
Medina masih diam, tubuhnya terasa panas dingin saat perbuatan Kafkha tadi melintas lagi di pikiran nya, kini saja Medina enggan untuk menoleh ke arah Kafkha, jangankan menoleh untuk bicara saja ia sangat enggan.
Mereka sampai di depan rumah besar Darmansyah itu, lalu Kafkha memarkirkan mobilnya di halaman rumah yang sangat luas itu.
Kafkha melirik Medina yang masih setia duduk di jok depan itu sambil memegangi sabuk pengaman mobil itu, genggaman tangan nya sangat kuat menggenggam sabuk pengaman itu.
Kafkha menyipitkan matanya, semenjak Kafkha menghukum Medina tadi ia langsung diam seribu bahasa. Sudah di yakini jika Medina kaget dengan serangan mendadak Kafkha tadi.
"Mau turun atau mau saya hukum lagi!" tutur Kafkha dengan senyum jahil, Medina menilik sekilas kepada Kafkha lalu ia buru-buru turun saking buru-buru nya ia lupa melepas sabuk pengaman nya itu.
"Aaaaa...!" pekik Medina ia pikir Kafkha yang menahan nya.
"Sabuk pengaman kamu belum kamu lepas!" tutur Kafkha sedikit khawatir dengan keadaan Medina yang hampir terjungkal.
Medina menarik napas sambil mengusap dadanya, sudah hampir jatuh di hadapan Kafkha, dia juga merasa malu juga karena berpikiran jika Kafkha yang menahan nya.
"Astagfirullah alhazim Medina... kenapa kamu ceroboh gini sih, malu kan!" batin Medina sambil merutuki dirinya
Kafkha melepaskan sabuk pengaman itu, wajahnya sangat dekat dengan Medina, Medina menjauhkan sedikit wajah nya ia merasa terancam dengan kedekatan wajah Kafkha ini dengan wajah nya, ia takut kena serangan mendadak dari Kafkha lagi.
"Sudah, kamu boleh keluar, kalau lama-lama di sini nanti saya hukum lagi, mau!" tutur Kafkha menaik-turunkan alisnya
Medina langsung turun tanpa melirik ke Kafkha, ancaman Kafkha tadi membuat dia merinding.
Kafkha tertawa kecil di dalam mobilnya itu, ternyata mengerjai Medina itu sangat mengasikan bagi nya.
"Haha... kenapa dia sangat menggemaskan seperti itu!"
Medina berdiri di depan pintu utama yang masih tertutup rapat itu, ia menunggu Kafkha di sana.
"Kenapa tidak kamu pencet bel nya?" tanya Kafkha
Medina hanya diam dengan melirik Kafkha sekilas lalu ia membuang muka kembali, ia takut berbicara nanti Kafkha akan menyerangnya lagi jika ia bersuara lagi.
Ting tong
Kafkha memencet bel rumah besar Darmansyah itu, tidak lama bibik yang bekerja di rumah ini membukakan pintu itu.
"Assalamualaikum bik!" ucap salam Kafkha
Bik ikom tercengang dengan ucapan salam Kafkha itu, selama ini Kafkha kalau masuk rumah seperti ayam yang menyelonong masuk saja tanpa ada permisi sedikit.
"W-wa'alaikumussalam!" jawab salam bik ikom dengan gagap
"Astagfirullah alhazim... apakah ini benar tuan muda yang mengucapkan salam?" lirih bik ikom
"Kenapa bik?" tanya Kafkha
"Ah, tidak tuan muda, silahkan masuk kalian sudah di tunggu oleh tuan besar pertama!" ujar bik ikom
Mereka berdua masuk ke dalam rumah lalu Kafkha menghampiri keluarga nya yang lagi duduk di sofa ruang keluarga itu.
"Assalamualaikum semuanya!" ucap salam Kafkha
Ha? mereka tercengang dengan ucapan salam Kafkha itu, apakah ini benaran Kafkha yang mengucapkan salam itu? pikir mereka semua
"W-wa'alaikumussalam!" jawab mereka serentak namun tergagap.
"Bocah upil ini sudah nampak berubah, baguslah kalau dia sudah berubah!" batin Darmansyah
"Astagfirullah alhazim... apakah ini benar anak ku yang mengucapkan salam? ya Allah hati hamba sangat senang mendengar ucapan salam dari putra bungsu hamba itu! batin Sarah
__ADS_1
"Papa bangga sama kamu kaf, kamu sudah mulai berubah dan mulai menerima kehadiran Medina!" batin Darman
"Oh my god, ini benaran adek gue yang mengucapkan salam? ya Allah... senang sekali melihat Kafkha bisa berubah seperti ini!" batin Hanif
Bukankah kehadiran Medina dalam kehidupan Kafkha memberikan dampak yang positif bagi Kafkha?
Jadi apakah Kafkha mau menerima Medina dalam hidupnya?
Kafkha menautkan kedua alisnya tatkala semua keluarganya menatap nya dengan heran.
"Mari kita makan! perut aku sudah lapar!" tutur Kafkha lalu ia langsung pergi ke arah dapur.
"Ah... iya kita jadi melupakan makan malam!" ujar Darmansyah
Semua orang pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama.
Sarah menahan Medina terlebih dahulu, lalu Sarah memeluk Medina dengan begitu saja.
"Terima kasih kamu sudah membawa anak mama ke jalan yang lebih baik, kamu sudah banyak memberikan pelajaran yang baik untuk Kafkha, tetaplah di samping Kafkha nak!" tutur Sarah mengeluarkan air mata nya tatkala haru dan juga bahagia melihat perubahan dalam hidup putra nya.
"Tidak perlu berterima kasih sama Medina ma, Medina hanya perantara saja yang mengubah hati mas Kafkha itu ialah Allah SWT dan juga diri mas Kafkha yang ingin berubah juga!" tutur Medina
Sarah mengangguk sambil menghapus air mata nya itu.
"Mama bangga mempunyai menantu seperti kamu!" ujar Sarah
Medina tersenyum di balik cadarnya itu, kini mereka makan malam bersama.
Medina duduk di sebelah mama nya ia tidak mau duduk berdekatan dengan Kafkha, ia masih takut dengan kejadian di mobil tadi.
Kafkha cemberut karena Medina menjauhi nya, sangat jelas dari raut wajahnya itu jika ia lagi cemberut.
"Kakek mau bicara apa? sampai harus sembunyi seperti ini?" ujar Kafkha
"Kau cerewet sekali, duduklah kau dulu!" ujar Darmansyah
"Iya, kakek ini mau bicara apa sampai harus repot seperti ini!" sewot Kafkha
Plak
Darmansyah menabok mulut Kafkha itu dengan buku yang ia pegang tadi.
"Aah... kakek tua kau kenapa nabok mulut ku ini!" umpat Kafkha
"Kau terlalu cerewet!" gerutu Darmansyah
"Cepatlah bicara!" seru Kafkha
"Sebentar, kau terlalu cerewet!" ujar Darmansyah
"Ayolah kek, aku ingin pulang ini!" ujar Kafkha
"Nginap di sini dulu, ini perintah dari Darmansyah sendiri, awas kau menolak nya!" ujar Darmansyah
"Terserahlah!"
Darmansyah menarik napas, ia akan menceritakan Sanjaya dan juga Clara kepada Kafkha, agar Kafkha tidak di bodohi lagi oleh cinta palsu Clara itu.
"Ngomong-ngomong kau sudah tidak ada berhubungan lagi dengan Clara itu?" tanya Darmansyah
"Untuk apa kakek kepo dengan hidup ku!" jawab Kafkha.
__ADS_1
Plak
Darmansyah menabok mulut Kafkha itu lagi, "apa susahnya kau bicara iya atau tidaknya!" ujar Darmansyah
"Tidak!" jawab Kafkha
"Baguslah!"
"Kau tau jika Sanjaya itu ayah dari Clara? tanya Darmansyah, Kafkha mengangguk, "kalau kau tau lalu kenapa kau masih saja mempunyai hubungan dengan makhluk lintah itu? keluarga Darmansyah dengan keluarga Sanjaya itu memiliki sedikit bentrokan, apakah kau sudah tau itu?" ujar Darmansyah
Kafkha mengerutkan keningnya, memiliki sebuah masalah dengan keluarga Sanjaya? pikir Kafkha
"Maksud kakek? kita punya masalah dengan kelurga Clara itu?" tanya Kafkha
Darmansyah mengangguk
"Dia menuduh kalau kakek yang membunuh Lisa istrinya Sanjaya itu, padahal itu bukanlah salah kakek, yang salah itu kelompok penjahat yang ingin meruntuhkan perusahaan Sanjaya itu!"
"Lalu?
"Ck! kau tak ngerti juga!" gerutu Darmansyah
Kafkha menggeleng-nggelengkan kepalanya ia masih belum paham dengan ucapan kakeknya ini, memiliki sebuah masalah dengan Sanjaya saja ia baru mengetahui nya sekarang.
"Maksud kakek, kalau om Sanjaya itu menuduh kakek telah membunuh istrinya? tanya Kafkha
"Hmm!"
"Kenapa bisa begitu? kenapa dia menuduh kakek? kenapa dia tidak mencari siapa pelakunya? kenapa dia malah menuduh kakek? tidak bisa di biarkan!" emosi Kafkha
"Kau jangan emosi dulu! tenang Darmansyah
"Gimana tidak emosi, kenapa om Sanjaya bisa setega itu menuduh kakek? lalu apa hubungannya nya dengan Clara?" tanya Kafkha
"Ck... b*d*h! jelas-jelas Clara itu hanya ingin menghancurkan hati kamu, dan ingin menguras harta kamu saja, dia ingin balas dendam lewat kamu, satu persatu keluarga Darmansyah akan dia hancurkan, itulah Clara itu mendekati kamu, dia bahkan rela melakukan segala cara agar kamu tetap di sisinya, setelah kau benar-benar percaya dan cinta mati padanya, maka dia akan mulai menghancurkan kamu!" ujar Darmansyah
Kafkha merasa shock dengan semua pengakuan yang Darmansyah jelaskan itu kepada Kafkha.
Apakah Clara sejahat itu?
Apakah itu semuanya benar?
Kenapa Clara sangat tega melakukan rencana itu kepada Kafkha? apakah cinta tulus yang Kafkha berikan itu tidak di terima oleh Clara?
Pikiran Kafkha mulai di penuhi oleh Clara yang selama ini baik pada nya, seolah-olah cinta yang Clara berikan kepadanya itu ialah cinta yang sebenarnya, tapi saat mendengar penjelasan dari Darmansyah itu, semuanya seakan tidak nyata saja.
Kafkha mulai membenci Clara karena selama ini telah di bohongi oleh Clara, bahkan hatinya terasa sakit saat mendengar pengakuan itu.
"Beruntung kau tak memiliki hubungan dengan dia lagi, jika itu terjadi maka habislah kau!" tutur Darmansyah
"Makanya kakek memaksa kamu untuk menikah dengan Medina agar kamu tidak lagi di ganggu oleh Clara itu, eh ternyata kau masih memiliki hubungan dengan nya waktu itu!" lanjut Darmansyah
Jadi apakah Kafkha mau menerima Medina di saat dia sudah tau kenapa alasan Darmansyah menikahi nya dengan Medina.
...
Bersambung...
Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.
Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨
__ADS_1