Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - Sepertinya Aku Akan Tidur Nyenyak


__ADS_3

Andreea mendadak cegukan. Ditatap sedekat itu membuat dia membeku tidak bisa bicara apapun.


Cemburu? Benarkah? Yang benar saja.


“Katakan. Apa kau cemburu?” Anggara mengulangi tanpa mengalihkan tatapannya sedetikpun.


“Kak Gara tolong jangan terlalu dekat.” Bukannya menjawab, Andreea malah mendorong pelan dada Anggara.


Anggara mengernyit. “Kenapa?” Dia kembali menarik pinggang Andreea, semakin mengikis jarak di antara mereka. Dada Andreea hampir menempel pada wajah Anggara yang sedikit mendongak untuk menatapnya.


“Ja.. jantungku rasanya ingin meledak.” Andreea menjawab jujur. Memang itu yang ia rasakan.


Anggara tersenyum lebar sekali.


Astaga gadis ini.


 “Benarkah? Kalau begitu aku akan memelukmu sepanjang hari.”


“Tidak. Jangan. Aku tidak mau.” Andreea meronta ingin melepaskan diri.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh berdekatan dengan istriku?" Tangan kanan Anggara tidak bisa diam , terus saja membelai pipi Andreea, sedang tangan kirinya menekan pinggang belakang istrinya itu agar tidak bisa melarikan diri.


"Bu.. bukan begitu. Hanya saja , jangan memelukku." jawabnya lirih.


Andreea salah tingkah. Normalnya , saat sedang gugup ia akan menunduk , menatap lurus kebawah untuk menghindari tatapan lawan bicaranya.

__ADS_1


Tapi kini karena ia duduk diatas pangkuan Anggara, jika ia menunduk maka akan langsung bertemu dengan kedua mata suaminya itu.


Akhirnya Andreea hanya membuang pandangan ke sembarang arah. Pokoknya asal tidak menatap Anggara.


“Bagaimana dengan ini?” Secepat kilat Anggara mencium bibir Andreea. Hanya kecupan singkat.


Andreea mendelik. “Kak Gara tidak boleh mencium orang sembarangan!” pekik Andreea sambil terus meronta berharap Anggara melepaskannya.


Anggara memejamkan mata seperti sedang menahan sesuatu. “Diamlah, ku bilang jangan bergerak. Atau aku akan memakanmu sekarang.” Bagaimanapun dia pria dewasa yang normal, dan wanita yang ada di atas pangkuannya ini adalah istrinya sendiri.


“Kak Gara , lepaskan aku.”


“Baiklah, setelah kau menjawab pertanyaanku tadi. Apa kau cemburu?” Anggara semakin lekat menatap istrinya.


“Ti.. tidak. Bukan begitu.”


“Tidak tahu. Aku hanya merasa sedih. Aku pikir wanita itu kekasihmu. Dan kau akan mecerai—“


Anggara kembali mencium bibir Andreea. Kali ini bukan lagi kecuppan, ia melumaat pelan membuat Andreea mendelik dan berdegup kencang.


Ciuman pertamanya.


Andreea meremat kuat kaos Anggara di bagian dada , sedang Anggara menekan lembut tengkuk Andreea dengan tangan kanan yang tadi ia gunakan untuk membelai pipi istrinya itu.


“Jangan asal bicara! Tidak ada perpisahan, tidak ada perceraian. Tidak ada juga wanita lain atau pria lain. Mengerti?” ucapnya setelah melepaskan ciumannya.

__ADS_1


Andreea mengangguk meski otaknya belum sepenuhnya bekerja. Hatinya masih sibuk mencerna apa yang baru saja terjadi.


Jari tangan Anggara mengusap pelan bibir basah Andreea.


"Damn! She's mine. Boleh kan , jika ingin lebih?" Anggara lekas menggeleng. Susah payah akal sehatnya mengingatkan bahwa wanita ini meskipun adalah istrinya , tapi ia bahkan belum genap sembilan belas tahun. Bisa-bisa Andreea ketakutan jika Anggara terlalu terburu-buru.


“Kak Gara, bolehkah aku tidur? Jantungku rasanya tidak nyaman.”


Anggara kembali tertawa lebar. “Baiklah, ayo kita tidur.” Ia mengangkat istrinya membuat gadis itu terkejut dan semakin mengeratkan pelukannya. Tidak lupa kedua kaki yang melingkar kencang di pinggang Anggara membuat Anggara lagi-lagi menelan ludah.


Astaga.. aku benar-benar pria dewasa.


Anggara mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur setelah menurunkan Andreea di atas ranjang.


“Kemarilah.” Anggara menepuk pelan lengannya setelah dilihat Andreea akan memasang guling diantara mereka.


Dengan canggung gadis itu menurut, menyingkirkan guling dan mendekat, lalu merebahkan kepalanya di lengan Anggara.


Hah. Ada apa dengan jantungku.


“Kau merindukanku tidak?” Anggara semakin mengeratkan pelukannya.


“Hanya.. kadang-kadang.” Jawab Andreea pelan semakin membenamkan wajahnya di dada Anggara.


Anggara tersenyum lebar sekali. “Sepertinya aku akan tidur nyenyak malam ini.” Gumamnya membelai dan mengecup singkat kepala Andreea.

__ADS_1


**


__ADS_2