
Hari-hari terus saja berjalan dengan cepat, sudah tiga bulan saja Medina menjalankan bahtera rumah tangga yang terasa hambar ini, terlebih lagi Kafkha yang tak pernah peduli dengan Medina.
Bahkan saat ini saja Kafkha membawa Clara di rumah mereka itu, Medina hanya diam dan bersikap sabar saja melihat kemesraan suaminya itu dengan wanita lain.
Sebenarnya hatinya itu sudah sangat sakit melihat kelakuan suaminya itu, tapi mau bagaimana lagi ia harus tetap sabar menanggapi nya, satu hal yang membuat Medina tetap bertahan yaitu tentang wasiat kakeknya itu, jika saja tidak ada wasiat itu mungkin Medina akan melepaskan Kafkha.
Medina menghela napas ia melewati suami dan kekasih suaminya itu, saat itulah Clara bergelayut manja di tangan Kafkha.
"Sayang, hari ini aku sangat senang sekali karena kamu mengajak aku ke rumah mu ini, ah aku bahagia sekali, ya walaupun ada istri tak di anggap kamu di sini, tidak apa lah bagiku yang terpenting kita bisa berduaan seperti ini!" ujar Clara tidak tahu malu sudah menggoda suami orang di hadapan istri sah.
"Iya sayang, aku juga bahagia hari ini karena kamu selalu ada buat aku!" tutur Kafkha mengusap rambut panjang Clara itu.
Medina tersenyum tipis di balik cadarnya itu ia mengusap dadanya agar hatinya itu tetap kuat.
"Astagfirullah alhazim... buat dosa kok bangga!" sindir Medina, namun mereka tidak menghiraukan sindiran Medina itu.
"Oh iya, istri tak dianggap tolong dong buatin calon madu mu ini minuman!" ujar Clara tidak tahu diri sama sekali.
"Maaf mbak, kalau mbak mau minum silahkan ambil sendiri!" ujar Medina
Clara mengadu kepada Kafkha, "sayang... dia tidak mau membuatkan ku minuman!" adu Clara kepada Kafkha.
Kafkha menatap tajam ke arah Medina, "berani kau tidak mau menuruti keinginan kekasih saya ini!" bentak Kafkha
"Maaf mas, aku tidak bisa menuruti keinginan kalian, aku bukan pembantu kalian!" ujar Medina lalu ia balik lagi ke kamarnya.
Niat hati ingin mengambil air minum tapi ia urungkan karena sakit hati dengan ucapan suaminya itu yang seenaknya menyuruh dia untuk melayani seorang selingkuhan suami sendiri.
Media mengusap sudut matanya yang berair, ternyata sesakit ini melihat suami sendiri bermesraan di depan mata sendiri, apa lagi suaminya itu mementingkan perasaan selingkuhan dari pada mementingkan perasaan seorang istri sah.
"Hiks... ternyata sangat sakit melihat suami bermesraan dengan wanita lain hiks... apa lagi ia tak pernah memikirkan perasaan istrinya sendiri!"
Kafkha tidak pernah memikirkan perasaan istrinya yang tersakiti oleh sikap jeleknya itu, bahkan ia berani membawa selingkuhan nya itu ke rumah nya, ia juga tidak segan-segan memperlihatkan kemesraan nya itu kepada istri sahnya itu, sudah berapa kali malaikat mencatat dosa mereka berdua itu, terlebih lagi istrinya itu terzolimi oleh sikapnya itu.
Saat ini mereka berdua sedang tertawa di ruang tamu itu sementara Medina lagi menangis di kamarnya, sangat sakit sekali mendengar tawa canda mereka itu.
"Hiks... ya Allah... hati Dina sangat sakit sekali melihat mereka berdua, hiks... berilah mereka hidayah ya Allah...!"
...
Malam harinya Clara baru saja di antar oleh Kafkha ke rumahnya, mereka berdua memang tidak memiliki hati dan perasaan sedikit pun, terlebih lagi Kafkha yang tidak punya hati itu, sampai selarut malam ini ia belum juga pulang, tadi ia hanya berpamitan ingin mengantar Clara pulang kini ia malah belum pulang, entah nyangkut dimana dia saat ini.
Medina berusaha menghubungi nomor Kafkha itu tapi tidak ia angkat sama sekali, jangan di tanya lagi dimana Medina mendapatkan nomor ponsel Kafkha, Medina sendiri yang meminta terlebih dahulu nomor ponsel suaminya itu.
"Mas... angkat dong jangan buat Dina khawatir!"
Seperti itulah seorang istri walaupun di sakiti berkali-kali ia akan tetap khawatir dengan suaminya yang entah kemana dia pergi.
"Ya Allah... lindungilah mas Kafkha!"
Mulut Medina yang tertutupi oleh cadar itu selalu komat kamit berdo'a meminta pertolongan kepada Allah SWT.
Tidak lama setelah itu, mobil Kafkha masuk ke pekarangan rumah mereka itu, barulah hati Medina terasa lega. Lalu Medina membuka cadarnya itu.
__ADS_1
"Syukur Alhamdulillah... mas Kafkha tidak kenapa-napa!"
Medina membukakan pintu itu untuk suaminya itu.
"Assalamualaikum mas!" ucap salam Medina terlebih dahulu karena selama ini Kafkha tak pernah segelintir pun mengucap salam saat masuk rumah.
Kafkha mendadak kaget dengan apa yang ia lihat itu, pasalnya Medina tidak menggunakan penutup wajah nya, ini kali keduanya Kafkha melihat wajah Medina tanpa cadar itu.
Setelah tiga bulan lamanya Medina tidak memperlihatkan wajah aslinya itu kepada Kafkha, ia jadi sedikit lupa dengan wajah itu, kini Medina mengulangi kembali ia tak menggunakan cadar nya.
"W--wa'alaikumussalam!" jawab salam Kafkha dengan gugup.
"Tumben dia mau membuka cadarnya lagi!" batin Kafkha
"Dari mana saja mas?" tanya Medina dengan suara lembut
Kafkha memperhatikan bibir merah ranum Medina yang bergerak-gerak saat bicara itu.
"Mas... kenapa diam?" tutur Medina melihat suaminya itu hanya diam
"Ck! decak Kafkha menggusar-gusar wajah nya.
"Mbak Clara tadi sudah kamu antar pulang?" tanya Medina
"Hmm!"
Kafkha semakin tidak tahan melihat bibir mungil Medina itu bergerak-gerak saat bicara. Sebelum terjadi apa-apa dengan Medina, Kafkha langsung menghindari Medina itu.
Kafkha berlari naik ke atas agar ia tak berdekatan dengan Medina.
"Mas Kafkha kenapa?" heran Medina
...
Karena masih belum puas dengan penampakan wajah cantik istrinya itu, Kafkha pergi ke kamar Medina ia ingin melihat sekali lagi wajah Medina itu, saat ia membuka kenop pintu tapi pintu itu terkunci.
"Ah... s*al kenapa dia mengunci pintunya!" desak Kafkha
Karena tidak mendapatkan apa yang ingin ia lihat ia balik lagi ke kamar nya, mungkin besok pagi ia akan melihat Medina lagi.
Pagi harinya Medina sudah memasak sarapan saja di dapur, Kafkha tidak mau menyewa jasa pembantu rumah tangga karena ia mau menyiksa Medina.
Saat memasak seperti ini Medina sengaja membuka penutup kain separuh wajahnya itu, akan repot nantinya jika cadarnya itu terkena noda.
Kafkha baru bangun ia mencium aroma masakan dari dapur, terlebih dahulu ia mandi setelah mandi ia pergi ke dapur.
Ia tersenyum senang karena Medina tidak menggunakan cadarnya, Kafkha bisa nampak dengan mata kepalanya itu dari samping.
"Bagus!" gumam Kafkha
Entah sejak kapan ia jadi lebih senang melihat wajah Medina tanpa cadar itu, mungkin dari tadi malam ia mulai kesemsem dengan wajah cantik istrinya itu.
Perlahan kaki Kafkha melangkah ke tempat Medina, ia berdiri di belakang Medina itu sambil memangku tangannya ke dada nya itu.
__ADS_1
"Hekhem, tolong buatkan saya teh!" tutur Kafkha
Bulu kuduk Medina langsung meremang saking kagetnya, terlebih lagi ia tidak mengunakan cadarnya.
"Sebentar!" ucap Medina
Kafkha berdecak karena Medina tidak mau menghadap ke arahnya, ia sangat ingin melihat wajah cantik itu apa lagi ada bibir mungil Medina yang bergerak-gerak saat berbicara.
"Cepetan, saya tidak suka perempuan lelet!" bentak Kafkha lalu ia duduk di meja makan itu. Ia sedikit kesal karena Medina tidak memperlihatkan wajah nya itu kepada Kafkha.
Medina membawakan teh hangat itu ke tempat Kafkha, ia juga telah memasang cadarnya Kembali.
"Ini mas, kalau sarapan nya sebentar lagi ya!" tutur Medina sambil tersenyum di balik cadarnya itu.
"Hmm!" jawab Kafkha
Medina kembali ke tempat semula tapi Kafkha mencegah nya terlebih dahulu.
"Tunggu!"
"Ya, ada apa mas?" tanya Medina kembali ke tempat Kafkha
"Buka cadar mu!" titah Kafkha langsung to the poin
"Hmm...!" Medina sedikit ragu membuka cadarnya walaupun Kafkha sudah pernah melihat wajah nya itu.
"Tunggu apa lagi, cepat buka!" desak Kafkha tak sabar ingin melihat wajah Medina
"Tapi mas!" ujar Medina keberatan
"Kamu mau durhaka sama suami kamu hah? tutur Kafkha tampak memaksa Medina untuk membuka cadarnya itu.
Medina menggeleng-nggelengkan kepalanya ia menarik ikatan cadarnya itu lalu cadar itu terlepas, Kafkha belum melihat nya karena ia sedang meminum teh nya itu.
"Mas!" suara Medina
"Astaga... ini benar-benar cantik, pagi hari sudah di suguhkan bibir mungil merah muda alami itu!" batin Kafkha
Kafkha menatap lekat pada bibir mungil merah muda alami Medina itu, sangat ingin ia menyicipi bibir Medina itu.
"Besok-besok jika kamu bersama saya jangan pernah memakai cadar kamu itu lagi!" tutur Kafkha lalu ia beranjak pergi dari meja makan itu.
Medina mengerutkan keningnya melihat Kafkha pergi itu, senyum manis tersungging di kedua sudut bibirnya itu.
"Apa dia sudah mulai menerima ku?"
...
Bersambung...
Hayooo yoyoyo silahkan beri komentar kalian di cerita ini, no komentar pendek, author mau lihat komentar panjang dari kalian.
Like sama vote nya jangan lupa juga, jangan jadi pembaca gelap saja!!!
__ADS_1