Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - Bertemu Cleopatra


__ADS_3

Anggara bertahan selama lebih dari satu jam untuk berbicara dengan Mark. Mereka membahas banyak hal tentang apa saja yang selama ini terjadi di sekitar Ardhani Dee. Satu kesimpulan yang bisa di tarik Anggara adalah , Ayah mertuanya itu terlalu baik. Khas pria Asia yang masih menjunjung tinggi hati nurani dan percaya semua orang memiliki kesempatan untuk berubah memperbaiki diri.


Ditengah-tengah diskusi mereka , Damar memasuki ruangan lalu mendekat pada Anggara dan berbisik.


"Zack menemukannya, Tuan. Benar , dia adalah seseorang yang Anda kenal." Bisiknya pelan.


Anggara mengangguk. Tatapannya beralih pada Mark yang duduk berhadapan dengannya. "Tentang pengirim surat itu, apa yang kau lakukan?"


"Tidak ada. Tuan Dee meminta saya untuk tidak mengusiknya. Dia sudah cukup baik, jadi Tuan Dee tidak ingin membahayakannya."


Benar. Cleopatra bahkan mengambil resiko besar untuk memberi informasi pada Ardhani. Ayah dan Ibu mertuanya tidak selamat, itu bukanlah kesalahan Cleo.


"Hubungi Cleopatra. Katakan aku ingin bertemu." ucapnya pada Damar yang masih berdiri di sisinya.


Pria itu mengangguk, lalu keluar.


"Dia asisten pribadiku. Salah satu orang kepercayaanku. Apa kau keberatan jika mulai sekarang beralih bekerja di bawahku?" Anggara kembali bicara pada Mark.


"Keberatan? Tentu saja tidak. Tapi bukankah Tuan memiliki sendiri orang-orang sepertiku?" Mark tahu, di belakang Stockholm pasti ada juga seseorang yang seperti dirinya.


"Kalau begitu , hubungi Damar jika ada sesuatu yang mendesak."


Ck. Mark berdecak. Pria ini bahkan lebih muda daripada dirinya. Tapi kenapa tidak pernah menjawab pertanyaannya dengan benar.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi."


**


Damar mengetuk panjang pintu sebuah rumah di hadapannya. Tidak mewah , meski tidak bisa juga dibilang sederhana. Rumah cluster dua lantai tanpa pagar , dengan cat tembok kekuningan. Ada sebuah garasi yang hanya muat untuk satu mobil dan dua sepeda motor mungkin. Sebuah mobil sedan berwarna merah terparkir disana , pertanda penghuni rumah tidak kemana-mana.


Anggara yang tidak sabar , maju selangkah membuat Damar sedikit menyingkir. Ia menggedor kencang pintu itu berharap pemilik rumah membuka pintu.


Damar menghela napas , ia sudah tidak terkejut lagi dengan kelakuan Tuannya.


Beberapa detik menunggu, pintu belum juga di buka.

__ADS_1


"Cleopatra! Keluar! Aku tahu kau di dalam!" Damar berteriak , memastikan suaranya terdengar hingga ke dalam rumah.


Damar mulai mengawasi situasi , jangan sampai tiba-tiba mereka di datangi warga karena membuat keributan sepagi ini.


"Keluar! Jangan memaksaku untuk melakukan kekerasan!" Anggara berteriak lagi.


Sesuai tebakan Damar , beberapa orang tetangga mulai melongokkan kepalanya sekedar ingin tahu apa yang terjadi. Beruntung, Cleopatra lekas membuka pintu. Jika tidak , Damar akan kerepotan mengatasi warga yang penasaran.


"Apa telingamu bermasalah? Sudah lebih dari lima belas menit aku disini!" Anggara bersungut lalu menjatuhkan bokongnya di sebuah kursi yang ada di teras rumah.


Seandainya telingaku benar-benar bermasalah.


Cleopatra membatin.


Saat ini , bertemu Anggara bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Beberapa bulan lalu, saat ia mendengar Anggara menjabat wakil presiden direktur di perusahaan Ayahnya, memang terbersit keinginan Cleo untuk mendekati lagi mantan kekasihnya itu.


Tapi beberapa hari lalu, semuanya berubah.


Saat ia tahu Anggara sudah menikah.


Cleo tidak ingin berharap lagi. Jika bisa , ia lebih memilih menjauh dan tidak bertemu lagi dengan Anggara. Karena itulah kemarin ia menolak saat Damar menghubunginya perihal Anggara yang ingin bertemu. Tapi pria ini malah datang sendiri.


"Kau mengirimkan surat pada Ayah mertuaku."


Cleo sontak mendelik. Itu sudah berbulan-bulan lalu, bagaimana Anggara bisa tahu.


"Terima kasih." Anggara bergumam.


Cleo terisak. Dadanya lagi-lagi terasa sesak. Darmawan dan dua anaknya adalah satu-satunya keluarganya yang tersisa. Kejadian ini, bagi Cleo juga sangat menyakitkan.


"Maafkan aku. Seandainya aku bisa mencegah Paman Dar dan Rachel." Kedua tangannya saling meremat. "Aku menunggu sampai beberapa waktu , tapi Tuan Ardhan tidak melakukan apapun. Aku pikir, surat itu tidak sampai pada Tuan Ardhani karena tidak ada identitas pengirimnya."


"Ayah Ardhan sudah membacanya. Dan berkat itu, beliau menyelidikinya diam-diam. Hanya saja , orang-orangnya sedikit lengah. Terima kasih." Anggara berdiri. "Aku hanya ingin menyampaikan itu."


Anggara beranjak tanpa menoleh lagi. Pergi dari sana diikuti oleh Damar. Meninggalkan Cleo yang masih terisak di teras rumahnya.

__ADS_1


"Jam berapa pertemuanku dengan Sony Setiawan?" Anggara menyandarkan kepalanya setelah menutup kencang pintu mobil. Sony Setiawan, adalah pemilik tanah di Bogor yang akan di beli untuk pembangunan Stockholm Hotel berikutnya.


"Pukul sepuluh Tuan. Saya sudah alihkan pertemuan di kantor SG. Jadi Tuan tidak perlu ke Bogor."


Anggara mengangguk meski Damar di depan sana tidak bisa melihatnya.


"Kita ke DC lebih dulu. Sudah kau siapkan semuanya?"


"Sudah, Tuan. Elisa juga sudah mengatur rapat pagi ini."


"Minta Raisa menyampaikan penawaran awal saat Sony sampai nanti. Agar aku tidak perlu berlama-lama."


"Baik, Tuan."


Sekitar tiga puluh menit perjalanan , Anggara sampai di kantor DC. Suasana kantor sedang tidak nyaman. Semua orang bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Anggara mengumpulkan semua pemegang jabatan penting di perusahaan ini. Mulai dari Ketua tim , Manager , hingga jajaran komisaris.


"Apa masih ada yang harus kau siapkan?" Anggara terus berjalan menuju lift.


"Tidak, Tuan. Semua sudah siap." Damar terus mengekori Anggara. Menjawab semua pertanyaan Anggara sembari tangannya mengirim pesan kepada Raisa tentang perintah Anggara tadi.


Suasana tegang di ruang rapat sudah mulai terasa saat Anggara memasuki ruangan. Berbeda dengan rapat-rapat sebelumnya, kali ini yang hadir sedikit lebih banyak karena ada Ketua Tim dari masing-masing divisi yang jumlahnya hampir empat puluh orang itu. Mereka hampir tidak pernah menghadiri rapat dengan Presiden Direktur. Hasil rapat apapun , akan disampaikan oleh manager masing-masing.


Anggara tidak mengatakan apapun. Ia hanya mengedikkan dagu pada Damar , isyarat agar Damar memulai semuanya.


Layar besar di depan sana memperlihatkan banyak hal hasil penyelidikan Mark, saat Damar mengutak-atik tabletnya. Hampir semuanya tentang penggelapan dana yang dilakukan beberapa orang di dalam DC. Mulai dari mark up harga, mark up biaya operasional, hingga downgrade kualitas produk untuk mendapat harga yang lebih murah. Semua terpampang di depan sana.


Anggara memperhatikan satu persatu raut terkejut di ruangan ini. Telinganya mulai mendengar gumaman-gumaman gelisah dari beberapa orang yang bersalah.


"Aku belum berhenti mencari. Jika ada yang merasa melakukan kecurangan tapi namanya tidak ada di daftar itu , segera akui sendiri dan serahkan surat pengunduran diri maka akan aku ampuni." Anggara menunjuk layar besar di belakangnya.


Anggara akan mengampuni? Damar berdecak di dalam hati. Tuannya ini sangat licik , padahal ia tahu benar daftar ini sudah semua. Tidak ada lagi yang tertinggal.


"Semua nama di daftar itu, bersiaplah. Kalian akan menyesalinya seumur hidup , karena mengkhianati Ayah mertuaku."


**

__ADS_1


__ADS_2