
Fuyi berjalan dengan jalanan yang sangat rapi dan bersih, jalanan dengan tatanan batu persegi tertata rapi di jalanan. Semua bangunan terlihat sangat fantasi, dengan model dua lantai serta dindingnya yang agak mengerucut. Serta berbagai tanaman yang beragam macam serta warna
Namun pikiran Fuyi masih bertarung, Fuyi mencoba mengingat apa yang akan terjadi di waktu berikutnya.
“Seharusnya di buku komik itu Fuyi ditampar oleh Vei dan mendapat berbagai hinaan dari para siswa. Namun aku Caca Meilani, sudah merubah alur itu. Hohoho” monolog Fuyi sembari terus berjalan diiringi tawa kecil.
Fuyi telah sampai di sebuah rumah dengan model yang sama seperti rumah lainnya. Rumah ini terbilang rumah yang memiliki kelas menengah ke atas, tidak terlalu mewah namun cukup bagus.
“Dasar anak tidak tahu di untung!” seru seorang wanita paruh baya, dengan menggunakan pakaian terusan bewarna merah maroon terlihat lebih indah dan elegan. Baju itu tak sebanding dengan milik Fuyi tentunya.
Fuyi menghentikan langkah kakinya, ia pun lantas menatap wanita itu. Ia pun langsung tahu bahwa wanita itu adalah Deshi Syulan, ibu tirinya.
“Berani sekali kau menghina Vei di depan umum! Dimana letak kasih sayang mu terhadap kakakmu hah?!” Deshi lantas berdiri dengan emosi yang sudah memuncak, dengan Vei yang sedari tadi berdiri di samping Deshi, tersenyum dengan penuh kemenangan.
“Kasih sayang?” ucap Fuyi, mengucapkan salah satu kata yang tercantum di ucapan Deshi.
“Aku punya kasih sayang untuk kakakku di dalam hati Bu, lalu apakah kalian berdua juga mempunyai kasih sayang kepadaku?” tanya Fuyi. Ia akan meninggikan posisinya, Fuyi tidak mau selalu berada di bawah kehendak para tiri antagonis itu.
“Cih, kasih sayang kepadamu? Buat kami berdua memberikan mu kasih sayang kalau dirimu sendiri menghina ku di depan umum?!” seru Vei dengan emosi.
“Hohoho, baiklah-baiklah. Aku akan beri kalian kasih sayang” ucap Fuyi di selingi dengan kekehan.
“Kami tidak butuh kasih sayang mu wahai budak” sinis Deshi, bibirnya yang merah akan lipstik itu menyeringai.
“Iya kah? Kalau begitu mari kita buktikan mana yang budak dan mana yang ratu” ucap Fuyi sembari tersenyum smrik.
“Seret dia!” titah Deshi kepada para pelayan laki-laki. Kini para pelayan itu menyeret Fuyi dan membawanya ke sebuah ruangan yang gelap dan kotor, gudang.
__ADS_1
“Cih” decih Fuyi dalam hati.
“Jangan lepaskan anak sialan itu!” titah Deshi kepada dua pelayan itu.
Kedua pelayan itu pun mengikat kedua tangan dan kaki Fuyi menggunakan tali dengan kencang dan mendudukkan nya di sebuah kursi. Kini Fuyi tidak bisa bergerak dengan leluasa.
“Sekarang rasakan pembalasan atas semua yang kau perbuat kepada putriku!” sentak Deshi di depan Fuyi.
Kedua mata Fuyi tak menyiratkan apapun, wajahnya datar dan tatapannya menjadi tajam, menatap Deshi dengan dingin. Kini Deshi telah membawa sebuah cambuk, siap melayangkan ke tubuh Fuyi.
“Siksa lah aku sesuka hatimu! Aku ingin merasakan sampai mana kau akan menyiksa anak dari Archi ini, suamimu!”
“Hanya sebuah harta yang kau inginkan! Cih, matre!” lanjut Fuyi sembari menatap Deshi dengan rendah.
“Apa kau bilang? Matre? Kata-kata macam apa itu?! Dasar bocah gila!” sentak Deshi sembari diselingi kekehan.
Fuyi tersadar bahwa di dunia ini tidak ada yang mengetahui kosa kata di dunia nyatanya. Di dunia fantasi ini semua berbahasa baku, walaupun itu hanya sebatas sapaan.
Cambuk itu melayang mengenai tubuh Fuyi. Semakin lama cambuk itu semakin candu untuk menampar semua tubuh Fuyi, sudah terlihat memar dan lecet di sekitar tubuhnya.
Fuyi hanya menampakkan ekspresi sinis, untuk kali ini Fuyi tidak akan melawan tokoh antagonis itu. Namun, di hari berikutnya Fuyi akan menentang semua tokoh antagonis itu.
“Ambilkan pedang!” titah Deshi. Dan salah satu pelayan tadi mengambilkan sebuah pedang yang tajam dengan ukuran sedang.
“Kau akan menikmatinya dasar anak sialan! Rasakan semua ini dengan bahagia! Hohoho” sarkas Deshi dengan pedang yang ia mainkan di tangan nya.
“Cih, kau akan menanggung dosa mu sendiri wahai wanita busuk!” sentak Fuyi dengan peluh yang sudah mengalir di pelipisnya.
__ADS_1
“Apa kau bilang?! Rasakan ini!!” ucap Deshi dengan emosi yang sudah tak bisa lagi di bendung.
Syattt
Pedang tajam itu menggores pipi tepat di bawah mata bagian kiri. Darah segar mulai bercucuran hingga menetes mengenai baju lusuh milik Fuyi.
Fuyi mati-matian menahan rasa sakit yang ia rasakan. Ini baru saja sebuah goresan namun lumayan dalam, rasanya sudah sakit. Fuyi ingat bagaimana ia menyiksa Tio saat ia masih berada di dunia nyata, pasti itu sangat menyakitkan.
‘Sekarang gue ngerti gimana sakitnya goresan pisau. Gue minta maaf sama Lo Tio, maafin gue. Ini bener-bener sakit’ ucap Fuyi dalam hati.
“Hohoho pasti sangat sakit. Kasihan sekali kau!” ejek Deshi sembari menampar pipi Fuyi yang baru saja ia sayat.
Kepala Fuyi menoleh ke kanan seiring dengan tamparan itu. Tanpa sengaja ia melihat sosok Vei tak jauh dari sana. Terlihat sunggingan senyum kepuasan terpampang jelas di wajah Vei. Dan Fuyi pun hanya berdecih, membenci semua karakter di dunia ini.
Tak sampai disitu, Deshi masih saja menyiksa Fuyi hingga hari sudah petang berganti kan sebuah bulan yang menerangi dunia itu.
“Shh, ini sakit sekali..” erang Fuyi.
Kini Fuyi telah berada di dalam kamar kecilnya, ia mengompres semua luka memar yang ia dapat menggunakan handuk serta air hangat. Terlihat bekas luka sayatan di bawah matanya terlihat menganga lebar.
“Gue bener-bener nyesel udah nyiksa Tio waktu itu. Gini aja gue udah kesakitan, apa lagi kalo di congkel tuh mata”
“Gue bener-bener minta maaf, maafin gue Tio. Semoga Lo disana bisa bahagia lagi tanpa gue” lanjut Fuyi sembari menitikkan air matanya.
“Aduh kenapa jadi melow gini sih?! Gimana ya sama tubuh gue di dunia nyata, udah mati kali ya?” Fuyi bermonolog sendiri untuk menghilangkan kebosanan serta kesepiannya.
__ADS_1
Fuyi segera membaringkan tubuhnya pada kasur lusuh yang dimilikinya. Ia menatap langit-langit ruangan itu, “waktunya tidur, mari mulai kehidupan baru untuk besok” ucap Fuyi, perlahan kedua kelopak mata milik Fuyi pun terpejam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=