
Hari esoknya Kafkha meminta izin kepada keluarganya ia ingin pindah dari rumah orang tuanya ini, Kafkha ingin pindah dan hidup berdua dengan Medina, bukan ingin hidup berdua melainkan Kafkha ingin melancarkan aksinya, jika ia tinggal serumah dengan orang tua dan kakeknya maka surat perjanjian kontrak pernikahan itu pasti akan ketahuan juga, jadi jalan yang Kafkha ambil adalah pindah dari rumah Darmansyah ini.
"Aku ingin tinggal berdua dengan istri ku, iya kan sayang!" ujar Kafkha bersikap manis kepada istrinya ini di depan keluarga besarnya.
Medina hanya diam membisu, Kafkha jengkel dan marah pada Medina karena dia diam saja tanpa mau membela dirinya ini, dengan kesalnya Kafkha mencengkram pundak istrinya itu yang lagi ia rangkul, Medina melihat sekilas Kafkha ternyata Kafkha sedang memberi isyarat padanya untuk bersandiwara.
Pintar sekali kamu Kafkha bersandiwara di depan keluarga besar mu!
"I-iya kakek, Medina ingin hidup berdua dengan mas Kafkha, Medina tidak ingin merepotkan kalian!" ujar Medina terpaksa ikut dalam sandiwara yang di ciptakan oleh suaminya ini.
Darmansyah melihat gerak-gerik cucunya ini yang tampak agak lain, seorang Darmansyah tidak akan bisa di tipu oleh upil kecil seperti Kafkha ini.
"Kami tidak merasa direpotkan kok!" ujar Sarah, biar bagaimanapun Sarah tidak ingin anak dan menantunya ini pindah dari rumah ini.
"Tapi ma, aku ingin berdua tinggal bersama dengan istri ku!" ujar Kafkha dengan mulut sok manis nya itu, sangat pintar sekali ia merayu keluarga nya ini.
"Rumah sebesar ini apa kurang untuk mu? ujar Darmansyah
"Kakek ayolah!" ujar Kafkha
"Tidak!" ujar Darmansyah dengan menghentakkan tongkat nya ke lantai.
Kafkha menghela napas karena permintaan nya tidak di turuti oleh keluarga nya.
"Tua bangka s*al*n, sudah menghancurkan hidup ku, sekarang dia malah mengekang ku, dasar tua bangka!" umpat Kafkha dalam hati.
Darmansyah sudah membaca isi pikiran cerdik dari cucunya itu, jika Darmansyah memberikan izin kepada cucunya itu untuk pindah yang ada Medina akan sengsara hidupnya oleh cucunya itu, jadi jalan aman yang di ambil Darmansyah yaitu tidak mengizinkan cucunya itu untuk pindah.
"Dasar cucu bego, emang kau pikir aku bodoh apa! batin Darmansyah
Darmansyah tidak akan rela melihat cucu menantunya itu di sakiti, Darmansyah juga tidak rela melihat cucunya itu jalan dengan makhluk lintah alias Clara itu.
Karena tidak mendapatkan izin untuk pindah kini Kafkha pergi ke kamar nya itu, ia membanting pintu kamar nya itu saking marahnya. Bahkan Kafkha memukul dinding dengan tangan nya.
__ADS_1
Medina menghampiri suaminya itu, ia melihat bagaimana kemarahan dari suaminya itu.
"Aakakh...!"
Medina mengusap dadanya karena kaget melihat kemarahan suaminya itu, "istighfar mas!" ujar Medina menenangkan suaminya itu.
"Sudahlah kau sama saja dengan mereka!" bentak Kafkha pada Medina.
"Astagfirullah... aku sudah membantu mu dalam bersandiwara tadi sekarang mas menyebutku sama saja seperti mereka!" ujar Medina dengan suara lembut.
"Sudahlah kau tinggalkan saya sendiri di sini, saya muak melihat wajah sok polos kau itu!" bentak Kafkha mendorong tubuh Medina sampai-sampai Medina terjatuh ke lantai.
"Ya Allah... lunakkan lah hati suami hamba dan lunakkan lah tutur katanya pada hamba!" batin Medina
Medina berdiri lalu ia turun lagi ke lantai bawah, di sana tidak ada siapapun lagi, sebenarnya Medina lelah dengan pernikahan yang baru beberapa hari ini, tapi ia tetap bertahan agar rumah tangga nya ini tetap utuh.
...
Hari begitu cepat berlalu saat ini Kafkha lagi bersiap-siap ingin ke kantor nya karena sudah seminggu ia libur karena pernikahan nya waktu itu. Medina juga akan bersiap-siap untuk pergi ke kampus nya karena sudah seminggu pula ia minta cuti.
"Gimana ma enak nggak?" tanya Medina pada Sarah yang lagi menyicipi masakan nya itu.
"Enak, kamu belajar masak dari siapa?" tanya Sarah
"Dari ibu, Dina sering bantu ibu di rumah ma!" ujar Medina
Kini keluarga mereka itu satu persatu sudah duduk di meja makan, Kafkha belum menampakkan batang hidungnya di meja makan itu.
"Kafkha mana?" tanya kakek Darmansyah
"Masih di kamar kek!" jawab Medina dengan sopan dan ramah.
Medina memanggil suaminya itu guna untuk sarapan bersama, di dalam kamar Kafkha ternyata sedang menelepon Clara, sepagi ini Clara sudah menelepon suami orang.
__ADS_1
"Apa tadi sayang?" tanya Kafkha di balik sambungan telepon tadi karena ia lagi memasang sepatutnya jadi nya ia tidak mendengar betul ucapan kekasih nya itu.
Bertepatan dengan itu Medina membuka handle pintu itu, hati Medina seakan di cubit oleh sesuatu karena mendengar ucapan manis suaminya itu pada wanita lain.
Medina berdiri di ambang pintu memperhatikan suaminya itu yang entah sengaja memamerkan pada Medina jika ia sedang teleponan dengan kekasih nya.
"Iya sayang, aku akan menemani kamu nanti!" ujar Kafkha di balik sambungan telepon itu.
"Sudah dulu ya sayang, aku buru-buru ke kantor nih, sampai jumpa sayang!" sambungan telepon di akhiri.
"Mas, sarapan yuk!" ujar Medina pada akhirnya ia buka suara karena ia mendengarkan semua obrolan mesra suaminya itu dengan wanita lain.
Hati wanita mana yang tidak sakit saat suami sendiri telepon dengan wanita yang ia cintai, Medina terpaksa harus sabar menanggapi ini semua.
Kafkha tidak mempedulikan Medina yang ada di ambang pintu itu, ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kafkha menghampiri Medina yang lagi di ambang pintu itu.
"Awas saja kamu bilang macam-macam sama kakek, saya tidak akan beri ampun kamu!" ujar Kafkha di telinga Medina itu lalu ia menyenggol bahu Medina sampai-sampai Medina terhuyung ke belakang.
Medina menghela napas seraya tersenyum tipis di balik cadarnya itu, hanya sabar saja yang bisa ia lakukan saat ini.
"Medina ambilkan nasi goreng itu untuk suami mu!" ujar Sarah, Medina mengangguk kecil lalu ia mengambilkan nasi goreng itu untuk suaminya itu, Kafkha menatap sinis kearah Medina.
Darmansyah mengangguk-angguk kecil seraya tersenyum melihat cucu nya yang tidak bertingkah aneh-aneh di pagi hari ini.
"Ya elah, enak kayaknya punya istri ya, apapun itu selalu di siapin oleh istri, gue kan mau juga seperti mereka!" batin Hanif
Hanif menghela napas nya ia sangat iri melihat adiknya yang sudah berumah tangga itu, sedangkan dirinya belum juga berumah tangga.
...
Bersambung...
Hayooo yoyoyo silahkan beri komentar kalian di cerita ini, no komentar pendek, author mau lihat komentar panjang dari kalian.
__ADS_1
Like sama vote nya jangan lupa juga, jangan jadi pembaca gelap saja!!!