Istri Bercadar Tak Dianggap

Istri Bercadar Tak Dianggap
part 34. Memilih


__ADS_3

Setelah bertengkar dengan Clara tadi kini Kafkha balik lagi ke tempat mobilnya, di sana sudah ada Medina yang akan menyambut kedatangan nya itu.


Brakk


Kafkha menutup pintu mobilnya itu secara kasar ia merasa sangat marah dengan semua ucapan Clara yang menjelekkan istrinya itu.


"Astagfirullah alhazim..." istighfar Medina


Dada Kafkha naik-turun karena menahan emosi nya, Medina mendiamkan suaminya itu terlebih dahulu ia ingin memberikan ketenangan terhadap Kafkha dulu.


Hening


Sudah lama mereka saling diam, emosi Kafkha sudah mulai mereda hanya saja wajah nya itu masih menahan emosi. Kafkha melirik Medina sekilas.


Ia pasti takut dengan Kafkha yang saat ini sedang emosi.


Medina juga tidak tau entah kenapa suaminya itu bisa semarah ini, apakah di dalam sana mereka sedang bertengkar tadinya? pikir Medina


Kafkha menjalankan mobilnya itu menuju rumahnya, mereka masih diam tidak ada yang mau memulai percakapan. Mereka sampai di rumah mereka, Kafkha langsung masuk ke dalam kamar nya.


"Mas Kafkha kenapa ya?"


"Eh?!, apa dia bertengkar dengan mbak Clara? tapi kenapa bisa bertengkar, bukankah hubungan mereka sangat mesra dan baik-baik saja selama ini?!"


Medina merasa penasaran dengan masalah mereka itu, ingin bertanya ada apa tapi takut dengan Kafkha yang masih marah.


Kafkha sampai di kamar nya itu ia langsung duduk di sofa nya itu sambil mengusar-gusar wajah nya itu, entah kenapa dengan diri nya saat ini.


Di sisi lain ia masih mencintai Clara karena mereka sudah menjalani hubungan yang sudah terbilang lama, di sisi lainnya Kafkha sangat menghargai perasaan Medina yang selama ini sangat tulus mencintai nya dan sampai saat ini Medina tidak pernah mengeluh dan tidak juga banyak menuntut akan di minta di cintai oleh nya.


Jadi ia sangat frustasi harus memilih siapa untuk mencintai nya dengan tulus, jika di lihat lagi Clara hanya memanfaatkan nya saja berbeda sekali dengan Medina yang selalu menghargai dirinya yang tidak pernah cinta dengan Medina. Sudah sembilan bulan saja usia pernikahan mereka, banyak kebaikan yang Kafkha lihat dari istri yang tak pernah ia anggap itu, selama ini Medina selalu sabar menghadapi sikap nya yang selalu berubah-ubah.


Apakah Kafkha akan memilih dalam hidup nya? atau saja ia tetap mempertahankan cinta nya dengan Clara yang tidak jelas untuk di jelaskan.


Kafkha menghela napas, "rumit!" satu kata keluar dari mulut nya itu.


Dia merasa rumit dengan hidupnya saat ini, di hadapi dengan dua pilihan, pilihan pertama yaitu Clara yang sangat ia cintai dan belum tentu Clara mencintai nya dengan tulus, pilihan kedua yaitu Medina yang sangat jelas mencintai nya dengan tulus tanpa meminta satupun dari nya, tidak pernah menuntut akan hal cinta.


"Kenapa pilihan nya sangat sulit untuk aku ambil salah satunya!"

__ADS_1


Banyak sekali kebaikan yang selalu Medina berikan kepadanya, sedangkan Clara hanya menyusahkan nya saja.


Tok tok tok


Medina mengetuk pintu kamar Kafkha itu, ia jadi takut terjadi sesuatu kepada Kafkha yang emosi tadi.


"Buka aja tidak saya kunci!" teriak Kafkha dari dalam.


Medina dengan ragu memutar handle pintu kamar Kafkha itu, biasanya Kafkha sangat melarang Medina untuk tidak boleh masuk ke dalam kamarnya itu, tapi sekarang Kafkha mengizinkan Medina untuk masuk.


"Assalamualaikum!" ucap salam Medina


Kafkha melirik sekilas ia menundukkan kepalanya, pusing dengan dua pilihan yang harus di hadapinya.


Medina memberanikan dirinya untuk mendekati Kafkha, ia duduk di sebelah Kafkha yang masih ada ruang untuk nya.


"Kalau dia benar-benar mencintai kamu, dia pasti akan mempertahankan kamu pasti dia tidak akan hanya memanfaatkan kamu saja, cinta itu memang banyak versi nya tapi... cinta tulus itu pasti tidak akan mengkhianati kita!"


"Seperti aku mencintaimu dengan tulus tapi cinta ku tidak pernah kamu lihat!" Sambung Medina dalam hatinya


Kafkha melirik Medina yang lagi mendefinisikan sebuah cinta nya yang tidak akan pernah Kafkha lihat dan Kafkha terima.


Medina langsung melirik pada Kafkha ucapan Kafkha itu seakan memberikan pertanda jika Kafkha sudah mulai merasakan cinta dari dirinya.


Medina tersenyum kecil di balik cadarnya itu, dapat Kafkha lihat jika istrinya itu lagi tersenyum, perlahan Kafkha membuka ikatan cadar istrinya itu, kini ia melihat dengan jelas kesempurnaan senyum istrinya itu.


"Benar kamu mencintai saya?" pertanyaan bodoh macam apa yang Kafkha keluarkan dari mulutnya itu, yang paling jelas Medina memang mencintai Kafkha tapi cinta itu tidak di balas oleh Kafkha.


"Ya!" satu kata 'ya' keluar dari mulut Medina


"Sudahlah jangan di pikirkan mas, Dina tau sangat susah mendapatkan hati mas yang hanya untuk mbak Clara!" tutur Medina


Ada perasaan sedih saat mendengar penuturan istri nya itu.


"Segala cara sudah Dina lakukan untuk menaklukkan hati mas tapi mas tidak pernah melihat nya!"


"Capek--! menjeda ucapan nya


"Iya, aku capek mas!" sambung Medina

__ADS_1


Hati Kafkha terasa remuk saat pengakuan istrinya itu, kenapa sangat sakit saat mendengar kata capek itu?


Apakah dia tidak ingin berjuang lagi? pikir Kafkha


Mulut nya seakan terkunci bahkan ia tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun, sangat sulit sekali berucap meminta ia untuk tetap berjuang, pikir Kafkha.


"Aku ingin menyerah tapi misi ku belum selesai!" ujar Medina


Misi?


Apa misi Medina untuk menikahi Kafkha?


"Misi?" sambut Kafkha


Medina mengangguk, "misi ku untuk menjadikan kamu orang yang paling baik dan membuat kamu kecanduan dalam beribadah terutama sholat 5 waktu!" sambung Medina memberikan senyuman terindah pada suaminya itu.


Deg


Kafkha terasa terhenyak dan terhempas di jurang yang paling dalam, ternyata misi istrinya itu sangat mulia sekali, ingin menjadikan suaminya salah satu orang yang kecanduan dalam beribadah, sebelum ia benar-benar lelah berjuang sendirian dan memutuskan untuk pergi.


"Kenapa? kenapa misi kamu sangat mulia sekali Medina? saya hanya seorang pendosa yang tidak pandai dalam urusan agama, ilmu agama saya masih sangat jauh bahkan dibawah rata-rata!" batin Kafkha


"Jika Dina tidak sanggup lagi maka Dina akan pergi, tapi Dina pergi sudah menuntaskan misi Dina ini mas!" tutur Medina


Setelah berbicara banyak, Medina memutuskan untuk pergi dari kamar Kafkha itu, Kafkha tambah frustasi dengan pilihan nya itu, di sisi lain ternyata istrinya itu sangat mempedulikan diri nya, sedangkan dia tidak pernah peduli akan hal itu.


"Siapakah yang akan aku pilih? Medina istri sholeha yang memiliki misi yang sangat mulia, atau Clara hanya kekasih yang tidak tau akan sampai mana hubungan ini!" batin Kafkha


Tambah rumit pikiran Kafkha untuk saat ini, kepalanya seakan mau pecah untuk memilih siapa di antara mereka.


Ternyata kakek nya tidak salah mencarikan nya jodoh yang sangat baik seperti Medina itu, kenapa dia baru bisa melihat sekarang betapa tulusnya cinta Medina untuk nya.


...


Bersambung...


**Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.


Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨**

__ADS_1


__ADS_2