Istri Bercadar Tak Dianggap

Istri Bercadar Tak Dianggap
part 40. Tidak Rela


__ADS_3

Sangat sakit sekali saat orang yang kita sayangi ternyata tidak menyayangi kita juga, terasa di bohongi, ya memang betul cinta nya hanya cinta bohongan saja.


Kafkha merasa di bodohi selama ini, merasa di bohongi juga, semuanya hanya cinta bohongan saja.


Berbeda sekali dengan Medina yang sangat tulus mencintai Kafkha sedangkan Kafkha tidak pernah mencintai nya.


Jadi sekarang ia juga merasakan gimana rasa yang Medina rasakan selama ini, Kafkha merasa amat bersalah dengan Medina.


Ternyata hukum alam itu memang ada, tidak cuma hanya sekedar menakut-nakuti saja tapi kebenaran nya memang ada.


Kafkha menatap Medina yang duduk di sebelah nya itu, ia baru menyadari orang yang selama ini yang tak pernah di anggap nya ternyata memiliki cinta yang sangat tulus untuk nya.


Sangat di sayangkan sekali ia sempat menyia-nyiakan cinta tulus itu, tapi ia tidak terlalu menghawatirkan nya karena wanita itu sudah memberikan nya izin untuk mencintai nya.


"Medina!" panggil Kafkha dengan suara lembut


Medina melirik Kafkha, "iya mas!" jawab wanita yang berstatus sebagai istri itu.


"Maafkan saya!" ujar Kafkha


Medina tersenyum di balik cadarnya, "tidak usah berkali-kali meminta maaf pada Dina mas, Dina sampai bosan mendengar kata maaf mas itu!" ujar Medina dengan candaan nya agar suasana tegang sedikit sedih tadi mencair.


Kafkha menarik napas, ternyata istri cadar nya itu sudah bosan dengan kata maaf dari nya.


"Dina tau mas masih memiliki perasaan untuk dia, Dina akan memberikan mas waktu untuk menghapus memori tentang dia, move on memang tidak mudah mas!" tutur Medina memberikan pengertian kepada Kafkha.


"Dari mana kamu tau move on itu tidaklah mudah?" tanya Kafkha


"Hmm... dari siapa ya? Dina lupa mas!" jawab Medina sambil tersenyum di balik cadarnya itu.


"Sini, buka cadar mu dulu!" titah Kafkha


Medina langsung mengiyakan keinginan suaminya itu, ia membuka cadar nya dan menampakkan senyum nya.


Capit


Kafkha langsung mencapit bibir mungil Medina itu, "ini hukuman untuk istri yang selalu bercanda sama suaminya!" sela Kafkha dengan senyum jahil nya


Medina tambah mengerucutkan bibirnya yang di capit itu, jika ia tau kalau Kafkha ingin mencapit bibir nya mungkin ia tidak akan mau membuka cadar nya itu.


Kafkha melepaskan capitan nya itu terhadap bibir Medina.


"Sakit!" rintih Medina


"Sini sayang, biar mas obatin!" tutur Kafkha mendekati bibi nya itu ke bibir Medina.


Medina langsung menjauhkan wajahnya itu sebelum Kafkha benar-benar mencium nya, yang kemarin saja ia masih ingat kelakuan Kafkha itu, apa lagi di tambah dengan sekarang, mungkin dia sudah pingsan dengan serangan tiba-tiba itu.


Kafkha menahan tawa dengan tingkah lucu Medina itu, ia tau jika Medina tidak suka dengan serangan tiba-tiba yang ia berikan kepada Medina itu.

__ADS_1


Setelah melupakan Clara kini Kafkha menyantap makanan siangnya itu, ia makan sangat lahap seolah-olah ia tidak memiliki beban pikiran.


"Masakan kamu benar-benar enak!" imbuh Kafkha di sela-sela aktivitas makan nya itu.


Medina tersenyum baru kali ini Kafkha memuji masakan nya itu.


"Masya Allah... terima kasih mas, kamu suka kan sama masakan ku? terus waktu itu kenapa kamu tidak mau memakan nya?" tanya Medina ingin tahu alasan nya kenapa Kafkha waktu itu tidak mau memakan masakan nya.


Belum Kafkha jawab tapi Medina sudah menjawab nya terlebih dahulu.


"Tidak usah mas menjawab nya biar Dina saja yang jawab, karena mas tidak cinta kan sama Dina waktu itu, jadinya mas jijik sama masakan Dina!" tutur Medina


"Salah!" bantah Kafkha


Medina mengerutkan keningnya


"Lalu?"


"Karena aku gengsi waktu itu, sebenarnya aku ingin makan masakan kamu, tapi gengsi!" tutur Kafkha


"Hmm... kang gengsi dong!" sela Medina


"Begitulah!"


Kafkha menghabiskan makan siang nya itu tanpa ada yang tersisa sedikit pun, rantang nasi yang Medina bawa itu bersih tanpa ada sisa oleh Kafkha.


"Dua-duanya!" ujar Kafkha sambil mencubit pipi Medina


"Besok bawain aku bekal lagi!" lanjut Kafkha


"Sebenarnya mau sih, tapi besok Dina pulangnya lama mas!" beritahu Medina


"Kamu siapin saja saat mas mau berangkat kerja, mulai besok dan seterusnya mas mau bawa bekal!" ujar Kafkha


Seketika senyum Medina mengembang


"Siap pak suami!" ujar Medina


...


Clara keluar dari kantor Kafkha itu dengan perasaan dongkol, ternyata rencana nya yang sudah sejauh ini ia rencanakan terbongkar juga dengan cuma-cuma, bagaimana tidak cuma-cuma yang jelas rencananya itu belum di jalankan dengan sempurna.


Rencana yang sudah hampir matang itu ternyata putus juga di tengah-tengah perjalanan yang ia mainkan. Bagaimana tidak dongkol dan sakit hati.


"Aakakh.... si*lan kenapa semuanya terbongkar di saat yang tidak terlaksana dengan baik, aaakh... jadi percuma saja gitu?


"Tidak, tidak, pokonya dendam ini harus terbalaskan, aku tidak mau rencana ini tidak terlaksana, ck ini gara-gara wanita munafik itu!"


Clara balik ke rumah nya ia ingin mengadu kepada Sanjaya jika rencananya terbongkar juga.

__ADS_1


Ia memijat-mijat kepalanya yang terasa pusing akibat ini semua.


"Aaaaakh...!" teriak Clara


Sesampai nya ia di rumah ia langsung membanting pintu kamar nya itu.


Brakk


Bantingan pintu itu terdengar juga oleh Sanjaya, Sanjaya bergegas ke tempat putri semata wayangnya itu.


"Ada apa ini?" tanya Sanjaya


"Pa... hiks...!" tangis Clara langsung memeluk papa nya


"Clara! ada apa ini? kenapa kamu menangis?" tanya Sanjaya khawatir dengan putri nya ini.


Tidak biasanya Clara menangis di dekapan papa nya itu.


"Hancur pa, rencana Clara hancur!" beritahu Clara


Sanjaya melepas pelukan putri nya itu.


"Apa maksud kamu?"


Clara menghampus air mata nya itu, "rencana Clara untuk menghancurkan Kafkha hancur pa, Kafkha sudah mengetahui nya jika kita punya dendam kepada kakek nya itu!" beritahu Clara


Sanjaya mengepalkan tangannya, "kenapa bisa?" tanya Sanjaya, Clara menggeleng-nggelengkan kepalanya.


"Bahkan Kafkha tidak lagi mempercayai Clara, dia bahkan mengusir Clara tadi!" ujar Clara


Sanjaya terduduk di sisi ranjang putri nya itu, apakah Darmansyah yang bermain di balik Kafkha, sehingga Kafkha tahu dengan dendam ini.


"Kamu tenang saja, jika rencana kamu gagal, sekarang giliran papa yang akan memainkan sebuah rencana untuk menghancurkan Darmansyah itu!" ujar Sanjaya


Clara mengangguk.


Di saat papa nya sudah keluar dari kamar nya itu, kini Clara sedang melihat sebuah foto dirinya dengan Kafkha, kenapa dia merasa sakit hati saat Kafkha berucap ingin mengakhirinya hubungan ini.


Apa Clara memiliki sebuah rasa kepada Kafkha? karena terlalu seringnya mereka berdua apa perasaan itu tumbuh?


"Kenapa aku tidak rela jika Kafkha memutusakan ku?"


...


Bersambung...


Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.


Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨

__ADS_1


__ADS_2