Istri Bercadar Tak Dianggap

Istri Bercadar Tak Dianggap
part 9. Urus Saja Urusan Mu Jangan Urus Urusan Saya


__ADS_3

Setelah pertengkaran itu usai, Kafkha lebih memilih untuk rebahan di atas kasur empuk itu tadi itu ia sudah membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sementara itu Medina masih terisak kecil karena perlakuan suaminya itu semena-mena padanya, apa salahnya Kafkha menghargai istrinya itu, tapi Kafkha malah mencaci maki istrinya.


"Kau pikir saya kasihan dengan tangis pura-pura kau itu, menangis lah sesuka hati mu, saya tidak akan peduli, gara-gara kau hubungan saya dengan Clara jadi rusak!" Kafkha tidak pernah berhenti mencaci istri nya itu, ia akan selalu memojokkan Medina karena sakit hatinya belum lepas setelah apa yang ia terima saat ini.


"Andaikan kakek kau belum mati, mungkin saya tidak akan menikahi gadis seperti ninja seperti mu ini, siapa juga yang mau menerima gadis sok alim seperti kamu ini!"


Kata-kata Kafkha tidak pernah beralih dari mencaci Medina, entah apa yang ada dalam benak ia itu sehingga ia sangat tega dengan Medina.


Medina tambah terisak-isak duduk di sofa itu, kain penutup separuh wajahnya itu sudah basah akibat menangis.


"Ya Allah kuatkan lah hati Dina agar Dina tidak mudah rapuh dengan ujian yang Engkau berikan ini!" batin Medina


Kafkha tersenyum sinis melihat gadis yang ia caci maki itu menangis karena ulah nya, tidak ada rasa belas kasihan sama sekali untuk Medina.


"Perempuan munafik!" umpat Kafkha lalu ia membaringkan tubuhnya di kasur empuk itu, Medina menghapus air matanya lalu ia beranjak dari sofa itu guna untuk mengambil cadarnya di koper.


Medina masuk ke kamar mandi untuk mengganti cadarnya yang sudah basah karena air mata, ia menatap dirinya di pantulan cermin, matanya sudah bengkak karena menangis terlalu lama.


"Hiks... kenapa dia sangat membenci ku? hiks... apa salah ku padanya, hiks... dia tega mencaci maki istrinya sendiri, ya Allah... apakah ini bentuk cobaan yang engkau berikan kepada hamba?"


Medina menangis di dalam kamar mandi itu karena kata-kata Kafkha tadi terngiang-ngiang di kepalanya, sudah puas dia menangis di kamar mandi itu lalu ia keluar.


Medina melihat Kafkha yang sudah tertidur di kasur itu, Medina lebih memilih tidur di sofa ketimbang tidur dengan laki-laki yang menghancurkan hati nya.


"Kamu suamiku, tapi kenapa mulut mu sangat berbisa sekali mas?


Medina tidak dapat tidur karena ucapan Kafkha tadi terus saja berputar-putar di kepalanya.


Ia melihat jam pada handphone nya yang dari tadi tak ia sentuh, jam menunjukkan pukul 02.00 wib, Medina memilih untuk mengambil wudhu dan menunaikan sholat malam.


Medina membuka cadarnya saat ia lagi menunaikan sholat nya, selesai ia menunaikan sholat tahajud kini ia menengadah kedua telapak tangan nya ke atas.

__ADS_1


"Ya Allah... Dina tidak tau harus apa dengan sikap mas Kafkha, Dina baru tau watak dan sifat nya yang sangat kasar, apa ini ujian dari engkau ya Allah, jika ini merupakan ujian pernikahan yang engkau beri maka hamba akan ikhlas menjalankan nya ya Allah... Dina harap mas Kafkha bisa berubah seiring berjalannya waktu, bantulah Medina keluar dari ujian yang Engkau berikan ini ya Allah... kuatkan lah hati hamba ya Allah... aamiin...!"


Selesai Medina berdo'a ia membuka mukena nya dan melipat kembali mukena nya itu, Medina memasang cadarnya kembali, saat Medina selesai memasang cadarnya itu, Kafkha terbangun ia melihat Medina yang lagi berdiri di dekat sajadah nya.


Medina tidak menghiraukan Kafkha yang lagi menatap nya itu, Medina merebahkan dirinya di sofa itu.


"Emang gue pikirin, siapa suruh mau jadi istri gue!"


Medina sudah masuk ke alam mimpi nya, saat ini Kafkha lagi berusaha menghubungi nomor Clara, tapi Clara tidak mengangkat telepon dari Kafkha itu.


...


Saat ini Clara sedang emosi dengan kebohongan dari Kafkha, Clara sangat kecewa dengan kebohongan Kafkha itu.


"Kenapa sih kaf, kamu bohongi aku? aku selama ini percaya saja sama omongan kamu tapi sekarang kamu malah membohongi ku, kamu meninggalkan ku, kamu lebih memilih menikah dengan gadis tidak tahu diri itu, aku kurang apa lagi kaf? kenapa kamu begitu tega dengan ku?, kita sudah lama bersama-sama, sudah 4 tahun kita melewati waktu bersama tapi kamu malah menikah dengan wanita itu, apa alasan kamu menikah dengan gadis kampungan itu?


Clara menatap gelapnya malam akibat mendung, ia menggenggam tangan nya lalu memukulkan kepalan tangannya itu ke dinding kamar nya.


"Kamu jahat Kafkha, kamu jahat!"


Tidak Clara namanya jika ia di lawan seperti ini, apa lagi sudah memalukan nya di depan para tamu undangan tadi.


"Aku akan merebut kembali apa yang sudah menjadi milik ku, lihat saja kamu perempuan munafik, aku akan merebut Kafkha dari kamu!"


...


Darmansyah tidak dapat tidur karena ia memikirkan Kafkha dan Medina, sebenarnya Darmansyah sedikit kurang yakin dengan Kafkha, apa lagi Kafkha orangnya sangat pemarah dan juga keras kepala.


"Apa cucu menantuku baik-baik saja dengan Kafkha, aku sangat menghawatirkan cucu menantuku yang lagi bersama Kafkha, apa lagi Kafkha sangat pembangkang!"


"Berdo'a saja agar cucu menantuku baik-baik saja, aku yakin Kafkha pasti sangat marah dengan Medina, aku sangat tau dengan watak cucu ku itu, semoga kamu kuat Medina!"

__ADS_1


...


Pagi pun tiba, Medina sudah selesai menunaikan ibadah sholat subuh nya, sementara itu Kafkha belum juga bangun.


"Rupanya dia belum bangun!" Medina mendekati suaminya itu, ia menguncang tubuh Kafkha untuk membangunkan Kafkha.


"Mas, bangun apa kamu tidak sholat?" ujar Medina membangunkan suaminya itu, Kafkha menggeliatkan tubuhnya perlahan ia membuka kelopak matanya itu.


"Bangun, sebentar lagi cahaya matahari akan muncul, kapan kamu melaksanakan shalat subuh kamu?" ujar Medina


Medina paling pantang melihat seseorang meninggalkan sholat nya, ia sangat marah jika seseorang itu meninggalkan sholat wajib, apa lagi saat ini Kafkha sudah menjadi suami, imam dan sekaligus jadi panutannya juga.


"Berisik banget sih, siapa kamu mengatur-atur hidup saya ha?, urus saja urusan mu jangan urus urusan saya, pergi sana!, baru sehari jadi istri saya kamu sudah mengatur-atur kehidupan saya, siapa kamu siapa saya, anggap kita tidak saling kenal!" ujar Kafkha mendorong tubuh Medina menggunakan kaki kuatnya itu, beruntung Medina dapat mengimbangi tubuhnya dan tidak jadi terjungkal.


"Aku istri mu dan kamu suamiku, pantas aku menegur mu mas, sudah pantas aku mengurus urusan mu mas, kita memang tidak saling kenal tapi aku berusaha untuk mengenal diri mu!" ujar Medina dengan suara yang sangat lembut, Kafkha sangat muak dengan suara Medina yang pandai menjawab semua ucapan nya itu.


"Ck!" decak Kafkha lalu ia duduk dan menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Gadis munafik! umpat Kafkha dengan menatap tajam ke arah Medina.


Medina tersenyum di balik cadarnya itu, sebenarnya hati nya ini sudah sakit mendengar kata-kata kasar Kafkha dari semalam, tapi ia tetap menguatkan hatinya agar tetap kuat mendengar kata-kata umpatan suaminya itu.


"Sholat dulu, apa kamu tidak takut masuk api neraka? dan menyiksa tubuh mu itu!" ujar Medina


"Urus urusan mu dan jangan urus urusan orang, gadis tuli, apa kau tidak mendengar ucapan saya!" bentak Kafkha.


Medina tersenyum lagi di balik cadarnya itu, ia seakan sudah tuli dengan ucapan Kafkha itu.


"Terserah kamulah mas!" ujar Medina lalu ia lebih memilih duduk di sofa.


...

__ADS_1


Bersambung...


coba beri komentar biar author tambah semangat ngetik nya, tidak ada komen tidak semangat🙃


__ADS_2