Istri Bercadar Tak Dianggap

Istri Bercadar Tak Dianggap
part 24. Usil


__ADS_3

Sudah tiga hari saja mereka nginap di rumah Darmansyah itu, mereka seperti pasangan romantis pada saat di depan keluarga Darmansyah itu, seperti saat sekarang ini Kafkha lebih banyak menemani Medina yang lagi memasak di dapur, ya walaupun itu hanya sandiwara semata Kafkha saja agar kakeknya tidak terlalu mencurigainya.


"Andai saja kamu baik seperti ini mas, mungkin aku akan menjadi orang yang bahagia, aku ingin memiliki rumah tangga yang utuh seperti orang-orang lain pada umumnya! batin Medina


Saat ini Kafkha lagi memotong wortel entah kenapa dia jadi ikut-ikutan membantu Medina padahal ini hanya sandiwara saja, tapi dia malah ikut memasak juga jadinya.


"Nih wortel nya sudah saya potong!" Kafkha memberikan wortel yang sudah ia potong itu kepada Medina.


"Makasih mas!" ucap Medina dengan suara lembut


"Buka cadar kamu!" pinta Kafkha tiba-tiba saja ingin melihat wajah beserta bibir mungil Medina itu.


Medina mengerutkan keningnya, kenapa sikap Kafkha kadang baik kadang ia suka marah dan kejam juga dengan Medina, lihatlah saat ini dia seakan tidak punya salah sedikit pun kepada Medina.


"Buruan buka!" paksa Kafkha


"Untuk apa sih mas, di sini banyak orang!" tolak Medina dengan suara lembut nya itu.


Kafkha celingak-celinguk melihat art lain dan keluarga nya yang lain, tidak ada siapapun di sini selain mereka berdua, Kafkha berdiri di belakang Medina untuk menutupi tubuh Medina itu, lalu ia memutar tubuh Medina menghadap pada nya.


"Buru!" titah Kafkha sangat bawel entah apa yang akan ia lakukan setelah melihat wajah Medina.


Medina menghela napas lalu satu tangan nya membuka ikatan cadarnya itu, kini cadarnya itu terbuka dengan sempurna, Medina tersenyum manis kepada Kafkha.


Deg


Jantung Kafkha langsung berdetak melihat wajah manis nan cantik itu plus dengan senyum manis Medina, Kafkha seakan sesak napas jadinya.


"Ah, s*ial kenapa dia tersenyum sangat manis seperti itu! batin Kafkha


"Sudah kan, aku pasang lagi ya!" ujar Medina dia takut nanti ada orang lain melihat wajahnya itu.


Tangan Kafkha tanpa sengaja mencapit bibir mungil Medina itu, "astagfirullah alhazim... mas... iih kamu apan sih!" kaget Medina karena tangan Kafkha itu mencapit bibir mungil miliknya.


Jika di novel-novel lain yang dia baca, jika si pemeran perempuan nya memiliki bibir mungil dan merah ranum si pemeran cowok nya akan langsung sosor tuh bibir mungil itu, tapi ini berbeda dengan Kafkha ia tidak berani mencium bahkan mengigit bibir itu malahan dia akan mencapitnya saking gemasnya.


"Kenapa bibir Dina di jepit seperti tadi, sakit tau!" protes Medina

__ADS_1


Kafkha benar-benar tidak tahan lagi melihat bibir mungil istrinya itu yang bergerak-gerak saat berbicara, sekali lagi tangan nya itu mencapit bibir istrinya itu.


"Mas Kafkha...!" keluh Medina, walaupun suara Medina sudah ia keraskan tapi kesannya sangat pelan bagi Kafkha.


"Sudah pakai cadar kamu!" ujar Kafkha lalu ia pergi dari sana.


Medina memasang cadarnya itu kembali dan ia hanya melihat kepergian Kafkha itu, ia tersenyum kecil dengan kelakuan konyol Kafkha itu.


...


Malam harinya mereka semua berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama, Kafkha duduk di samping Medina ia melirik Medina yang sedang makan itu, Medina makan sambil mengangkat sedikit cadarnya itu untuk menyuap makan nya.


Sudah hampir tiga bulan ini Darmansyah tidak lagi memata-matai cucu nya itu, ia akan memberi kepercayaan untuk Kafkha untuk saat ini.


Untuk saat ini Darmansyah ingin menyiapkan beberapa rencana untuk membongkar kebusukan Clara dan Sanjaya itu. Dia tidak akan mau harga dirinya di injak-injak oleh keluarga Sanjaya itu terlebih lagi kelurga Sanjaya itu menuduh nya telah membunuh istri dari Sanjaya.


Selesai makan malam kini Medina dan Kafkha balik ke kamar nya, Medina duduk di sofa sambil membuat tugas yang di berikan oleh dosen nya.


Sementara itu Kafkha sibuk menelepon kekasih nya itu, kadang Medina jadi sulit untuk mengerjakan tugasnya karena melihat Kafkha yang teleponan dengan Clara.


Kapan Kafkha akan memprioritaskan dirinya, setelah hampir tiga bulan menjalani pernikahan ia belum pernah mendapatkan perhatian lebih dari suaminya itu.


Selesai Kafkha ngobrol lewat sambungan telepon itu ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur itu.


"Kamu tidak sholat dulu?" tanya Medina saat Medina baru selesai mengambil wudhu


"Terserah saya, hidup-hidup saya kenapa kamu terus mengikut campuri nya, dalam surat kontrak pernikahan itu sudah di tuliskan jika kamu tidak berhak ikut campur dalam urusan saya, kalau lupa silahkan baca lagi surat kontrak itu, saya muak bahkan sangat muak melihat sikap sok alim kamu itu!" hardik Kafkha


Medina menghela napas, "aku hanya mengajak kamu ke jalan yang lurus saja, apakah itu salah?" tutur Medina


Apakah salah seorang istri mengajak suaminya untuk beribadah dan mengajak nya ke jalan yang lurus dan lagi baik? tentu saja jawabannya tidak salah, karena apa? karena setiap pasangan itu pasti ada kesalahan sedikit menyimpang maka mereka berhak untuk menegur dan mengajak nya ke lebih baik lagi.


Jadi Medina hanya ingin melihat suaminya itu jalan ke jalan yang lurus tidak seperti ini.


"SALAH!" bentak Kafkha


Medina terkejut-kejut dengan suara bentakan Kafkha itu.

__ADS_1


"Kau tuli atau apa? saya sudah bilang kan waktu itu, urus saja urusan mu jangan urus urusan saya!" tutur Kafkha


Medina menghela napas entah sampai kapan suaminya itu akan bersikap seperti ini, atau dia akan pergi dari rumah ini saja agar Kafkha akan berubah?


Seperti nya jalan itu yang akan ia ambil, sesekali ia akan memberikan pelajaran untuk Kafkha ini agar dia tau betapa sakitnya saat tidak di pedulikan.


Medina menunaikan sholat isya nya selesai ia sholat lalu ia melirik sekilas pada Kafkha yang sudah tidur itu, ia menatap Kafkha dengan sendu dan merasa kasihan juga.


"Kapan kamu akan berubah dan menjadi imam yang baik untuk ku?"


Ia melipat sajadah dan mukenah nya lalu menyimpan nya kembali, Medina duduk di sofa itu lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa itu, selama ini mereka tidak pernah tidur satu ranjang.


Kafkha terbangun saat jam dinding menunjukkan pada jarum jam 02.45 wib, ia terburu-buru ke kamar mandi karena tak tahan menahan kencing nya. Selesai ia dari kamar mandi kini ia balik ke ranjangnya sebelum itu ia menatap Medina dulu, ia turun dari ranjang nya itu untuk menghampiri Medina.


"Andai saja gadis ini tidak menerima lamaran kakek dulu, mungkin dia tidak akan merasakan kesengsaraan ini, aku seperti ini ke kamu karena ini bentuk protes ku kepada kakek untuk menolak perjodohan ini, tapi sudah terlambat kamu malah menerima nya, jadi jangan salahkan ku tidak menganggap kamu, huff... wanita b*doh!" batin Kafkha masih saja mengumpat istri nya itu.


Lama ia memperhatikan wajah tidur Medina itu, sampai-sampai dia mengulangi mencapit bibir mungil Medina itu, entah kenapa tangan nya itu suka usil untuk mencapit bibir istrinya itu.


Ia sampai tertawa kecil dengan tingkah konyol nya ini, bibir mungil Medina itu habis ia jepit-jepit, sampai-sampai Medina terusik gara Kafkha mencapit bibir nya itu.


Sebelum Medina bangun Kafkha lebih dulu kabur dari sana, ia pura-pura tidur.


"Apa sih tadi? kenapa bibir ku terasa di capit ya?" tutur Medina terbangun gara-gara Kafkha mencapit bibir nya itu.


Saat ini Kafkha masih terasa bagaimana lembut dan kenyalnya bibir mungil istri nya itu, ia jadi pengen mencapit bibir Medina itu sekali lagi, tapi sayang si empunya sudah terbangun.


...


Bersambung...


Novel yang author buat akan berbeda dari lainnya ya guys ya!


Seperti Kafkha ini yang suka mencapit bibir istrinya saking gemasnya.


Kalau novel-novel yang pernah author baca sih si cowoknya akan nyosor tuh bibir ceweknya, tapi kali ini author akan membuat versi beda dari yang lain 🤣🤣🤣🤭


Hayooo yoyoyo silahkan beri komentar kalian di cerita ini, no komentar pendek, author mau lihat komentar panjang dari kalian.

__ADS_1


Like sama vote nya jangan lupa juga, jangan jadi pembaca gelap saja!!!


__ADS_2