
Andreea duduk diam bersandar di kepala ranjang dengan kedua tangan yang memeluk lututnya. Ia memandangi kuku jemari kaki yang tampak memutih, lalu menggesekkan jempol nya satu sama lain.
Dadanya sakit sekali, rasanya semakin sesak karena sekuat tenaga ia menahan tangisnya. Ia tidak ingin menangis , tidak boleh. Ah , hatinya bahkan masih mencerna apa yang baru saja ia dengar dari mertuanya.
Suara pintu kamar yang dibuka lalu ditutup kembali, diikuti derap langkah yang mendekat , tidak cukup mampu membuat Andreea mengangkat pandangannya. Ia terus menunduk, menatapi jari-jari kakinya yang sudah mati rasa karena menegang cukup lama.
Anggara ikut duduk diatas ranjang, lalu menarik istrinya ke dalam pelukan. Ia hanya diam , mengusap-usap punggung Andreea, memberi waktu gadis itu untuk kembali menguasai diri.
Andreea mulai terisak. Tangis yang sejak tadi ia tahan , luruh juga. Ia meremas kuat kemeja Anggara di bagian dada, sembari menumpahkan seluruh air matanya.
"Besok , kita berkunjung ke makam Ayah dan Ibu , mau?" Anggara menangkup kedua pipi Andreea.
Mengetahui fakta bahwa ada yang sengaja melenyapkan kedua orang tuanya , pasti sangat berat untuk Andreea, seolah tidak cukup luka kehilangan orang tuanya. Anggara sadar betul itu , jadi kalimat menghibur seperti 'semua akan baik-baik saja , tidak apa-apa, bersabarlah' hanya akan membuat lukanya semakin menganga.
Andreea menggeleng. "Ayah dan Ibu pasti kecewa padaku."
"Kenapa? Kau putri kesayangan mereka."
Andreea menangis lagi. "Aku selalu mengatakan kenapa mereka tega meninggalkanku, kenapa mereka jahat sekali pergi tanpa membawaku." Ia menangkup wajahnya dengan telapak tangan, menangis dengan cukup kencang. Rasanya sakit sekali. Sungguh.
__ADS_1
"Nyatanya mereka dipaksa pergi, Kak." Andreea terus terisak di sela-sela kalimatnya.
Anggara mengeraskan rahangnya , sekuat tenaga mengendalikan emosi yang siap meledak kapan saja. Melihat Andreea menangis seperti ini, ia tidak yakin bisa menahan diri lebih lama lagi untuk menghancurkan orang-orang yang terlibat atas kematian Ayah dan Ibu mertuanya.
Anggara mengusap lembut kepala Andreea. "Kau benar. Jadi jangan lagi berpikir Ayah dan Ibu meninggalkanmu, hm? Jika bisa, mereka pasti juga ingin menemanimu lebih lama lagi."
Anggara beralih ke sisi kanan Andreea , bersandar di kepala ranjang. Ia mengangkat tubuh istrinya dan dengan sekali gerakan memposisikan Andreea di pangkuannya.
Andreea terus terisak. Seolah posisinya sekarang tidak mengganggu.
"Tidak apa-apa menangis. Menangis saja sebanyak yang kau mau , agar dadamu tidak sesak. Tapi ingat , tidak boleh menyakiti diri sendiri. Ada aku, Ayah , Ibu , dan Shara. Kau tidak sendirian, hm?"
"Aku dan Ayah sedang berusaha membuat orang-orang itu membayar perbuatannya. Ini tidak mudah , kau tahu polisi sudah memutuskan itu sebagai kecelakaan tunggal akibat roda depan meletus. Tapi aku tidak akan menyerah , hanya sebentar lagi aku akan pastikan mereka sangat menderita hingga berpikir mati lebih baik. Aku janji." Anggara bicara panjang lebar dengan tangan kananya menghapus air mata Andreea.
Andreea mengangguk. "Tolong Ayah dan Ibuku Kak. Ayah dan Ibu pasti ingin orang-orang itu di hukum."
"Mereka Ayah dan Ibuku juga." Anggara menarik Andreea yang belum berhenti menangis kedalam pelukannya. Menenggelamkan wajah gadis itu di dadanya.
**
__ADS_1
"Bagaimana Andreea?" Anita reflek bangkit dari sofa yang didudukinya saat melihat Anggara menuruni tangga.
Di sofa yang sama , ada Anshara yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan Andreea. Menangis tersedu-sedu di pelukan Thomas.
"Sudah lebih baik. Ia tertidur setelah banyak menangis." jawab Anggara sembari duduk di sofa single yang ada disana.
"Kak, kenapa manusia bisa jahat sekali? Andreea tidak memiliki siapapun lagi, ia hanya punya Ayah dan Ibunya. Kenapa ada yang tega mencelakai mereka?" Anshara terus terisak dan Thomas semakin mengeratkan pelukannya.
"Maka dari itu dengarkan Ayah dan Kak Gara. Berhati-hatilah. Jangan coba pergi kemanapun dengan diam-diam, Kak Gara menempatkan beberapa orang untuk menjaga kalian dari dekat." Anita mengusapi punggung putrinya yang terlihat naik turun karena menangis.
Anshara mengangguk. "Aku akan menjaga Reea dengan baik." Ah , ternyata memang lebih baik jika mereka tidak mengendarai mobil sendiri.
"Jaga dirimu juga. Hanya berhati-hatilah. Tapi tidak perlu banyak berpikir , masalah ini biar aku dan Ayah yang menyelesaikan."
Anggara mengulurkan selembar tisu agar adiknya bisa mengeringkan air mata, lalu tatapannya beralih pada Thomas.
"Ayah , bisakah kita bergerak sekarang? Damar sudah mendapatkan apa yang kita mau."
**
__ADS_1