
Sudah dua hari lamanya Darmansyah diam kepada seluruh anggota keluarga nya ini, ia bahkan tak bicara sama sekali, jika di tanya pasti menjawab dengan anggukan atau gelengan kepala saja. Semua anggota keluarga nya jadi terheran-heran dengan sikap kakeknya itu, terutama Darman--ananknya Darmansyah.
"Ayah, ayah kenapa diam seperti ini sih?" tanya Darman saat Darmansyah sudah kembali ke kamar nya.
Darmansyah menggelengkan kepalanya pertanda ia baik-baik saja, tapi putra nya ini tidak mudah percaya saja dengan ayahnya ini, sedari kecil ia hidup dengan ayahnya tidak biasa nya Darmansyah seperti ini sebelumnya.
"Ayah cerita lah sama Darman!" ujar Darman
Darmansyah terus menggelengkan kepalanya, ia seperti ini gara-gara Kafkha waktu itu yang telah menyinggung dan menyakiti perasaan nya, apa lagi Darmansyah sangat sensitif jika menyinggung tentang kehidupan nya waktu dulu.
Alhasil saat ini Darmansyah benar-benar tidak mau mengikut campuri urusan Kafkha lagi, saat ini saja Darmansyah melarang anak buahnya untuk tidak memata-matai cucunya itu lagi, Darmansyah sudah terlanjur kecewa dengan sikap Kafkha yang tidak bisa di bawa ke jalan yang lebih baik lagi, bahkan tujuan Darmansyah sangat baik.
Darmansyah tidak mau melihat cucunya itu terjerumus ke dalam jurang yang sama seperti nya dulu, yang ia mau yaitu Kafkha menjadi anak yang baik dan penurut sama orang tua.
"Apa ini ada hubungannya dengan Kafkha, ayah? tebak Darman
Darmansyah hanya diam, "sudah, kamu pergi saja, aku ingin sendiri!" ujar Darmansyah
Darman pergi dari kamar ayahnya itu, ia juga tak ingin menganggu ayahnya itu.
Saat ini Kafkha lagi di dalam kamar ia saat ini sedang bersiap-siap ingin ke kantor nya, tadinya ia ingin pergi lebih awal tapi melihat kakeknya hanya diam begitu ia jadi mengurungkan niatnya untuk pergi agak lambat. Medina hari ini ada kelas siang jadi pagi ini ia bisa santai.
Medina dari kemarin juga mendiami Kafkha entah kenapa dia tidak mau berbicara pada Kafkha, mungkin Medina hanya ingin memberi pelajaran untuk Kafkha.
Tapi berbeda dengan Kafkha, ia lebih senang dan aman sentosa karena Medina tidak banyak bicara, karena ia juga tidak mau berkomunikasi dengan gadis itu.
...
Jam begitu cepat berlalu malam ini Darmansyah masih tetap mendiami keluarga nya itu, Kafkha yang ingin menyuap makanan nya jadi tidak bisa karena menurutnya ada yang kurang jika kakeknya itu tidak bersuara.
"Kakek, kenapa diam saja dari kemarin-kemarin? tanya Hanif lebih dulu.
Bukannya menjawab tapi Darmansyah malah pergi dari ruang makan itu, semua orang terheran-heran dengan kakeknya itu.
"Kamu apain kakek, kaf?" tanya Sarah
__ADS_1
Kafkha menggeleng tidak tau, ia juga heran dengan sikap kakeknya itu, atau ini ada hubungannya dengan nya waktu itu?
"Terus kakek kok bisa seperti itu?" ujar Hanif
"Aku mana tau bang!" ujar Kafkha
"Kenapa kalian seolah-olah menyalahkan ku? aku saja juga tidak tau kenapa kakek mendiami kita seperti itu!" ujar Kafkha
"Sudah, ini semua tidak ada hubungannya dengan Kafkha!" ujar Darman menengahi perdebatan kecil di meja makan itu.
Median dari tadi hanya diam, sebenarnya ia juga penasaran dengan kakek Darmansyah itu.
Darmansyah sedang di kamar nya seraya melihat foto dirinya dengan mendiang istrinya, sudah lama istrinya itu meninggal dunia.
"Kenapa cucu kita sangat pembangkang, Aina, apa mungkin sifat pembangkang nya itu turun dari sifat ku dulu yang selalu membangkang kepada kedua orang tua ku?, atau aku terlalu keras mendidik cucu kita itu, cucu kita yang satu itu sangat berbeda dari Hanif--kakaknya, aku tidak ingin Kafkha mengulangi kesalahan ku dulu ai, aku takut dia menjadi seorang mafia seperti diri ku dulu!"
Darmansyah menghela napas.
"Kenapa cucu kita itu sangat sulit berpisah dengan mantan kekasihnya itu, yang aku takutkan jika ia masih bersama mantan kekasihnya itu, yang ada Kafkha bisa terbawa-bawa oleh sifat licik si makhluk lintah itu, apa lagi bapaknya juga mafia!"
Cklekk
Pintu kamar Darmansyah itu di buka oleh seseorang, tidak ada siapapun yang berani membuka pintu kamar Darmansyah ini selain mendapatkan izin darinya, tapi Kafkha sangat berani membuka pintu kamar kakeknya itu, jika di pandang dari sudut ke-sopan santunan, Kafkha ini termasuk lancang sekali.
"Kek!" ujar Kafkha tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Darmansyah membuang muka.
"Mantan mafia kenapa sifatnya seperti cewek!" pancing Kafkha agar Darmansyah mau bicara.
Darmansyah bergeming sedikit lalu ia diam kembali membelakangi cucu nya itu.
"Ingat umur kek, banyak cemberut bisa cepat mati lho!"
Tak
__ADS_1
Darmansyah memukulkan tongkatnya ke lantai ia menggenggam tongkatnya itu dengan kuat, berani sekali cucunya ini menyumpahi nya cepat mati.
"Kau jangan pancing kemarahan ku!" akhirnya Darmansyah bicara juga, Kafkha sedikit tersenyum karena dia dapat mendengar suara kakeknya itu lagi.
"Gitu dong, bicara kakek nggak bisu juga lalu kenapa tidak bicara dengan kami!" ujar Kafkha sangat lancang sekali dia berbicara dengan kakeknya itu, apa lagi ucapan nya itu membuat kuping Darmansyah berdenging karena suara Kafkha sangat tidak enak di dengar oleh nya.
"Kau bisa diam tidak, aku lelah mendengar ocehan kau yang tidak ada faedahnya itu, lebih baik kau keluar dari kamar ku, masuk tanpa minta izin dulu, kau pikir kau ini siapa?" ujar Darmansyah panjang lebar.
"Eh, jangan salah aku ini cucu mu!" jawab Kafkha ada benarnya.
"Kau ingin pindahkan, aku beri kamu kebebasan karena aku tidak ingin mengekang kamu lagi, terserah hidup mu mau melakukan apa pun itu!" ujar Darmansyah memberikan izin kepada Kafkha untuk pindah dari rumah ini, ia juga ingin melihat seberapa bisa cucunya ini mandiri tanpa bantuan keluarga nya.
Kafkha mengerutkan keningnya karena heran saja dengan sikap kakeknya ini, kemarin saja dia tidak memperbolehkan Kafkha pindah, lalu sekarang ia malah memberikan kebebasan bagi Kafkha, apa maksud dari Darmansyah ini?
"Benar?" tanya Kafkha menaikan sebelah alisnya
"Aku tak bohong, lagi pula kenapa aku harus repot-repot mengurus hidup mu itu, yang terpenting aku sudah memberikan kamu istri yang sangat baik dan paham agama!" ujar Darmansyah.
Hati Kafkha langsung tersenyum karena setelah pindah nanti ia akan bisa hidup bebas, apa lagi surat perjanjian kontrak pernikahan itu yang ia jalani, bahkan Kafkha akan melakukan apapun itu agar dia bisa terbebas dari pernikahan paksaan ini.
"Kakek serius?" tanya Kafkha lagi
"Aku serius, atau kamu tidak ingin menerima izinku ini, atau aku akan menarik izinku ini!" ujar Darmansyah
"Eh, jangan, besok aku akan pindah!" ujar Kafkha
Darmansyah tidak akan tau jika cucunya ini akan menjalankan aksinya, bahkan Darmansyah tidak tau jika cucunya ini membuat surat perjanjian kontrak pernikahan dengan Medina.
...
Bersambung...
Hayooo yoyoyo silahkan beri komentar kalian di cerita ini, no komentar pendek, author mau lihat komentar panjang dari kalian.
Like sama vote nya jangan lupa juga, jangan jadi pembaca gelap saja!!!
__ADS_1