Istri Bercadar Tak Dianggap

Istri Bercadar Tak Dianggap
part 28. Big Influence


__ADS_3

Madina masih menunggu Kafkha di lobi kantor itu, ia bahkan tak berani masuk karena kemarahan Kafkha tadi, seharusnya Medina berpikir panjang terlebih dahulu sebelum ia bertindak.


Sudah hampir satu jam Medina menunggu Kafkha di lobi kantor itu, sholat ashar sudah hampir tiba ia ingin ke mushola tapi sayangnya mukenah nya tertinggal di ruang kerja Kafkha, saking buru-buru nya ia keluar ia jadi melupakan tas nya, di dalam tas itu berisi mukenah dan handphone nya, saat ini saja ia tidak membawa apa-apa karena barang-barang nya tertinggal di ruang Kafkha.


Medina balik ke ruangan suaminya itu ia mau mengambil mukenah nya itu.


Di pertengahan jalan menuju ruangan Kafkha ia sedikit takut, kalau nanti Kafkha marah lagi bagaimana?


"Bismillah..."


Medina melangkahkan kakinya menuju ruang Kafkha itu, ia bertemu lagi dengan sekretaris Kafkha di meja kerja nya itu.


"Ada yang bisa saya bantu ibu Medina?"


"Tidak, terima kasih!" jawab Medina sebelum ia membuka pintu ruangan Kafkha itu.


Tangan Medina sudah menyentuh kenop pintu itu, ia membuka nya saat ia masuk tidak ada siapa pun di ruangan ini, Medina menghela napas lega beruntung Kafkha tidak ada.


Ia melihat tas nya masih berada di sofa itu, segera ia mengambil tas itu dan ia langsung keluar tapi ia langsung terhenti mendengar deheman Kafkha.


"Hekhem!"


Medina melirik sekilas ke belakang ternyata memang benar Kafkha, ia baru keluar dari kamar mandi.


"Kemana?" tanya Kafkha melihat Medina yang menjinjing tas nya itu.


"K-keluar!" gugup Medina


"Maksud saya, kamu mau kemana? pulang?" tanya Kafkha lagi


Medina menggeleng-nggelengkan kepalanya seraya menundukkan kepalanya ia masih membelakangi Kafkha.


"Bisa tidak, jika berbicara dengan saya, kamu menghadap ke saya, kamu harus sopan dengan saya!" tutur Kafkha dengan kesal nya karena dari tadi Medina membelakangi nya.


Medina langsung memutar tubuhnya menghadap Kafkha.


"Mau pulang?" tanya Kafkha kembali


"Tidak mas, aku ingin sholat, tadi mukenah aku ketinggalan di sini jadinya aku mau mengambil nya!"


Kafkha mengangguk kecil sambil duduk kembali di kursi kerja nya itu.


Medina masih berdiri di sana ia menggendarkan penglihatan nya ke seluruh ruangan ini, ia sedikit tersenyum karena foto-foto yang ia buang tadi tidak di pajang oleh Kafkha kembali.


"Mas, kita sholat yuk!" ajak Medina


"Saya sibuk!" ketus Kafkha


Medina dengan beraninya menghampiri Kafkha yang sedang kesal itu, "pentingan yang mana? akhir atau dunia?" tanya Medina


Kafkha masih diam ia masih fokus dengan laptop nya itu, "Barangsiapa yang menjadikan dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan tidak pernah merasa cukup selalu ada di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan harta benda duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya!" tutur Medina


"Tapi kalau kamu mengejar akhirat maka dunia dan akhirat akan mengikuti kamu!" sambung Medina

__ADS_1


Kafkha tetap diam.


"Jadi pentingan yang mana? akhirat atau dunia?" tanya Medina


"Pentingan kamu!" Kafkha langsung melontarkan kata-kata itu pada Medina, Medina mengerutkan keningnya, ia bertanya lain tapi kenapa Kafkha malah menjawab lain juga.


"Apa tadi mas?" tanya Medina


Kafkha berdiri lalu ia pergi menuju keluar, Medina masih berdiri di dekat meja kerja Kafkha itu menatap Kafkha dengan bingung.


"Buruan, saya harus menyiapkan pekerjaan saya sekarang!" ucap Kafkha


"Iya mas!" Medina tersenyum lalu ia mengejar Kafkha.


Mereka berdua menuju mushola itu, karyawan kantor ini masih bingung dengan bos nya itu, biasanya bos mereka itu tak pernah menginjakkan kakinya di mushola kantor ini, tapi sekarang ia menginjakkan kakinya di mushola ini.


"Wah, seperti nya ibu Medina telah membawa pak Kafkha ke jalan yang baik ya!"


"Iya, seperti nya ibu Medina bisa mempengaruhi pak Kafkha!"


"Syukur deh!"


"Hu'um!"


Reza mendengar bisik-bisik dari karyawan itu, lalu Reza ikut nimbrung juga.


"Hayoo lho kalian lagi gosipin bos kalian ya!" nimbrung Reza


Karyawan wanita itu nyengir seraya saling tatap menatap teman nya yang lain.


Reza melihat ke arah yang mereka lihat itu, benar saja Kafkha lagi di mushola itu.


"Steady Medina, great influence!" senyum Reza melihat Kafkha mau sholat, kini diri nya yang harus di perbaiki karena ia juga banyak dosa selama ini.


"Ah, gue kapan bisa insaf seperti Kafkha!" batin Reza


Sedangkan Medina tersenyum tipis di balik cadarnya itu, ternyata melihat suaminya itu sholat tambah tampan saja terlebih lagi rambutnya itu basah terkena air wudhu.


Selesai mereka menunaikan sholat asar kini mereka bertemu di luar mushola itu kembali, seperti tadi Medina mencium punggung tangan suaminya itu.


"Kalau boleh jujur kamu tambah tampan mas!" pengakuan Medina dengan jujur.


Kafkha hanya cuek saja ia ingin kembali ke ruang kerja nya itu.


"Kenapa mushola ini sepi ya mas?" tanya Medina


"Mana saya tau!" jawab Kafkha


"Dina tau, pasti ini gara-gara bos nya yang tidak pernah sholat makanya bawahan kamu juga tidak ikut sholat!" sindir Medina


Kafkha melihat Medina sebenarnya ucapan Medina itu langsung kena hatinya lho, karena sindiran Medina itu ada benarnya.


"Dina boleh ikut mas kan? Dina malas nunggu mas di lobi!"

__ADS_1


"Hmm!


Medina tersenyum senang lalu ia mengandeng tangan suaminya itu, Kafkha sempat tertegun lalu ia tak mempermasalahkan itu.


Mereka sampai di ruang kerja Kafkha itu, Kafkha kembali mengerjakan pekerjaan nya yang sempat tertunda karena ia sholat dulu.


Karena tidak ada orang di sini Medina meminta izin Kafkha untuk membuka cadarnya.


"Dina boleh buka cadar Dina nggak mas?" tanya Medina


"Hmm!"


Medina melepas cadar nya itu ia melirik Kafkha sekilas ternyata Kafkha lagi memperhatikan nya, Kafkha langsung membuang muka karena tertangkap basah.


"Lihat aja mas kenapa buang muka sih, wajah ku ini hanya mas saja yang boleh melihat nya!" tutur Medina membuat Kafkha besar kepala saja.


Sekali-kali Kafkha melirik Medina lalu ia fokus kembali dengan pekerjaan nya, seperti itulah seterusnya dan sampai akhirnya Kafkha selesai juga pekerjaan nya.


Jam lima sore mereka baru pulang, Kafkha membereskan laptop nya itu dan juga beberapa berkas yang harus ia bawa pulang.


Medina ketiduran di sofa itu saking bosanya ia menunggu Kafkha.


Kafkha menghela napas melihat Medina yang lagi tidur itu, ia mendekati Medina, matanya tak lepas dari wajah cantik Medina itu.


Dengan jahil nya ia mencapit bibir mungil Medina yang selalu terbayang oleh nya itu, sontak saja Medina kaget.


"Mas...!" rengek Medina


Kafkha hanya tersenyum tipis.


"Pulang!" tutur Kafkha


Medina mengangguk ia mengambil cadarnya lalu ia memasangnya kembali, entah kenapa Medina kesusahan mengikat cadarnya itu, dengan gerak cepat Kafkha mengambil alih cadar Medina itu lalu ia yang memasangkan nya untuk Medina.


"Ini pasang nya gimana? di ikat aja?" tanya Kafkha


"Iya mas, ikatnya jangan terlalu kencang!"


Kafkha mengikat cadar Medina itu setelah ia ikat ke belakang kini ia memutar tubuh Medina, tangan nya merapikan cadar Medina yang di depan nya itu, Medina menatap wajah Kafkha itu sedangkan Kafkha menatap mata indah nan bersih itu.


"Sudah!"


"Makasih mas!"


"Hmm!"


Mereka berdua keluar dari gedung pencakar langit itu, Kafkha mengambil mobilnya di basement itu.


Mereka berdua menuju rumah Darmansyah karena mereka masih nginap di sana. Hari ini merupakan hari keberuntungan dan hari bahagia Medina.


...


Bersambung...

__ADS_1


Hayooo yoyoyo silahkan beri komentar kalian di cerita ini, no komentar pendek, author mau lihat komentar panjang dari kalian.


Like sama vote nya jangan lupa juga, jangan jadi pembaca gelap saja!!!


__ADS_2