
Tio sudah tergeletak di lantai tak berdaya, dengan darah yang mengalir di tubuhnya. Salah satu matanya sudah tak terbentuk lagi karena tusukan pisau milik Caca.
Kini mulut Tio sudah robek hampir mengenai telinga. Kondisinya sudah sangat buruk, dengan luka yang sangat banyak menghiasi tubuh serta wajahnya.
“Ck,ck, ck bagus banget karya gue” decak Caca dengan tatapan kagum.
“Heh! Lo masih kuat apa kagak?” tanya Caca sembari menendang punggung Tio. Namun tak ada reaksi apapun dari lelaki itu, sudah dipastikan jika Tio tak sadarkan diri.
“Cih, lemah” decih Caca.
Drttt.. Drttt..
Suara getaran handphone berbunyi, dan itu berasal dari saku hodie milik Caca.
“Halo pa, ada apa?” tanya Caca dengan papanya di seberang telepon.
“Baiklah, Caca akan segera kesana” ucap Caca dan segera mengakhiri teleponnya.
Caca segera pergi meninggalkan ruangan kotor itu, dengan Tio yang sudah tergeletak tak berdaya. Menyempatkan diri untuk menginjak kaki Tio, hingga menimbulkan suara.
“Lemah” ucap Caca dengan sunggingan senyum.
“Urus lelaki itu jangan sampai meninggalkan jejak, lakukan dengan sebersih mungkin” titah Caca pada anak buahnya yang sedari tadi berjaga di luar ruangan.
“Siap bos” ucap para anak buah dengan serentak.
Caca segera mengemudikan motor sport dengan laju. Membelah kota yang masih sibuk dengan kegiatannya di malam hari. Caca harus segera pergi ke kota X untuk menemui neneknya yang sakit. Papanya meminta agar Caca merawat neneknya dengan sebaik mungkin.
Setelah sampai di stasiun kereta api, Caca segera membeli tiket. Motor sport nya ia serahkan kepada anak buahnya agar membawa nya kembali ke markas Ceats.
__ADS_1
“Hahh..” helaan nafas terdengar dari mulut kecil milik Caca.
Kini Caca sudah berdiri di pinggir dekat dengan rel kereta api. Menatap langit malam dengan bulan dan bintang yang menemani, menunggu kereta api selanjutnya.
Caca menatap gawai nya dengan malas, menatap semua pesan chatting nya bersama Tio beberapa hari lalu. Dengan cepat ia menghapus pesan lama itu, dan segera memblokir kontak Tio. Tak lupa segera ia hapus juga kontak milik kekasih brengseknya, lebih tepatnya mantan kekasih.
“Hah..” helaan nafas terdengar kembali dari mulut Caca, rasanya tak bosan-bosan ia menghela nafas.
Kereta api sudah terlihat dari pandangan mata, tinggal menunggu beberapa saat lagi akan segera sampai tepat di depan Caca. Sedikit lagi, kereta itu melaju dengan kencang.
Entah dorongan dari mana, tiba-tiba tubuh Caca terhuyung ke depan dengan kuat hingga Caca terjatuh di rel kereta api.
Kedua mata Caca menatap kosong ke depan, terlihat cahaya lampu kereta api dalam sekejap mata langsung menabrak tubuhnya. Gelap. Itulah pandangan Caca terakhir kali, dirinya sudah pasrah dengan hidupnya.
Mau itu hidup atau mati, ia tak mempermasalahkan nya. Ia mau mati juga tak apa-apa, Caca sudah ikhlas.
----
Caca mengerjapkan matanya berkali-kali, ia masih berkedip-kedip. Caca melihat ke sekelilingnya, ia melihat bahwa dirinya menjadi pusat perhatian dari banyaknya orang.
“Apa yang kau lakukan Juleo!” tegas seorang lelaki yang membela Caca.
“Jangan pernah kau sakiti Fuyi!!” sentak lelaki itu kembali, sembari menatap tajam ke arah lelaki yang bernama Juleo.
‘Tunggu-tunggu, Juleo? Fuyi? Pernah dengar nama ini tapi dimana?’ gumam Caca dalam hati.
Caca pun segera menunduk melihat kearah dirinya sendiri. Ia sedang memakai sebuah baju bewarna biru navy dengan panjang dibawah lutut, seperti sebuah dres namun menggunakan kain yang tebal. Caca segera mengangkat tangannya, dan melihat di tangan kirinya ada sebuah gelang dengan liontin daun Semanggi.
Gelang yang selalu di pakai sosok Fuyi Trisha, tokoh protagonis didalam buku komik ‘Sang Tiri Pemenangnya’.
__ADS_1
‘Whatt! Gelang ini kan- gak mungkin gue jadi Fuyi!!’ teriak Caca dalam hati.
“Kau tuli ya!! Jawab! Apa yang kau lakukan pada bajuku!!” sentak lelaki dengan baju yang sudah kotor.
Caca segera mengangkat kepalanya dan melihat ke sekeliling, ia melihat sosok yang marah tadi menatap ia dengan tajam.
‘Gak mungkin, ini mustahil. Mana ada yang namanya masuk kedunia komik, ini berasa kayak anime’ ucap Caca masih di dalam hati.
‘Berarti itu adalah Juleo, ngeri!! Ngeri!! Ganteng banget sumpah’ jerit Caca dalam hati yang memandang Juleo dengan intens.
“Cih, tuli ditambah bisu” decih seorang perempuan yang berdiri tak jauh dari Caca, dengan kedua perempuan lain berdiri di samping perempuan tadi.
‘Itu! Vei Chilas? Oh my God, gue isekaii!!!! Gue gak nyangka kalo hal yang mustahil itu bisa terjadi’ jerit Caca kembali di dalam hati.
‘Nggak, ini bukan waktunya buat jerat jerit Caca. Sekarang Lo jadi Fuyi, tokoh protagonis yang selalu jadi korban penyiksaan’ batin Caca.
“Maaf saya tidak sengaja” ucap Fuyi dengan menundukkan tubuhnya, dalam artian didalam tubuh Fuyi itu adalah Caca.
Segala hal yang di lakukan Fuyi sudah menjadi kehendak Caca. Karena tubuh itu mulai saat ini sudah menjadi milik seorang Caca Meilani. Dan mulai saat ini juga, Caca akan menjadi seorang Fuyi Trisha Geoursa. Tokoh protagonis di dalam komik ‘Sang Tiri Pemenangnya’.
“Cih kalau berjalan itu bukan cuma kakinya yang digunakan, tapi matanya juga. Dasar bodoh!” ucap Vei dengan garang, terlihat sekali jika dia sangat marah.
“Kalian hanya bisa menghinanya saja! Ini kejadian bermotif karena tak sengaja, namun malah kalian besar-besarkan kejadian sepele seperti ini!” titah Ersha, lelaki yang selalu menolong Fuyi jika disaat ia dalam keadaan genting seperti ini.
“Ersha! Kenapa kamu malah membela bocah itu sih! Apa istimewanya dari bocah sepertinya?!” tanya seorang perempuan yang berdiri di samping Vei, sudah dipastikan perempuan itu adalah Naomi Leosna. Perempuan yang mati-matian mencintai Ersha Fersies, namun cintanya itu selalu ditolak oleh Ersha.
“Saya akan membersihkannya” ucap Fuyi, ia segera berjalan mendekat ke arah Juleo. Fuyi membersihkan baju Juleo yang terkena siraman sebuah minuman.
“Jangan pernah sentuh Juleo dengan tangan kotormu itu!” sarkas Vei dengan mencekal pergelangan tangan Fuyi, yang hampir menyentuh baju milik Juleo.
__ADS_1
“Benarkah? Benarkah tanganku kotor?” tanya Fuyi dengan wajah yang sangat tenang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=