
Saat ini mereka berdua akan bersiap untuk pulang ke rumah orang tua Kafkha, Darmansyah sendiri yang meminta Medina untuk tinggal di rumah besar keluarga Darmansyah, dengan senang hati Medina mau menuruti keinginan kakeknya itu. Medina sendiri sudah menganggap kakek Darmansyah seperti kakek nya sendiri.
Kafkha saat ini sedang pergi keluar, entah apa yang ia lakukan di luar, Medina tidak tau kemana pergi suaminya itu, Kafkha meninggalkan Medina di kamar hotel itu sendirian.
"Segitu kah dia membenci ku?"
Medina menyiapkan barang-barang nya yang ia bawa ke hotel kemarin sewaktu resepsi pernikahan mereka, Medina menghela napas karena Kafkha tidak juga kunjung datang.
Sementara itu Kafkha saat ini sedang di restoran favorit nya ia sedang menunggu Clara, Kafkha mau menjelaskan kepada Clara tentang pernikahan nya itu.
Pagi tadi Kafkha sangat susah meminta agar Clara mau menemui nya, Kafkha sangat memohon agar Clara bisa datang dan menemuinya, akhirnya Clara luluh juga dan mau menemui Kafkha.
...
Flashback on
Pagi itu Kafkha sudah bangun ia melihat Medina yang sedang sholat, Kafkha mengambil telepon genggam nya lalu ia pergi keluar dari kamar hotel itu, Kafkha mau menghubungi nomor kekasihnya.
Sudah beberapa kali Kafkha menelepon Clara tapi Clara tidak juga mengangkat telepon nya, Kafkha tidak putus asa ia tetap menelepon kekasih nya itu.
Mau seribu kali pun Clara tidak mengangkat telepon dari Kafkha tapi Kafkha tetap gigih untuk melakukan nya, Kafkha terus menghubungi nomor kekasihnya nya itu.
Tut Tut Tut
Berkali-kali Kafkha menelepon Clara tapi tetap saja Clara tidak mau mengangkat telepon dari nya, dan sampai pada akhirnya Clara mengangkat telepon dari Kafkha.
"Huff... syukurlah kamu mau mengangkat telepon dari aku, sayang!~kafkha
"Kamu mau apa menelepon ku hah?, apa kamu mau menghancurkan hati ku lagi?, hati aku sakit kaf saat melihat orang yang aku cintai malah menikahi gadis lain~ Clara
Kafkha menghela napas panjang, ia juga merasakan sedih saat orang ia cintai telah ia lukai hatinya, Kafkha diam sejenak karena ia merasa tidak berguna saja hidup di dunia ini, telah menghancurkan hati seorang perempuan yang sangat ia cintai.
"Aku telah sabar menunggu kamu kaf, aku selalu sabar selama empat tahun ini menunggu kamu mau menikahi ku, tapi apa yang kamu berikan pada ku?, kamu malah membalas kesabaran ku selama ini dengan menikahi gadis itu, apa maksud mu mau menghancurkan ku~ Clara
Clara memulai sandiwara nya, agar Kafkha tambah merasa bersalah padanya.
"Maafkan aku Ara, aku tidak bermaksud menyakiti mu, aku tidak tau harus berbuat apa lagi karena ini perintah dari kakek ku!~ Kafkha
"Apa kamu mau menemui ku, aku akan menjelaskan nya pada mu, semuanya!" ujar Kafkha di balik sambungan telepon itu.
"Aku tidak mau menemui mu~Clara
"Aku mohon sayang, tolong dengarkan penjelasan ku!" ujar Kafkha memohon
"Tidak ya tidak kaf! bantah Clara di balik sambungan telepon itu.
"Tapi aku mau menjelaskan pada mu, kalau ini hanya pernikahan paksa!" ujar Kafkha memohon agar Clara mau mendengarkan nya.
Clara terdiam di balik sambungan telepon itu.
"Baiklah~ ujar Clara lalu ia mematikan sambungan telepon itu.
__ADS_1
...
Clara tersenyum penuh kemenangan karena Kafkha berpihak pada nya, ia akan melancarkan aksinya untuk merebut Kafkha kembali.
"Baiklah gadis munafik, aku akan merebut Kafkha dari kamu, Kafkha itu milik ku bukan milik mu gadis munafik!"
Clara bersiap-siap untuk menemui Kafkha, ia akan memulai menggencarkan aksinya bersandiwara di depan Kafkha agar Kafkha tetap memilih nya.
"Tunggu cara ku merebut Kafkha dari kamu gadis munafik!"
...
Kafkha menunggu Clara di restoran itu dengan gelisah nya, entah apa yang akan ia jelaskan pada Clara nantinya, ia merasa cemas untuk saat ini.
Kafkha menyeruput secangkir capuccino yang ia pesan tadi, sekali-kali Kafkha melihat jam di pergelangan tangan nya itu.
"Apa Clara tidak jadi ke sini?"
Kafkha melirik ke sana ke sini untuk mencari Clara yang tak kunjung tiba, ia harus menjelaskan kepada Clara tentang pernikahan ini.
Akhirnya Kafkha tersenyum juga saat ia melihat kekasihnya itu menghampiri nya di meja restoran ini.
"Sayang!" lambaian tangan Kafkha memanggil kekasih nya itu.
Clara berjalan dengan anggun nya menghampiri Kafkha, ia memasang wajah sok jual mahalnya pada Kafkha, ia berpura-pura tidak menanggapi Kafkha lagi.
"Silahkan duduk sayang!" ujar Kafkha membantu menggeser kan kursi agar Clara bisa duduk.
"Tidak usah basa-basi kaf, langsung saja pada intinya, aku tidak punya banyak waktu!" ujar Clara dengan tampang sombong nya.
Senyum manis Kafkha tadi langsung pias, ia langsung menggenggam tangan Clara yang ia letakkan di atas meja, dengan pura-pura nya Clara sok jijik dengan tangan Kafkha yang menggenggam tangan nya itu.
"Tidak usah pegang-pegang tangan ku, kita bukan siapa-siapa lagi!" ujar Clara membuang muka.
Kafkha menghela napas, wajar Clara marah padanya karena merasa di bohongi dan di tinggal nikah juga, pikir Kafkha.
"Maaf!" ujar Kafkha meminta maaf terlebih dahulu.
Clara masih membuang muka, ia masih enggan melihat Kafkha, "untuk apa kamu meminta maaf jika kamu hanya mau menyakiti hati ku!" ujar Clara
"Aku tau kamu marah dengan ku, asalkan kamu tau saja jika aku tidak ingin menikahi gadis itu!" ujar Kafkha
Clara tersenyum sinis, "omong kosong apa ini!" ujar Clara lalu ia menatap Kafkha.
"Omongan kamu itu basi kaf, kamu bilang kalau kamu tidak mau menikahi gadis itu, terus apa kaf? apa? kamu malah menikahi gadis itu, sama saja kamu munafik!" ujar Clara dengan senyum sinis.
"Ini hanya paksaan ara, aku memang tidak mau!" ujar Kafkha dengan wajah mengiba
"Lalu? aku harus apa hah? aku sangat sakit hati kaf, pertama kamu membohongi ku, kamu bilang kamu berkerja di luar kota dan sangat sibuk sampai-sampai kamu tidak jadi melamar ku, kedua kamu malah menikah dengan gadis itu, terus mau kamu apa lagi setelah ini kaf? kamu mau menghancurkan ku lalu membunuh ku secara perlahan-lahan, itu maksud dan tujuan mu kaf? ujar Clara sambil menangis, Kafkha tambah merasa iba dengan kekasih nya ini.
"Aku tidak bermaksud membohongi mu, aku hanya tak ingin kamu tau tentang pernikahan paksaan ini, aku berkali-kali menolaknya agar kakek membatalkan rencana pernikahan ini, tapi apa ara, kakek malah mengancam ku dengan cara mengambil semua harta yang telah ia berikan pada ku, tidak hanya itu saja Ara, kakek juga ingin mengambil cabang perusahaan yang telah aku bangun, semua yang ada pada diri ku kakek akan ambil.
__ADS_1
Aku tau aku salah Ara, aku tidak berbicara jujur pada mu, dan kamu malah kecewa pada ku, coba saja dari awal aku jujur pada mu, mungkin kamu tidak akan se-kecewa ini dan se-marah ini pada ku!" ujar Kafkha lalu ia berhenti berbicara untuk mengambil napas dalam-dalam.
"Coba kamu di posisi ku, mungkin kamu akan melakukan hal yang sama, aku bukan menghianati cinta kamu tapi aku hanya ingin menyelamatkan nama baik keluarga ku, aku sebenarnya ingin menolak--!"
Ucapan Kafkha di potong oleh Clara, "jika kamu ingin menyelamatkan nama baik keluarga mu, terus kenapa harus kamu kaf?, kakak kamu bisa menikah dengan gadis itu, kenapa harus kamu, itu sama saja menyakiti hati ku, seharusnya kamu menolak dan tidak mau menerima nya, kamu bisa membantah nya, sedangkan kakak kamu belum menikah, kenapa tidak dia saja kaf?" ujar Clara masih menangis.
"Aku tidak tau ara, kenapa harus aku!" ujar Kafkha
"Kamu mau menyelamatkan nama baik keluarga mu dari omongan orang dan keluarga wanita yang kamu nikahi itu, sedangkan kamu tidak pernah memikirkan perasaan ku!" ujar Clara
"Aku minta maaf sekali lagi pada mu Ara, aku tidak bermaksud menghancurkan perasaan kamu!" ujar Kafkha
Mereka berdua saling diam, Clara menghapus sisa-sisa air matanya itu.
"Apa kamu mau memaafkan aku?"
Clara masih diam, "Clara, percayalah aku sangat mencintaimu, hanya nama mu yang tertulis di hati ku!" ujar Kafkha
"Buktinya apa kaf? kamu malah menikah dengan orang lain, kamu pikir hati aku apa kaf? jangan keluarkan omong kosong mu itu lagi!" ujar Clara
"Aku benar-benar mencintai kamu, aku tidak pernah mencintai gadis itu, hanya kamu Ara, hanya kamu yang aku cintai, aku mohon maafkan aku!" ujar Kafkha memohon.
Clara menghela napas lalu ia menatap wajah Kafkha dengan lama, "aku mau memaafkan kamu, tapi dengan satu syarat!" ujar Clara memberikan syarat pada Kafkha.
"Apa syarat nya?"
"Tinggalkan gadis itu, maka aku akan memaafkan kamu!" ujar Clara menatap Kafkha dengan senyum sinis.
Wajah Kafkha langsung berubah masam, "kenapa? kamu tidak bisa!" ujar Clara
"Baik, kalau itu mau mu!" ujar Kafkha
Clara tersenyum kepada Kafkha.
"Tapi tidak sekarang!" ujar Kafkha lagi
Senyum Clara langsung pias mendengar penuturan dari Kafkha, "kenapa, apa kamu takut dengan ancaman kakek mu itu?" tanya Clara kembali memasang wajah sedih.
Kafkha mengangguk sebagai jawaban nya, "beri aku waktu untuk meninggalkan gadis itu!" ujar Kafkha meminta keringanan.
"Baiklah!" jawab Clara
...
Bersambung...
**Komentar kek, biar author tambah semangat ngetik nya pada saat bulan puasa gini, tidak ada komentar maka tidak akan author up tiap hari.
Komentar jangan next sama lanjut mulu, yang panjang kek, coba komentar alur sama isi cerita nya agar author tau apa saja yang harus author perbaiki.
Komentar yang panjang, tidak menerima komentar next sama lanjut!!!!๐๐คจ๐ค**
__ADS_1