Istri Bercadar Tak Dianggap

Istri Bercadar Tak Dianggap
part 11. Membuang Berlian Demi Batu Kali


__ADS_3

Selesai pertemuan dengan Clara, Kafkha tidak balik lagi ke tempat Medina ia seharian penuh ingin menemani kekasih nya itu, sementara itu Medina sudah dari tadi menunggu kedatangan Kafkha tapi Kafkha tidak pernah datang.


Sampai-sampai Medina merasa jengah duduk di kamar hotel ini sendirian, "mas Kafkha kemana sih? kenapa dia belum balik juga?" Medina sebenarnya ingin menghubungi nomor ponsel suaminya itu tapi sangat di sayangkan ia tidak memiliki nomor ponsel suaminya itu, mereka berdua belum sempat tukaran nomor ponsel.


"Apa Dina balik sendiri aja ya?"


Ya, Medina memutuskan untuk keluar dari kamar hotel ini sendirian, ia juga tidak tau entah Kafkha akan balik lagi entah tidak, jadinya Medina memutuskan untuk balik ke rumah orang tua Kafkha sendirian.


Medina menyeret dua buah koper, yang satu koper milik Kafkha dan yang satu lagi koper milik nya.


"Yah... sayang sekali Dina tidak tau alamat rumah keluarga kakek Darmansyah!" gumam Medina.


Selama ini Medina tidak pernah pergi ke kediaman keluarga Darmansyah, yang pernah pergi ke rumah Darmansyah hanya ayah dan ibu nya saja, apa lagi saat lamaran itu keluarga Darmansyah yang pergi ke rumah nya.


Tapi Medina tidak kehabisan akal ia mencari informasi tentang keluarga Darmansyah itu dari benda pintar itu, dan akhirnya Medina tau alamat keluarga Darmansyah.


"Mereka sangat terkenal!" gumam Medina


Kini Medina menunggu taksi yang ia pesan lewat handphone nya tadi, Medina berdiri di luar hotel itu sambil melihat kiri dan kanan nya.


"Kemana mas Kafkha pergi ya?"


Tidak lama taksi yang ia pesan pun sampai, Medina di bantu oleh satpam hotel itu menaikan barang-barang nya ke taksi itu.


"Terima kasih pak!" ujar Medina dengan suara lembut dan tersenyum di balik cadarnya itu.


"Iya sama-sama mbak!" ujar si satpam dengan tersenyum dan menautkan kedua tangan nya ke dada.


Medina naik ke taksi yang ia pesan tadi itu, "bapak tau dimana kediaman rumah Darmansyah?" tanya Medina


"Owalah... keluarga Darmansyah yang sangat kaya raya itu ya mbak, semua orang pasti tau mbak, secara mereka kan sangat terkenal di kalangan masyarakat kelas atas dan kelas bawah!" ujar supir taksi itu.


Medina mengangguk kecil, "antar saya ke sana ya pak!" ujar Medina


Medina yakin ia tidak akan sulit menemukan rumah Darmansyah, apa lagi di internet mereka sangat terkenal juga, dan semua orang juga tau tentang keluarga Darmansyah itu.


"Baik mbak!"

__ADS_1


Medina tersenyum di balik cadarnya, ia menghela napas karena tidak sesulit itu menemukan alamat rumah suaminya.


"Kamu dimana sih mas? batin Medina


Medina sangat menghawatirkan suaminya itu, walaupun dia di marahi oleh Kafkha dan di caci maki tapi tetap saja Medina menghargai nya bahkan menghawatirkan nya.


"Ya Allah... lindungi lah dimana keberadaan mas Kafkha!" batin Medina


Lebih kurang tiga puluh menit akhirnya taksi yang mengantarkan Medina ke rumah Darmansyah sampai juga di depan pintu gerbang yang sangat tinggi itu.


"Mbak, di sini rumah keluarga Darmansyah!" ujar si supir taksi


Medina melihat besarnya rumah keluarga Darmansyah itu, ia sangat mengangumi rumah besar itu.


"Masya Allah... besar sekali rumahnya!"


Medina berdiri di luar pagar yang menjulang tinggi itu, ia bingung harus bilang apa ke keluarga suaminya itu bahwa Kafkha meninggalkan nya sendiri di hotel.


"Maaf mau cari siapa ya mbak?" tanya satpam penjaga gerbang itu.


"Itu... saya... ke sini mau itu pak--!" ucapan Medina terpotong saat Hanif--kakaknya Kafkha menyapa Medina terlebih dahulu.


Medina menoleh ke arah datangnya Hanif, Medina sedikit membukuk memberi hormat pada kakak ipar nya itu.


"Assalamualaikum kak!" ujar nya sangat ramah bahkan Hanif tersenyum mendengar suara adik ipar nya yang lembut itu.


"Wa'alaikumussalam, kamu ngapain berdiri di sana? ayo masuk!" ajak Hanif


Medina melangkahkan kakinya serta menyeret kedua koper itu masuk ke halaman rumah yang sangat luas itu, karena melihat Medina kesusahan Hanif membantu Medina membawakan kopernya itu.


"Tidak usah kak!" ujar Medina


"No, tidak ada penolakan, biar kakak bantu!" ujar Hanif.


Hanif merasa ada yang kurang saja dengan Medina ini, oh iya dia baru sadar jika adik ipar nya ini tidak pulang dengan suaminya.


"Kafkha mana? kenapa Medina pulang sendiri? batin Hanif

__ADS_1


Hanif tidak bertanya kepada Medina kemana perginya Kafkha sehingga dia sendiri yang pulang ke mari.


"Assalamualaikum..." ucap salam Medina saat ia melihat keluarga suaminya itu yang lagi berkumpul di ruang keluarga.


Semua atensi beralih pada Medina yang baru saja datang, keluarga suaminya itu tersenyum bahagia karena mulai saat ini mereka memiliki menantu yang sangat cantik apa lagi baik pula akhlak dan ilmu agama nya.


"Wa'alaikumussalam..."


Sarah mama mertuanya menghampiri Medina yang lagi berdiri agak jauh dari mereka.


"Duduk nak!" ujar Sarah


Medina duduk di sofa berdekatan dengan mama mertua dan papa mertuanya, Darmansyah hanya tersenyum kecil melihat cucu menantunya itu.


Darmansyah mengangguk-angguk saat melihat Hanif yang membawakan koper milik Medina dan Kafkha, Darmansyah sudah paham dengan keadaan ini semua.


"Dasar cucu tidak tau di untung, malah meninggalkan istri sendiri dan pergi bersama Clara, Clara itu, makhluk apa sih itu? wanita lintah seperti nya, nempel mulu! umpat Darmansyah dalam hati.


Darmansyah lebih cerdik dan cerdas lebih dulu dari cucu tidak tau dirinya itu, dari semalaman Darmansyah sudah mengirim mata-mata untuk memata-matai cucu laknat nya itu, pagi ini Darmansyah mendapatkan kabar dari anak buah nya jika Kafkha pergi menemui makhluk lintah itu.


"Cucu laknat sama makhluk lintah itu, kalian membuat si mantan mafia ini jadi ingin menghukum kalian, awas kamu Kafkha nanti kamu dapat bagian dari kakek!" batin Darmansyah


Darman dan Sarah menatap menantu nya itu sementara itu Medina hanya tertunduk karena merasa canggung dengan keluarga suaminya ini, secara dia belum mengenal betul keluarga suaminya ini.


"Kafkha nya mana? tanya Sarah


Dari tadi ia tidak menemukan Kafkha, apa lagi saat Medina masuk ke dalam rumah ini ia tidak berbarengan dengan Kafkha, Sarah pikir anaknya itu di luar tapi sampai saat ini belum masuk-masuk juga.


"Mas Kafkha lagi kerja ma, katanya pagi ini dia ada meeting penting!" jawab Medina berdusta, Medina tidak tau sebenarnya suaminya itu pergi ke mana dan dia juga tak mau membuat mertuanya khawatir, langkah yang di ambil Husna ya seperti ini, berbohong.


"Ya Allah... maafin Medina yang sudah bohong sama mertua Medina, tapi Medina benar-benar tidak tau kemana mas Kafkha pergi!" batin Medina


Darmansyah mendengar ucapan bohong cucu menantu nya itu tersenyum kecil seraya geleng-geleng kepala, bahkan di sakiti seperti ini Medina tetap menutupi aib suaminya, pikir Darmansyah.


"Memang tidak salah saya memilih cucu menantu seperti Medina ini, tapi sangat di sayangkan cucu ku sendiri malah membuang berlian ketimbang batu kali!" batin Darmansyah


...

__ADS_1


Bersambung...


Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, biar author bisa memperbaiki setiap kalimat nya.


__ADS_2