Istri Bercadar Tak Dianggap

Istri Bercadar Tak Dianggap
part 8. Aku Istri Mu Bukan Budak Mu


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan mereka pun telah usai, saat ini Medina sudah berada di dalam kamar pengantin, ia menunggu Kafkha yang dari tadi belum masuk ke kamar mereka ini.


Medina sudah membersihkan makeup nya, ia juga telah mengganti pakaian nya dengan baju gamis syar'i beserta dengan kain cadarnya, Medina tidak akan membuka cadarnya jika bukan Kafkha sendiri yang meminta nya, jadinya Medina tidak akan menanggalkan cadarnya itu.


Kafkha duduk di salah satu kursi tamu undangan, ia masih memikirkan cara agar Clara mau berbaikan dengan nya lagi, biar bagaimanapun Clara masih kekasih Kafkha karena mereka berdua belum memutuskan hubungan mereka.


Darmansyah baru saja selesai berbincang dengan teman kerjanya dulu, Darmansyah melihat Kafkha yang lagi memijat pelipisnya, Darmansyah menghampiri cucunya itu yang baru saja sah jadi seorang suami, Darmansyah duduk di dekat Kafkha lalu ia memberi pukulan kecil ke pundak Kafkha itu.


"Ada masalah apa lagi sehingga kamu tak mau ke kamar mu, istri mu pasti sudah menunggu mu dari tadi!" ujar Darmansyah dengan senyum senang.


Kafkha menghela napas kasar, ia melihat kakeknya ini dengan tatapan permusuhan, masalah itu datang dari kakeknya sendiri.


"Tak tau!" jawab Kafkha dengan nada datar


"Cepat kamu ke kamar istri mu, dia sudah menunggu mu!" ujar Darmansyah tidak mau ribut dengan cucunya ini


Kafkha berdiri dari duduknya lalu ia melangkahkan kakinya menuju kamar pengantin yang sudah di siapkan di hotel ini, Darmansyah senyum-senyum melihat Kafkha yang sudah pergi itu.


"Semoga aku cepat memiliki cicit!" ujar Darmansyah dengan senyum ala-ala nya itu.


Kafkha melangkahkan kakinya menuju kamar nya itu, ia berkali-kali mengumpat kakeknya itu agar cepat mati saja, agar dia bisa bebas dari situasi menyulitkan dia ini.


"Sukur-sukur kau cepat mati tua bangka, aku capek dengan kemauan mu itu, udah tua gitu masih saja banyak permintaan, seharusnya kau minta tanah beberapa meter untuk kuburan kau nanti!" umpat Kafkha berjalan menuju kamar nya itu, sebenarnya Kafkha sudah sangat lelah dari tadi berdiri di pelaminan.


Kafkha menghela napas setibanya dia di depan pintu kamar itu, ia menghembuskan napas nya kasar.


Cklekk


Kafkha menggendarkan penglihatan nya di sekeliling kamar ini, ia menyipitkan matanya saat ia melihat wanita berpakaian tertutup duduk membelakangi pintu kamar ini.

__ADS_1


"Ninja!" umpat Kafkha


Medina mendengar kata-kata umpatan dari suaminya itu, tapi ia tetap tersenyum di balik cadarnya itu, Medina memutar tubuhnya menghadap Kafkha yang masih berdiri di ambang pintu.


"Kenapa berdiri di sana mas?, aku tidak punya hutang kepada mu!" ujar Medina dengan suara yang sangat lembut.


Kafkha memperhatikan wanita yang sudah sah jadi istrinya beberapa jam yang lalu, Kafkha menaikan sebelah bibir atasnya seperti menghina pakaian istrinya yang tertutup itu.


"Jangan sok baik dan sok akrab dengan saya!" ujar Kafkha dengan nada datar


Medina tersenyum tipis di sebalik cadarnya itu, "sok baik apa maksud nya mas? aku istri mu, sudah kewajiban aku untuk baik pada mu dan tunduk pada ucapan suamiku!" jawab Medina sangat cerdik


Medina sudah tau jika Kafkha menikahi nya secara terpaksa, buktinya saja Kafkha tidak menghargai Medina saat perempuan tadi naik ke atas pelaminan dan berdebat di depan Medina.


"Cih!" decih Kafkha


Medina menghela napas, sebenarnya ia juga takut dengan Kafkha ini apa lagi ia belum mengenal betul watak suaminya ini, Medina sekuat tenaga tetap kuat walaupun hatinya sakit saat suaminya tidak menghormati nya.


"Hey kamu, ke sini!" ujar Kafkha memanggil istrinya itu, Medina berpura-pura tidak mendengar panggilan suaminya itu.


Kafkha kesal dengan Medina yang tidak mendengar panggilan nya itu, "saya yakin kamu tidak tuli dan mendengar panggilan saya!" ujar Kafkha menatap Medina yang berpura-pura tidak mendengar ucapan Kafkha itu.


"Hey, saya memanggil mu!" ujar Kafkha setengah berteriak


Medina tidak menghiraukan panggilan suaminya itu, siapa suruh Kafkha memanggil istrinya itu dengan nada yang tidak baik, bahkan menggumpatinya, apa salahnya Kafkha memanggil Medina dengan namanya bukan dengan panggilan 'hey'.


Menurut Medina itu panggilan yang tidak pantas suaminya itu memanggil dirinya.


"KAMU DENGAR SAYA TIDAK!" bentak Kafkha membuat Medina menghela napas dengan bentakan suaminya itu.

__ADS_1


"Bisakah kamu memanggil ku dengan baik dan tidak berkata yang cukup membuatku sakit hati?" ujar Medina dengan suara lembut tapi berkesan marah.


"Aku punya nama, bisakah kamu memanggil ku dengan sebutan nama ku?, aku istri mu bukan budak mu!" ujar Medina menghampiri Kafkha dan memandang mata Kafkha.


Kafkha tersenyum sinis lalu mendorong tubuh Medina hampir saja Medina terjungkal ke belakang gara-gara Kafkha mendorong tubuh Medina secara kuat.


"Jangan dekat-dekat dengan saya, tubuh mu itu tidak pantas berdekatan dengan saya, karena kamu, hubungan saya rusak sama Clara, kamu gadis pembawa s*al dan pembawa petaka dalam hidup saya, saya sangat membenci kamu!" ujar Kafkha memarahi Medina, semua ucapan yang di lontarkan oleh Kafkha itu membuat Medina terhenyak.


Ternyata hati Medina tidak sekuat yang di bayangkan, seketika buliran bening mengalir dan menetes begitu saja membuat cadarnya basah, Medina membalikkan tubuhnya agar ia tidak melihat Kafkha.


"Dasar gadis ninja, kau sangat munafik dengan kain penutup wajah mu itu, di balik kain penutup wajah kau itu tersimpan banyak kecurangan dan kebusukan!" tambah Kafkha lagi seraya menatap punggung Medina yang bergetar akibat menangis karena ulah nya, tidak ada rasa sedih untuk Medina yang di perlihatkan oleh Kafkha, yang ada rasa benci yang Kafkha perlihatkan.


"Saya menikahi mu bukan karena mencintaimu gadis busuk, saya menikahi mu karena menuruti permintaan kakek saya, dan wasiat dari kakek kau itu yang membuat saya tersiksa!" ujar Kafkha lagi.


Medina tambah menangis mendengar kata-kata menyakitkan baginya itu keluar dari mulut Kafkha, baru sekali ini dalam hidup Medina mendapatkan kata-kata kasar yang keluar dari mulut orang asing yang sudah mempersunting dirinya.


"Andai saja kakek kau tidak memberi wasiat macam ini, mungkin saya tidak akan bertemu dengan gadis busuk seperti kau ini!" ujar Kafkha berbicara seenak dia saja.


Kafkha duduk di sofa itu seraya memangku sebelah kakinya di paha yang satu lagi, ia melihat Medina dengan tatapan permusuhan dan tatanan sangat jijik.


"Gadis ninja seperti mu ini tidak pantas dengan saya!" ujar Kafkha


"CUKUP!" bentak Medina dengan suara parau, baru sekali ini Medina mengeluarkan suara kasarnya pada orang lain, bahkan suara kerasa nya itu terkesan lambat bagi Kafkha


"Tidak pantas seorang suami merendahkan istrinya, aku istri mu bukan orang lain, kamu tidak pantas merendahkan harga diri istrimu sendiri, seolah-olah kamu memandang diri ku dengan jijik dan kotor, aku memang wanita yang banyak dosa, tapi tidaklah kamu menghargai diri ku, apa pantas seorang suami menghardik istrinya?, apa pantas seorang suami mencaci maki istrinya?"


"Jawaban tidak mas!" ujar Medina dengan hati yang teramat sakit.


Baru menjalani rumah tangga, tapi Medina sudah diuji saja dengan berbagi macam masalah.

__ADS_1


...


Bersambung...


__ADS_2