ISEKAI Antagonis Jadi Protagonis?

ISEKAI Antagonis Jadi Protagonis?
17| Kontrakan


__ADS_3

“Aku mau kau menjadi kekasihku!” seru Juleo dengan terisak.


Fuyi terjingkit kaget mendengar penuturan Juleo yang menurutnya sangat konyol. Bagaimana mungkin Juleo yang selalu mengusik bahkan selalu merendahkan nya meminta dirinya menjadi kekasihnya? Sangat konyol!


“Kau ini pasti melindur, hahaha.” ucap Fuyi dengan kekehan di akhir kalimat.


“Aku tidak melindur gadis bodohhh, aku ingin kau menjadi kekasihku hari ini juga! Kau hanya milikku!” seru Juleo dengan kepala yang ia tubruk kan pada dada Fuyi.


“Aku hanya ingin kau menjadi kekasihku, aku selalu tersakiti saat aku menyakitimu. Aku tidak rela kau selalu berdekatan dengan lelaki merah itu!” lanjut Juleo dengan wajah yang sudah terbenam di dada Fuyi.


“Kau ini kenapa?!! Dulu kau selalu merendahkan ku dan selalu membullyku, lalu sekarang kau memohon agar aku mau menjadi kekasihmu?!” tanya Fuyi tak habis pikir dengan kelakuan Juleo.


“Aku mohon, aku bersikap seperti itu karena aku tak menyadari perasaan ini. Sekarang aku tahu bahwa perasaan ini adalah rasa cinta padamu.” jawab Juleo dengan sesegukan.


“Kau pandai sekali berbohong, kau memang pantas menjadi aktris” ucap Fuyi dengan bola mata memutar ke atas.


“Sungguh aku tidak berbohong, aku mohon kau harus menjadi kekasihku saat ini juga sampai kita mati nanti!”


“Dan mulai saat ini kau menjadi kekasihku, kau hanya milikku, milik ku seorang!” ucap Juleo dengan nada tak ingin di bantah.


“Kau ini! Sudahlah aku mau pulang.” ucap Fuyi sembari melepaskan tangan Juleo yang melingkar di perut nya.


“Ayo aku antar.” ucap Juleo dengan mata yang masih merah serta hidung yang merah.


“Lebih baik kau pulang saja, pikirkan perkataan mu barusan. Kau pasti sedang bermimpi dan melindur.” titah Fuyi, ia pun segera pergi meninggalkan tempat dimana ia bekerja.


 


Pagi cerah telah tiba, hari ini Fuyi sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Kini dirinya dan Krish sudah mendapat tempat tinggal di sebuah rumah kontrakan, sebelumnya hal tersebut belum pernah ada. Namun hal tersebut ada karena permohonan Fuyi.


Flashback on


“Nyonya bisakah kau memberikan rumah itu kepada kami dengan janjian kontak, setiap bulan kami akan membayar uang kontrak tersebut kepada anda.” ucap Fuyi dengan memohon.

__ADS_1


“Kontrak?” gumam nyonya pemilik rumah dan Krish.


“Maksudmu bagaimana?” tanya nyonya itu.


“Karena rumah itu kosong, dibandingkan kosong tak terawat biarkan kami tinggal di rumah milik nyonya itu. Kami akan merawat nya dengan baik, dengan nyonya yang belum rela jika memberikan rumah itu kepada kami berdua. Bagaimana jika kami mengontrak saja?” tanya Fuyi.


“Setiap bulan nya kami berdua akan membayar 50 koin perak, jika kami tidak bisa membayarnya maka kami akan angkat kaki dari rumah nyonya itu. Bagaimana?” lanjut Fuyi.


“Kau sangat cerdik, bagaimana kau bisa mendapat ide secerdik ini?” tanya nyonya tersebut, seketika raut wajah Fuyi mendadak tegang.


Bagaimana tidak? Hal tersebut sama sekali tidak berlaku dan sama sekali tidak ada di dunia ini. Tentu saja hal tersebut menyimpan sejuta pertanyaan bagi orang yang mendengarnya di dunia ini.


“Anu.. Aku mendapat ide ku sendiri, ya ideku sendiri. Karena aku dan kakak ku sedang tidak punya tempat tinggal jadinya aku membuat janji tersebut denganmu nyonya.” ucap Fuyi degan peluh panas dingin.


“Baiklah, baiklah. Aku izinkan kalian untuk tinggal di sini dengan janji yang telah kau buat.” ucap nyonya tersebut.


“Terima kasih banyak nyonya.” ucap Fuyi dan Krish secara bersamaan sembari membungkuk kan sedikit tubuh.


Ceklek


“Kau!” sentak Fuyi dengan kaget.


Bagaimana tidak? Baru saja ia membuka pintu rumahnya ia sudah mendapati Juleo sedang berdiri di depan pintu rumahnya.


“Akhirnya kau keluar juga, aku sudah lelah menunggu mu disini. Sedari tadi hanya berdiri, kaki sangat pegal.” ucap Juleo dengan nada memelas.


“Siapa yang menyuruh mu untuk berdiri disini? Kalau itu mah ulah mu sendiri ya obati sendiri kaki mu yang pegal itu!” seru Fuyi dengan nada tak peduli.


“Kenapa kau seperti ini? Kau sama sekali tidak kasihan kepadaku? Aku sudah menunggu bermenit-menit di sini, dan tidak ada rasa prihatin secuil pun?” tanya Juleo dengan nada tragisnya. Niat hati kau cari perhatian, yang di cari perhatian malah gak peka :D


“Siapa juga yang menyuruhmu untuk menunggu diriku disini bermenit-menit sambil berdiri? Bukan aku yang menyuruh mu, jadi itu sih derita mu sendiri.” ucap Fuyi dengan bola mata yang memutar ke atas.


Fuyi segera melangkah meninggalkan Juleo dengan wajah tragisnya. Tak lama Juleo segera mengejar langkah Fuyi.

__ADS_1


“Jika kau berbuat seperti ini lagi, aku akan menghukum mu!” seru Juleo dengan jari jakungnya yang ia taut kan dengan jari-jari lentik milik Fuyi.


“Maksudmu apa upil?!” tanya Fuyi dengan muka merah padam, ia pun seketika mengehentikan langkah kakinya.


“Apa kau bilang tadi? Upil?! Kau menganggap ku sebagai upil?” sarkas Juleo dengan nada tak terima.


“Ya pasti dong, karena kau itu hanya upil yang menempel di bawah meja. Nah sedangkan, Ersha adalah apel yang mengkilau berada di atas meja.” ucap Fuyi dengan wajah tersenyum-senyum membawanya wajah tampan milik Ersha.


Seluruh muka Juleo pun mendadak menjadi merah padam sampai dengan kedua telinganya. Yang benar saja dirinya yang tampan serta kaya anak kolongmerat nomor 2 di ibukota Cerdhies disamakan dengan sebuah upil. Sangat tidak etis, said Juleo.


“Tau lah, aku kesal karena kau menyamakan aku dengan Upil. Dan malah memuji si Ersha wajah panci, yang benar saja!” seru Juleo dengan marah.


Ia pun segera menghempaskan tangannya hingga tautan jarinya dengan Fuyi pun terlepas. Juleo pun segera pergi dari hadapan Fuyi, Fuyi yang melihat itupun bodo amat. Apa masalah nya? Memang nya itu masalah baginya? Tentu saja bukan.


“Ayolah hentikan langkahku!! Kenapa kau sama sekali tak menghentikan langkahku dasar gadis bodoh!” teriak Juleo dalam hatinya.


Hingga Juleo sampai di sekolah pun Fuyi bersikap biasa saja. Bahkan Fuyi kini sedang duduk berdua mengerjakan tugas kelompok bersama dengan Ersha.


Semakin membuat hati Juleo memanas. Dengan jahilnya tangan Ersha membenarkan poni Fuyi yang terbang terbawa angin. Dada Juleo tentu saja sudah bergemuruh.


“Aku tertawa melihat mu sekarang.” sindir Ardan yang sedari tadi memperhatikan Juleo. Dan Juleo pun hanya mengangkat alisnya, seolah bertanya kenapa.


“Kau dulu selalu menolak mentah-mentah bahwa kau menyukai gadis itu. Dan sekarang lihatlah dirimu sendiri, kau sangat menyukai gadis itu sampai-sampai harga dirimu sebagai pangeran kolongmerat terjatuh” cerocos Ardan dengan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Juleo.


“Kau sangat cantik...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tolong tinggalkan jejak dong


Biar ngeplat :)


Sayonara', arigato' yang udah setia baca dan tinggalin jejak 💫🤓

__ADS_1


__ADS_2