
Pukul 06.00 Fuyi baru saja bangun, namun dirinya sudah di suguhkan oleh tatapan tajam dari Deshi, ibu tirinya.
“Kau ini gila ya! Ini sudah jam enam pagi! Tapi kau,! Kau baru bangun!!” sentak Deshi dengan keras.
“Memangnya kenapa? Masalah buat NYONYA?” dengan sengaja Fuyi menekankan pada kalimat ‘Nyonya’, sembari menatap Deshi dengan malas.
“Dasar bocah sialan! Lebih baik kau pergi dari rumah ini SEKARANG JUGA?!” Deshi bercakap seperti hanya untuk menggertak Fuyi agar gadis itu tunduk kembali kepadanya. Namun diluar dugaan.
“Baiklah, kau dan keluarga kejam mu itu jangan pernah mencari ku lagi hanya untuk menjadikan ku upik abu di rumah ini” jawab Fuyi dengan santai. Kini gadis itu segera beranjak dari tempat tidurnya, dan membereskan barang-barang bersiap untuk pergi.
--
“Hufft, ini lah yang ku harapkan. Keluar dari rumah terkutuk itu dan tidak ada lagi yang namanya cambuk besar” Hela Fuyi dengan lega.
“Sekarang aku harus segera mencari tempat tinggal dan mencari pekerjaan” monolog Fuyi.
Gadis itu berjalan menyusuri jalanan datar yang rapi dengan batu persegi panjang terpasang dengan rapi di tanah. Terlihat begitu ramai, berbagai orang berlalu lalang di jalan itu.
Tak hanya itu, banyak juga sebuah kereta kuda lewat. Dan kereta kuda itu hanya seorang bertahta yang bisa menaikinya.
Di hari liburnya ini, Fuyi ingin memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya, serta mencari tempat tinggal baru untuknya.
“Ini melelahkan sekali” lenguh Fuyi. Tas yang ia bawa pun ia letakkan di pinggir jalan, dan ia pun berjongkok untuk beristirahat sejenak.
“Aku harus segera mendapatkan rumah baru dan pekerjaan. Sudah beruntung sekali aku bisa keluar dari rumah kejam itu, sekarang aku tidak akan membuang waktu emas ini” monolog Fuyi dengan suara rendah.
Sebuah koin jatuh tepat di depan Fuyi berada. Fuyi pun segera mengambil koin tersebut dan berdiri.
__ADS_1
“Maaf ini uang anda, lain kali lebih berhati-hati lah” ucap Fuyi dengan sopan sembari menyodorkan koin itu kepada seseorang yang berdiri tepat di depannya. Namun Fuyi bersikap demikian sembari menundukkan kepalanya.
“Kenapa kau kembalikan? Aku ikhlas memberikan sedikit uang untuk mu membeli sebuah makanan” ujar orang yang berdiri di depan Fuyi.
Lantas Fuyi dengan cepat mendongakkan kepalanya. Dan betapa terkejutnya, ia melihat rivalnya. Orang itu adalah Juleo, lelaki yang sempat ditabrak Fuyi, menyebabkan baju Juleo basah karena minuman yang Fuyi bawa tumpah mengenai Juleo.
Kedua mata Fuyi seketika melotot tak percaya “kauuuu!!!” sentak Fuyi dan Juleo secara bersamaan. Tak hanya Fuyi, namun Juleo pun tak menyangka jika gadis itu adalah Fuyi. Gadis menyebalkan yang ada di dunia ini, menurut Juleo.
Namun, sesaat kemudian Juleo mengubah ekspresi nya “aku tidak kaget sih kalo kau itu adalah pengemis di pinggir jalan kayak gini. Jadi jangan sungkan untuk menerima sumbangan ku” sarkas Juleo dengan senyum sinis nya.
“Apa kau bilang?! Pengemis?!” tanya Fuyi dengan emosi yang sudah tak tertahan.
“Apa lagi kalau bukan pengemis? Berjongkok di pinggir jalan dengan sebuah tas” cecar Juleo dengan senyum miringnya.
“Dasar kau!” geram Fuyi sembari memejamkan mata untuk meredam emosi nya.
‘Tidak Fuyi, Lo harus bisa kontrol emosi Lo. Gue Caca Meilani, seorang gadis yang masuk ke dunia komik dan merasuki tubuh seorang Fuyi. Gue gak boleh merusak jati diri Fuyi, gue harus bisa jadi protagonis yang baik hati. Ya, gue harus jadi protagonis’ gumam Fuyi dalam hati, bergelut dengan pikirannya pun ternyata memerlukan waktu yang cukup lama.
“Cih, penakut” ejek Juleo saat dirinya tak melihat perlawanan lagi dari Fuyi.
“Maaf karena aku telah marah kepada mu tadi” ucap Fuyi sembari tersenyum menatap ke arah Juleo.
Juleo yang melihat itu pun merasa aneh, bagaimana bisa Fuyi bisa berubah dengan demikian? Tapi kalau di pikir-pikir rasanya tidak aneh. Sebab Fuyi memang memiliki sikap yang lembut dan baik. Namun, yang menjadi pertanyaan di kepala Juleo, kenapa beberapa saat yang lalu Fuyi seperti bukan dirinya sendiri?
“Dasar gadis aneh” ujar Juleo dan segera pergi meninggalkan Fuyi.
Fuyi segera menghela nafasnya dengan lega, “semoga dia tidak curiga dengan sikap ku” gumam Fuyi sembari menatap tubuh Juleo yang semakin mengecil dan hilang dari pandangan Fuyi.
__ADS_1
----
“Aku sudah membuang anak itu, dan sekarang tidak akan ada lagi yang menghalangi kita untuk menguras harta Archi” ucap Deshi dengan wajah yang sangat puas.
“Ibu memang hebat, seharusnya ibu melakukan ini sedari awal” jawab Vei tak kalah puas dengan ibunya.
“Itu perlu waktu sayang, karena sekarang Archi sudah tak lagi menyayangi anak sialan itu. Jadi Archi tidak akan mempermasalahkan hal ini” sarkas Deshi dengan gembira.
“Ibu kau memang jenius! Aku sangat senang anak itu tidak ada lagi di rumah ini” ujar Vei dengan senyum smriknya.
Setelah obrolan ringan antara ibu dan anak yang licik itu, kini Archi pun datang setelah bekerja dari tambang yang ia miliki. Archi, Deshi, dan Vei. Keluarga kecil itu sedang berkumpul di meja makan, tak ada percakapan sama sekali karena acara makan sedang berlangsung.
“Sayang” panggil Deshi, Archi pun segera menoleh menatap ke arah istrinya.
“F-Fuyi telah hilang entah kemana, hiks” ujar Deshi dengan raut wajah yang sedih. Memang sedari Archi datang, ibu dan anak itu membuat raut wajah mereka menjadi sedih. Agar Archi semakin menyayangi mereka karena telah peduli dengan Fuyi, anak kandung Archi. Namun itu hanya kepura-puraan, walaupun begitu sangat menguntungkan jika Archi mempercayai mereka.
“Biarkan saja anak itu pergi. Aku tidak peduli lagi dengannya” jawab Archi.
Deshi dan Vei pun tersenyum puas di dalam hati. Namun, wajah mereka masih menunjukkan raut wajah sedih.
“T-tapi--” belum selesai Vei berbicara Archi sudah memotong perkataan Vei.
“Sudahlah jangan kalian pikirkan anak itu lagi. Kalian tidak perlu bersedih hanya karena anak itu” ucap Archi dengan nada tidak peduli.
“Baiklah” jawab Vei, dalam hatinya dia menari dengan bahagia atas semua jawaban yang Archi berikan, begitu juga Deshi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1