
Hari-hari terus saja berlalu seperti air yang mengalir tanpa hentinya, hubungan Kafkha dan Medina saat ini sangat sulit untuk di jelaskan, mereka berdua sama-sama diam dan sama-sama tidak mau bertemu walaupun mereka tinggal satu atap.
Seperti saat ini Medina sudah menyiapkan sarapan untuk Kafkha, ia masih menjalani kewajiban nya sebagai seorang istri, ia masih mau membuatkan Kafkha makanan.
Kafkha makan terlebih dahulu setelah ia selesai makan ia akan pergi dari meja makan itu, barulah Medina menyusul untuk makan, selama 2 minggu ini mereka seperti ini terus, tidak ada yang mau memulai percakapan, percakapan saja tidak pernah apa lagi tegur sapa.
Hari Ahad ini mereka berdua akan santai di rumah karena di hari Ahad ini tidak ada pekerjaan yang akan mereka lakukan, Medina sendiri banyak menghabiskan waktu nya untuk menghafal Al-Qur'an, salah satu syarat lulus kuliahnya yaitu setidaknya hafal beberapa jus Al-qur'an.
Sedangkan Kafkha ia saat ini lagi banyak pikiran, pikiran nya tertuju pada Medina kenapa Medina sampai mendiami dirinya, apakah dia ada salah semala ini dan akhirnya Medina mendiami nya saat ini?
Kafkha sendiri sudah berusaha mengingat-ingat apa kesalahannya terhadap Medina sampai-sampai Medina mendiami diri nya.
"Apa aku punya salah padanya?
Kafkha masih memikirkan apa kesalahan yang telah ia perbuat.
Medina mendiami Kafkha ia hanya ingin melihat sampai kapan Kafkha bisa bertahan jika dia hanya diam saja, apakah Kafkha akan merasa kehilangan akan hal jika Medina mendiami nya, mungkin cara mendiami Kafkha ia akan sedikit berubah.
Benar saja Kafkha merasa ada yang aneh saja pada hidup nya ini karena Medina tidak pernah berbicara dengan nya, ia merasa kehilangan akan suatu hal itu.
Siapakah yang akan memulai berbicara terlebih dahulu, apakah Kafkha ataupun Medina.
Kafkha merasa tidak tahan lagi dengan sikap Medina yang mendiami nya itu, ia melangkahkan kakinya menuju kamar Medina itu untuk berbicara dengan istri nya itu.
Cklekk
Pintu kamar di buka oleh Kafkha ia sedikit segan dengan Medina yang lagi membaca Al-Qur'an kecil di tangan nya itu, begitupun dengan Medina ia sedikit kaget dengan kehadiran Kafkha secara tiba-tiba membuka pintu kamar nya itu.
Medina melirik Kafkha sekilas sambil menaikkan sebelah alisnya ingin bertanya ada apa.
Kafkha juga diam ia juga enggan untuk memulai sebuah percakapan terlebih dahulu, Medina masih tetap fokus menghafal bacaan ayat-ayat Al-Qur'an nya.
Medina menyudahi membaca Al-Qur'an nya, ia meletakkan Al-Qur'an nya itu di atas meja yang bersih dan juga tinggi. Medina menghela napas. Ia menghampiri Kafkha yang berdiri di dekat pintu itu.
"Masuk aja mas, kenapa sih? kayak orang enggan tidak mau berbicara saja!" ujar Medina
Kafkha menghela napas seraya tersenyum tipis, akhirnya Medina mau berbicara dengan nya, mendengar suara lembut istrinya itu membuat Kafkha senang.
"Ada apa? apa mas mau meminta sesuatu dari Dina?" tanya Medina
"Tidak ada apa-apa, saya cuma lewat sini saja!" kilah Kafkha
__ADS_1
Medina tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya ingin berucap yakin.
"Oh gitu!" angguk-angguk Medina
Kafkha juga mengangguk kecil, ia masih berdiri di sana, Medina jadi geleng-geleng kepala kepada Kafkha karena melihat keegoisan dirinya terhadap hati nya itu.
"Terus?" tanya Medina
"Itu apa ya?" Kafkha garuk-garuk kepala yang aslinya tidak gatal.
"Apa?"
"Sudahlah saya mau ke kamar dulu!" celetuk Kafkha lalu ia memutar tubuhnya untuk balik ke kamar nya.
"Gengsian!" ledek Medina
...
Malam harinya Kafkha ingin bertemu dan berbicara lagi dengan Medina, tadi itu mereka saling diam lagi, mereka merasa enggan untuk berbicara karena canggung, terlebih lagi Kafkha yang amat enggan untuk bicara.
Dasar manusia gengsian!
Kafkha berencana malam ini ia ingin tidur berdua dengan Medina, ia malas untuk tidur sendiri karena akhir-akhir ini ia ingin lengket saja dengan Medina.
Saat ini Kafkha hanya ingin memprioritaskan hubungan nya dengan Medina yang menuju ke ambang kehancuran, bagaimana tidak jelas-jelas saja perjanjian kontrak itu tinggal 2 bulan lebih lagi, maka surat kontrak pernikahan itu akan berakhir, maka hubungan mereka juga akan berakhir.
Kafkha merasa tidak ingin berpisah dengan Medina karena ia sudah mulai merasa kenyamanan itu.
Langkah kaki Kafkha melangkah ke pintu kamar Medina itu, tanpa permisi apa-apa ia langsung saja memutar handle pintu kamar Medina itu.
Medina terlonjak kaget saat Kafkha membuka pintu kamar nya itu tanpa permisi.
"Astagfirullah alhazim...!" ucap istighfar Medina mengusap-usap dada nya.
Kafkha masuk ke kamar itu ia menutup pintu itu kembali, ia langsung saja naik ke atas kasur Medina itu, tidak meminta izin sedikit pun ia malah naik saja ke atas tempat tidur Medina itu.
Medina menyipitkan matanya.
Ada apa dengan nya?
Medina menghampiri Kafkha ia berdiri di sebelah Kafkha itu, "mas Kafkha tidak salah masuk kamar kan?" tanya Medina
__ADS_1
"Tidak, kamar saya memang di sini!" ujar Kafkha menutupi separuh tubuhnya dengan selimut yang biasa di gunakan oleh Medina, selimut itu sangat harum membuat Kafkha betah mencium bau vanilla dari selimut itu.
"Ini kamar Dina, mas, kamu salah masuk kamar!" bantah Medina
"Ini kamar saya!" sungut Kafkha
"Lah, kok bisa gitu ya? jelas-jelas ini kamar Dina! gumam Medina
Medina memilih untuk tidur di sofa, "di sini saja tidurnya, tidak enak tidur di sofa!" ujar Kafkha menghentikan langkah kaki Medina
"Tidak, aku di sini saja!" ucap Medina
"Di sini saja tidak boleh di sana!" bantah Kafkha
"Di sini saja mas... aku tidak apa kok tidur di sofa, atau tidak aku tidur di kamar kamu saja!" ujar Medina
Niat hati ingin tidur berdua di kasur yang sama tapi Medina nya yang tidak mau, Kafkha harus memaksa Medina agar dia mau tidur di kasur yang sama.
"Jangan!" bantah Kafkha, "kamar saya banyak binatang aneh nya!" sambung Kafkha mampu membuat Medina mengerutkan keningnya.
"Binatang aneh? cicit Medina
"Jadi kamu tidur di sini saja, ini kamar kamu kan masa kamu tidur di sofa!" ujar Kafkha
"Aku sudah biasa mas, sudahlah kamu tidur di san--! ucapan Medina langsung di potong oleh Kafkha
"Mau saya gendong supaya kamu tidur di sini!" potong Kafkha
Kafkha sudah turun dari tempat tidur itu sementara itu Medina belum bisa mencerna ucapan Kafkha, lebih dulu Kafkha mengendong tubuh Medina itu ala bridal style.
"Aaa... mas Kafkha...!" pekik Medina langsung mengalungkan tangannya di leher Kafkha karena ia takut jatuh.
"Makanya nurut!" ujar Kafkha lalu ia naik ke atas tempat tidur itu, ia menyelimuti tubuh Medina dengan selimut yang sama.
Malam ini mereka tidur berdua di kasur yang sama dan mereka juga berbagi selimut, Kafkha tambah nyaman untuk tidur sementara itu Medina sedang menetralkan bunyi detak jantung nya yang tidak karuan.
"Astagfirullah alhazim... mas Kafkha bikin aku jantungan saja!" batin Medina
...
Bersambung...
__ADS_1
Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.
Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨