Istri Bercadar Tak Dianggap

Istri Bercadar Tak Dianggap
part 14. Istri Tak Dianggap


__ADS_3

Selesai Kafkha mandi kini ia sedang duduk di sofa itu sambil membaca sebuah map berwarna merah, ya map itu merupakan sebuah perjanjian yang di buat oleh Kafkha untuk pernikahan nya ini, Kafkha belum sempat berbicara pada Medina jika pernikahan ini hanya pernikahan kontrak.


Medina sedang duduk di tepi ranjang seraya membaca Al-Qur'an kecil yang selalu ia bawa kemana-mana, Medina sangat mendalami membaca setiap ayat Al-Qur'an yang ia baca itu.


Kafkha sampai terlena mendengar suara merdu istri nya itu, ia memperhatikan Medina yang lagi membaca Al-Qur'an itu, ia menunggu Medina selesai baca Al-Qur'an barulah ia akan berbicara tentang perjanjian kontrak pernikahan ini.


Medina selesai mengaji nya lalu Medina menatap Kafkha sekilas, ternyata Kafkha juga menatap Medina yang lagi mengaji tadi, mereka saling membuang pandang saat tatapan mereka beradu tadi.


Medina menyimpan Al-Qur'an nya itu di lemari dan kini ia sedang membuka handphone nya Medina membuka aplikasi berwarna hijau itu yang berlogo seperti telepon. Banyak teman-teman Medina yang mengucapkan selamat atas pernikahan nya itu.


Medina terpaku dengan salah satu pesan dari teman nya itu yang bernama Nina, Medina membaca pesan dari sahabat nya itu.


"Aduh... duduh... teman aku sudah nikah, tapi maaf ya Dina, aku tidak bisa datang karena aku ada urusan yang tidak bisa di tinggalkan, sekali lagi maaf ya.., tapi kamu tenang saja aku di sini mendo'akan atas pernikahan kamu, selamat ya Medina, semoga kedepannya rumah tangga kalian baik-baik saja dan selalu dalam keridhoan Allah SWT, aamiin...!"~ Nina


Medina jadi tersenyum dan terharu dengan isi pesan sahabat nya itu, ia membalas pesan dari Nina itu.


"Terima kasih Nina, tidak masalah kamu tidak datang di pernikahan ku, sekali lagi terima kasih ya atas do'a yang kamu berikan kepada rumah tangga ku!" isi pesan Medina untuk sahabat nya itu.


Tidak lama dari itu, Nina membalas pesan dari Medina.


"Wiiss... yang udah nikah, pasti kalian lagi bermesraan buktinya lama balas pesan ku!" isi pesan Nina dan tidak lupa pula ia memberikan emoticon tertawa di akhir pesan nya itu.


Medina yang membaca pesan itu hanya tersenyum saja di balik cadarnya itu, tebakan teman nya itu sangat salah sekali, buktinya mereka abis resepsi langsung bertengkar dan tidak baikan sampai sekarang, sebenarnya Medina sudah memaafkan kesalahan suaminya itu hanya saja Kafkha sendiri yang tidak ingin berdamai.


"Bisa saja kamu nin!" balas Medina


"Kenapa begitu? bukankah pengantin baru itu selalu bermesraan?" pesan Nina


Medina tidak mungkin menceritakan tentang kehidupan rumah tangga nya pada Nina, ia mau menutupi aib suaminya itu.

__ADS_1


"Sudah dulu ya nin, aku ada pekerjaan!" balas Medina karena dia tidak mau Nina banyak tanya tentang pernikahan dan kehidupan baru nya ini.


"Hmm... ya sudah deh, pasti pak suami lagi minta di manja!" pesan Nina dengan emoticon tertawa yang sangat banyak, Medina yang membaca pesan dari Nina itu hanya geleng-geleng kepala saja.


Dari tadi Kafkha memperhatikan Medina yang tersenyum-senyum sendiri itu, Kafkha sangat muak melihat nya.


"Hei!" panggil Kafkha kepada istrinya itu.


Lagi-lagi Kafkha memanggil Medina dengan sebutan tidak baik, apa salah nya ia memanggil Medina dengan sebutan nama atau sebutan yang manis gitu, biar tambah romantis tapi Kafkha mana mau memanggil istrinya itu dengan sebutan manis.


Medina tidak menggubris panggilan suaminya itu, ia fokus dengan permainan yang ada di handphone nya itu.


"Ck!" decak Kafkha frustasi


"Kamu bisa dengar saya tidak sih, saya panggil kamu lho!" ujar Kafkha pada akhirnya.


Medina menghela napas lalu ia melihat ke suaminya itu, ia tersenyum di balik cadarnya itu.


Medina duduk di samping Kafkha itu, tanpa banyak basa-basi Kafkha langsung melemparkan map berwarna merah itu ke hadapan Medina.


"Baca lalu tanda tangan!" ujar Kafkha dengan dingin nya dan bersikap angkuh.


Medina membaca isi perjanjian itu, ia membaca setiap poin yang Kafkha buat itu.


Isi perjanjian itu berisikan bahwa Medina tidak boleh mengikut campuri urusan Kafkha begitu pun sebaliknya, mereka tidak boleh tidur sekamar, mereka tidak boleh bersentuhan fisik, dan terlebih lagi pernikahan ini hanya setahun saja, tidak kurang dan tidak lebih.


"Apa maksud kamu membuat surat perjanjian seperti ini mas?" tanya Medina


"Tanda tangan saja jangan banyak tanya!" ujar Kafkha dengan nada jutek

__ADS_1


Tentu Medina tidak menyetujui hal ini, ia memiliki konsep hidup seperti orang-orang lain yang hanya menikah cukup sekali saja dalam seumur hidup itu, mana mungkin Medina mau menuruti perjanjian ini, di poin terakhir perjanjian itu Medina tidak menyetujui nya, tapi poin yang lainnya Medina akan menyanggupi nya.


"Tidak Dina tidak mau menyetujui poin yang terakhir ini mas, kalau poin yang lain oke lah Medina mau menuruti nya tapi yang poin terakhir mungkin Medina akan menolaknya mas!" ujar Medina menatap wajah suaminya itu. Dari tadi Kafkha memperhatikan mata indah yang di miliki oleh Medina.


"Apa yang membuat mu tidak menyetujui nya? tanya Kafkha menatap tajam Medina.


Seketika suasana di dalam kamar itu menjadi sunyi karena mereka berdua saling diam.


"Menurut aku pernikahan ini hanya satu kali seumur hidup mas!" ujar Medina


"Cih!" Kafkha berdecih tidak suka dengan pendapat Medina, entah apa yang Kafkha lakukan sehingga tangan kekarnya itu langsung saja mencengkram kuat rahang milik Medina, seketika Medina merasakan sakit di bagian rahang nya itu.


"Kau pikir kau itu siapa hah? karena kehadiran kau membuat hidup saya hancur, karena kau manusia MUNAFIK! bentak Kafkha lalu mendorong Medina


Berderai sudah air mata Medina karena ulah Kafkha, Medina memegang rahang nya yang terasa sakit.


"Cepat kau tanda tangan, saya paling tidak suka berdebat dengan manusia munafik seperti kau ini!" hardik Kafkha tidak ada kata-kata lembut yang ia keluarkan saat bersama istri nya ini, coba kalau bersama Clara pasti Kafkha akan berkata sangat lembut bagaikan kapas.


Dengan tangisan terisak-isak kecil Medina akhirnya menyetujui perjanjian kontrak pernikahan itu, setelah Medina menandatangani surat itu barulah Kafkha juga ikut tanda tangan di surat itu.


"Kau tak perlu mengeluarkan air mata buaya kau itu di depan saya, kau pikir saya peduli dengan kau, TIDAK!" ucap nya menjelaskan di akhir kalimat nya itu


"Kau sama saja istri tak di anggap, kau hanya istri di atas kertas, sampai kapan pun saya tidak akan menganggap keberadaan mu!" ujar Kafkha lalu ia pergi ke ruang kerja nya.


Medina terisak-isak di sofa itu ia sangat sakit hati dengan perkataan suaminya itu, apa lagi Kafkha berucap jika dia istri yang tak di anggap, sakit sekali itulah yang terasa oleh Medina saat ini.


...


Bersambung...

__ADS_1


Hayooo yoyoyo silahkan beri komentar kalian di cerita ini, no komentar pendek, author mau lihat komentar panjang dari kalian.


Like sama vote nya jangan lupa juga, jangan jadi pembaca gelap saja!!!


__ADS_2