Istri Bercadar Tak Dianggap

Istri Bercadar Tak Dianggap
part 18. Sakit Hati


__ADS_3

Kafkha benar-benar pindah dari rumah orang tua nya itu, Sarah dan Darman selaku orang tua nya hanya bisa menuruti keinginan Darmansyah karena Darmansyah lah yang mengizinkan Kafkha untuk pindah rumah.


Medina membereskan barang-barang nya yang akan ia bawa ke rumah baru mereka, Kafkha dari tadi duduk santai di sofa kamar nya itu sambil chating dengan Clara ia bahkan tidak mempedulikan perasaan Medina yang sangat sakit itu.


"Apa salah Dina ya Allah, kenapa ujian yang Engkau berikan kepada hamba serasa berat sekali, hati Dina sakit ya Allah menyaksikan sendiri suami hamba chatting dengan wanita itu, berikanlah kekuatan bagi Dina untuk melewati semua ujian ini!" batin Medina.


Medina mengusap sudut matanya yang berair sangat sakit sekali jika seorang suami tidak mempedulikan perasaan istrinya, Medina tetap tersenyum walaupun hatinya sedang di obrak-abrik oleh kelakuan suaminya itu.


"Sudah mas!" beritahu Medina


Kafkha hanya bergeming saja tanpa melihat Medina sedikit pun, Medina menghela napas.


"Mau berangkat sekarang atau kapan?" tanya Medina.


Kafkha tidak mempedulikan pertanyaan Medina itu, ia masih tetap asik chating dengan Clara.


Sudah setengah jam Medina menunggu Kafkha akhirnya dia selesai juga chatting dengan kekasihnya itu.


"Buru!" ketus Kafkha


Mereka berdua akan berangkat ke rumah baru yang sudah Kafkha siapkan, rumah baru mereka itu sedikit jauh dari rumah nya ini, Kafkha sengaja membeli rumah yang sangat jauh dari rumah orang tua nya.


"Mama, papa, kakek kami berdua pamit dulu ya!" tutur Kafkha dengan sikap yang sangat baik mengandeng tangan Medina di hadapan keluarga nya itu, seolah-olah ia menerima pernikahan ini.


"Jaga diri baik-baik, jangan sakiti cucu menantuku!" ucap Darmansyah


"Siap kek!" ujar Kafkha dengan tersenyum


Kini Medina mendekati mertuanya itu ia bersalaman dengan orang tua Kafkha itu, "papa, mama, aku berangkat dulu ya, kalian jaga diri baik-baik! ujar Medina berpamitan dengan mertuanya itu.


"Kami akan baik-baik saja nak, yang harus jaga diri itu kalian berdua karena kalian sangat jauh tinggalnya!" ujar Darman


"Iya papa!"


Darmansyah menatap cucunya itu dengan tatapan biasa saja, tidak ada rasa curiga sedikitpun yang Darmansyah lihat dari cucunya itu.


Mereka berdua akhirnya berangkat menuju rumah baru itu, Kafkha hanya diam sambil menyetir mobilnya itu, Medina juga ikut diam karena tidak ada topik yang harus di bahas.


Satu jam perjalanan akhirnya mereka berdua sampai di rumah baru mereka, rumah itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga, rumahnya juga sangat bagus.


"Oh iya, kita tidak sekamar!" tutur Kafkha


Medina menaikan sebelah alisnya, "kenapa begitu mas?" tanya Medina


"Karena kamu istri tidak di anggap, kamu hanya istri di atas kertas!" cemooh Kafkha lalu Kafkha pergi ke kamar nya.


Medina membuka kamar yang berada tidak jauh dari kamar Kafkha itu, ia menghela napas.


"Bismillah... kamu harus kuat Dina! seru Medina menyemangati diri nya.

__ADS_1


Medina merapikan barang-barang yang ia bawa tadi, selesai sholat asar Medina langsung ke dapur ia berencana membuat makanan untuk makan malam nanti, Medina membuka kulkas ternyata isinya kosong, tidak ada satupun bahan makanan di dalam kulkas itu.


"Mas Kafkha tidak menyiapkan bahan makanan ternyata!"


Medina pergi ke kamar Kafkha ia mengetuk pintu kamar itu, tidak ada sahutan dari Kafkha.


tok tok tok


"Mas...! panggil Medina


"Mas Kafkha!"


Kafkha yang lagi asik mengobrol dengan Clara lewat sambungan telepon itu jadi terusik oleh suara ketukan pintu bersamaan dengan suara lembut Medina yang memanggil dirinya.


"Sebentar ya Ara!


"Kamu mau kemana? kita belum selesai ngobrol nya lho!" ~ Clara


"Ada problem sedikit, nanti kita sambung lagi ya sayang!"


"Ya sudah deh, kamu jangan terlalu sering dengan wanita itu!" rengek manja Clara lewat sambungan telepon itu.


"Aman, kamu tenang saja, aku hanya cinta sama kamu!"


"Makasih sayang!" ~ Clara


Sambungan telepon di putus lalu Kafkha membuka pintu kamar nya itu.


Kafkha tidak akan pernah lupa dengan apa yang pernah Medina katakan waktu itu, jika di wajahnya ada tompel, padahal itu hanya bohong belaka Medina saja agar Kafkha tidak memaksa dirinya untuk membuka cadarnya secara paksa waktu itu.


Andai saja Kafkha meminta Medina untuk membuka cadarnya itu dengan perkataan baik-baik, kemungkinan Medina akan memperlihatkan wajah aslinya pada Kafkha, tapi salah Kafkha sendiri.


"Maaf!" imbuh Medina


"Apa kamu mau menganggu ketenangan saya hah? kenapa sih kau ini tak pernah mengerti jika saya itu tak suka di ganggu oleh wanita munafik seperti kau itu--!" cecar Kafkha


"Maaf mas, aku hanya meminta izin kamu kalau aku akan keluar untuk membeli bahan masakan!" potong Medina pada akhirnya


"Pergi saja, ngapain harus izin sama saya, sekalian saja kamu tidak pulang saya akan senang!" bentak Kafkha lalu Kafkha menutup pintunya itu dengan kasar.


Darr


Medina kaget dengan suara pintu tertutup keras itu, "astagfirullah alhazim...!" istighfar Medina


Medina melangkahkan kakinya menuju warung, ia berencana membeli beberapa bahan masakan di warung itu sekalian juga ia ingin berkenalan dengan orang-orang yang ada di sini.


Medina sampai di warung itu ia membeli beberapa bahan masakan untuk nanti malam.


"Mbak baru ya di sini?"

__ADS_1


"Iya bu!" tutur Medina dengan ramah


"Pantesan baru lihat!"


"Iya!"


Selesai ia membeli bahan masakan kini Medina balik ke rumah nya, dari kejauhan ia melihat mobil Kafkha keluar dari pekarangan rumah nya itu.


"Mas...!" panggil Medina


"Mas Kafkha pergi kemana?" gumam Medina


Kafkha tidak pamitan dulu pada Medina ia langsung saja pergi begitu saja, Medina menghela napas lalu ia masuk ke rumah nya itu, mau di telepon Medina tidak mempunyai nomor suaminya itu.


Sakit hati itu yang di rasakan Medina karena tak pernah di anggap oleh suaminya sendiri.


...


Malam sudah larut tapi Kafkha belum juga pulang, Medina mondar-mandir menunggu kepulangan Kafkha.


"Mas... kamu kemana sih?" hati Medina terasa gundah gulana karena Kafkha tidak ada kabar sama sekali, apa lagi Medina baru tadi siang pindah ke sini jadinya dia merasa kesepian apa lagi dia belum mengenal betul tetangga nya di sini.


Medina tidak berani meminta nomor telepon suaminya itu ke keluarga suaminya ia takut nantinya keluarga suaminya itu banyak tanya dan menghawatirkan dirinya dan Kafkha.


"Ya Allah... lindungilah mas Kafkha dimana pun ia berada!"


Sudah setengah jam berikutnya barulah Kafkha sampai di rumah nya itu, Medina membukakan pintu untuk suaminya itu, betapa terkejutnya Medina saat mencium aroma alk*hol dari tubuh suaminya itu, Kafkha masuk ke rumahnya itu di bantu oleh seorang pemuda yang waktu itu pernah hadir di acara pernikahan mereka.


"Apa yang terjadi kak?" tanya Medina


"Suami mu terlalu banyak minum akhirnya dia tidak sadarkan diri, gue saranin mending lo jauh-jauh dari dia!" tutur Reza


Deg


Sakit sekali hati Medina saat tahu suaminya meminum minuman yang sangat di larang oleh agama Islam, baru pertama kalinya Medina mendapati Kafkha yang mabuk seperti ini.


"Astagfirullah alhazim... kenapa kamu seperti ini sih mas? apa ini bentuk sikap buruk mu yang selama ini yang tidak aku tahu?" batin Medina


Teman Kafkha itu pulang lalu Medina masuk ke kamar nya ia sedang menangis di kamar nya itu, hatinya terasa berat saat mengetahui suaminya mabuk seperti itu, bagaikan di tusuk oleh pisau belati hatinya ini.


"Hiks... ayah... ibu... kenapa mas Kafkha seperti itu? aku tidak sanggup menghadapi sikap nya itu ayah... jika dia tidak mencintai ku itu hal wajar bagi ku, sampai saat ini aku masih belajar untuk mencintai dia, tapi dengan sikap dia seperti ini kenapa hati aku sangat sakit ayah... hiks...!"


Medina menangis di kamar nya itu sambil merenungi nasibnya yang seakan mau mati melihat suaminya mabuk seperti itu.


...


Bersambung...


Hayooo yoyoyo silahkan beri komentar kalian di cerita ini, no komentar pendek, author mau lihat komentar panjang dari kalian.

__ADS_1


Like sama vote nya jangan lupa juga, jangan jadi pembaca gelap saja!!!


__ADS_2