
Tidak berselang lama kepergian Kafkha, Darmansyah bersama Darman tiba di rumah baru Kafkha itu, Darmansyah di kawal oleh banyak bodyguard nya, seperti itulah orang kaya raya kemana pun ia akan pergi pasti para bodyguard nya akan mengikutinya.
Darmansyah dan Darman keluar dari mobil Alphard warna hitam mengkilat itu.
"Apa ini rumah baru mereka?" tanya Darmansyah melihat rumah tidak terlalu besar itu.
"Iya ayah!" jawab Darman
Mereka berdua berdiri di pintu utama itu, semua bodyguard Darmansyah berdiri di depan gerbang dan ada juga berdiri di belakang rumah Kafkha ini, mereka semua mencar-mencar untuk menjaga tuanya itu.
"Ketuk pintu nya!" titah Darmansyah kepada Darman
Tok tok tok
Pintu utama itu di ketuk oleh Darman, tidak lama dari itu Medina membukakan pintu itu.
"Kakek, papa!" gumam Medina
"Assalamualaikum!" ucap salam Darmansyah
"Wa'alaikumussalam, silahkan masuk kek, pa!" ajak Medina
Mereka masuk ke dalam rumah itu, Darmansyah duduk di sofa itu matanya mengelilingi setiap sudut rumah ini.
"Bocah itu kemana lagi dia?" batin Darmansyah
Dari awal sampai ke sini Darmansyah sudah mulai curiga juga jika Kafkha tidak ada di rumah, buktinya saja mobil Kafkha tidak ada di garasi rumah nya ini.
Medina membuatkan minuman untuk papa dan kakeknya itu.
"Silahkan di minum papa, kek!"
Darmansyah mengangguk-angkuk seraya menyeruput secangkir teh yang di buatkan oleh Medina itu.
"Kafkha kemana?" tanya Darmansyah dengan nada suara datar.
"Mas Kafkha... hmm... mas Kafkha lagi pergi bekerja kek!" jawab Medina berbohong.
"Kerja?" timpal Darman
"Iya pa!"
"Bukankah dia lagi cuti sekarang?" tutur Darman
Medina mulai tegang ucapan papa mertuanya itu, ketahuan bohongnya Medina, Darmansyah tersenyum kecil.
"Sudah di pastikan jika bocah itu pergi jalan sama makhluk lintah itu, sebenarnya apa sih tujuan makhluk lintah itu? tidak tahu malu!" batin Darmansyah
Darmansyah mengepalkan tangannya, ia ingin menyeret paksa Kafkha lagi tapi waktu itu ia sudah berjanji jika ia tidak akan mengikut campuri urusan Kafkha lagi.
__ADS_1
"Ah, si*l, seharusnya aku tidak berucap seperti itu, seharusnya aku tetap mengawasi bocah upil itu, sekarang lihatlah dia sudah berani melawan ucapan ku dan tidak takut lagi dengan ancaman ku!" batin Darmansyah
Darmansyah dan Darman berpamitan dengan Medina, mereka hanya sebentar ke sini lalu mereka pulang kembali.
Sebenarnya Darmansyah ingin bertemu dengan Kafkha.
"Jaga diri baik-baik ya nak!" ujar Darmansyah kepada cucu menantunya itu.
"Iya kek!"
"Kami pulang dulu! tutur Darman
"Iya pa, hati-hati di jalan!" ucap Medina
Medina menghela napas, sudah banyak kali ia berbohong dengan kakek dan papa mertuanya itu, demi menutupi aib suaminya itu Medina terpaksa berbohong.
"Maafkan Medina ya Allah... Medina terpaksa berbohong!"
...
Di sisi lainnya si makhluk lintah dan bocah upil itu lagi berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan ada di kota mereka itu.
Clara bergelayut manja di tangan Kafkha itu, sedangkan Kafkha tidak mempermasalahkan itu, sudah berapa dosa yang di catat oleh malaikat karena perbuatan mereka itu, terlebih lagi Kafkha yang terang-terangan selingkuh di depan istri nya, mungkin sudah banyak dosa yang di catat oleh malaikat untuk dirinya dan Clara.
Apa lagi makhluk lintah yang satu ini tidak tahu malu, bisa-bisanya dia jalan dengan suami orang, mungkin sudah banyak juga malaikat mencatat dosa nya itu.
"Kamu mau beli apa lagi?" tanya Kafkha
Mereka berdua lagi berdiri di depan toko perhiasan itu, Clara menunjuk sebuah kalung berlian dengan liontin giok berwarna biru laut itu.
"Bagus kan kalung nya? ucap Clara, tangan wanita itu tak pernah ia lepaskan dari tangan Kafkha itu, ia selalu saja nempel di tangan Kafkha itu, memang pantas Darmansyah menjuluki wanita ini dengan makhluk lintah.
"Beli saja kalau bagus, aku yang bayar!" ujar Kafkha
Antara b*doh atau apa sih si Kafkha ini, mau-mau saja membelikan orang lain kalung berlian yang sangat mahal itu, sedangkan istrinya tak pernah ia belikan perhiasan.
"Ah, terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu!" ujar Clara dengan senyum manis nya itu.
Kafkha juga ikut tersenyum, "aku juga mencintaimu!" tutur Kafkha
...
Malam sudah tiba, Medina menunggu suaminya itu pulang sudah dari tadi Kafkha pergi sampai saat ini ia belum pulang, seberapa cemasnya Medina menunggu kepulangan dirinya itu, tapi dia tak pernah mengerti perasaan gadis yang ia nikahi itu.
"Kemana mereka pergi nya?"
Medina sangat mencemaskan suaminya itu apa lagi Kafkha jalan dengan wanita lain, tidak tutup kemungkinan jika hal yang buruk terjadi kepada mereka, pikiran Medina sudah buruk saja.
"Astagfirullah alhazim... aku tidak boleh berpikir buruk, semoga saja mas Kafkha baik-baik saja!"
__ADS_1
Saat ini Medina membuka cadar nya kerena tadi itu ia tidak sengaja cadarnya terkena kuah sayur saat ia makan tadi, wajah cantik itu sangat jelas terlihat tanpa menggunakan kain penutup separuh wajah itu, ada gurat khawatir yang tampak dari wajah wanita cantik itu.
Mobil Kafkha masuk ke pekarangan rumah nya itu, Medina mengintip di balik gorden, hatinya merasa lega saat suaminya sudah pulang.
Medina buru-buru memakai kain penutup wajah nya itu, Kafkha tidak sengaja melihat Medina yang sedang kesusahan memasang cadar nya itu.
"Ninja lagi kesusahan memasang penutup tompel nya itu!" ejek Kafkha
Median yang lagi membelakangi Kafkha itu, ia mendengar ucapan suaminya itu, sebenarnya hatinya itu sangat sakit saat suaminya itu selalu memaki dan mencela wajah nya yang selama ini tak pernah di lihat oleh nya.
"Apa saat ini saja aku perlihatkan wajah asli ku padanya, toh dia sudah menjadi suamiku dan dia waktu itu juga meminta ku untuk melepas cadar ini!" batin Medina
Medina lagi berpikir sejenak, apa saat ini saja ia memperlihatkan wajah aslinya pada Kafkha agar Kafkha bungkam dan tidak mengejek dia lagi, Medina menghela napas, ia sudah siap dengan konsekuensi yang akan ia dapatkan nantinya jika Kafkha melihat wajah aslinya.
Medina memutar tubuhnya ia menatap Kafkha yang hampir dekat dengan nya itu, cadar tadi belum ia pasang dengan sempurna, malam ini ia akan memperlihatkan wajah aslinya kepada suaminya itu.
"Tompelan! caci Kafkha
Medina membuka cadarnya itu perlahan-lahan, Kafkha mematung saat apa yang di lakukan oleh Medina itu.
"Sudah jangan buka cadar mu itu, di balik cadar mu itu pasti ada tompel yang selalu kamu tutupi--!" Kafkha langsung bungkam dan tidak jadi melanjutkan ucapannya untuk mencemooh wajah istrinya itu.
Medina membuka cadarnya itu pas di hadapan Kafkha, mata Kafkha langsung membulat dengan sempurna tatkala melihat wajah asli dari Medina, wajah yang selalu di tutupi oleh kain itu sangat cantik, apa lagi kulit pipinya sangat bersih dan tidak ada bekas jerawat sedikit pun, Kafkha berulang kali mengucek matanya karena ia tidak percaya.
"Astaga, cantik sekali!" batin Kafkha
"Ini pasti salah kan?" ujar Kafkha
Medina mengerutkan keningnya, "salah apa mas? tanya Medina, Kafkha kenal betul dengan suara lembut dari Medina itu, bahkan mata indah milik Medina itu sangat ia kenal.
"Kamu jangan berbohong, mana wanita tompelan itu?" cecar Kafkha tidak yakin jika istrinya wanita cantik yang berdiri di hadapan dia saat ini.
"Tidak ada wanita tompelan itu mas, kamu kenapa sih?" tanya Medina
Medina tersenyum senang dalam hatinya karena ia sudah berhasil membuat hati Kafkha terombang-ambing.
"Kamu siapa hah?" tanya Kafkha masih tidak percaya
"Aku istri mu, aku istri ninja mu itu mas, aku istri tompelan yang sering kamu bilang itu mas, aku Medina putri Harun!" jawab Medina dengan suara lembut khas seperti suara biasanya.
Kafkha menggeleng-nggelengkan kepalanya tidak percaya, ia langsung naik ke lantai atas dan masuk ke kamar nya. Baru melepaskan cadar di hadapan suaminya itu sudah membuat suaminya itu ketar-ketir, apa lagi yang lainnya.
...
Bersambung...
Hayooo yoyoyo silahkan beri komentar kalian di cerita ini, no komentar pendek, author mau lihat komentar panjang dari kalian.
Like sama vote nya jangan lupa juga, jangan jadi pembaca gelap saja!!!
__ADS_1