Istri Bercadar Tak Dianggap

Istri Bercadar Tak Dianggap
part 19. Semoga Cepat Insaf


__ADS_3

Pagi harinya, Kafkha terbangun tapi ia merasakan pusing mungkin ini efek dari minum-minum semalam, Kafkha menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang nya itu ia mengingat-ingat apa yang terjadi semalam.


Semalam ia pergi dengan teman-teman ke sebuah club malam di sana mereka menghabiskan waktu untuk bercerita, niat hati dia tak ingin minum tapi karena terlalu stres dengan keadaan nya jadinya Kafkha ikut minum dengan teman-teman nya itu.


Jika Darmansyah tau tentang kelakuan Kafkha tadi malam, mungkin Kafkha akan tinggal nama saja oleh Darmansyah, Darmansyah memang tidak akan memberi ampun kepada siapapun itu jika menyangkut tentang keluarga dan harga dirinya.


Darmansyah tetap membiarkan Kafkha hidup di dunia ini karena ia perlu memberikan pengajaran untuk cucunya ini agar mau berubah, Darmansyah akan memberikan kompensasi kepada cucunya itu, jika Kafkha tidak mau berubah maka Darmansyah akan bertindak sesuai aturan nya.


"Kenapa aku tidak mengingat semuanya?" tutur Kafkha masih memegangi kepalanya itu.


Medina memberanikan dirinya untuk masuk ke kamar Kafkha, Medina membawakan Kafkha air minum dan juga sarapan pagi.


"Assalamualaikum!" ucap salam Medina saat pintu kamar itu ia buka.


Kafkha melirik sekilas ke arah pintu itu, ia menghela napas kasar, "siapa yang menyuruh kamu untuk masuk ke kamar ini hah? sungut Kafkha


"Maaf, tapi Dina hanya mengantarkan ini saja!" kata Medina ingin meletakkan mapan itu di atas nakas tapi tangan Kafkha menyambar gelas berisi air itu dan menyiramkan nya ke wajah Medina.


Byuur


Median kaget dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu kepadanya nya, cadar yang Medina gunakan itu basah kuyup akibat siraman dari Kafkha tadi.


"SAYA TIDAK BUTUH ITU, PEREMPUAN MUNAFIK!" bentak Kafkha dengan suara tinggi, tidak bisa di pungkiri bagaimana rasa sakit hati Medina saat ini.


"Astagfirullah alhazim, astagfirullah alhazim, astagfirullah alhazim...!" ucap istighfar Medina berulang kali, Medina menghela napas, niat baiknya ternyata di balas dengan keburukan oleh suaminya itu.


"Kuatkan lah hati Dina ya Allah...!" batin Medina


Medina mengurung dirinya di kamar ia menangis sesenggukan di kamar nya itu, dia pikir Kafkha akan menerima dirinya setelah beberapa hari ini mendiamkan Kafkha tapi pikiran nya itu salah karena sikap dan sifat Kafkha tidak akan pernah berubah.


Sekuat apapun yang Medina lakukan tetap hati dan pikiran nya itu berjalan sesuai dengan kodratnya, apa lagi hati wanita itu itu sangat mudah rapuh jika di bentak sedikit akan menangis, kodrat nya seorang wanita itu terletak pada hatinya yang sangat lembut dan memiliki perasaan.


"Hiks... ya Allah... kuatkan hati Dina untuk melanjutkan rumah tangga ini, hiks...!"

__ADS_1


Lima belas menit ia menangis kini Medina membuka cadarnya itu, ia mengganti cadarnya itu dengan cadar yang lain, matanya sembab akibat menangis.


Kafkha sudah selesai mandi, perutnya merasa lapar karena dari semalam tidak ia isi, ia memesan makanan lewat dalivary saja, Kafkha keluar dari kamarnya itu ia melihat kamar Medina yang tertutup rapat.


Mana ada Kafkha mempedulikan wanita itu, ia hanya bersikap cuek dan dingin saja dengan Medina, hatinya juga sakit saat Darmansyah memaksa dirinya untuk menikah.


Makanan yang ia pesan sudah sampai kini ia sedang menyantap makanan nya itu, padahal di meja makan itu sudah banyak tersedia makanan tapi Kafkha tidak mau menyentuh makanan buatan Medina itu, ia merasa jijik dengan apa yang Medina buat.


"Wanita tempelan!" umpat Kafkha


Kebetulan juga Medina ke dapur dan ia mendengar umpatan dari suaminya itu, Medina menghela napas.


"Kenapa tidak memakan makanan yang aku buat?" tanya Medina


Anggap saja Medina sudah melupakan sakit hatinya terhadap suaminya ini, ia juga tak ingin berlarut-larut menahan sakit hati ini, dan anggap saja Medina sudah memaafkan kesalahan Kafkha tadi pagi.


"Makanan bercampur tangan munafik seperti kamu itu akan saya makan hah?, yang ada saya bisa sakit perut!" dalih Kafkha lalu ia meninggalkan Medina di meja makan itu.


Hari ini Medina tidak ada kelas jadinya ia hari ini juga tak ke mana-mana, hari ini ia berencana untuk ngobrol dengan Kafkha secara lebih dekat lagi, agar komunikasi mereka semakin baik.


Kafkha hari ini juga tidak bekerja karena ia libur, siang harinya ia akan berencana pergi jalan dengan Clara.


Medina melihat Kafkha yang lagi duduk di sofa sambil memangku laptop, Medina duduk di samping Kafkha itu.


"Menjauh lah!" usul Kafkha dengan nada sedang.


Medina tidak mau menghiraukan ucapan suaminya itu, "kenapa sih mas, kamu membenci ku?" tanya Medina, ia mau tau kenapa Kafkha membenci dirinya dan tidak menganggap dirinya.


Kafkha berhenti mengetik, "karena kau telah merusak hubungan saya dengan Clara, seandainya kau tidak hadir dalam kehidupan saya, mungkin sekarang saya sudah bahagia dengan Clara!" tutur Kafkha


"Kapan aku merusak hubungan kamu dengan mbak Clara, mas?" tanya Medina


"Sudahlah, saya tidak ingin berdebat dengan wanita hati busuk seperti kamu ini, yang ada saya bisa stres!" ucap Kafkha

__ADS_1


Medina beranjak dari sana ia masuk ke kamarnya, sementara itu Kafkha hanya diam saja tidak ada rasa kasihan sedikit pun yang ada untuk Medina.


"Dari awal seharusnya aku tidak mau menuruti keinginan kakek, sekarang aku jadi tersiksa dengan pernikahan ini, terlebih lagi wanita ninja itu yang selalu membuat aku terhalang untuk melakukan apapun itu!"


Kafkha bersiap-siap untuk keluar dengan Clara, ia memakai pakaian santai karena ia akan menemani Clara ke mall.


"Mau kemana mas?" tanya Medina saat Medina melihat Kafkha yang akan pergi.


"Bukan urusan mu!" ketus Kafkha


"Kamu mau pergi sama mbak Clara? tanya Medina walaupun hatinya sakit menerima kenyataan jika suaminya lebih senang dengan wanita lain ketimbang dirinya.


"Pintar, saya akan jalan dengan kekasih saya, jadi kamu tidak usah iri dengan kedekatan saya dengan kekasih saya itu, kamu hanya istri di atas kertas yang tidak ada gunanya!" sindir Kafkha seraya tersenyum sinis


Medina menghela napas seraya tersenyum di balik cadarnya itu, "aku tidak iri, untuk apa iri melihat kedekatan kalian, hanya saja aku merasa kasihan dengan kamu mas, selangkah saja kamu berjalan meninggalkan rumah ini maka malaikat akan mencatat dosa-dosa kamu, karena apa? karena kamu jalan dengan wanita yang bukan mahram kamu, apa lagi kalian berpegangan tangan, maka dosa-dosa kamu akan di catat oleh malaikat!" tutur Medina dengan tersenyum kecil di balik cadarnya itu.


"Kau jangan menceramahi saya wanita munafik, urus saja dosa kau itu jangan urus dosa saya, PAHAM!" bentak Mahesa.


"Ya, aku akan urus dosa-dosa ku!" jawab Medina


"Terserah kau!" hardik Kafkha lalu ia pergi begitu saja.


"Hati-hati!" ujar Medina mengingatkan suaminya itu, Kafkha tidak mempedulikan ucapan Medina itu.


"Semoga kamu cepat berubah dan insaf, mas!"


...


Bersambung...


Hayooo yoyoyo silahkan beri komentar kalian di cerita ini, no komentar pendek, author mau lihat komentar panjang dari kalian.


Like sama vote nya jangan lupa juga, jangan jadi pembaca gelap saja!!!

__ADS_1


__ADS_2