ISEKAI Antagonis Jadi Protagonis?

ISEKAI Antagonis Jadi Protagonis?
16| Berubah 180%


__ADS_3

Berhari-hari Fuyi jalani dengan bekerja paruh waktu di sebuah toko makan cepat saji, begitupun dengan Krish.


Berita menikahnya Deshi dan Simon sudah tersebar kemana-mana. Tentu saja nama Deshi dan Vei semakin naik daun, karena mereka sudah sah menjadi keluarga Barron.


Berbeda dengan anak kandung Simon, yaitu Krish. Lelaki itu memilih pergi meninggalkan rumah megahnya dan memilih hidup bersama Fuyi dengan bekerja di toko makan cepat saji.


“Antar ke meja nomor 13” titah Gea, kepala pelayan di toko ini.


Dengan cepat Fuyi mengantar pesanan tersebut ke meja nomor 13.


“Silahkan dinikmati tuan” saking fokusnya Fuyi sampai tak melihat ke arah pelanggan tersebut.


“Pindah profesi ya? Dulu pengemis sekarang pelayan, tcih” decih pelanggan nomor 13.


Seketika kepala Fuyi terangkat untuk melihat orang tersebut. Wajahnya memerah menahan amarah, bagaimana tidak? Ia bertemu lagi dengan seorang Juleo, orang yang selalu menganggu hidupnya.


“Saya permisi dulu tuan, silahkan di nikmati hidangannya.” ucap Fuyi mencoba untuk bersikap formal karena ia tahu bahwa ia sedang bekerja dan berada di tempat umum.


Fuyi segera pergi meninggalkan meja nomor 13 dimana Juleo sedang duduk di sana.


Tak lama setelah Fuyi pergi, Juleo mengangkat tangan nya menandakan bahwa ia memanggil salah satu pelayan.


Mau tak mau Fuyi menghampiri Juleo karena tak ada pelayan yang tengah lengah, toko ini sangat ramai dengan pengunjung.


“Maaf tuan, apa yang anda perlukan?” tanya Fuyi dengan sopan.


“Bisakah kau berikan aku jus lemon, hari ini cukup gerah.” ucap Juleo dengan terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


“Baiklah, mohon di tunggu tuan.” Fuyi segera pergi untuk membuatkan jus lemon.


‘Aku akan membuatmu kewalahan dasar gadis bodoh.’ batin Juleo dengan senyum smriknya.


Tak berselang lama, Fuyi datang membawa jus lemon yang Juleo pesan.


“Ini tuan, jus lemon anda.” ucap Fuyi sembari menaruh jus tersebut di atas meja.


“Terima kasih, pe-la-yan.” dengan sengaja Juleo menekan kata pelayan, dengan nada mengejek.

__ADS_1


Fuyi menggeram kesal, jari-jarinya mengerat pada genggaman nampan yang ia bawa. Ia mencoba manahan amarahnya.


“Baiklah tuan, kalau begitu saya permisi dulu.” belum sempat Fuyi pergi, namun Juleo sudah menarik gaun pelayan yang Fuyi kenakan.


“Ada apa lagi tuan?” tanya Fuyi dengan gigi yang sudah bergemulutuk.


“Apakah kau nanti ada waktu setelah bekerja?” tanya Juleo dengan tatapan sayu.


Sungguh aneh, tadi dirinya menatap Fuyi dengan tatapan sensi dan rendah. Namun sekarang Juleo menatap Fuyi dengan tatapan sayu dan merengek, seperti bayi merengek pada ibunya.


Lama terdiam Fuyi pun akhirnya tersadar, “kau ini kenapa? Berlagak seperti sedang galau, sudahlah aku bukan sandaran mu untuk pelampiasan kegalauan mu.” ucap Fuyi ia pun mencoba untuk segera pergi dari hadapan Juleo.


Fuyi pun akhirnya pergi dari hadapan Juleo dan kembali melanjutkan aktivitas nya di dapur.


 


Hari sudah sore, menunjukkan pukul 4. Senja sudah mulai terlihat, langit berubah menjadi warna oranye.


'Indahnya dunia komik' batin Fuyi dalam hati.


Dirinya bersiap untuk pulang, karena toko ini hanya buka sampai pukul 4 sore hari. Ia mengganti pakaiannya, dan bersiap untuk pulang.


Netra Fuyi menatap punggung seseorang dengan kepala yang di letakkan di atas meja. Sudah dipastikan bahwa orang itu sedang tertidur.


“Permisi tuan, toko ini akan segera di tutup. Anda bisa segera pergi dari sini, besok anda bisa datang lagi kesini.” ucap Fuyi dengan sopan berbicara di samping pria yang sedang menelungkup kan kepalanya di atas meja.


“Hiks, hiks” suara tangis sesegukan terdengar dari pria yang sedang menelungkup kan kepala itu, membuat Fuyi panik.


“Tuan kenapa tuan menangis?” tanya Fuyi, ia pun segera mengusap pundak pria itu yang bergetar.


Grepp


“Hiks hiks, gadis bodoh plis biarkan seperti ini sebentar. Aku sendiri tidak, hiks, tidak tau dengan diriku sendiri.” ucap pria itu sembari memeluk pinggang Fuyi dengan erat.


Fuyi terlonjak kaget saat pria itu memeluk nya. Namun Fuyi hafal dengan suara dan bagaimana julukan dirinya yaitu gadis bodoh. Itu adalah suara Juleo serta julukan nama dari Juleo, Fuyi memberikan sedikit waktu untuk Juleo yang memeluknya.


Fuyi menghela nafasnya kala sudah 2 menit Juleo memeluknya dengan erat, masih terdengar suara sesegukan nya serta tubuhnya masih bergetar. Baju Fuyi sudah terasa basah karena air mata Juleo.

__ADS_1


Fuyi mengajak Juleo untuk duduk di sebuah kursi panjang agar dirinya bisa duduk tanpa harus berdiri terus menerus.


Juleo mengikuti kemauan Fuyi dengan pelukan yang tak lepas, kini Juleo memeluk tubuh Fuyi sepenuh nya. Dengan kepala yang ia taruh di ceruk leher Fuyi.


“Kau ini kenapa jelek?!” tanya Fuyi dengan kesal.


“Jangan bilang kalau kau habis putus dengan kekasihmu, lalu kau mau aku menampung kesedihan mu?” tanya Fuyi dengan berbondong-bondong.


“Aku tidak mau menjadi penam-” belum selesai Fuyi menyelesaikan ucapannya, Juleo sudah menaruh jari telunjuk nya tepat di bibir tipis Fuyi.


“Biarkan aku seperti ini dulu.” ucap Juleo dengan mata yang berair serta memerah serta tatapan memohon kepada Fuyi.


Fuyi pun tak bisa melakukan apa, akhirnya ia pun memilih mengalah.


Juleo kembali memeluk tubuh Fuyi dengan lebih erat, serta wajah yang ia tenggelam kan di ceruk leher Fuyi. Ia menangis sesegukan dan sejadi-jadinya.


“Aku sendiri tidak tau dengan diriku, setiap melihat mu aku selalu ingin memelukmu, menggandeng mu. Rasanya hati ku hangat saat melihat wajahmu,” ucap Juleo dengan wajah yang masih menempel di leher jenjang Fuyi.


“Namun, aku tidak tau perasaan apa seperti ini. Aku selalu saja menindasmu, dan selalu mengejekmu. Namun ketahuilah, dari lubuk hatiku paling dalam terasa perih saat aku melontarkan kata jahat padamu..” lanjut Juleo, dan Fuyi hanya fokus mendengar serta mengelus-elus punggung Juleo dengan lembut.


“Maaf, maafkan aku. Maafkan diriku yang bodoh ini, maafkan aku. Aku sangat kesakitan saat menyiksamu, entah ini perasaan apa aku sendiri tak tau dan tak yakin.” ucap Juleo masih dengan pelukan eratnya.


“Kalau kata Ardan ini adalah perasaan cinta, namun aku selalu menolak pernyataan tersebut. Tapi semakin aku menolak dan menyangkal, semakin aku kesakitan saat aku menindasmu.”


“Aku sangat tersiksa saat kau selalu melihat ku dengan tatapan marah dan benci, hiks. Aku sangat tersiksa dan kesakitan, hiks”


“Sudah sudah, jangan menangislah di pundak ku.” ucap Fuyi dengan lembut.


“Aku mau kau..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Maaf lama gak up, 😕


lagieh sibuk sama sekolah, apalagi ini udh mau ulangan tolong maklumi ya☝️😓


Eh btw, baca juga dong karya baru aku yang chat story'😅🤓

__ADS_1


Alvano Anggara


Arigato', sayonara'🤓💫


__ADS_2