yang gak loe angkat gara-gara smartphone loe yang mati.” Kata Dewi sambil menunjukkan jari telujuknya ke arah charger-nya yang memang sama jenis dengan milik Mawar. “Yeee… peduli banget loe sama gue?” Ejek Mawar sambil senyum-senyum. Dewi membalas ejekan Mawar dengan berkata “Ihh.. PD banget loe. Gue tuh peduli sama smartphone loe, bukan elo.” “Udah ngaku aja, tadi aja loe bilang kalau loe itu khawatir sama gue. Berarti kan loe itu peduli sama gue.” Ejek Mawar lagi yang langsung dibalas oleh Dewi “Iya, gue memang peduli sama orang yang gak pernah peduli sama gue.” Lalu Dewi bangun dari kursi belajarnya dan berjalan melewati Mawar menuju tempat tidur lalu duduk diatasnya sambil menunggu reaksi apa yang akan diberikan oleh Mawar. Mawar berjalan menghampiri Dewi dan duduk juga di tempat tidur sambil berusaha membujuk Dewi agar tidak ngambek lagi. “Jangan ngambek dong Dew, kan gue udah ngejelasin semuanya sejujur-jujurnya. Kok kamu masih marah juga sih? Apa jangan-jangan loe kesambet setan ya makanya marah-marah mulu?” Ejek Mawar. “Gue tuh gak ngambek ataupun marah sama loe, tapi gue akan lakuin itu karena sampai sekarang loe masih belum nge-charge juga.” Kata Dewi sambil menaikkan alis sebelah kirinya yang dibalas senyuman oleh Mawar pertanda bahwa pertengkaran diantara mereka yang sudah berakhir. “Iya deh ini gue mau nge-charge dulu.” Mawar bangkit dari tempat tidur dan mengambil charger Dewi di meja belajarnya kemudian men-charge smartphone-nya lalu melihat ke arah Dewi dan berkata “Udah puas belum? Huuh…ngeselin banget sih loe.” “Hehehe… Lain kali jangan telat lagi ya. Karena kalau loe samapai telat lagi gue gak bakalan maafin loe ataupun mendengar alasan apapun. O iya gue tuh belum puas loh.” Kata Dewi . “ Kenapa?” Tanya Mawar heran sambil kembali duduk di tempat tidur Dewi. “Kan loe belum meriksa panggilan tak terjawabnya.” Kata Dewi. “Ngapain? Yang ada hanya panggilan loe yang tadi doang.” Jawab Mawar dengan mudahnya seakan-akan sudah melihat isi dari catatan panggilan milik Mawar. “Tu kan, mulai lagi deh malasnya. Bilang aja kalau loe malas bangun buat ngecek. Gak usah banyak alasan deh, gue tau kok kalau loe belum ngecek smartphone loe. Loe kan selalu ngebantah orang. Ya udah deh biar gue yang meriksa.” Kata Dewi dengan kesal sambil berdiri lalu berjalan menuju meja belajarnya dan memeriksa smartphone Mawar apakah ada panggilan tak terjawab di smartphone Mawar. Ternyata ada 2 panggilan tak terjawab dari Dewi dan 1 panggilan tak terjawab dari mamanya Mawar. “Mawar, ada 1 panggilan tak terjawab dari mama loe. Coba aja loe telepon dulu, siapa tau ada yang penting.” Kata Dewi sambil duduk di kursi belajarnya. “Gak ah, nanti aja gue males banget nih bangun duduk terus.” Kata Mawar dengan nada malasnya. Dewi yang mengerti semua sifat Mawar ini tersenyum dan berkata “Hmm… ok lah kalau memang itu mau loe gue gak peduli, tapi jangan salahkan gue kalau gue benar-benar marah sama loe. Dewi mengambil pulpennya dan kertasnya sambil menunggu temannya bangkit dari kemalasannya itu. “Iya gue telepon, tapi liat aja kalau sampai ini gak penting. Entar gue yang akan berbalik marah sama loe.” Kata mawar sambil bangkit dari tempat tidur dan mengambil smartphone-nya yang masih tersambung di charger lalu menelepon mamanya. Sementara Dewi hanya bisa mendengar suara Mawar saja karena Mawar tidak membuka loudspeaker di smartphone-nya “Halo Ma, tadi kok nelepon Mawar? Sorry gak diangkat ma, soalnya baterai smartphone Mawar habis, ini baru di charge di rumah Dewi. Iya Ma, udah kok. Dari jam 7 sore tadi. Oh yaudah ya Ma, Mawar tutup dulu teleponnya.” “Gimana? Ada yang penting gak? Gue bilang juga apa. Elo sih malas banget tinggal nelepon doang aja susah banget.” Kata Dewi menceramahi Mawar yang terlihat kesal. “Penting apaan? Mama tuh nelpon gue gara-gara ngelihat panggilan tak terjawab dari loe. Mama pikir gue yang nelepon dari smartphone loe. Elo sih, bandel dibilangin. Kalau Mama gue nelepon itu pasti bukan hal yang penting. Apalagi hanya sekali doang” Mawar berbalik menceramahi Dewi. “Iya deh. Tapi gue juga gak salah loh, bisa aja kan tiba-tiba ada sesuatu yang penting makanya Tante Rosa nelepon.” Dewi membela dirinya agar tidak disalahkan oleh Mawar. “Kalau ada yang penting, pasti Mama gue tuh gak mungkin nelepon sekali, tapi 10 kali bila perlu.” Jelas Mawar. “ Eh. Gue baru ingat, bukannya loe itu gak punya pulsa ya? Tadi siang kan loe nyeramahi gue gara-gara gak nelepon doang.” Tanya Dewi yang bermaksud mengejek Mawar “Emangnya loe kira gue tuh gak bisa ngisi pulsa apa? Hello… jaman sekarang kalau gak punya pulsa gak bakalan eksis kayak gue kalee, termasuk loe.” Jawab Mawar dengan penuh gaya seperti anak alay. Dewi langsung berkata “Eleh baru ngisi pulsa sekali doang udah sombong, itu pun diisiin sama Tomi. Kayak gue dong selalu punya pulsa.” “Tapi gak punya cowok.Hahaha…” Potong Mawar. “Biarin. Wek.” Ejek Dewi. Sambil membuka buku kosong untuk membuat sketsa lagu barunya. Karena heran mellihat Dewi, Mawar pun langsung bertanya “O iya Dew, loe ngapain megang buku sama pulpen, kita ada PR ya? Kok loe gak bilang-bilang sih? Atau jangan-jangan loe manggil gue kesini untuk ngerjai PR bareng ya? Tapi kan…” “Sttt…” Dewi mengangkat tangannya dan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya bermaksud agar Mawar bisa segera diam. Kemudian Dewi berkata “Kita gak ada PR kok. Lagian kalaupun ada PR, gue gak akan manggil loe untuk ngerjain bareng, karena pasti loe hanya mau nerima bersih aja.” “Terus kalau begitu, loe manggil gue kemari buat apa dong?” Tanya Mawar yang terlihat heran saat itu, sementara Dewi tersenyum melihat mimik wajah Mawar yang lucu ketika merasa heran dan bingung. “Loe kok malah senyum sih, jelasin dong kenapa.” Kata Mawar. “Iya-iya, tenang aja nih gue mau jelasin kok.


__ADS_2