
1 minggu kemudian...
Semua orang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing di lantai bawah, sementara itu Medina sedang di rias oleh MUA yang sangat terkenal di kota mereka itu.
Medina sudah siap dengan gaun pengantin yang ia gunakan untuk hari pernikahan nya dengan Kafkha nanti.
Sementara itu Kafkha sedang tiduran di kamarnya ia memandangi langit-langit kamarnya itu, berkali-kali ia menghela napas kasar. Ternyata pernikahan ini bukan mimpi melainkan kenyataan.
"Apa aku kabur aja ya?"
Kafkha duduk dari rebahan nya ia menyenderkan kepalanya di kepala ranjang, kalau Kafkha kabur sudah di pastikan Darmansyah tidak akan menerima Kafkha lagi sebagai keluarga nya.
"Darmansyah, ini semua gara-gara Darmansyah, coba saja dia tidak menjodohkan ku kepada wanita ninja itu, sudah pasti aku sudah bertunangan dengan Clara!"
Ngomong-ngomong soal Clara, Kafkha belum memberitahu Clara jika hari ini ia akan menikah, Kafkha tidak sanggup memberitahu Clara, ia cemas jika Clara akan berbuat nekat nantinya, jadinya Kafkha memilih jalan aman dulu ia belum mengasih tahu Clara untuk saat ini.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud menghianati cinta kamu, tapi aku harus apa sedangkan kakek ku mengancam keselamatan ku!" ujar Kafkha sambil melihat foto kekasihnya itu yang ia simpan di dompetnya.
Sebegitu besar cinta Kafkha untuk kekasih nya itu, akankah Kafkha bisa membagi cinta nya itu untuk Medina nanti atau hari ini hari terburuk bagi Medina untuk menjalankan kehidupan nya nanti.
Kafkha tidak bodoh sama sekali, ia sudah mempersiapkan rencana untuk pernikahan nya ini, pernikahan ini akan berjalan dengan lancar tapi Kafkha ada suatu rencana untuk dirinya dan Medina nanti.
Kafkha sudah mempersiapkan map berisi surat perjanjian kontrak pernikahan selama satu tahun lamanya, jika kontrak pernikahan itu sudah masuk pada waktunya maka mereka akan berpisah.
Darmansyah tidak tahu menahu tentang rencana dari cucunya yang sangat cerdik dan licik itu, karena terlalu bahagia Darmansyah tidak sempat memikirkan bahkan menyelidiki tingkah cucunya itu.
Saat ini Darmansyah menghampiri Kafkha di kamar cucunya itu, betapa kagetnya Darmansyah saat cucunya itu belum bersiap-siap juga, padahal acara ijab kabul akan segera di mulai, oh iya mereka mengadakan acara pernikahan di salah satu hotel yang sangat terkenal di kota nya ini, Darmansyah sendiri yang memilih tempat paling bagus untuk pernikahan cucu nya ini.
"Astaga... Kafkha kamu bikin malu kakek saja, bukanya bersiap tapi kamu malah seperti anak panda yang berkelimun di sebalik selimut mu ini!" ujar Darmansyah sambil menarik selimut cucunya ini.
"Apa sih kek?" ujar Kafkha jengkel dengan tindakan kakeknya ini.
"Kamu mau nikah sekarang kaf, masa kamu belum bersiap-siap, apa kata dunia jika pernikahan ini gagal?" ujar Darmansyah kali ini Darmansyah sangat emosi dengan cucunya itu.
__ADS_1
"Dunia bilang, baik-baik saja, malahan dunia akan tersenyum pada ku jika aku batal nikah!" jawab Kafkha membuat Darmansyah tambah emosi.
"Berani kau bantah saya!" ujar Darmansyah memegangi krah baju cucunya itu, mata tajam Darmansyah sudah memerah karena emosi.
Kafkha meneguk salivan nya secara kasar karena baru sekali ini ia melihat kakeknya itu sangat marah seperti ini, Darmansyah mendorong tubuh atletis cucunya itu.
"Jika kau bertindak semau mu, kau tidak akan bisa lagi menghirup udara nantinya, kau pikir aku main-main dengan ancaman ku ini?" ujar Darmansyah menatap cucunya itu secara sadis.
Seketika suasana kamar Kafkha itu berubah mencekam terlebih lagi Darmansyah menatap Kafkha seperti mau membunuh saja.
Kafkha terdiam lalu ia memakai pakaian yang sudah di siapkan sejak kemarin, Kafkha sangat tampan dengan jas berwarna putih dan dasi yang melingkar dan menjuntai ke bawah itu, ketampanan nya bertambah 180 derajat saja, tapi sayang wajah temboknya itu merusak semuanya saja.
Mereka menuju hotel dimana tempat ijab kabul akan di mulai beserta resepsi pernikahan nya sekalian juga dilangsungkan di tempat yang sama.
Mereka sampai di hotel itu tepat waktu, sementara itu Kafkha memasang wajah datar dan dingin, tidak ada tekstur senyum yang di perlihatkan oleh nya di wajah tampan nya itu.
"Senyum kaf!" ujar Sarah pada putranya itu
"Aaa... kenapa harus aku sih yang menikah dengan gadis ninja itu, bang Hanif kan ada!" gerutu Kafkha tidak terima.
Banyak kamera yang menyorot wajah Kafkha yang akan melangsungkan ijab kabul ini, sekali tarikan napas Kafkha mengucapkan janji suci itu di hadapan penghulu dan beberapa saksi.
"Bagaimana para saksi sah?"
"Sah"
"Sah...!" ujar para tamu undangan
Kafkha sempat termenung saat mulut nya itu sangat lancar menyebut nama Medina apa lagi janji suci yang ia ucapan sangat lancar tanpa ada gangguan sekali pun.
"Alhamdulillah kamu sudah sah menikah!" ujar Darmansyah sangat senang, Kafkha tersenyum simpul saja.
"Jangan salahkan aku jika pernikahan ini tidak akan baik-baik saja, aku hanya menjalankan pernikahan ini tapi tidak untuk membahagiakan wanita itu!" batin Kafkha
__ADS_1
Medina menyeka air matanya saat ia sudah sah menjadi seorang istri dari pengusaha ternama, ia terharu dan juga bahagia karena telah menjalankan wasiat dari kakeknya.
"Dina sudah menjalankan wasiat kakek, semoga kakek tenang di alam sana!"
Pintu kamar pengantin itu di buka oleh Ajeng dan juga Sarah mama mertua Medina, Ajeng bersama Sarah duduk di samping Medina yang lagi duduk di tepi ranjang itu.
"Sekarang kamu sudah sah menjadi menantu mama!" ujar Sarah mengusap belakang kepala Medina.
"Putri ibu harus menghormati seorang suami ya, apa pun yang di bilang suami kamu kamu harus menurutinya!" ujar Ajeng
Medina mengangguk seraya mencium punggung tangan kedua orang yang sangat ia hormati itu, Medina turun dari lantai dua, ia di bimbing oleh Sarah dan juga Ajeng, semua pasangan mata melihat pengantin wanita itu dengan terpesona, apa lagi mereka sangat penasaran dengan wajah Medina yang di tutupi oleh kain cadar berwarna putih itu.
"Masya Allah, pengantin wanita nya sangat cantik!"
"Iya, ya, keluarga Darmansyah pasti tidak salah memilih menantu!"
"Seperti apa wajah pengantin wanitanya itu, bahkan wajahnya masih kelihatan cantik walaupun memakai kain penutup separuh wajahnya itu!"
"Sudah di pastikan jika wanita ini sangat cantik!"
Semua para tamu undangan berbisik-bisik ingin mengetahui wajah pengantin wanita yang memaki cadar itu.
""Masya Allah... benar-benar cantik adik ipar gue, ah sayang sekali kenapa bukan gue aja yang menjadi pengantin pria nya!" batin Hanif
Bahkan Hanif sangat terpesona juga dengan kecantikan yang tertutup dari adik ipar nya itu.
"Ah kakek tidak adil sekali dengan gue, apa salah nya gue yang menikah dengan nya, ah kakek benar-benar tidak adil!" batin Hanif lagi
Hanif sangat iri dengan adik nya itu yang mendapatkan wanita yang sangat cantik seperti Medina.
...
Bersambung...
__ADS_1