
Caca Meilani. Seorang remaja yang berumur 18 tahun, yang masih duduk di bangku SMA kelas 12. Sosok gadis yang tomboy dengan sikapnya yang selalu menjadi berandal.
Telat sekolah, tidak mengerjakan pr, bolos sekolah dan masih banyak lagi. Caca, gadis bad girl. Julukan yang sangat cocok untuk Caca.
Ya walaupun seperti itu, namun Caca memiliki nilai yang bagus di bidang seni. Gadis tomboy itu memiliki jiwa kesenian, dan pintar dalam menggambar segala hal.
Satu fakta lagi, gadis seperti Caca itu sangat menyukai buku komik. Dengan konsep yang dimiliki oleh komik membuat gadis seperti Caca tertarik dengan hal itu.
Buku komik yang terdiri dari kop yaitu judul, serta terdiri beberapa panel yang menampilkan sebuah ilustrasi atau gambar yang menceritakan cerita itu. Dengan sebuah balon kata di setiap beberapa bagian, semakin memperjelas kesan ceria itu. Serta parit, yang menjadi pemisah antara panel satu dengan panel lain.
Caca yang notabenenya gadis penyuka seni, pasti tertarik dengan hal-hal seperti itu.
“Eh Ca, gue punya komik edisi terbaru loh. Cerita nya tuh, buehhhhh. Di jamin deh, lo pasti akan mencak-mencak” ucap Citra disertai kekehan di akhir kalimat.
“Elleh, mana bukunya?” tanya Caca dengan tangan yang disodorkan meminta buku itu.
“Nih” ucap Citra sembari memberikan buku komik ke Caca.
“Sang tiri pemenangnya” gumam Caca saat ia melihat cover buku komik itu.
“Kayaknya menarik, nanti akan gue baca. Thanks” ucap Caca dengan mulut yang memakan permen kaki.
__ADS_1
“Yoi lah” jawab Citra.
Bel sekolah pun berbunyi, menandakan bahwa pelajaran telah selesai. Semua siswa pun segera berhamburan keluar dari gedung bernama SMA Nusa Bangsa.
---
Caca segera merebahkan diri disaat ia sudah berada di kamar bernuansa hitam abu-abu. Dengan malas Caca segera mengambil buku komik yang diberikan oleh Citra tadinya.
Walau demikian, Caca tetap saja tertarik dengan komik itu. Matanya segera meneliti setiap halaman buku komik itu.
“Ayolah Vei, cara mu masih kurang kejam untuk menghukum Fuyi. Kalo gue jadi Lo, gue bakal kasih hukuman lebih berat” sentak Caca, dengan seringainya. Caca memang pecinta tokoh antagonis, mengingat sifatnya sendiri yang minus akhlak.
‘Sang Tiri Pemenangnya’ sebuah komik edisi terbaru yang lagi populer. Komik itu menceritakan sosok Fuyi Trisha Geoursa, keturunan dari Archi Geoursa dan Trisya. Namun karena Trisya yang memiliki sebuah penyakit membuat ibu kandung Fuyi itu pergi terlebih dahulu.
Namun berbeda disaat Archi sedang bekerja di sebuah tambang. Sikap Deshi dan Vei akan berubah 180° terhadap Fuyi. Mereka akan selalu menyuruh ini itu terhadap Fuyi, mengerjakan semua pekerjaan rumah, menyiapkan makanan, mencuci baju, dan masih banyak lagi.
Tak jarang di saat Fuyi tak sengaja membuat sedikit kesalahan seperti, kurang bersih dalam membersihkan rumah ataupun mencuci baju. Tak segan-segan Deshi dan Vei menyiksa Fuyi di gudang dengan cambuk besar, yang selalu melayang di tubuh Fuyi.
Fuyi pernah mengadu perbuatan ibu dan anak itu kepada Archi. Namun apa yang ia dapat? Bukan pembelaan namun Archi malah menganggap bahwa Fuyi hanya mengarang cerita dan menjelekkan ibu serta kakak tirinya itu. Archi pun marah besar dan menyiksa Fuyi lebih sadis daripada Deshi dan Vei. Fuyi hanya bisa pasrah dengan nasibnya.
Disisi lain, saat Fuyi di sekolah pun ia selalu mendapat perundungan dari tiga gadis pembuli. Vei, Naomi, dan Zesina. Tiga gadis yang selalu membuat Fuyi menjadi sasaran buli mereka. Terkadang Fuyi mendapat bantuan dan pembelaan dari Ersha dan Ardan disaat ia mengalami perundungan.
__ADS_1
Ersha Fersies, anak dari kolongmerat nomor empat di ibukota Cerdhies. Ersha memang memiliki perasaan kepada Fuyi, namun apa daya? Fuyi seorang gadis polos yang tak mengerti tentang cinta.
Ardan Werneos, anak dari kolongmerat nomor tiga di ibukota saat itu. Ia yang memang memiliki sifat yang baik selalu mambantu semua orang termasuk Fuyi.
Dengan adanya Ersha dan Ardan yang selalu di pihak Fuyi, membuat Vei, Naomi, dan Zesina pun semakin membenci Fuyi. Mereka semakin gencar untuk selalu menyiksa Fuyi.
Karena Naomi yang notabenenya menyukai Ersha, gadis itu sangat mendambakan sosok Ersha. Serta Zesina gadis itu menyukai sosok Ardan, kedua gadis itu semakin benci saat kedua lelaki pujaan mereka berpihak pada musuh mereka.
Berbeda dengan Vei, gadis itu menyukai seorang Juleo Dernez. Juleo anak dari kolongmerat nomor dua di ibukota Cerdhies. Namun degan sikap Juleo yang selalu cuek dan acuh kepada sekitar, tak ada yang bisa mendekatinya.
Hingga di saat mereka semua melakukan ujian untuk kelulusan mereka di sekolah menengah atas ini. Fuyi yang mendapat hasil memuaskan dengan nilai tertinggi, membuat Vei membenci Fuyi. Vei sudah mengancam Fuyi untuk merendahkan nilainya, namun Fuyi sudah tak mendengarnya.
Dan Fuyi pun diluluskan sebagai siswa terbaik. Namun naas, di saat hari kelulusan Vei memfitnah Fuyi didepan semua orang yang hadir di hari itu. Memfitnah Fuyi, bahwa Fuyi telah mencuri kertas jawaban ujian itu. Dengan bukti palsu yang Vei punya, semua orang pun mempercayai ucapan Vei termasuk Ersha dan Ardan.
Dan semua orang pun memberikan hukuman Fuyi dengan 100 kali di cambuk, setelah itu baru di tembak mati dengan sebuah anak panah. Fuyi pun hanya bisa meratapi nasibnya, akhirnya ia mati dengan sadis. Dan Vei lah pemenangnya.
“Beuhhhh, seru bener komik ini. Ck,ck,ck kalo gue yang jadi Vei terus gue bakal siksa si Fuyi habis-habisan, bakal kek gimana ya nasibnya?” Caca bermonolog sendiri. Dirinya membayangkan bagaimana jika ia menjadi tokoh antagonis di buku komik ‘Sang Tiri Pemenangnya’.
Caca adalah gadis yang punya tipikal lain dari para gadis umumnya. Ia sangat menyukai semua yang bernama seni, serta ia tertarik dengan tokoh antagonis. Seorang tokoh yang memiliki karakter buruk, namun Caca menilai bahwa tokoh antagonis lebih memiliki sebuah seni.
Dibandingkan tokoh protagonis, menurut Caca tokoh protagonis sama sekali tidak memiliki ketertarikan, hanya monoton. Langka sekali.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=