
Seperti biasa Medina pergi ke kampus naik taksi online, ia tidak mau merepotkan Kafkha untuk mengantar nya.
"Assalamualaikum mas, Dina berangkat kuliah dulu ya!" ucap salam Medina seraya berpamitan dengan Kafkha yang lagi duduk di teras rumah itu.
Saat ini Medina masuk siang, sementara itu Kafkha hati ini ia libur ke kantor karena ia tidak memiliki banyak pekerjaan di kantor.
"Hmm!" jawab Kafkha
"Oh iya, aku sudah buatin makan siang buat kamu, di makan ya!" tutur Medina tapi tak di gubrisi oleh Kafkha.
Medina menghela napas lalu ia berangkat ke kampus nya.
Saat ini Medina sudah sampai di kampus nya ia masuk ke dalam kelas nya itu, di sana Nina--temanya Medina sudah datang saja.
"Assalamualaikum nin!" ucap salam Medina lalu ia duduk di bangku nya, kebetulan dosen belum masuk.
"Wa'alaikumussalam!"
Akhir-akhir ini Medina banyak melamun tapi Nina tidak tau kenapa temannya itu banyak termenung dari biasanya, Nina juga telah bertanya kepada Medina hanya saja Medina tidak mau bercerita.
"Ada masalah ya antara kamu dan suami kamu?" tebak Nina, tebakan Nina itu benar.
Banyak orang yang tidak tau tentang masalah rumah tangga mereka ini, Medina menutupi tentang masalah yang selama ini ia alami.
"Tidak, aku hanya kepikiran soal lain!" jawab Medina dengan suara lembut.
Tidak mungkin ia menceritakan aib rumah tangga nya dengan orang lain.
...
Hari-hari terus berlanjut kini Medina dan Kafkha nginap di rumah orang tua Kafkha, bukan apa-apa ia di minta oleh Darmansyah untuk menginap di sini, sudah lama mereka tidak berkunjung ke kelurga besar Darmansyah itu.
Saat di rumah Darmansyah ini, Medina selalu memakai cadar nya karena di rumah Darmansyah ini banyak orang asing dan ada juga kakaknya Kafkha di rumah ini.
Medina hanya membuka cadarnya saat dia di dalam kamar bersama dengan Kafkha, saat ini saja Medina membuka cadarnya itu karena Kafkha yang memintanya.
Hari ini merupakan marah nya Kafkha karena hari ini di kantor nya ada masalah sedikit.
"Eh, ninja keluar sana, kau membuat saya tambah marah!" hardik Kafkha
"Kamu ada masalah?" tanya Medina
"Cik... pergi kau dari sini saya lagi malas melihat kau di sini!" bentak Kafkha lalu ia mendorong tubuh Medina keluar.
"Tunggu!"
"Apa lagi? kau mau saya bersikap lebih kasar lagi?"
"Cadar Dina ketinggalan di dalam mas!" tutur Medina karena ia sudah berdiri di luar pintu kamar.
"Menyusahkan!"
__ADS_1
Kafkha kembali ke kamar untuk mengambilkan cadar milik Medina, ia sedikit kesusahan mencari cadar Medina itu.
"Dimana gadis itu menyimpan nya?"
Medina masih menunggu di luar kamar itu, mumpung tidak ada siapapun di sini ia merasa aman, tidak lama setelah itu terdengar suara langkah kaki seseorang yang menuju naik ke lantai dua ini, Medina langsung panik ia berlari ke dalam kamar itu.
Ia langsung bersembunyi di depan Kafkha yang sedang menghadap ke lemari itu, Kafkha menaikan sebelah alisnya karena Medina langsung menarik tubuhnya.
"Hey, apa-apaan ini?" protes Kafkha
"Ada seseorang mau ke sini, aku belum mengunakan cadar ku!" tutur Medina menatap wajah Kafkha yang nampak terkejut karena ulah nya tadi.
Tubuh Medina tertutup habis oleh tubuh kekar Kafkha itu, bahkan Medina sampai hilang oleh tubuh tinggi Kafkha itu.
Tanpa sengaja Kafkha memperhatikan raut wajah cemas Medina itu, ia melihat bibir mungil Medina yang selalu menganggu pikiran nya itu.
"Mana cadar Dina, mas?"
"Mana saya tau!" tutur Kafkha
Medina masih menghadap ke arah Kafkha begitupun Kafkha masih menghadap Medina.
Hanif berdiri di ambang pintu itu ia melihat Kafkha yang entah apa yang ia lakukan, pikir Hanif karena ia tak melihat Medina.
"Kaf!" panggil Hanif
Mata indah Medina itu melebar, Kafkha sendiri yang menyaksikan betapa cantiknya wajah Medina jika matanya itu ia lebarkan.
Hanif memutar tubuhnya ia menghadap ke arah Hanif.
"Apa?" tanggap Kafkha judes
"Kamu ngapain di lemari itu? tanya Hanif melihat dengan jelas, "eh, bukanya itu Medina? kenapa adik ipar bersembunyi seperti itu?" sambung Hanif baru kelihatan jika Medina bersembunyi di balik Kafkha.
"Bukan urusan abang!" tutur Kafkha
"Abang mau apa kesini? gangguin orang saja!" sungut Kafkha
"Sorry gue gangguin kalian, hehe...!" tukas Hanif merasa malu sendiri sudah menganggu sepasang suami istri itu yang lagi bermesraan, pikir Hanif
"Lain kali pintu di kunci ya bro, gue jadi malu gini kan!" saran Hanif menutup pintu kamar itu, Kafkha mengerutkan keningnya entah apa yang di bilang oleh abang nya itu.
"Aneh!" gumam Kafkha
Kafkha berbalik lagi menghadap Medina ternyata dia sudah telat karena Medina sudah memasang cadarnya.
"Dimana kamu menemukan cadar mu itu?" tanya Kafkha
"Lemari!" jawab Medina
"Lalu kenapa tidak dari tadi saja kau mengambil nya di lemari? kenapa kau harus sembunyi di depan saya tadi? apa kau sengaja?" protes Kafkha sangat kesal.
__ADS_1
"Maaf, Dina tidak kepikiran mas!" ucap Medina
Semua orang yang ada di lantai bawah jadi jingkrak-jingkrak mendengar cerita Hanif.
"Ah, kenapa kamu menganggu adik kamu yang lagi berduaan!" tutur Sarah
"Mama... ini bukan Hanif salahkan kakek yang menyuruh Hanif memanggil Kafkha!" protes Hanif tidak mau di salahkan.
"Bilang saja kau iri!" sindir Darmansyah dengan nada bicara seakan meledek kejombloan cucunya yang satu ini.
"Bukan masalah iri kek ini masalah harga diri Hanif dan Hanif merasa malu juga!" keluh Hanif memanyunkan bibirnya bak anak kecil yang lagi cemberut.
Medina turun ke bawah semua orang menatapnya dengan senyum-senyum, tidak dengan Hanif yang merasa malu dengan apa yang ia lihat tadi.
"Ma, pa, kek, kalian kenapa?" tanya Medina merasa ada yang aneh.
"Ah, tidak kenapa-napa!" elak Sarah pada menantu nya itu.
Mereka semua satu persatu meninggalkan Medina yang menghampiri mereka itu, Darmansyah lebih dulu pergi dari ruang keluarga ini, sebelum ia pergi ia tampak tersenyum melihat Medina, lalu Hanif yang langsung kabur begitu saja karena malu, setelah itu Darman dan Sarah juga pergi dari sana.
"Papa sama mama mau kemana?" tanya Medina merasa heran dengan semua orang.
"Tidak!" tutur Darman lalu menyeret lembut tangan istrinya itu.
Kini Medina sendiri yang duduk di sofa ruang keluarga itu, Kafkha melangkahkan kakinya menuju lantai bawah ia menghampiri Medina.
"Kemana semua orang?" tanya Kafkha dengan judesnya
"Tidak tau!" jawab Medina
Kafkha melangkahkan kakinya menuju pintu utama, ia berencana pergi keluar untuk mencari angin.
"Mas... mau kemana?" panggil Medina soalnya Kafkha tidak berpamitan dulu dengan Medina.
"Ketemu kekasih saya, di sini sangat suntuk saya muak melihat wanita seperti kau!" hardik Kafkha
"Astagfirullah alhazim... mas istighfar mas!" ujar Medina
"Ck... untuk apa saya istighfar, atau dengan cara saya beristighfar bisa mengembalikan saya ke seperti semula? bisa mengembalikan kehidupan saya dimana tidak ada kau di sisi saya hah? saya benci dengan kau yang sok baik padahal kau perempuan busuk, kau sama saja seperti kakek tua itu, sama-sama memiliki misi untuk menghancurkan saya!" maki Kafkha dengan suara pelan namun menyakiti hati Medina.
"Kau hanya istri yang tak pernah saya anggap, kau itu hanya benalu dalam kehidupan saya!" hardik Kafkha mendorong tubuh Medina dengan kasar.
Medina sering mendapatkan kecaman dari suaminya itu terlebih lagi Kafkha juga main fisik terhadap nya, tidak hanya batin nya saja yang tersakiti tapi fisiknya juga sering menjadi amukan Kafkha itu.
....
Bersambung...
Hayooo yoyoyo silahkan beri komentar kalian di cerita ini, no komentar pendek, author mau lihat komentar panjang dari kalian.
Like sama vote nya jangan lupa juga, jangan jadi pembaca gelap saja!!!
__ADS_1