
“Hari ini aku akan lembur, kau istirahat lah lebih dulu. Aku akan pulang besok jam 3 pagi, sampai jumpa.” ucap Krish sembari mengecup singkat kening Fuyi.
“Hmm, hati-hati.” ucap Fuyi tulus.
Di atas kasurnya Fuyi tidur terlentang, memikirkan begitu rumitnya jalan hidupnya yang jiwanya berpindah ke raga orang lain, beda dimensi lagi.
“Gimana ya sama tubuh gue yang ada di dunia nyata? Apa mungkin gue udah mati? Apa gue masih koma?” monolog Fuyi sembari melihat taburan bintang dari jendela besar di samping tempat tidurnya.
“Gimana kabar mama sama papa? Caca kangen kalian..” lanjut Fuyi dengan senyum manisnya.
“Sekarang Caca gak tau lagi harus gimana, Caca mending hidup disini. Di dunia nyata Caca sama sekali gak dapet kasih sayang dari kalian, kalau Caca disuruh milih hidup di dunia nyata apa di dunia komik ini. Caca milih hidup di dunia komik, gue pasti akan inget kalian yang pernah hibur gue.” monolog Fuyi, ia sungguh lelah dengan kehidupan nya di dunia nyata dulu saat ia masih menjadi Caca.
Dirinya beruntung bisa hidup di dunia baru, dunia komik. Sebuah keberuntungan yang besar bagi Caca.
----
Keesokan harinya...
Ceklek..
“Akhirnya kau datang juga, aku sudah lama menunggu mu disini..” ucap Juleo dengan wajah kusutnya, Fuyi pun hanya memutar bola matanya malas.
Kedua manusia berbeda gender itu pun berangkat sekolah dengan Juleo yang selalu mengikuti Fuyi.
Sampai disekolah Fuyi pun segera mendudukkan diri di kursi miliknya. Tidak dengan Juleo, pria itu pamit ada urusan dengan guru.
“Parasit! Ikut kami!” titah Vei dengan menarik tangan Fuyi.
Suasana kelas saat ini masih sepi karena hari pun masih pagi. Dan sama sekali tak ada seorang murid yang bisa membantu Fuyi, karena mereka tak ingin berurusan dengan tiga gadis pembuli itu.
“Kau mau apa?!” sarkas Fuyi dengan dada bergemuruh, disaat ia sudah berada di dalam toilet bersama dengan tiga pembuli.
Plakkk
“Kau masih berani menjawab?! Ck ******!” hardik Vei dengan menggebu-gebu setelah dirinya menampar pipi Fuyi dengan kuat, terlihat jejak telapak tangan Vei memerah di bagian pipi kanan milik Fuyi.
Kepala Fuyi pun tertoleh ke kiri saat Vei menamparnya. Begitu terasa panas dan perih menjalar di pipinya.
“Setelah kau rebut Juleo dariku kau masih bertanya mau ku?! Tentu saja aku ingin kau mengembalikan Juleo kepadaku! Juleo hanya milikku seorang!” sentak Vei sembari menendang keras perut Fuyi sampai gadis itu tersungkur ke lantai.
“Ssshh.” keluh Fuyi sembari menahan sakit di bagian pipi dan perutnya.
__ADS_1
Plakkk
Satu tamparan lagi mendarat di pipi kiri milik Fuyi. Meninggalkan jejak lima jari disana, sudah lengkap di kedua sisi pipinya terdapat jejak lima jari bewarna merah.
“Ini tamparan untuk kau gara-gara kau merebut Ersha dariku! Kau memang ****** parasit!” sarkas Naomi setelah dirinya menampar pipi kiri Fuyi.
Komplit sudah semua siksaan yang Fuyi dapatkan kali ini.
Bughh
“Rasakan itu, dasar parasit!” sinis Vei dengan senyuman smrik setelah dirinya membenturkan kepala Fuyi ke tembok.
Ketiga gadis pembuli, Vei, Naomi, dan Zesina pun melangkah pergi dari bilik toilet dimana Fuyi berada.
Kretekkk
Zesina dengan sempatnya menginjak tulang kaki Fuyi, membuat sang empu pun semakin tak berdaya.
Dan Fuyi pun akhirnya memejamkan kedua matanya, berakhir pingsan dengan keadaan mengenaskan.
Ketiga gadis pembuli itu pun tak lupa mengunci pintu bilik toilet tersebut dari luar hingga Fuyi tak akan bisa keluar dari bilik toilet tersebut.
----
“Ar, kau lihat Fuyi tidak?” tanya Juleo dengan panik, dan Ardan pun hanya mengangkat alisnya sembari mengedihkan bahunya mengatakan bahwa dirinya tidak tahu.
Tak hanya Juleo, tetapi Ersha pun panik mencari kemana Fuyi pergi. Tadinya ia melihat Fuyi berada di kelas, namun saat ia kembali dari perpustakaan ia sudah tak melihat Fuyi.
Kedua lelaki itu dengan panik mencari dimana Fuyi berada. Tak urung mereka berdua pun bertanya kepada beberapa murid di sekolah.
“Apakah kau melihat Fuyi?” tanya Ersha pada salah satu siswi yang tadinya berada di kelas saat Fuyi di seret oleh tiga gadis pembuli.
“Tadi d-dia..” belum sempat melanjutkan ucapannya siswi tersebut sudah mendapat tatapan menusuk dari Vei, Naomi, dan Zesina.
“Tidak, aku tidak melihat dimana Fuyi berada.” lanjut siswi tersebut dengan gugup. Dirinya sangat takut jika harus berurusan dengan tiga gadis pembuli yang terkenal dengan kebengisan nya.
Ersha pun mengangkat salah satu alisnya, merasa curiga dengan siswi tersebut. Dengan cepat Ersha mempunyai feeling bahwa Fuyi pasti sudah di bulli oleh tiga gadis, dan feeling-nya mengatakan bahwa Fuyi berada di toilet. Karena tiga gadis pembuli itu sangat suka menyiksa korbannya di toilet.
Berbeda dengan Juleo yang gesit mencari kemana-mana di lingkungan sekolah.
“Kenapa aku tidak terpikirkan untuk ke toilet? Dasar bodoh!” Juleo pun merutuki dirinya sendiri yang bodoh.
__ADS_1
Dengan gesit kedua lelaki itu pun menuju ke toilet, hingga akhirnya kedua lelaki itu berpapasan tepat di depan pintu toilet.
Sempat bertatapan beberapa detik dengan tatapan tajam menyiratkan bendera perang di antara mereka.
Setelah nya mereka memasuki toilet dan bergegas mencari bilik yang tertutup.
“Gadis bodoh, kau dimana? Jangan membuat diriku panik dan khawatir.” gumam Juleo dengan wajah khawatir nya.
Hingga ia mendapati satu pintu yang tertutup, Juleo mencoba untuk membuka pintu itu namun tak bisa. Membuat dirinya sangat yakin bahwa Fuyi berada di dalam bilik tersebut.
Tanpa ba-bi-bu Juleo langsung mendobrak pintu tersebut hingga atensi Ersha yang mencari di bilik lain pun teralihkan ke sumber suara tersebut.
“Fuyii!!!” sentak Juleo dengan panik, saat dirinya mendapati Fuyi sedang tergeletak pingsan di lantai dengan beberapa luka di bagian tubuhnya.
Dengan cepat Ersha pun segera menghampiri Juleo tak kalah terkejut saat melihat kondisi Fuyi yang mengenaskan.
Kedua pria itu pun segera mendekat ke arah Fuyi dan berebut untuk menolongnya.
“Aku saja yang menggendong nya!” sarkas Ersha dengan cepat.
“Kau ini apa-apaan?! Tidak, aku yang melihatnya lebih dulu, jadi aku yang menggendong nya!” sarkas Juleo tak kalah cepat.
Kedua pria itu sudah memegang sisi kiri dan kanan Fuyi sembari menatap bengis. Tak terima saat gadis yang ia sukai di gendong oleh lelaki lain.
“Pokok nya aku yang akan gending Fuyi!” tekan Ersha dengan tegas, dirinya mencoba untuk menggendong tubuh Fuyi namun di tahan oleh Juleo.
“Kau siapa?! Kau bukan kekasihnya atau apa pun itu! Sementara aku adalah kekasihnya, jadi aku yang lebih berhak di sini bukan kau!” sarkas Juleo panjang lebar, sembari meraih tubuh Fuyi dari pelukan Ersha.
“Tcih, kau hanya mengaku menjadi kekasih Fuyi! Dasar tukang klaim!” hardik Ersha dengan kesal.
Tak menjawab umpatan Ersha dengan cepat Juleo menarik paksa tubuh Fuyi dari pelukan Ersha. Dan menggendong tubuh ramping Fuyi ke sebuah kamar darurat.
“Sialann!!!” sentak Ersha sembari mengacak rambutnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa tinggalin jejak gengs 🤓🤟, abis ini mungkin aku up satu bab lagi. Karena Minggu depan aku mau PTS jadi GK bisa up.
Kalau ada waktu longgar, nanti aku usahain up. Terimakasih masih setia baca novel aku ya banh🤓🤟 Maaf jika ada gak setuju sama alur novel aku.
Pokoknya terimakasih sekebon💅💅
__ADS_1