Istri Bercadar Tak Dianggap

Istri Bercadar Tak Dianggap
part 32. Kecewa


__ADS_3

6 bulan kemudian...


Sudah sembilan bulan saja usia pernikahan antara Kafkha dan Medina itu, semakin hari hubungan mereka sudah semakin baik saja, tapi tetap saja Kafkha tidak pernah menganggap Medina sebagai istrinya, walaupun hubungan mereka sudah baik, mata Kafkha seakan tertutup. Tapi itu tak menyurutkan semangat Medina untuk mendapatkan cinta suami nya itu.


Dan semakin ke sini hubungan Kafkha dengan Clara semakin merenggang saja, Kafkha merasa muak dengan Clara yang selalu memanfaatkan dirinya saja.


Saat ini Clara lagi bersama Kafkha, benar saja apa yang di katakan oleh Darmansyah jika Clara ini sama saja dengan makhluk lintah yang selalu menempel di badan orang.


"Sayang, apa kamu mau menemani ku untuk pergi shopping?" ujar Clara dengan nada manja


"Nanti kalau aku tidak sibuk!" tutur Kafkha


Hari ini Kafkha sangat di sibukkan oleh pekerjaannya, apa lagi siang ini ia akan meeting bersama dengan klien nya.


"Kamu kenapa seperti ini sih kaf? biasnya kamu akan selalu mementingkan aku!" ujar Clara merasa tidak terima dengan ucapan Kafkha tadi.


"Waktu itu aku tidak sibuk, sekarang kamu tidak melihat jika aku sangat sibuk!" imbuh Kafkha


"Sesibuk apapun kamu, kamu pasti menyempatkan diri kamu untuk menemani ku!" Clara sangat memaksa agar waktu Kafkha ia pergunakan untuk terbuang dengan sia-sia, Clara sangat sengaja menganggu Kafkha agar perusahaan ini lambat laun bangkrut, jika bos nya berleha-leha pikir Clara


"Tapi ini keadaan nya sangat berbeda ara, coba kamu mengerti sedikit!" Kafkha memberikan penjelasan kepada Clara


Makhluk lintah itu tidak mendengarkan ucapan Kafkha itu, ia hanya butuh waktu Kafkha agar Kafkha berleha-leha dengan perusahaan nya ini, agar perusahaan ini hancur.


Clara masih duduk di atas meja Kafkha itu, ia kehabisan cara membujuk Kafkha.


Cklekk


Pintu ruang kerja Kafkha itu di buka oleh seseorang, ternyata yang membuka pintu itu ialah Medina.


"Assalamu'alaikum!" ucap salam Medina menatap wanita yang selalu menganggu suaminya itu.


"Ah, kau lagi wanita munafik!" hardik Clara


"Sayang, kenapa wanita ini berada di sini? bukan kah wanita ini yang selalu mengusik ketenangan kita?" ujar Clara


Kafkha menatap Medina yang masih berdiri di dekat pintu itu, satu tangan Medina menenteng rantang sudah di pastikan jika Medina membawakan makan siang untuk suaminya itu.


Clara tersenyum sinis kepada Medina, ia menjatuhkan tubuhnya pada pangkuan Kafkha itu, "ah, sayang kamu ini sangat tampan sekali, bagaimana kita pindah dari sini karena wanita itu mengusik ketenangan kita berdua!" bujuk rayu Clara dengan bermanja di dada suami Medina itu.


Medina melihat wanita lain bermanja dengan suaminya jadi sakit hati.


"Hey wanita tidak tau diri, kenapa kau berdiri di sana, lihatlah bagaimana kemesraan kami berdua!" ujar Clara menatap Medina dengan sinis nya.


Entah kenapa Kafkha lebih memilih Clara dari pada Medina saat ini, tangan Kafkha mengusap pipi Clara itu.


"Oh sayang, aku mencintaimu!" racau Clara tersenyum penuh kemenangan karena Kafkha memilih dirinya dari pada Medina.


"Aku juga mencintaimu sayangku!" tutur Kafkha membuat mata Medina jadi terbelalak.

__ADS_1


Medina meletakkan rantang yang semula ia jinjing itu ke atas meja, ia melangkahkan kakinya menuju meja kerja suaminya itu.


"Iiih... kamu kenapa gatal sekali mbak!" dorong Medina mendorong kasar tubuh Clara itu sampai jatuh ke lantai.


"Si*lan, berani kau mendorong tubuh ku dengan tangan jorok kau itu!" hardik Clara melayangkan satu tamparan di pipi Medina itu.


Plakk


Satu tamparan mendarat di pipi sebelah kanan Medina itu, Medina kurang jeli makanya ia terkena tamparan Clara itu.


"Aaw...!" ringis Medina


"Cih, wanita munafik, pergi kau dari sini, suami kau itu hanya memilih saya bukan wanita seperti kau ini!" hardik Clara


"HENTIKAN!" bentak Kafkha


Kafkha merasa muak dengan pertengkaran ini, terlebih lagi dirinya merasa terganggu selama ada Clara ada di sini yang selalu mengoceh tidak ada hentinya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Clara mengusap pipi Kafkha, namun di tepis oleh Kafkha hal itu membuat harga diri seorang Clara merasa terinjak, bagaimana bisa Kafkha menepis tangan nya di depan wanita lain.


Atau kecurigaan Clara selama ini benar jika Kafkha mencintai gadis bercadar ini.


"Hey sayang kamu kenapa jadi begini?" suara manja Clara itu memenuhi gendang telinga Medina.


"Mbak, lebih baik mbak pergi saja, kenapa mbak selalu menganggu kami sih? mas Kafkha sudah punya istri, bahkan aku sudah bilang berkali-kali pada mbak!" Medina tidak mau kalah dengan wanita penggoda ini.


"Aku istri nya, mana bisa aku diam di saat suamiku di goda oleh perempuan lain, mbak lebih baik pergi saja!" usir Medina


"Perempuan g*bl*k!" maki Clara sangat ingin menyingkirkan Medina dari hadapan nya.


"SUDAH CUKUP, KAU KELUAR SAJA CLARA! bentak Kafkha.


Clara membelalakkan matanya tatkala Kafkha membentak nya, baru sekali ini Clara di bentak oleh Kafkha, hati wanita itu sangat sakit saat bentakan itu keluar dari mulut Kafkha.


"Tega kamu kaf!” lirih Clara lalu ia menyambar tas nya dan berlari pergi dari ruangan Kafkha itu.


Kafkha menghela napas ia merasa bersalah sudah membentak Clara tadi, Kafkha meninju meja nya itu.


Bugg


Medina merasa tidak senang melihat kelakuan Kafkha yang mulai jatuh ke dalam pelukan Clara itu lagi.


"Kenapa? kejar saja jika kamu merasa bersalah!" sela Medina


Kafkha mengamati wajah Medina yang seperti kecewa itu.


"Kau, mau apa kau ke sini?" tanya Kafkha


Medina tidak menjawab ia mengambil rantang yang ia taruh di meja tadi lalu ia meletakkan di hadapan Kafkha.

__ADS_1


"Aku hanya membawakan kamu makan siang, tapi aku kecewa dengan kamu yang berani-beraninya bermesraan dengan wanita lain di depan ku, aku tau aku ini istri tak dianggap tapi rasa sakit hati ini yang tidak bisa aku obati!" ungkap Medina lalu Medina pergi dari ruangan Kafkha itu.


Ia pikir selama ini Kafkha tidak lagi berhubungan dengan kekasih nya itu, ternyata di belakang nya Kafkha malah bermesraan dengan wanita itu, terlebih lagi mendengar kata cinta yang di ucapkan oleh Kafkha kepada kekasihnya itu tadi.


Perih!


Rasa perih yang di rasakan oleh Medina saat ini, ia pikir Kafkha sudah mulai membuka hatinya untuk nya tapi nyatanya tidak juga.


"Ayolah Medina kamu jangan jadi wanita lemah seperti ini!" ucap Medina menguatkan hatinya


Belum sempat Kafkha berkata apa-apa Medina sudah berlari pergi saja, Kafkha mengejar Medina.


"Din!" panggil Kafkha memanggil istrinya itu dengan jalan tergesa-gesa, Medina tidak menggubris panggilan suaminya itu, ia terus melangkahkan kakinya melewati koridor kantor ini.


"Medina!" panggil Kafkha lalu ia berlari mengejar Medina


Kafkha mencekal tangan Medina saat wanita itu ingin masuk ke dalam lift, "kamu mau kemana?" tanya Kafkha


"Pulang!" jawab Medina


"Kenapa begitu buru-buru? apa kamu tidak mau menemani saya makan siang?" ujar Kafkha


"Untuk apa? tutur Medina menepis tangan Kafkha itu, "untuk apa aku menemani kamu sedangkan kamu membuat aku kecewa!" sambung Medina


Kafkha menghela napas, ia mengakui jika ia membuat Medina kecewa dengan ucapan cinta yang ia ucapkan kepada Clara tadi.


"Aku mau pulang saja, Dina malas di sini nanti badan Dina bisa gatal-gatal!" ujar Medina menyindir Clara si wanita pelakor tadi


"Dia sudah pergi bukan!" tutur Kafkha tau maksud sindiran Medina itu tertuju pada siapa.


"Oh tentu saja tidak mas, kamu sudah terjangkit oleh wanita tadi, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu!" ujar Medina


Kafkha menghela napas lagi dan lagi, entah kenapa ia tidak ingin melihat Medina bersedih seperti ini, apakah benih cinta itu sudah mulai tumbuh di hati nya?


"Dina pulang saja, nanti Dina tunggu mas di rumah, makan ya masakan Dina itu jangan di buang, Dina memasak makanan itu penuh dengan cinta!" tutur Medina sudah mulai berani mengungkapkan perasaan nya yang sebenarnya kepada Kafkha. Hanya saja Kafkha yang belum bisa menerima perasaan nya itu.


Medina meraih tangan Kafkha itu lalu ia mencium punggung tangan Kafkha, "assalamualaikum... Dina pulang dulu!" ucap salam Medina seraya berpamitan.


"Hekhem, w-wa'alaikumussalam!" jawab Kafkha mereka berdua berpisah di lift itu.


...


Bersambung...


Komentar, like, berserta vote nya ya!!!


Jangan jadi pembaca gelap saja.


jangan lupa mampir di cerita baru author yang tak kalah menariknya dari cerita ini, dengan judul (pernikahan siri seorang dokter) mampir ya readers.

__ADS_1


__ADS_2