
Koridor sekolah masih tampak sepi, karena jam masih menunjukkan pukul 06.15, namun Fuyi sudah sampai di sekolah.
Hari ini adalah jadwal piket Fuyi, dengan cepat Fuyi segera membersihkan kelas dengan begitu bersih dan rapi.
“Hufft” Fuyi menghela nafas sembari mendudukkan tubuhnya di kursi miliknya. Dirinya menatap seisi kelas yang sudah begitu kinclong.
Baru beberapa siswa yang datang ke sekolah. Sesaat kemudian, datanglah ketiga gadis pembuli.
Zesina dengan langkah anggunnya melangkah ke arah jadwal piket di tempel. Terlihat nama Fuyi berada pada kertas di hari itu juga.
Dengan sengaja Zesina menjatuhkan sebuah pot tanaman dekat jendela.
Pyarr
“Ups, aduh jatuh dong!” seru Zesina dengan suara agak keras dengan nada yang dibuat-buat merasa dirinya bersalah.
Pot itupun pecah dengan tanahnya yang sudah berhamburan di lantai. Begitu hancur dan kotor.
Zesina berjongkok seolah-olah dirinya ingin membersihkan lantai yang telah kotor.
“Cih, parasit!” seru Fuyi dengan suara yang lumayan keras, hingga seisi kelas itu pun mendengar.
“Apa kau bilang?! Baiklah, aku bukan parasit dan aku akan membersihkan nya!” seru Zesina.
Namun pergelangan Zesina lebih dulu di cekal oleh seorang lelaki. Lelaki dengan rahangnya yang tegas, serta rambut dengan warna campuran biru muda dan tua. Hidung yang mancung serta tubuh yang jakung. Tapi, lelaki menggunakan sebuah kacamata.
“Biarkan saja. Biar dibersihkan oleh siswa yang piket hari ini!” ucap lelaki itu sembari menggelengkan kepala saat Zesina akan membersihkan lantai itu.
__ADS_1
Dalam hati Zesina tersenyum penuh arti, namun wajahnya seolah bahwa dirinya merasa bersalah.
“Sudah, kau tak perlu merasa bersalah. Fuyi! Tolong bersihkan lantai ini, kebetulan hari ini jadwal mu piket” ucap lelaki itu sembari menatap ke arah jadwal piket.
“Kau ini apa-apaan?! Jelas-jelas dia yang menjatuhkan nya, apalagi aku sangat yakin bahwa dia memang sengaja menjatuhkan nya. Kenapa harus aku yang membersihkan nya?!” sentak Fuyi dengan nada tak terima.
“Kenapa kau menolaknya?! Hari ini adalah jadwal piket mu, jadi kau harus bertanggung jawab atas kebersihan kelas ini hari ini juga!” seru Vei yang sedari tadi hanya duduk manis di bangkunya sembari menonton pertunjukan dari sahabat nya itu.
“Sekalinya parasit ya pasti parasit! Sudahlah apa susahnya membersihkan lantai itu” ucap Naomi yang semakin membuat suasana menjadi panas.
“Aku tidak akan sudi membersihkannya!” sinis Fuyi dengan emosi yang ia tahan.
Lelaki yang tadinya berdiri di dekat Zesina segera mendekat kearah Fuyi.
Brakk
“Kau ini apa-apaan?! Matamu katarak kah? Kau tidak lihat kalau parasit itu sengaja menjatuhkannya?!!” sentak Fuyi sembari bangun dari duduknya.
Kini Fuyi sudah tak bisa menahan emosi nya. Dirinya tak terima jika harus melakukan tanggung jawab milik orang lain, yang sudah melakukan kesalahan itu.
“Kalian ini apa-apaan hah?!!! Pagi-pagi sudah ribut saja!” sentak Juleo dengan nada seraknya, namun terlihat begitu garang. Lelaki itu menghabiskan waktunya dengan tidur di dalam kelas, namun harus terganggu karena keributan itu.
Juleo menatap ke arah Fuyi beberapa detik, kemudian dirinya melihat kerah sebuah pot yang pecah dengan tanah yang berhamburan.
Semua siswa yang berada di kelas itu pun langsung terdiam melihat Juleo berteriak. Tak ada seorang pun yang berani melawannya.
“Ck, apa susahnya membersihkan itu?! Hanya tinggal membersihkan lantai itu masalah sudah selesai! Tidak perlu ribut-ribut” ucap Juleo dengan alis terangkat menatap ke arah Fuyi.
__ADS_1
“Aku? Kau yang sedari tidur dan tidak mengerti asal usulnya dengan mudah menyuruhku untuk membersihkan tanah itu!! Wow enak sekali kau” ucap Fuyi dengan tersenyum remeh.
“Dan kau, kau hanya ingin melindungi parasit itu demi cintamu yang luar biasa kepadanya. Karena kau di butakan oleh cinta, sampai kau selalu memihak nya, padahal kau sendiri tahu bahwa parasit itu yang salah” ucap Fuyi dengan tatapan tajam menatap lelaki berambut biru.
“Jangan pernah panggil Zesina dengan parasit dasar pecundang!” seru lelaki itu tak terima.
“Cih” Fuyi pun berdecih.
Fuyi segera bergegas untuk membersihkan pot itu, dadanya bergemuruh hebat. Dirinya sungguh tak terima dengan perlakuan ini, dimana dirinya tak bersalah namun harus menyelesaikan masalah orang lain.
----
“Dasar manusia pecundang! Semua manusia di dunia ini sangat sombong, dan tidak berperikemanusiaan” Fuyi sedang bermonolog sendiri, saat ini dirinya sedang duduk di atas rerumputan belakang sekolah.
“Lelaki itu sangat bodoh karena di buta kan oleh cinta! Cih, dan lelaki sombong di Juleo mentang-mentang dia tidak lihat kejadian yang sebenarnya dengan kejamnya menyuruhku!”
“Hanya karena tahta dan harta saja semua orang berani dengan Juleo. Cih” Fuyi bermonolog sendiri dengan perasaan yang menggebu-gebu.
“Toni!!” sebuah panggilan yang didengar oleh Fuyi.
Fuyi segera menoleh, dan ia melihat lelaki dengan rambut bewarna biru. Fuyi yakin bahwa lelaki itu adalah lelaki yang tadi memaksa nya.
Dan panggilan tersebut memang benar diarahkan ke lelaki itu.
“Jadi namamu adalah Toni” gumam Fuyi dengan senyum miringnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1