
“Tuan, kita akan tinggal dimana?” tanya Fuyi dengan suara yang sudah tak kuat lagi.
Krish dan Fuyi sudah berjalan selama 1 jam lebih, berkeliling mencari tempat untuk mereka tidur malam ini.
“Jangan panggil aku tuan, mulai sekarang kau bukan lagi seorang maid. Dan aku bukanlah majikan mu, panggil saja kakak” ucap Krish.
“B-baiklah” ucap Fuyi dengan terbata.
Setelah sekian lama berjalan, kini Krish dan Fuyi berhenti di sebuah bangunan kecil yang bisa untuk dijadikan tempat bermalam.
Tempat itu tidak ada penerangan, jadi keadaan di situ gelap.
“Mungkin kita bisa bermalam disini, tidak apa-apa gelap. Kau tidak keberatan kan?” tanya Krish sembari beristirahat di bawah bangunan itu.
“Iya kak, tidak apa-apa” jawab Fuyi.
Krish segera beranjak untuk beristirahat dengan punggung yang ia sender kan di tembok dengan posisi duduk. Fuyi merasa kikuk dengan situasi seperti, apalagi bangunan ini sangat sempit dan gelap.
“Kemari lah” ucap Krish sembari memegang pergelangan tangan Fuyi, membawa nya untuk duduk di sebelahnya.
“Tapi kak-”
“Sudah, ini hanya sementara. Aku hanya ingin memelukmu” ucap Krish dengan tangan yang sudah mengunci pergerakan Fuyi. Tangan kekarnya melingkar di pinggang ramping Fuyi, dengan kepala yang ia tumpu kan pada pundak Fuyi.
---
Pagi menjelang, hanya dengan membasuh wajah agar terlihat lebih segar. Fuyi dengan semangat berangkat pergi ke sekolah, sedangkan Krish laki-laki itu pergi bekerja di pabrik.
“Wow lihatlah, seorang pengemis dan penggoda majikannya telah tiba” sindir Juleo dengan nada agak keras sehingga seluruh siswa yang berada di kelas pun memusatkan perhatian nya tepat ke arah Fuyi, karena ia adalah siswi yang terakhir memasuki kelas.
Seketika semua siswa yang berada di kelas pun berbisik-bisik, ada yang mengatakan bahwa Fuyi memang berkerja dan menggoda majikannya, ada pula yang mengatakan jika Fuyi adalah pengemis yang di pungut orang lalu menggoda orang tersebut.
__ADS_1
Well, itu memang benar, namun Fuyi sama sekali tidak menggoda Krish. Hanya saja, Krish yang selalu bersikap lebih terhadap Fuyi. Entahlah, Krish memang mempunyai rasa khusus kepada Fuyi.
“Oh ternyata seorang parasit itu penggoda ya, jadi kau di bayar berapa dalam satu jam?” tanya Vei dengan senyum miring yang sudah berada tepat di depan bangku Fuyi.
Namun Fuyi tak menjawab pertanyaan Vei, melirik Vei pun tidak ia lakukan. Fuyi sibuk dengan buku pelajaran yang baru saja ia keluarkan dari tasnya.
Brakk
“Apa kau tuli?! Aku sedang berbicara denganmu!” sentak Vei sembari menggebrak meja Fuyi.
Fuyi pun hanya menatap ke arah Vei, dengan satu alis yang ia angkat seolah bertanya ‘kenapa?’.
“Oh jadi kau sudah berani melawan ya!” desis Naomi yang sudah berdiri di samping Vei dengan tangan yang ia lipat di depan dada.
“Memangnya kenapa?”
“Aku? Takut dengan kalian? Cih, hanya dengan 3 ekor ***** saja kenapa harus takut” ucap Fuyi dengan tatapan sinis ke arah tiga gadis yang berdiri di depan bangkunya.
Semua siswa sekelas pun ikut bingung dengan satu kata yang di ucapkan oleh Fuyi.
“Oh jadi kalian semua tidak tau *****?” tanya Fuyi dengan wajah polos yang ia buat-buat.
“Nih aku kasih tau! ***** itu serangga kecil yang bisa terbang mirip sama kecoa tapi lebih kecil. Biasanya tuh ***** sering cari perhatian kepada orang dengan berterbangan di sekeliling orang itu” ucap Fuyi dengan jari telunjuk di dagunya, seolah ia sedang berpikir keras dan serius.
“Jadi kalian bertiga itu mirip seperti LONTE” Fuyi sengaja menekan kata pada *****, dengan pelan dan lama. Serta menunjukkan ke tiga gadis yang berdiri di depannya.
“Kau menang benar Fuyi, aku saja risih melihat seujung kuku mereka. Apalagi kalau melihat mereka berkeliling saat tebar pesona” ucap Ersha yang baru saja datang dan langsung duduk di bangku kosong samping Fuyi.
“Kauuu!!! Berani sekali kau menghina kami!!” sentak Vei dengan tak terima.
“Ersha!!! Kenapa kau malah membela parasit itu!” sentak Naomi dengan tangan yang sudah memegang lengan Ersha.
__ADS_1
“Jangan pernah menyentuhku! Dan entahlah dari hadapan ku, kalian hanya merusak pemandangan ku saja!” bentak Ersha dengan kejam sembari menghempas tangan Naomi dengan kasar. Seketika kelas itu pun sepi.
“Awas kau, aku akan kasih pelajaran nanti” bisik Vei dengan sinis.
Dan Fuyi pun hanya mengedihkan bahu sembari tersenyum miring ke arah tiga gadis yang sudah pergi dari depan bangkunya.
“Ternyata selera mu sangat rendah” ejek Juleo kepada Ersha.
Ersha tak menggubris ejekan Juleo yang di lontarkan kepadanya, ia lebih fokus melihat ke arah Fuyi yang asik membaca buku.
“Cih" decih Juleo yang kesal karena di acuhkan oleh Ersha.
----
Kring kring...
Bel istirahat berbunyi, semua siswa di dalam kelas pun berhamburan keluar untuk melaksanakan aktivitas masing-masing di jam istirahat.
“Darimana kau tahu tentang serangga yang bernama ***** tadi?” tanya Ersha dengan tangan kanan yang menumpu kepalanya jadilah menghadap ke arah Fuyi yang duduk di dekat jendela.
“Em, darimana aku tahu? Kau tidak perlu tahu darimana aku tahu tentang serangga itu” ucap Fuyi dengan menyembunyikan bahwa ia bukanlah orang asli dari dunia komik ini.
“Seperti ada yang kau sembunyikan dariku” lirih Ersha dengan tatapan curiga.
“Ah tentu tidak, kenapa kau tadi duduk di bangku sebelah ku?” tanya Fuyi mencoba untuk mengalihkan perhatian.
“Oh ini, aku ingin lebih dekat denganmu dan lebih mudah untuk selalu menjagamu” ucap Ersha sembari menyelipkan poni Fuyi yang berterbangan ke daun kuping.
Seakan waktu berhenti, dan dunia hanya milik mereka berdua. Entahlah apa yang dirasakan Fuyi, namun ia bisa merasakan bahwa jantung nya berdetak dengan cepat.
“Gueh masih normal, kalo di giniin ya pasti salting jungkir walik guwehhh. Arghhhh” teriak Fuyi dalam hati.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=