
Darmansyah mengundang cucu nya untuk makan malam bersama, apa lagi mereka sudah lama tidak bertemu semenjak Kafkha balik lagi ke rumah nya itu.
Darmansyah juga ingin berbicara empat mata dengan Kafkha.
Sore ini Medina sedang menunggu Kafkha pulang bekerja, sore ini mereka juga akan pergi ke rumah Darmansyah.
"Apa mas Kafkha melupakan nya jika kita di undang makan malam oleh kakek!" Medina bermonolog sendiri sambil menunggu Kafkha.
Tidak biasanya juga Kafkha pulang lewat dari jam biasanya pulang.
"Apa aku harus menelepon nya?"
Medina merasa tidak enak hati jika mereka datang terlambat untuk undangan makan malam nya.
Di telepon dia malah tidak enak menelepon Kafkha, jika tidak di telepon maka Kafkha akan lupa.
Medina masih mondar-mandir menunggu kepulangan Kafkha itu, saat ia menunggu Kafkha akhirnya mobil yang biasa Kafkha bawa terparkir juga di halaman rumah nya itu.
Medina membuka pintu utama itu, ia menyambut kedatangan Kafkha dengan menampakkan senyum termanis nya, apa lagi Medina tidak menggunakan cadarnya.
"Assalamualaikum suami ku, capek ya pulang kerja!" ucap salam Medina untuk menyambut kedatangan suaminya yang capek pulang kerja itu.
"Wa'alaikumussalam!" jawab Kafkha
Medina menyambut uluran tangan Kafkha itu lalu ia mencium punggung tangan Kafkha itu dengan takzim, Medina mengambil tas kerja dari tangan suaminya itu.
"Biar Dina saja yang bawa, mas pasti capek!" tutur Medina, Medina mengandeng tangan suaminya itu untuk masuk ke dalam rumah, "oh iya, mas mau minum apa? teh? kopi? atau air putih?" sambung Medina
"Air putih saja, tenggorokan saya kering!" balas Kafkha
"Baik mas, tunggu sebentar ya!" ujar Medina ia lebih dulu meletakkan tas kerja suaminya itu dan ia pergi ke dapur untuk mengambilkan Kafkha air minum yang di minta oleh Kafkha tadi.
"Silahkan di minum!" Kafkha menerima gelas berisi air minum itu lalu ia meminum nya sampai kosong.
Medina membantu suaminya itu membuka jas yang ia kenakan ke kantor tadi dan Medina juga membantu membukakan dasi yang melingkar sempurna di lehernya itu, Kafkha merasa sangat senang di perlakukan sangat baik seperti ini.
Ia membiarkan saja Medina melakukan itu semua, tanpa lepas pandangan mata Kafkha itu ke wajah Medina yang selalu menampakkan senyum nya di hadapan Kafkha.
"Kamu dari tadi senyum terus! apa kamu lagi bahagia?" tanya Kafkha
Senyum Medina tambah mengembang, "iya senang, karena suami Dina pulang dalam keadaan selamat dan selalu di lindungi oleh Allah SWT!" tutur Medina
Kafkha mengangguk sedikit, "hari ini kita ke rumah orang tua ku, kamu tidak lupakan!" ujar Kafkha ternyata ingat dengan undangan makan malam itu.
"Ingat, aku sebenarnya ingin mengingatkan kamu eh ternyata kamu sudah dulu mengingat nya!" ujar Medina
...
Setelah selesai menunaikan ibadah sholat magrib barulah mereka pergi ke rumah kakeknya itu.
Kafkha dari tadi sudah siap ia mengunakan kaus oblong warna hitam dan celana jogger berwarna hitam juga, tampilan Kafkha pada malam ini terkesan gaya santai.
Medina dari tadi belum juga keluar dari kamar nya, sampai Kafkha bosan menunggu nya sangat lama.
__ADS_1
"Cewek kalau dandan apa harus selama ini?"
Sampai Kafkha ingin meneriaki Medina itu tapi Medina keburu keluar dari kamar nya itu.
"Yuk, nanti kita telat!" tutur Medina mengandeng tangan Kafkha itu.
"Yuk, nanti kita telat!" Kafkha menirukan suara lembut Medina itu sambil sedikit memonyongkan bibirnya.
Tak
Kafkha menjentik kening Medina itu, "bukankah kamu yang bikin lama kita untuk berangkat, dandan untuk apa? selama itu banget!" protes Kafkha
Medina mengusap-usap jidatnya itu, "sakit jidat Dina! obatin!" rengek Medina
"Lebay!" tukas Kafkha
"Dandan aku untuk suamiku seorang saja, emangnya aku tidak boleh berdandan yang cantik gitu!" sela Medina
"Tidak usah, kamu tetap cantik tanpa make up!" ujar Kafkha
Medina jadi tersanjung mendengar penuturan suaminya itu.
"Makasih mas suami!" ujar Medina
Jalanan begitu padat kendaraan yang lalu lintas, mungkin mereka akan sedikit telat sampai di rumah Darmansyah.
"Macet lagi!" gerutu Kafkha
"Tidak apa-apa macet, kita sama-sama melewati macet ini, seperti hati Dina yang tidak akan pernah pudar mencintai mas Kafkha, ya walaupun cinta Dina belum di akui!" tutur Medina melihat keluar untuk melihat kendaraan yang macet ini.
"Saya harap kamu akan selalu mencintai saya sampai hati saya ini benar-benar mau menerima kamu!" batin Kafkha
"Mbak Clara masih menganggu mas?" tanya Medina
"Nggak!" jawab Kafkha
"Kenapa?" tanya Medina
"Memang kamu mau jika saya terus di ganggu oleh nya?" ujar Kafkha
"Tidak, malahan aku senang jika kamu tidak di ganggu lagi, Dina akan gerak cepat untuk mengambil hati mas yang sekeras batu itu!" sela Medina tanpa dosa mengucap jika hati suaminya itu sekeras batu.
Memang benar kalau hati Kafkha itu sekeras batu kok, Medina tidak mungkin ngomong seperti itu jika tak ada bukti nya, dia sendiri sudah membuktikan nya.
Ciiiiittttttttt
Tiba-tiba saja Kafkha mengerem mobilnya di jalanan yang sepi kendaraan yang lalu lalang, Kafkha tidak terima kalau Medina bilang jika hatinya sekeras batu.
"Apa? ulangi ucapan kamu tadi!" perintah Kafkha
Medina menyipitkan matanya, "yang mana?" tanya Medina
"Jangan mengelak lagi!" sela Kafkha
__ADS_1
"Oh, sekeras batu tadi itu kan, ya benar mas hati kamu itu sekeras batu, buktinya saja Dina susah mendapatkan hati mas itu!" ujar Medina dengan sedikit tertawa
Kafkha menyipitkan matanya lalu ia membuka cadar Medina itu, tangan nya langsung mencapit bibir mungil Medina.
"Mulut kamu harus aku capit dulu, agar tidak mengatai suami tampan kamu ini!" Kafkha mencapit bibir Medina itu dengan gemas nya, mereka berdua tertawa di dalam mobil itu.
"Haha... geli mas!" Kafkha menggelitik pinggang Medina itu, ia berusaha menghentikan tangan Kafkha itu.
Kafkha juga tertawa sudah mengerjai istri nya itu, "ini hukuman untuk kamu!" ujar Kafkha menyudahi menghukum Medina lalu Kafkha diam sesaat dan ia mulai melanjutkan perjalanan mereka.
Medina merasa senang dengan perubahan sikap Kafkha yang berubah menjadi baik seperti ini.
"Mas Kafkha kalau lagi ketawa tambah tampan ya, Dina terpesona melihat ketampanan mas Kafkha!" penuturan Medina
Blusss
Wajah Kafkha tiba-tiba saja merah dan menghangat dan juga desiran darahnya mengalir ke tubuh nya ini.
"Cie... mas Kafkha wajah nya kenapa memerah gitu? mas Kafkha pasti senang kalau Dina memuji ketampanan mas Kafkha!" ujar Medina
"B aja!" tutur Kafkha tapi hatinya sudah menghangat
"B aja atau b banget!" Medina mulai lagi menganggu kefokusan Kafkha itu.
"Diam!" perintah Kafkha
"Iya diam, ini diam kok!" Medina masih saja bersuara
"Diam jangan bicara lagi!" titah Kafkha
"Iya diam!" balas Medina mempermainkan ucapan Kafkha itu, ia tersenyum puas sudah mengerjai suaminya itu.
"Dina tidak bisa diam mas, gimana ini dong? Dina selalu ngoceh kalau dekat dengan mas Kafkha karena mas Kafkha itu terlalu tampan jadinya Dina ngoceh terus jika melihat ketampanan kamu itu!" sambung Medina
Kafkha menarik napas lalu satu kecupan mendarat di bibir nya itu, terlebih lagi Medina belum memasang cadarnya.
Jederr
Medina langsung mematung saat satu kecupan itu mendarat di bibirnya itu, bagikan di sambar petir rasa hatinya itu.
Medina langsung diam seribu bahasa dan ia memalingkan wajahnya dari Kafkha, buru-buru dia memasang cadar nya kembali.
Kafkha tersenyum puas sudah membungkam mulut istrinya itu dengan satu kecupan.
"Jika kamu bersuara lagi, kamu akan mendapatkan nya lagi!" ancam Kafkha
Medina hanya diam mematung tanpa mau melihat Kafkha.
...
Bersambung...
Minal aidzin wal faizi mohon maaf lahir dan batin ya semua readers yang setia membaca cerita author ini.
__ADS_1
Maaf kemarin tidak up karena author baru saja lebaran terlebih lagi sanak saudara juga berdatangan hehe...😁😁
Semoga kalian suka sama cerita yang author buat ini.