
‘Gue harus merubah situasi ini, dimana Fuyi akan mendapat tamparan dari Vei. Gue akan membalikkan nasib’ batin Fuyi.
“Berani-beraninya kau!!” seru Vei dengan lantang, kini tangannya terangkat untuk menampar wajah Fuyi.
“Ayolah kak, kau hanya bisa melakukan kekerasan pada adikmu ini? Tidak bisakah kau beri aku sebuah kasih sayang, meskipun itu hanya sebutir debu?” tanya Fuyi. Mendadak semua orang yang berada di lorong sekolah itu pun terkejut. Apa? Adik?
“Adik?” tanya Ersha.
“Iya, aku ini adiknya. Dan dia adalah kakakku, lebih tepatnya kakak tiri ku” ucap Fuyi sembari menunjuk Vei.
“Setelah ibuku meninggal, ayahku menikah lagi dengan bibi Deshi, ibunya kak Vei. Dan sekarang kak Vei menjadi kakak tiri ku” ucap Fuyi dengan wajah polosnya, sungguh ini adalah situasi yang menakjubkan.
Dimana Vei sang antagonis berkeringat panas dingin. Wajahnya sudah berubah menjadi pucat, serta mata yang melotot kearah Fuyi.
“Kenapa mata kakak melotot seperti itu? Nanti kalau matanya jatuh bisa buta loh, kalau buta tidak akan bisa melihat jalan disaat kakak berjalan” ucap Fuyi dengan wajah yang dibuat se-sedih mungkin.
“Kalau bicara jangan asal ngomong! Siapa yang sudi punya adik seperti mu?! Bahkan orang yang gila tidak akan pernah mau memiliki adik seperti mu!” sentak Vei mencoba mengelak dari perkataan Fuyi.
“K-kak, kenapa kakak tidak mau mengakui ku sebagai adikmu?” tanya Fuyi dengan nada bergetar serta mata yang sudah berkaca-kaca.
“Aku bukan kakakmu!!!” teriak Vei dengan lantang.
“Kenapa kau tega sekali kak? Sampai tidak mau mengakui ku, hiks” Fuyi sudah tak bisa membendung air matanya, ia menangis dengan terisak. Namun yang nyatanya itu hanya akal-akalan Fuyi, ia menangis dengan air mata palsu.
“Dasar tidak punya hati!”
“Kakak macam apa dia?! Adiknya sendiri tidak mau mengakui nya, padahal dirinya selalu melukai Fuyi jika disekolah”
“Apalagi di sekolah ini Fuyi selalu menjadi sasaran Vei dan kedua teman buliannya itu”
__ADS_1
Kini banyak sekali bisik-bisik yang terdengar, semua para siswa yang berkumpul di lorong pun saling melirik ke arah Vei dengan tatapan yang rendah serta sinis.
Vei pun menatap Fuyi dengan penuh kebencian, sementara Fuyi menyeringai kecil di tengah kepalsuan tangisan nya. Vei segera melayangkan tamparan di pipi Fuyi, dan Fuyi pun sudah bersiap dengan menutup kedua matanya.
Namun sama sekali tak terasa apapun, Fuyi pun segera membuka matanya. Dan melihat bahwa Juleo mencekal tangan Vei agar tak bisa menampar Fuyi.
‘Asekkk, ternyata asik juga bongkar rahasia. Mari kita mulai kehidupan baru Fuyi... Dan untuk para antagonis marilah bersaing dengan antagonis sesungguhnya’ Fuyi bersorak di dalam hati dengan wajah menyeringai namun masih dengan tangisannya.
“Cih, perempuan seperti apa kau? Dasar wanita berbulu domba!” seru Juleo sembari menyentak tangan Vei dengan kasar.
“Urusan kita belum selesai” ucap Juleo kepada Fuyi, sembari menyeret tangan Fuyi agar mengikuti Juleo.
“Kau akan membawanya kemana hah?!” sentak Ersha, lelaki itu pun segera menarik salah satu tangan Fuyi yang menganggur.
“Bukan urusanmu!” seru Juleo.
“Tentu saja ini urusanku, apapun yang menyangkut tentang Fuyi itu adalah urusanku juga” ucap Ersha dengan lantang.
“Jika Fuyi kembali dengan keadaan lecet meskipun itu sangat kecil, aku tak akan pernah melepaskan mu Juleo!” seru Ersha.
Juleo sudah tak menghiraukan ucapan Ersha, lelaki bersifat dingin dan cuek itu memilih menyeret Fuyi agar mengikutinya.
“Hei kau akan membawaku kemana?!” seru Fuyi, ia sangat kesusahan dalam mengimbangi langkah Juleo yang sangat lebar. Ditambah tangannya yang di genggam oleh Juleo, membuat nya seperti sebuah kambing yang diseret.
“Ck lebih baik kau diam!” tukas Juleo masih dengan raut wajah datar.
Terlihat sebuah lapangan dengan hamparan rumput hijau yang terpotong dengan rapi. Terdapat sebuah pohon dengan saun yang rindang berada di pojok lapangan, sungguh pemandangan yang sangat memanjakan mata. Beginilah dunia fantasi.
“Wahhhh, indah banget” ujar Fuyi dengan mata yang masih memandang lapangan itu tanpa berkedip.
__ADS_1
“Ck, cepat bersihkan!” decak Juleo yang sudah menyeret Fuyi untuk duduk di hamparan rumput hijau itu.
“Cepat!! Selesaikan urusanmu denganku ini, semua ini terjadi karena kau yang tida hati-hati saat berjalan”
Kini kedua manusia itu duduk bersampingan, dengan lapangan yang begitu indah serta hamparan langit yang begitu cerah.
“Bersihkan apa?” tanya Fuyi sambil mengkerut kening, masih tidak mengerti akan ucapan Juleo.
“Ck, ya inilah apalagi?!” decak Juleo sembari menunjuk ke arah bajunya yang basah.
“Tidak mau, aku tidak mau membersihkan nya” tolak Fuyi tanpa pikir panjang.
“Apa kau bilang?! Ulangi lagi!” seru Juleo dengan muka merah padam menahan emosi.
“Tidak mau, aku tidak akan mau membersihkan nya” ucap Fuyi mengulang kalimat nya tadi dengan intonasi lebih lambat dan jelas.
“Kau sudah membuat bajuku kotor, dan sekarang kau harus bertanggung jawab atas kelakuan mu itu!” titah Juleo.
“Tidak mau, sudahlah aku masih banyak pekerjaan. Aku pergi dulu” ucap Fuyi tanpa rasa takut akan aura milik Juleo.
“Heiiii kau gadis aneh, cepat kemari dan bersihkan bajuku!!” teriak Juleo pada Fuyi yang sudah berjalan menjauh darinya.
“Tidak mau!” jawab Fuyi.
“Ck” decak Juleo yang merasa kesal dengan Fuyi, “hanya dia gadis aneh yang tidak mau bersama seorang Juleo Dernez, anak kolongmerat nomor dua di ibukota Cerdhies” monolog Juleo dengan kesal.
-----
“Bener-bener, gue gak nyangka bisa hidup lagi. Kenapa gue bisa jadi Fuyi sih?! Gue kan harusnya jadi antagonis!” monolog Fuyi sembari mengaca di sebuah cermin toilet. Kini Fuyi sedang berada di toilet, memperhatikan setiap lekuk wajah serta tubuhnya yang berbeda.
__ADS_1
“Tapi tak apa lah, gue akan merubah alur cerita dari komik ‘Sang Tiri Pemenangnya’. Gue akan jadi protagonis yang misterius, hohoho” ucap Fuyi sembari tersenyum penuh arti.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=