
Mereka berdua berdebat kecil, sebenarnya bukan mereka berdua sih yang berdebat tapi Kafkha sendiri yang sangat mau melihat bibir Medina itu, entah lah mungkin ini keanehan yang di rasakan oleh Medina terhadap suaminya itu.
Saat ini Kafkha lagi berusaha membuka paksa cadar Medina itu, tangan kekarnya itu berusaha menjangkau ikatan cadar Medina itu, mereka berdua ribut kecil.
"Haha... tidak bisa sini kejar aku!" Medina berhasil menyingkir dari hadapan Kafkha itu, dengan usaha Kafkha mengejar Medina yang berlari kecil mengelilingi meja makan itu.
"Sini mas sini kejar sampai dapat!"
Medina tertawa kecil di balik cadarnya itu ia berdiri di sisi kanan meja makan itu, sedangkan Kafkha berdiri di sisi kiri meja makan itu.
"Medina... kamu berhenti atau saya pastikan jika kamu tidak bisa lari dari saya!" ancam Kafkha menyuruh Medina untuk stop berlari.
"Tidak mau...!" tawa kecil wanita yang menyembunyikan wajah cantiknya itu di balik cadarnya.
Kafkha menghela napas ia perlahan-lahan menghampiri Medina yang sudah lelah berlari kecil menghindar dari Kafkha.
"Kejar kalau bisa, uuu... mas cemen sekali!" ledek Medina melihatkan kedua jempolnya seperti cemen.
Kafkha menghela napas lalu tangan nya itu langsung menyambar tangan Medina yang mulanya ingin bergegas pergi, sayangnya Kafkha dapat menangkap Medina.
"Sekarang kamu tidak bisa kabur lagi dari saya, cepat buka cadar mu itu!" paksa Kafkha sudah menarik pengikat cadar Medina itu.
Medina memanyunkan bibirnya saat Kafkha sudah berhasil membuka cadarnya itu, "sekarang mas mau apa dengan bibir Dina?" pertanyaan Medina sangat polos sekali.
Kafkha langsung mencapit bibir mungil Medina itu, tangan nya bergerak-gerak mencapit bibir itu, sangat puas sekali sensasi tangan nya menggerak-gerakkan tangan nya itu mencapit bibir mungil Medina.
"Kenapa kamu sangat suka mencapit bibir ku?" tanya Medina cemberut pada Kafkha.
"Terserah saya!"
Pada saat itu Hanif juga pergi ke dapur, Kafkha menyadari itu bahwa Medina tidak mengunakan cadarnya, Kafkha langsung menyembunyikan Medina di balik punggung nya, ia tidak rela siapapun itu melihat kecantikan istrinya selain diri nya saja.
"Stop di sana bang!" perintah Kafkha menghentikan langkah kaki Hanif yang ingin ke dapur untuk mengambil air minum.
Hanif langsung berhenti di jalan menuju dapur itu, Kafkha membawa Medina dari sana ia menyembunyikan wajah Medina itu.
"Adik ipar kenapa kaf?" tanya Hanif
"Bukan urusan abang!" ketus Kafkha
Cadar Medina tadi tertinggal di meja makan itu, karena Kafkha membawa Medina tanpa mengambil cadar Medina itu.
Hanif garuk-garuk kepala yang tidak gatal melihat tingkah adik nya itu, "aneh sekali dia!" gumam Hanif
Hanif baru paham saat ia melihat cadar Medina tertinggal di meja makan itu.
"Ooh, cadarnya terlepas, makanya Kafkha melarang ku untuk mendekat tadi!"
__ADS_1
Kafkha bersama Medina sampai di kamar mereka, Medina mendorong tubuh Kafkha itu.
"Sebel sama mas, untung saja kak Hanif tidak melihat ku!" sungut Medina
"Kenapa kau menyalahkan saya, kau sangat ceroboh!" Kafkha tidak mau di salahkan.
Medina menghela napas, waktu sholat isya telah masuk ia mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat.
"Sholat dulu baru tidur!" tutur Medina
"Malas!" imbuh Kafkha dengan santainya mengatakan malas.
"Tidak takut dosa kah kamu mas?"
"Dengar tausiah singkat aku ini mas!" ujar Medina
"Sesungguhnya Allah ta'ala berseru: “Hai orang yang meninggalkan sholat isya, bahwa Aku tidak ridho jika kamu tinggal dibumi-Ku dan menggunakan segala nikmat-nikmatKu, segala yang dikerjakan dan digunakan ialah berdosa kepada Allah SWT!"
"Jadi apakah mas mau meninggalkan sholat isya mas dengan sengaja? Allah SWT tidak akan ridho jika mas tinggal di atas bumi-Nya ini karena mas meninggalkan sholat isya mas dengan sengaja, hayoo lho apa kamu tidak takut kepada Allah SWT?"
Kafkha terdiam ia merasa terhenyak setelah mendengar ceramah singkat istri sholeha nya itu.
Kafkha bergegas ke kamar mandi ia mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat isya nya.
"Masya Allah... suami Dina sangat tampan sekali setelah usai ambil wudhu!" puji Medina pada Kafkha, Kafkha sudah besar kepala saja setelah mendapatkan pujian dari istrinya itu.
"Eh, eh mau apa?" tanya Medina saat Kafkha menyelenggarakan sajadah nya itu.
"Iya tau, tapi seorang laki-laki itu di wajibkan untuk sholat berjamaah di masjid, jadi mas harus sholat di masjid ya!" saran Medina
"Malas!" sanggah Kafkha
"Tapi pahalanya 25 kali lipat lho mas, apa kamu tidak mau mendapatkan pahala sebanyak itu?" imbuh Medina dengan tersenyum kepada suaminya itu.
"Sekali ini saja, saya malas untuk ke masjid!" rengek Kafkha
Medina menggeleng-nggelengkan kepalanya, ia menghela napas, "hmm... suami Dina kenapa pemalas seperti ini? tapi tidak apa lah yang terpenting suami Dina mau sholat!" tutur Medina
"Kamu jadi imam untuk Dina ya mas!" sambung Medina
Kafkha membelalakkan matanya karena selama ini ia tak pernah menjadi imam. Mau bilang jujur tapi ia gengsi, mau jadi imam tapi ia tak pernah menjadi imam sebelum nya.
"Ayo mas, nanti wudhu kita bisa batal!" ujar Medina
Kafkha melangkahkan kakinya ke depan sedikit, Medina membentangkan sajadah nya di sebelah kiri Kafkha sedikit ke belakang.
"Mas, pasti bisa kan...!?" goda Medina sangat pandai merayu seorang Kafkha.
__ADS_1
Kafkha menatap Medina sekilas lalu ia menelan ludah nya, dia sedikit grogi untuk menjadi imam.
Apa dia bisa? atau tidak bisa sama sekali?
Kafkha mulai membaca niat sholat isya dalam hati dan ia mulai mulai mengangkat kedua tangannya membaca takbir pertama.
"Allahu Akbar"
Kafkha membaca do'a iftitah dalam hatinya selesai ia membaca do'a iftitah lalu ia menyambung nya dengan surat Al-fatihah, saat mulai membaca surat Al-fatihah ia mengeraskan bacaan nya.
"Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
"Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn
"Ar-raḥmānir-raḥīm
"Māliki yaumid-dīn
"Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn
"Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm
"Sirāṭallażīna an’amta ‘alaihim gairil-magḍụbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn
-
-
-
Dan sampai salam terakhir, Kafkha bisa membawakan sholat isya nya dengan baik tanpa ada keraguan sedikitpun, sholat isya pun telah selesai mereka berdua laksanakan.
Kini Medina mencium punggung tangan Kafkha itu, ia sangat terharu dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur'an yang di bacakan oleh Kafkha tadi, sebenarnya Kafkha ini orang nya sangat baik tapi baik nya itu sudah tertutup oleh semua keburukan nya makanya semua orang menganggap dirinya itu seorang laki-laki yang tidak baik akhlak dan perilaku nya.
Ada nilai baik tersendiri yang Medina nampak dari suaminya itu.
"Masya Allah... kamu hebat sekali ya mas, Dina tidak menyangka jika mas bisa membawakan sholat isya dengan baik, ternyata Dina tidak salah memilih suami!" ungkap Medina memberikan pujian kepada suaminya itu.
"Biasa aja kali, nggak usah berlebihan!" tutur Kafkha lalu ia bangkit dari sajadah nya itu.
"Ini bukan biasa saja mas tapi ini luar biasa!" ucap Medina.
...
Bersambung...
Komentar, like, berserta vote nya ya!!!
__ADS_1
Jangan jadi pembaca gelap saja.
jangan lupa mampir di cerita author yang tak kalah menariknya dari cerita ini, dengan judul (pernikahan siri seorang dokter) mampir ya readers.