Istri Bercadar Tak Dianggap

Istri Bercadar Tak Dianggap
part 31. Pesona Gadis Bercadar


__ADS_3

Medina bangun saat azan subuh berkumandang, ia menggeliatkan tubuhnya setelah itu ia hendak membangunkan Kafkha yang tidur di kasur empuk itu, Medina masih tidur di sofa karena Kafkha masih menolak untuk tidur seranjang dengan Medina.


"Subuh, mas!" ujar Medina menguncang tubuh Kafkha agar ia bangun.


"Subuh, subuh, subuh!" teriak Medina dengan halus di telinga Kafkha, Kafkha menarik selimut nya itu sampai menutupi seluruh tubuhnya, ia merasa malas untuk turun dari kasur nya ini.


Medina menyibak selimut Kafkha itu, dia sudah mulai berani dengan Kafkha saat ini karena Medina merasa Kafkha itu sudah mulai berubah, buktinya waktu itu Kafkha tidak lagi memarahi Medina dan bahkan Kafkha sering berlaku baik pada Medina.


"Sholat subuh dulu mas!" tutur Medina


"Malas, gue mau tidur!" hardik Kafkha


Medina menghela napas, "yakin mau meninggalkan sholat subuh kamu?" tanya Medina


"Mau dengar tausiah singkat aku lagi tidak? ini tentang hukuman bagi orang yang meninggalkan sholat subuh dengan sengaja!" tutur Medina


Kafkha tidak menanggapi ucapan Medina itu, ia menarik selimut nya kembali untuk menutupi seluruh tubuhnya itu.


"Dengan demikian, satu kali tidak melaksanakan sholat subuh, maka akan mendekam 60 ribu tahun di neraka!" sepagi ini Medina sudah menceramahi Kafkha, dengan cara inilah Kafkha mau bergerak untuk sholat.


"Jadi apa mas tidak ingin sholat? mas sudah sering meninggalkan sholat subuh mas dengan sengaja dulu, apa lagi sholat subuh ini banyak keutamaan nya lho, terutama bisa menenangkan jiwa, menghapus dosa, mendatangkan berkah dan sebagai jalan menuju surga Allah SWT lho mas!" sambung Medina


Kafkha mendengarkan ceramah singkat istri sholeha nya itu di balik selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya itu.


"Kamu pasti tau arti dari Ash-shalaatu khairum minan naum'!" ujar Medina


"Sholat itu lebih baik dari pada tidur!" jawab Kafkha di balik selimut nya itu, Medina tersenyum mendengar respon dari Kafkha.


"Nah itu tau, kenapa kamu memilih untuk tidur?" tanya Medina


Kafkha menyibak selimut nya itu menampakkan wajah masam nya, perlahan ia turun dari tempat tidur nya itu. Medina tersenyum senang melihat Kafkha bisa berubah, ternyata tidak seburuk itu mengajak Kafkha ke jalan yang lebih baik.


Mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah di kamar mereka itu, ini merupakan yang ke dua kali Kafkha menjadi imam untuk istrinya itu.


Selesai sudah mereka menunaikan sholat subuh mereka, Medina bersiap-siap untuk pergi ke kampus nya dan Kafkha bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


Mereka saling diam tidak tau harus ngobrol apa.


"Hekhem!" deheman Kafkha

__ADS_1


Medina melirik sekilas pada Kafkha yang sedang memasang dasi nya itu, Medina masih menyiap-nyiapkan buku yang akan ia bawa ke kampus.


"Hekhem!" sekali lagi Kafkha berdehem


Medina mengerutkan keningnya mendengar deheman Kafkha itu, Medina menggeleng-nggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran nya tentang Kafkha.


Kafkha menatap punggung Medina ia merasa kesal tidak mendengar isyarat dari nya, Kafkha ingin Medina memasangkan dasi pada leher nya ini, tapi Medina tak mengerti juga dengan isyarat Kafkha itu.


"Hekhem!


"Hekhem!


"Hekhem!


Kafkha sengaja berdehem berkali-kali agar Medina mengerti dengan isyarat nya ini.


"Kenapa mas?" tanya Medina masih membelakangi Kafkha


"Ini, biji kedondong nyangkut di tenggorokan saya!" jawab Kafkha asal saking kesalnya


"Kok bisa?" tanya Medina tanpa dosa bertanya lagi yang tidak mungkin terjadi juga biji kedondong nyangkut di tenggorokan suami tampan nya itu.


Kafkha makin kesal dengan pertanyaan Medina itu.


Medina tersenyum ia menghampiri Kafkha dan mengambil alih dasi itu dari tangan Kafkha, Medina hanya pura-pura saja sebenarnya ia tau maksud Kafkha itu.


"Gengsi jangan di pelihara ya pak suami, jadinya gini kan, minta tolong memasangkan dasi aja harus pakai kode-kode an, apa salahnya abi minta tolong dengan berucap, 'istriku cantik, tolong pasangkan dasi abi dong' nah kalau ucapan abi seperti itu pasti aku akan membantu abi!" tutur Medina panjang lebar dan pekerjaan nya memasang dasi Kafkha telah usai.


Kafkha menatap lekat wajah Medina yang tidak menggunakan cadar itu, dan lebih lagi Kafkha tidak salah dengar kan dengan ucapan istri nya itu.


Abi?


Apa maksud nya Abi? pikir Kafkha


"Apa tadi? kamu panggil saya Abi?!" tanya Kafkha meyakinkan jika pendengaran nya tidak salah.


Medina mengangguk kecil, "kenapa? biar kita bisa lebih akrab lagi mas, selama ini kamu kan selalu tidak menganggap ku, aku istri bercadar tak dianggap itu kan!" tutur Medina menampakkan senyum di bibir nya itu


Kafkha tidak bisa menjawab di setiap ucapan Medina itu.

__ADS_1


"Ah, sudah selesai!" ujar Medina mencairkan suasana yang sempat hening tadi.


"Dina ke bawah dulu!" pamit Medina memasang cadar nya.


Ia pergi keluar untuk membantu bibik menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga Darmansyah ini.


Kafkha duduk di sofa itu pikirkan nya berputar-putar soal ucapan Medina tadi, istri bercadar tak dianggap, ia mengusap wajahnya itu.


"Kenapa aku jadi jatuh dalam pesona gadis bercadar itu?"


Selama ini Kafkha terlena akan kecantikan istri nya sendiri sampai-sampai ia terlupa dengan semuanya dan ia juga terhipnotis dengan semua ucapan Medina itu, memang tidak bisa di pungkiri bahwa Medina itu sangat cantik di matanya.


Semenjak kapan pula Kafkha menyukai gadis bercadar itu, Kafkha menggusar-gusar wajah nya itu.


Ingatan nya tentang Clara saja sudah terlupakan, Kafkha tidak pernah lagi menelepon Clara dan pikiran Kafkha hanya tertuju pada Medina.


Begitu besar pengaruh istri bercadar tak dianggap Kafkha itu, ia bisa mencuci pikiran Kafkha agar tidak lagi kepikiran dengan Clara, sungguh istri yang pandai.


...


Saat ini Darmansyah sedang memikirkan tentang Sanjaya yang semakin menjadi-jadi mengusik ketentraman keluarga nya itu.


Darmansyah sudah menyelidiki lebih lanjut tentang kematian Lisa istrinya Sanjaya itu, ia belum cukup bukti mengungkap kematian Lisa itu, anehnya kenapa Sanjaya menuduh Darmansyah yang membunuh istrinya itu.


Dulunya Sanjaya tidak pernah memiliki dendam terhadap Darmansyah, tapi semenjak kematian Lisa, Sanjaya memiliki dendam terhadap Darmansyah. Jika saja gelombang pembunuhan berantai itu bisa di tangkap mungkin Sanjaya akan tau siapa pembunuh sebenar istrinya.


Tapi kesalahpahaman itu terus saja berlanjut, Darmansyah sampai kewalahan menghadapi Sanjaya yang selalu mengecam ketentraman keluarga nya itu, contoh nya pada saat ini, ia mendekati Kafkha untuk menghancurkan Kafkha dan bukan itu saja ia akan menguras habis harta Kafkha.


"Ck! apa bocah upil itu masih memiliki hubungan dengan makhluk lintah itu?"


Darmansyah sudah tau rencana dari Sanjaya itu, hanya saja dia tidak mau memberi tahu siapapun itu, ini urusan Darmansyah dengan Sanjaya jadi ia tidak mau melibatkan siapapun dalam urusan mereka ini.


"Atau aku mulai berbicara baik-baik dengan Sanjaya, agar dia tidak mengecam kehidupan keluarga ku?


Kakek tua itu sedang berpikir keras untuk mencegah terjadinya peperangan antara Sanjaya dan Darmansyah.


...


Bersambung...

__ADS_1


Hayooo yoyoyo silahkan beri komentar kalian di cerita ini, no komentar pendek, author mau lihat komentar panjang dari kalian.


Like sama vote nya jangan lupa juga, jangan jadi pembaca gelap saja!!!


__ADS_2