Istri Bercadar Tak Dianggap

Istri Bercadar Tak Dianggap
part 42. Clara Menyesal


__ADS_3

Kafkha dan Medina baru saja sampai di rumah mereka, hari ini Kafkha akan berencana merobek kertas berisi kontrak pernikahan itu.


Sebelum ia benar-benar merobek kertas berisi kontrak pernikahan itu, ia sudah betul-betul ingin melupakan Clara dan ia akan hidup bersama dengan Medina.


Kafkha sudah berjanji pada dirinya untuk tidak lagi memiliki sebuah perasaan untuk Clara ia akan berjanji untuk membahagiakan orang yang selama ini tulus mencintai nya.


Sembilan bulan umur pernikahan mereka itu bukan waktu yang singkat untuk Medina untuk menaklukkan hati Kafkha, dia benar-benar berjuang dan mati-matian agar rumah tangga nya itu tetap utuh.


Dia selalu memanjatkan do'a agar pernikahan nya itu tetap utuh, dan do'a-do'a nya itu di kabulkan oleh Allah SWT.


Kafkha mengambil surat perjanjian kontrak pernikahan itu di dalam laci meja kerja nya, ia membawa map coklat itu kehadapan Medina.


"Sudah saat nya!" lirih Kafkha


Medina melihat map berwarna coklat itu, ia seakan tau apa yang di bawa oleh Kafkha itu.


"Untuk apa mas?" tanya Medina


"Kamu tidak mau hidup bersama dengan saya selama-lamanya?" ujar Kafkha menarik napas, ia sangat takut jika Medina berubah pikiran untuk meninggalkan nya.


Medina tersenyum di balik cadarnya, ia mengangguk kecil.


"Hmm... Dina ingin hidup bersama mas Kafkha!" ucap Medina


Kafkha tersenyum mendengar penuturan Medina itu, ia merasa lega karena Medina mau hidup bersama dengan nya.


Kafkha mengeluarkan surat itu.


"Yakin mau merobek nya?" tanya Medina


"Kenapa? kamu meragukan nya?" tanya Kafkha


"Tidak, tapi seorang Kafkha memiliki hati sekeras batu, apa sudah meleleh batu itu?" sela Medina


"Sudah, batu itu sudah meleleh, yang melelehkan batu itu kan kamu sendiri!" tutur Kafkha


Kafkha benar-benar merobek kertas berisi kontrak pernikahan mereka itu, Medina juga ikut merobek nya.


Srekk


Srekk


Mereka menghamburkan kertas yang mereka robek kecil-kecil itu, mereka berdua tertawa bahagia dan Kafkha membawa Medina tiduran di atas ranjang.


"Ana Uhibbuka Fillah!" ucap Kafkha


Medina tersenyum bahagia dengan pengakuan cinta Kafkha itu.


"Ahabbakilladzii ahbabtani ilahuu, Semoga Allah swt mencintaimu, Dzat yang telah membuatmu mencintai ku karena-Nya!" jawab Medina.

__ADS_1


...


Setelah sama-sama sepakat untuk berdamai kini perasaan Sanjaya terasa tenang, bahkan ia bisa tertawa biasanya dia banyak diam dan marah nya.


Mungkin selama ini banyak menyimpan dendam makanya hati nya itu terasa panas dan ingin membalaskan dendam nya itu, tapi dengan kenyataan sebenarnya ia baru merasakan ketenangan dalam jiwa nya itu.


Dia mungkin terlalu bodoh dan terlalu terobsesi ingin menghancurkan hidup Darmansyah sehingga ia tidak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah.


Sanjaya pulang ke rumah nya dengan perasaan senang dan jiwa yang lapang, Clara sendiri sampai tidak percaya apa yang ia lihat dari perubahan wajah papa nya itu.


Saat ini wajahnya kelihatan senang dan bahagia.


"Papa baru pulang? dari mana saja?" tanya Clara


Sanjaya tersenyum kepada putri nya itu, ia menatap intens wajah putri nya itu yang sangat mirip dengan wajah Lisa mendiang istrinya.


Ternyata Lisa melahirkan putri yang sangat cantik dan sangat mirip dengan nya, Sanjaya jadi merasa terobati hatinya yang merindukan mendiang istrinya itu.


Kematian Lisa membuat hidup Sanjaya hancur bahkan ia pernah mengalami depresi ringan.


"Pa, papa kenapa senyum-senyum gitu sih? apa papa berhasil menghancurkan Darmansyah itu?" tanya Clara juga ikut tersenyum karena pikiran nya jika papa nya itu sudah berhasil menghancurkan Darmansyah


Sanjaya menggeleng kecil, membuat senyum Clara memudar.


"Lalu kenapa papa senyum-senyum gitu? apa papa menang lotre?" tanya Clara


"Sembarangan menang lotre!" bantah Sanjaya


"Karena berdamai!" jawab Sanjaya


Clara mengerutkan keningnya.


Berdamai?


Siapa yang berdamai?


Pertanyaan banyak muncul di pikiran Clara itu.


"Siapa yang berdamai? apa papa yang berdamai?" tanya Clara


Sanjay mengangguk kecil, "sama siapa?" tanya Clara, Clara memiliki filing jika papa nya itu berdamai dengan Darmansyah.


"Darmansyah!" jawab Sanjaya


Deg


Jantung Clara terasa berdetak saat papa nya itu mengucap nama Darmansyah, bagaimana bisa papa nya itu berdamai dengan Darmansyah? sedangkan mama nya yang membunuh adalah Darmansyah itu.


"Apa? tidak pa!"

__ADS_1


"Kenapa papa berdamai dengan nya? pa, papa tidak boleh lemah gini dong, kita harus balas dendam apa yang telah mereka perbuat, papa masa diam saja dan mau berdamai dengan mereka?" tutur Clara


Sanjaya sudah menebak jika putri nya ini pasti akan sangat marah dengan keputusan berdamai ini.


"Papa tega sama mama, papa tega, Ara benci sama papa!" teriak Clara berderai air mata ia bergegas lari ke kamar nya.


Bagaimana mungkin papa nya bisa berdamai dengan mereka, sedangkan mama nya di bunuh oleh mereka.


"Hiks... papa kenapa begitu tega dengan mama hiks... aku tidak mau berdamai begitu saja, aku harus membalaskan dendam ini hiks... mama ku harus mendapatkan keadilan nya, aku tidak mau si pembunuh itu hidup bahagia!" tangis Clara


Sanjaya menghampiri Clara di kamar nya, ia duduk di sebelah Clara yang sedang terisak itu.


"Hiks.. papa sama saja dengan mereka, papa tega sama mama hiks...!"


Sanjaya mengusap rambut putri nya itu.


"Mereka tidak bersalah, kita yang sudah salah paham!" ujar Sanjaya


Clara masih membenamkan wajahnya di sela-sela lutut yang ia tekuk itu.


"Yang membunuh mama kamu bukan Darmansyah, melainkan sekelompok orang yang ingin menghancurkan keluarga kita dan keluarga Darmansyah!" beritahu Sanjaya


Perlahan-lahan Clara menatap wajah papa nya yang kelihatan serius itu.


"Papa tidak di bohongi kan?" tanya Clara, Sanjaya menggeleng kecil


"Papa sudah melihat bukti nya, Darmansyah sendiri yang mencari tau siapa yang membunuh mama kamu, akhirnya Darmansyah bisa mengumpulkan bukti-bukti yang akurat itu, sayangnya pelaku sebenarnya belum bisa kita tangkap!" tutur Sanjaya memberitahu yang sebenarnya pada Clara


"Lupakan semua rencana kita untuk menghancurkan Darmansyah!" sambung Sanjaya


"Hiks... papa... hiks...!" tangis Clara memeluk papa nya itu, ia bahkan tidak tau harus berbuat apa-apa.


"Lupakan Kafkha, papa tau kamu memiliki perasaan pada Kafkha, tidak tutup kemungkinan jika kamu tidak memiliki perasaan terhadap nya, secara kalian sudah lama kenal!" ujar Sanjaya


Clara tidak tau dengan perasaan nya, saat Kafkha berucap ingin mengakhiri ia merasa kecewa dan hancur, apakah yang di bilang papa nya itu benar, jika dia memiliki sebuah perasaan.


Kalau benar, apakah Clara mau memperjuangkan cinta nya itu? atau sebaliknya ia membuang jauh-jauh perasaan itu.


Kenapa dia merasa bodoh yang telah mempermainkan sebuah perasaan seseorang, Clara merutuki dirinya yang sangat bodoh telah mempermainkan sebuah perasaan yang sangat tulus mencintai nya.


Apakah Kafkha mau memaafkan nya?


Clara dendam dengan dirinya sendiri karena dia sangat bodoh mempermainkan perasaan yang tulus mencintai nya.


...


Bersambung...


Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.

__ADS_1


Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨


__ADS_2