
Selesai mereka menunaikan sholat subuh kini mereka berdua berencana pulang ke rumah mereka, Kafkha pagi ini akan ke kantor tapi sayangnya dia tidak membawa baju dan berkas yang akan ia bawa ke kantor jadinya dia berencana berangkat dari rumah nya saja.
Begitu pun dengan Medina ia pagi ini juga ada kelas pagi, buku-buku yang akan dia bawa ke kampus juga tertinggal di rumah mereka itu, bukan tertinggal juga sih, malam itu sebenarnya mereka mau balik lagi tapi tidak jadi karena Kafkha yang lagi bersedih.
Saat ini mereka akan pergi pulang ke rumah mereka, pagi ini belum ada siapa-siapa yang keluar dari kamar mereka masing-masing. Namun Sarah sudah keluar dari kamar nya karena dia akan membuat sarapan untuk keluarga nya ini.
Mereka berpapasan dengan mama Sarah nya, Sarah sedikit kaget dengan Kafkha dan Medina sepagi ini sudah keluar dari kamar saja.
"Kalian kenapa sudah keluar kamar saja? kalian mau kemana emangnya?" tanya Sarah
"Mama, kami akan pulang, pagi ini Kafkha akan ke kantor, Medina juga ada kelas pagi ini!" tutur Kafkha
"Hmm... baiklah, kalian hati-hati di jalan ya!" tutur Sarah
"Iya mama!" jawab mereka serentak, lalu mereka mencium punggung tangan Sarah
Kafkha bersama Husna berangkat ke rumah mereka.
Mereka berdua hanya diam saja tidak ada yang mau mereka bicarakan.
Saat ini mobil Kafkha sudah sampai di rumah mereka itu, Medina lebih dulu masuk ke dalam rumah.
"Dina, siapin baju kerja saya ya!" pinta Kafkha sebelum Medina masuk ke kamar nya.
Medina mengangguk kecil ia mengikuti langkah kaki Kafkha ke kamar Kafkha itu, mereka selama ini belum juga tidur berdua di rumah mereka ini, kalau di rumah Darmansyah mereka pasti akan tidur sekamar.
Medina menyiapkan pakaian kerja yang di suruh Kafkha tadi, Medina mengambilkan Kafkha jas berwarna hitam dan baju kemeja nya ia pilihan warna putih.
"Dina tidak tau mas suka baju yang Dina pilih ini atau tidak!" tutur Medina memberikan baju yang ia pilih ke Kafkha
Kafkha menerima baju yang di pilih oleh Medina itu, ia tersenyum, "saya suka baju ini, hitam kombinasi warna putih, sangat cocok bukan!" tutur Kafkha mengusap rambut Medina yang di tutupi oleh jilbab panjang nya
Medina ikut tersenyum di balik cadarnya, kini Medina sendiri yang akan siap-siap untuk ke kampus nya, sampai-sampai ia tidak sempat membuat sarapan untuk mereka.
Hari ini Kafkha sendiri yang akan mengantarkan Medina ke kampus nya, Kafkha memang betul-betul ingin berubah dan mulai menerima Medina dalam hidup nya.
"Mas, aku tidak sempat buat makan untuk sarapan kita, kamu makan di kantin kantor kamu saja ya, aku nanti makan di kantin kampus juga!" tutur Medina
Kafkha mengangguk kecil, sebenarnya ia ingin merasakan masakan Medina pagi ini, tapi di karenakan mereka buru-buru Medina tidak sempat membuat sarapan.
"Tidak masalah, kamu harus sarapan juga ya!" ujar Kafkha
"Iya mas, oh iya nanti aku ke kantor kamu ya, aku mau bawain kamu makan siang, kebetulan hari ini aku pulang cepat!" tutur Medina
Kafkha mengangguk sebagai mengiyakan keinginan Medina untuk datang ke kantor nya.
Mobil yang di bawa oleh Kafkha sudah memasuki wilayah kampus tempat Medina kuliah itu, Medina turun di gerbang kampus nya itu.
"Assalamualaikum mas, kamu hati-hati ya di jalan!" ucap salam Medina sambil berpamitan, tidak lupa pula Kafkha mengulurkan tangannya agar Medina mencium punggung tangan nya itu.
"Wa'alaikumussalam!" jawab Kafkha dengan suara lembut
Medina memberikan sebuah senyuman kepada Kafkha, walaupun senyum nya itu tertutupi oleh cadar nya.
__ADS_1
Kafkha tersenyum juga ia mengecup kening istrinya itu, Medina yang dapat serangan mendadak itu langsung mematung, tanpa mau menoleh kepada Kafkha.
"Perasaan Dina tidak ngomong banyak, lalu kenapa mas Kafkha mencium Dina kembali?" batin Medina
Medina langsung turun setelah ia membuka sabuk pengaman nya terlebih dahulu, jangan seperti waktu itu, dia jadi malu sendiri gara-gara sabuk pengaman ini.
Kafkha geleng-geleng kepala dengan tingkah malu-malu Medina itu, lalu Kafkha melanjutkan perjalanan nya menuju kantor nya.
Medina masuk ke kelasnya itu dengan senyum-senyum sendiri sambil menundukkan kepalanya.
Nina yang tau dengan tingkah aneh sahabat nya itu langsung menggoda nya.
"Cie... yang lagi berbunga-bunga!" goda Nina
Medina tersenyum malu-malu sambil memukul kecil tangan Nina itu.
"Coba cerita! apa iya berumah tangga itu banyak romantis nya?" tanya Nina
Medina menarik napas, ia juga tidak tau apakah berumah tangga itu banyak romantis nya ketimbang bertengkar nya, yang ia rasakan selama ini banyak bertengkar nya dari pada romantis nya, baru-baru ini ia merasakan romantis itu, jadi dia juga tidak tau cara mendefinisikan sebuah rasa dalam berumah tangga itu.
"Hmm... tergantung kita masing-masing nin, kalau hubungan kita baik dari awal maka kita akan merasakan romantis nya dalam berumah tangga itu, kalau hubungan kita tidak baik dari awal maka kita tidak akan merasakan romantis nya berumah tangga itu, kita harus mati-matian untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan itu terlebih dahulu, barulah kita akan merasakan romantis nya berumah tangga itu!" tutur Medina dalam menjabarkan sebuah pendapat nya
"Sama seperti aku yang harus mati-matian mengejar cinta mas Kafkha!" batin Medina
"Pasti hubungan kamu dari awal sama Kafkha itu baik-baik saja, contohnya saja saat ini kamu lagi berbunga-bunga!" tutur Nina
Medina tersenyum kecil saja di balik cadarnya itu, selama ini teman nya ini tidak pernah tau bagaimana kehidupan Medina setelah di persunting oleh Kafkha itu, yang mereka tau jika Medina bahagia hidup dengan Kafkha.
...
Medina berangkat menggunakan taksi online yang telah ia pesan tadi.
Saat ini ia sudah sampai di kantor Kafkha itu, seperti biasa Medina terlebih dahulu menemui resepsionis.
"Assalamualaikum mbak, apa pak Kafkha nya ada di ruangan nya?" ucap Medina
"Wa'alaikumussalam...!"
"Ibu Medina langsung ke atas saja, pak Kafkha sudah menunggu!" tutur resepsionis itu
"Baik, terima kasih mbak!" ujar Medina dengan suara lembut
Medina naik ke lantai atas menggunakan lift khusus untuk petinggi itu, Kafkha pernah berpesan jika istri nya boleh menggunakan lift khusus petinggi ini.
Medina sampai di depan pintu ruang kerja Kafkha itu, ia menarik napas sebelum ia memutar handle pintu itu.
"Assalamualaikum!" ucap salam Medina memasuki ruang kerja Kafkha itu.
"Wa'alaikumussalam!" jawab Kafkha menyingkirkan Clara dari meja kerja nya itu.
Medina tidak menyukai Clara itu, sudah berapa kali ia memberi tahu Clara untuk tidak menganggu Kafkha lagi, tapi lihatlah saat ini dia masih saja menggangu Kafkha.
"Mas, kenapa mbak Clara bisa masuk? bukankah mbak pelakor ini sudah kamu usir waktu itu?" sindir Medina
__ADS_1
"Maaf sayang, tapi dia tidak bisa keluar dari sini, sudah aku usir dia dari tadi tapi dia sendiri yang tidak tau malu!" tutur Kafkha melihat sinis kearah Clara
Medina membuang napas, "mbak, sebenarnya mau apa dari suami Dina? bukankah mbak tidak mencintai suami Dina? hmm... kenapa mbak selalu menganggu suami Dina ini?" tanya Medina dengan suara lemah lembut
Clara sedikit kaget dengan perkataan Medina tadi, tidak mencintai? pikir Clara
"Dari mana dia tau kalau aku tidak mencintai Kafkha?" batin Clara
Dari tadi Kafkha belum mengungkap kebenaran tentang Clara yang tidak mencintai nya itu bahkan Clara berniat mau menghancurkan nya demi membalaskan dendam Sanjaya. Dari tadi Kafkha hanya diam saat Clara ngobrol dengan nya, bahkan Kafkha juga menatap sinis ke arah Clara, tapi itu tidak di tanggapi oleh Clara.
"Kaf, seharusnya kamu usir dia!" ujar Clara menunjuk Medina
"Kenapa begitu mbak? Dina ini istri sah dari mas Kafkha Darmansyah!" jawab Medina
"Sayang, kamu kenapa lembek gini sih? oh atau jangan-jangan otak kamu itu sudah di cuci oleh wanita ini?" cela Clara
"DIAM KAU WANITA TIDAK TAU MALU!" bentak Kafkha emosinya sudah naik ke ubun-ubun
Clara membelalakkan matanya, sudah kedua kalinya Kafkha membentak nya, Clara masih belum tau kenapa dengan Kafkha ini.
"Kenapa kamu membentak ku lagi kaf? seharusnya kamu membela ku, aku orang yang paling mencintai mu, tapi kamu malah tega dengan ku!" sela Clara berpura-pura nangis di depan Kafkha agar Kafkha iba dengan nya.
"Hiks... kamu tega Kafkha!" sambung Clara
"Wanita tidak tau diri, ternyata kau hanya pura-pura mencintai ku, bagus sekali ekting kamu itu, kamu mendekatiku hanya karena mau membalaskan dendam Sanjaya, asal kamu tau aku sudah tau kebusukan yang selama ini kamu tutupi itu!" hardik Kafkha
"Mulai sekarang aku tidak punya hubungan apa pun lagi dengan wanita busuk seperti kau ini!" sambung Kafkha dengan suara lantang
Clara sampai shock mendengar semua penuturan Kafkha itu, ia bahkan tidak percaya jika Kafkha mengetahui rencana nya itu.
"Kebohongan apa ini Kafkha?" tanya Clara pura-pura tidak tau
"Kau tidak perlu berpura-pura lagi, kebusukan kau itu sudah aku ketahui, jika kau mau menghancurkan keluarga Darmansyah, kau langkahi dulu mayat ku!" tutur Kafkha
"Apa ini kaf?" Clara masih saja berputar-putar
"Aku tidak mau mendengar ucapan kau itu, sebaiknya kau keluar!" bentak Kafkha menunjuk pintu keluar
Clara geleng-geleng kepala sambil mengusap air mata buaya nya itu.
"Tega kamu Kafkha, kamu tega menuduhku asal kamu tau hiks.. aku tidak pernah berniat jahat dengan apa yang kamu tuduh kan itu hiks...!" tangis Clara berpura-pura, lalu ia pergi dari ruangan Kafkha itu.
Napas Kafkha sudah naik-turun ia terduduk di sofa dengan lemas nya, baru sekali ini dia benar-benar marah dengan Clara orang yang masih ia cintai itu. Sangat sulit bagi Kafkha untuk melupakan Clara yang sudah hampir mengisi hati nya itu.
"Istighfar mas!" ucap Medina
Kafkha menarik napas untuk menghilangkan rasa yang masih mengganjal di hatinya itu.
...
Bersambung...
Komentar, like, berserta vote nya ya!!!
__ADS_1
Jangan jadi pembaca gelap saja.
jangan lupa mampir di cerita baru author yang tak kalah menariknya dari cerita ini, dengan judul (Pernikahan siri seorang dokter) mampir ya readers.