
“Eh banh, gimana komiknya kemarin? Seru gak?” tanya Citra dengan antusias.
“Ayolah, Lo tau sendiri kalo gue suka tokoh antagonis. Pastilah gue suka banget sama tuh komik” jawab Caca.
Caca dan Citra pun memesan makanan, saat ini adalah waktu istirahat di sekolah. Seperti biasa Caca selalu bolos di jam pertama, dengan berangkat ke sekolah jam 8 lewat 15 menit.
“Eh Ca, itu Tio nyamperin tuh” ejek Citra saat ia melihat Tio, lelaki tampan namun terkenal dengan sebutan play boy.
Caca pun melotot saat ia mendengar ucapan Citra. Segera Caca menetralkan degup jantungnya, dan mencoba tersenyum semanis mungkin. Caca memang mempunyai perasaan kepada Tio, sangat-sangat mencintai nya.
“Emm, boleh duduk disini?” tanya Tio.
“Boleh” jawab Caca.
“Ganggu nih, kalo gitu gue mau ke toilet bentar ya” Citra tentu tidak akan mau menjadi nyamuk dari kedua sejoli itu.
“Gue mau bicara sama lo” ucap Tio, ia mencoba untuk berbasa-basi. Dan Caca pun hanya mengangguk.
“Mau gak Lo jadi pacar gue?” tanya Tio, kini kedua tangannya telah memegang tangan Caca. Membuat gadis tomboy itu panas dingin.
Saking senengnya, tanpa pikir panjang Caca langsung mengangguk. Tanda bahwa ia menerima Tio. Dan Tio pun tersenyum dengan bahagia, lebih tepatnya menyeringai.
----
“Dih, yang baru jadian kayak orang gila gini. Senyum-senyum sendiri” sindir Citra yang ilfiil melihat tingkah Caca.
“Bilang aja kalo iri” tandas Caca dengan senyum mengejeknya.
“Gue tuh bingung sama Lo, Lo aneh banget sih bisa suka sama tuh bocah. Padahal Lo tau sendiri kalo Tio itu buaya, kadal, bajingan. Kenapa Lo malah suka kampret?!” nyerocos Citra, gadis itu tak habis pikir dengan jalan pikir sahabatnya itu.
“Eh Ca, gue kasih tau nih rahasia. Sini lo” Citra mengibaskan tangannya agar Caca mau mendekat ke arahnya.
Caca pun menuruti ucapan Citra, ia mendekat ke arah Citra dan memasang telinga di depan mulut Citra.
__ADS_1
“Hati-hati, ntar di ghosting Lo sendiri yang nangis” bisik Citra dengan serius, namun detik selanjutnya ia tertawa lepas. Melihat raut wajah Caca yang kesal.
------
Sore ini Caca ada jadwal untuk kelas kesenian. Seperti biasa Caca akan sangat bersemangat jika hal itu berkaitan dengan seni. Dan disinilah Caca, di sebuah ruangan yang sangat menawan, dengan berbagai kreasi pernak-pernik.
“Baiklah anak-anak, hari ini kita akan belajar untuk merajut. Ada berbagai benang yang akan di rajut. Sekarang kita akan merajut menggunakan benang wol terlebih dahulu” ucap Bu Esti, yang menerangkan materi hari ini.
Semua anak yang mengikuti ekskul ini segera menyiapkan alat dan bahannya. Benang wol, tusuk, serta alat lainnya sudah disiapkan di meja masing-masing.
Celana jeans, dengan kaos bewarna hitam melekat di tubuh Caca. Dengan rambu pendek nya yang ia kucir dengan asal. Kaki kanannya naik di atas kursi yang ia duduki. Dengan permen karet yang Caca makan, mulutnya sedari tadi hanya sibuk mengunyah dan membuat balon dari permen itu.
“Caca!” panggil Bu Esti, dan Caca pun hanya menoleh ke arah Bu Esti dengan salah satu alisnya terangkat, seakan bertanya ‘Kenapa Bu?’.
“Kamu itu cewek, kamu gak bisa apa jadi gadis yang sopan terus cantik. Bisa jaga sopan santun sama etikanya, kalo jadi gadis itu yang feminim. Jangan kayak gini lah, ini namanya preman CACA!” ucap Bu Esti dengan penuh penekanan di akhir kalimat.
“Iya bu” jawab Caca dengan malas, Caca pun segera menurunkan kakinya dari kursi dan duduk dengan tenang.
Caca sangat antusias dalam merajut kali ini, terlihat tangannya meliuk-liuk merajut benang wol bewarna merah maroon. Caca sedang merajut sebuah cardigan untuk mamanya.
----
Sudah 1 bulan Caca menjalin hubungan bersama Tio. Dan sejak itu juga Caca semakin bucin dengan sosok Tio. KiniCaca berjalan menuruti trotoar jalan raya, dengan kendaraan yang berlaku lalang di jalan besar itu. Angin malam berhembus membawa rambut Caca ikut terbang.
Jodie bewarna army melekat di tubuh Caca, malam ini benar-benar dingin. Caca segera pulang ke rumah besar miliknya, terlihat mewah namun tak berpenghuni.
Di rumah itu hanya ada satu art yang bekerja di siang hari. Kedua orang tua Caca gila akan kerja hingga tak pernah menyisakan waktu untuk berkumpul. Dan Caca sudah terbiasa dengan hal itu.
Brum Brum...
Caca memutar stir motor sport miliknya. Ia merasa bosan di rumah yang sepi itu, lebih baik dirinya tanding balap bersama gengnya. Caca memang anak yang nakal, namun kenakalan itu terjadi karena kurang perhatian dari keluarganya.
Dengan helm full face yang di pakai Caca, gadis itu segera tancap gas dan membelah jalanan ramai. Caca memang mempunyai sebuah geng dengan ia sebagai ketua nya, geng itu kebanyakan terdiri dari anak laki-laki.
__ADS_1
“Lawan kita kali ini siapa?” tanya Caca pada Satria selaku wakil ketua geng Ceats.
“Atmosver, geng milik Tio. Lo harus menang Bu bos, jangan sampe mau kalah sama mereka” ucap Satria sembari menepuk bahu Caca memberikan semangat.
“Ca, Lo harus bisa kalahin gengnya si Tio. Pacarmu sendiri, walau pun itu pacar Lo jangan kasih jalan lah” ucap Citra yang ikut dalam geng Caca.
“Hahh..” terdengar helaan nafas dari mulut Caca. “Akan gue coba” lanjut Caca.
Brum brummm
Jalan raya yang sudah menjadi area pertandingan malam ini terdengar sangat riuh dengan suara motor sport yang mendengung. Kini Caca sudah siap di atas motor sport bewarna hitam miliknya, dengan helm full face nya.
Dari geng Tio tidak ada yang tahu bahwa Ceats dipimpin oleh sosok Caca, pacar baru seorang Tio. Ketua geng Atmosver. Dan dengan sengaja juga Caca tidak menunjukkan mukanya di depan umum, ia masih stay menggunakan masker bewarna hitam di balik helm nya.
Suara deru motor saling bersahutan, Caca sudah siap di depan garis start. Kini lawan Caca adalah pacarnya sendiri, Tio. Tentu saja Tio tidak mengetahui hal itu.
Caca melihat ke samping dimana Tio berada. Dirinya melihat Tio sudah berada di motor sport bewarna hijau miliknya, namun ada seorang gadis dengan baju ketat dan minim berdiri di samping Tio.
Mata Caca sudah memerah, menahan amarah yang akan meledak. Ia masih menahannya, dirinya akan melihat kelanjutannya.
“Baby, kamu harus bisa kalahin geng Ceats. Lawan mu hanya seorang gadis, itu pasti mudah untuk kamu kalahkan. Cup” ucap gadis yang berdiri di samping Tio, dengan kecupan kecil yang ia layangkan di pipi Tio.
“Iya sayang tenang saja, ini sangat kecil bagiku” sarkas Tio dengan menyeringai, ia melirik ke arah lawannya dengan tangan yang masih setia melingkar di pinggang gadis tadi.
Caca memanggil Satria, “nanti saat gue tanding semua anak buah gak boleh panggil nama gue, ngerti! Kalo kalian mau sorakin gue pake nama kaya biasanya aja” ucap Caca dan dijawab anggukan oleh Satria. Memang selama ini Caca menjalin hubungan dengan Tio hanya dirinya sendiri dan Citra yang tahu. Ia tak ingin hubungan nya ini menjadi berita hangat pada anak buahnya.
“Cih, berengsek Lo Tio! Gue gak akan lepasin Lo gitu aja, liat aja nanti” monolog Caca dengan tatapan tajamnya, yang menatap Tio dengan penuh kebencian. Sementara Tio masih sibuk dengan gadis barunya.
Pertandingan di mulai, kini Caca memutar stir dengan cepat. Mata tajamnya melihat ke arah jalan, sesekali melirik ke arah Tio yang berada di depannya.
Caca segera menambahkan gas kembali hingga ia tepat di samping Tio. Dan lagi, Caca menambah kecepatan nya kembali hingga ia bisa menyalip Tio dengan mudah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1