
adzan dzuhur sudah berkumandang semua tamu undangan sudah pulang termasuk besanya abah oding, kecuali saudara terdekat nya,
mereka semua melaksanakan shalat dzuhur berjama'ah dan di imami okeh zaidan sesuai dengan permintaan abah oding,
Selesai shalat abah oding berbaring di atas kasurnya di bantu oleh zaidan dan faryan,
"Nak zaidan surat al- mulk yang di bacakan tadi sungguh membuat hati abah terasa tentram" ucap abah oding dengan suara pelan seperti menahan sesak,
"ustadz faryan tolong dampingi saya sebentar lagi akan ada tamu yang menghampiri"
Seketika lemas persendian faryan apa yang di khawatirkan nya semakin dapat petunjuk yang nyata,
Zaidan yang menyadari perubahan wajah faryan langsung menyadari kegelisahan dan ketakutan nya,
Tangan kanan nya di genggam faryan dan tangan kiri di genggam alana sambil menahan tangis nya,
"tidak ada yang perlu di tangisi semua sudah qadarullah ketentuan allah bukankah kita sebagai makhluk allah hanya bisa tunduk pada ketentuan nya? Dan kita meyakini ini semua dengan iman" bibir pucat itu kembali membuat alana tak bisa membendung air matanya
Zaidan mulai membaca surat al-mulk dengan membaca mushap sebenarnya zaidan sudah hapal di luar kepala namun kali ini ia ingin sambil membaca mushap kecil milik mertuanya,
"audzubillahimina syaitonirozim bismillahirahmannirahhim" lantunan ayat suci yang pertama di bacakan sungguh membuat hati terasa tentram,
Pria sepuh itu kembali berujar dengan mata terpejam tepatnya bermonolog sendiri faryan mendekatkan kursinya dekat dengan telinga kanan abah oding sedangkan alana menguatkan genggaman tangan nya sambil menciumi tangan abahnya,
Kedua netra itu mulai tertutup bibirnya mengatup berkomat kamit tipis meninggikan asma tuhan nya,
Seolah bersiap akan menemui dzat yang menciptakan nya,
Faryan menuntun abah oding dan membisikan kata "laa ilaa ha ilalah"
Zaidan masih belum selesai membaca surat al-mulk ayat dua sembilan masih di bacakan
"qul huwar rahmanu amanna bihi wa alaihi tawakalna fa sata lamuna man huwa fi dhalalim mubin"
artinya: dialah yang maha pengasih kami beriman kepada-nya dan kepada-nya kami bertawakal maka kelak kamu akan tahu siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata,
__ADS_1
Tangan keriput itu makin melemah nafasnya makin halus, sampailah zaidan pada ayat yang terakhir surat al-mulk bersamaan dengan lepasnya genggaman tangan abah oding,
"qul ara aitum in asbaha ma ukum gauran fa may ya tikum bim aim ma in"
Artinya: terangkan lah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir.
"shodaqollahuladzim"
Terlepaslah dengan sempurna genggaman tangan abah oding nafasnya berhenti tepat di ayat terakhir surat al-mulk di bacakan faryan dan alana masih menggenggam erat tangan keriput itu penuh haru dan kesedihan susah payah mereka menahan tangis,
Umy marwah segera memanggil doktet yang mang di tugaskan khusus untuk merawat suaminya,
Dengan langkah tergopoh gopoh dokter itu memeriksa denyut nadi dan memastikan semuanya namun semua sama seperti dugaan obah oding memang telah pergi menuju alam kelanggengan,
"innalillahi wa innalillahi rojiun" dokter itu menyampaikan bela sungkawanya kepada keluarga selimut putih di tutupkan ke wajah abah oding,
"Abahhhhh" pecahlah tangisan alana sejadi jadi nya abah yang paling di sayangi pergi meninggalkan dunia hari ini adalah hari terberat bagi alana, hari yang ia takutkan akhirnya datang menghampirinya,
"abah jangan tinggalkan alana" suara tangis alana meraung raung umy marwah ikut menangis bersimpuh di lantai melihat pria yang sudah menaninya hidup selama empat puluh lima tahun pergi menghadap illahi,
"saya bersaksi bah abah suami yang baik ya allah aku ridho akan suamiku ampunilah dosanya lapangkan lah jalan nya hamba ikhlas ya allah" suara terbata umy marwah terdengar jelas
zaidan segera memeluk istrinya yang tak sadarkan diri lalu menggendongnya menuju kamar alana yang sudah ditunjukan aleza
"alana bangun ikhlas alana" suara zaidan terbata sambil membaringkan istrinya di atas ranjang kamar alana, aleza membantu memberikan minyak kayu putih di hidungnya
"ma'af gus zaidan sebaikya hijab alana di buka aja untuk memberinya sedikit ruang biar alan cepat sadarkan diri," jelas aleza
Zaidan menurut dengan tangan yang gemetar serta perasaan yang tak menentu perlahan zaidan membuka kan hijab alana
" maafin saya alana saya terpaksa membuka hijabmu tanpa izin darimu ini semua terpaksa saya lakukan supaya kamu cepat sadarkan diri" ucap zaidan bermonolog sendiri
Sreeetttt!
Terbukalah hijab alana dan menampakan garis rahang yang menggoda serta jenjang leher putih milik alana beberapa menit kemudian alana kembali sadar,
__ADS_1
"abah abah hiks hiks" alana masih menangis tersedu sedu meratapi kepergian abahnya seorang laki laki yang menjadi cinta pertamanya,
"alana ikhlas alana"
"abah jangan pergi abah alana mohon "
"alana jangan begini biar abah mudah jalan nya" alana menurut zaidan segera memberinya minum dari gelas kecil yang di bawakan aleza sesaat mereka melupakan kecanggungan nya sebagai pasangan suami istri
Ketika alana mulai tenang zaidan pamit keluar kamarnya karna ingin membantu proses pemakaman abah oding,
"tunggu!" ucap alana menghentikan langkah suaminya
"saya ikut saya ingin menemani abah untuk yang tetakhir kalinya," ucap alana
"apa kamu yakin? Sebaiknya kamu tunggu saja di sini sampai tubuhmu benar benar vit takutnya nanti kamu pingsan lagi"
"tidak saya ingin membantu proses pemakaman abah saya"
Ucap alana mantap,
"ya sudah! Tapi kamu harus ikhlas ya jangan menangis lagi kamu tidak sendiri alana ada saya sekarang!" ucap zaidan
Mereka berdua pun keluar dari kamar,
alana tak lagi menangis seperti tadi karna sudah di nasehati oleh suaminya zaidan,
Semua proses berjalan lancar sampai tiba saatnya menyolatkan jenazah, lalu mengantarkan nya ke pusara, selesailah tugas keluarga alana untuk memakamkan abah nya
selesai tahlil faryan membantu zaidan menggulung tikar karna azka dan kayla sudah kembali ke jakarta tadi siang
"oh iya gus zaidan saya sekalian mau pamit pulang dulu kerumah ambu aleza sudah nungguin dari tadi nelpon terus kalo ada apa apa telpon aja jangan sungkan" ucap faryan,
"iya terimakasih sudah membantu ustadz"
Sedangkan faryan dan aleza berencana untuk menginap selama dua hari di rumah orang tuanya faryan,
__ADS_1
Sekedar informasi kalo rumah alana dan rumah faryan itu bertetangga meski tidak terlalu dekat,
Sedangkan alana sudah ada di kamarnya karna umy marwah yang menyuruh alana untuk segera masuk kamar baginya hari ini adalah hari yang paling menyedihkan juga melelahkan zaidan yang faham akan kondisi istrinya segera masuk ke kamar untuk memastikan kalau alana istrinya sedang baik baik saja setelah sebelumnya mengunci semua pintu dan jendela rapat rapat.