Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - Mau Membukanya Bersamaku?


__ADS_3

Andreea memindai seluruh bagian ruangan Anggara --yang sebelumnya adalah ruangan Ardhani--. Ia menghela napasnya , lalu melangkah menghampiri Anggara yang sudah duduk di kursi kerjanya, sedangkan Anshara menjatuhkan bokongnya di sofa yang ada disana.


"Kak , apa kau sibuk? Apa kami mengganggu?"


Anggara menggeleng. Ia menarik tangan Andreea agar lebih mendekat lagi. "Kenapa tiba-tiba kemari? Aku pikir kau dan Shara akan ke mall saja." Ia masih mengingat dengan jelas , semalam Andreea menolak saat ia memintanya datang ke kantor DC hari ini.


"Suasana hati Shara tidak baik. Dia terus saja bertengkar dengan orang lain hari ini. Jika berbelanja , pasti akan sangat impulsif. Dia akan membeli semua yang dia lihat." Andreea mengedikkan dagu ke arah Anshara , tapi gadis itu tidak bereaksi, ia malah merebahkan kepalanya di sofa dan memainkan ponselnya.


Anggara sudah dengar , orang-orang yang ia minta menjaga Andreea dan Anshara banyak melaporkan keributan yang dibuat adiknya itu seharian ini. Semuanya karena video rekaman di kantor polisi kemarin yang sudah tersebar. Banyak orang membicarakannya, terutama di kampus mereka. Dan setelah Andreea mengamuk pada Siska pagi tadi, Anshara turun tangan untuk pertanyaan-pertanyaan yang datang selanjutnya. Beberapa dari mereka mengerti jika itu adalah privasi yang akan membuat Andreea tidak nyaman jika terus di bicarakan , tapi beberapa lagi mencibir membuat Anshara mengeluarkan tanduknya.


Melihat adiknya yang tidak bereaksi , Anggara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa untuk hari ini, semoga besok semua orang sudah mengerti dan tidak lagi membicarakan tentang keluarga kita." Anggara mengusap pelan punggung tangan Andreea lalu beralih menatap adiknya. "Kendalikan emosimu! Kau sangat mudah marah."


Anshara hanya memutar bola matanya malas. "Aku lapar sekali, boleh makan disini tidak?"


"Pesan apapun yang kalian mau!" Anggara beralih menatap Andreea lagi. "Aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan , setelah kalian makan , ada hal yang ingin aku bicarakan, hum?"


Andreea mengangguk lalu ingin berbalik mendekati Anshara , tapi Anggara tidak melepaskan tangannya membuat Andreea mengernyit bingung.


Andreea mendadak gugup saat Anggara menyodorkan sebelah pipinya. Bayangan apa yang terjadi semalam , mendadak terputar otomatis di kepalanya. Gila , semalam adalah hal paling panas yang pernah mereka lakukan semenjak resmi menikah. Tidak berlebihan , sebenarnya itu hanya sebuah ciumann panas seperti biasanya. Hanya saja , tangan Anggara sudah berani melewati batas , menyentuh bagian-bagian tubuh sensitif Andreea.


Andreea menelan ludahnya sendiri saat mengingat bagaimana ia mendesahh semalam. Jika bukan karena dering ponsel Anggara , entah apa yang akan terjadi.


Anggara menarik sedikit lagi tangan Andreea saat gadis itu hanya menatapnya tanpa bicara atau melakukan apapun. "Satu ciuman saja , agar aku lebih bersemangat." Lagi-lagi ia menyodorkan pipinya.


"Kau ini mesum sekali! Ingat ada anak dibawah umur disini!" Anshara berdecak kesal melihat kelakuan kakaknya.


Andreea sudah merona. Entah apa yang membuatnya malu , permintaan Anggara atau perkataan Anshara.


Andreea mendekat lalu mengecup singkat pipi Anggara. Dengan cepat ia berbalik menjauh dari Anggara yang tersenyum sangat lebar.


"Kau senang? Dia sudah seperti om-om mesum!" Anshara mencibir setelah dilihat Andreea mendekat padanya dengan senyum malu-malu.

__ADS_1


Andreea terkikik geli, lalu melirik Anggara yang masih terus tersenyum menatapnya.


"Cepat pesan sesuatu! Aku lapar." Andreea mengingatkan kembali Anshara untuk memilih menu makan siang mereka.


**


Andreea masih belum menyelesaikan makannya saat Elisa memasuki ruangan setelah mengetuk pintu. Wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu mengangguk pelan pada Andreea untuk menyapa lalu mendekat pada Anggara.


"Tuan , dua suplier daging import kita memutus kerjasama sepihak siang ini." Elisa meletakkan sebuah map di atas meja kerja Anggara. "Mereka bahkan bersedia membayar pinalti."


Anggara memijit pelipisnya pelan. Berbeda dengan Stockholm Group yang membangun bisnisnya di bidang property, Dee Corp bergerak di bidang food and beverage. Banyak sekali hal baru yang ditangani Anggara disini. Kerjasama dengan suplier atau importir salah satunya.


Tidak lagi memiliki visi dan misi yang sejalan. Alasan yang di tuangkan dalam pemutusan kerjasama itu membuat dahi Anggara mengernyit.


Tiba-tiba saja? Artinya ini tentang kepemimpinannya di DC. Ia bahkan tidak mengubah poin apapun dalam semua kerjasama yang sudah berjalan. Satu-satunya yang sudah dia ubah sejak menjabat adalah tentang mengambil alih lagi semua produk usaha yang dijalankan partner eksternal.


"Ada berapa importir daging yang tersisa?"


Anggara menganggukkan kepalanya. "Tidak masalah, dua orang yang keluar tidak akan mengacaukan bisnis kita." Ia menutup kembali berkas di tangannya. "Enam suplier yang tersisa cukup membuat semua restoran stabil selagi kita mencari importir tambahan."


Elisa mengangguk mengerti dan berbalik undur diri. Namun sebelum ia keluar dari pintu, suara Andreea menghentikannya.


"Kakak , apa kau sudah lama bekerja disini?"


Elisa tersenyum canggung. "Ya , aku sekertaris Tuan Ardhan sebelumnya."


Andreea hanya menganggukkan kepalanya. "Terima kasih , membantu Ayahku selama ini."


Ah manis sekali gadis ini.


"Sudah tugasku , Nona." jawabnya sebelum benar-benar keluar dari ruangan.


Andreea membereskan meja setelah menyelesaikan makannya. Ia melirik sedikit Anggara yang kembali sibuk dengan pekerjaannya. Apa kedatangannya mengganggu? Pria itu terlihat sangat sibuk.

__ADS_1


"Apa kita pulang saja?" Andreea berbisik pada Anshara.


"Aku terlalu lelah untuk berjalan turun. Istirahat sebentar saja disini." Gadis itu malah merebahkan tubuhnya di atas sofa lalu kembali memainkan ponselnya.


"Kau ini! Jangan tidur disini, bagaimana jika ada yang masuk?" Andreea menggerutu.


"Biarkan saja dia! Sayang, kemari." Anggara menginterupsi.


Anshara melirik kakaknya dengan terheran-heran. Kakak laki-laki nya itu kenapa berubah menjadi sangat manis jika di depan Andreea.


"Sayang dia bilang." Anshara menggerutu pelan.


Andreea mendekat pada Anggara dan melotot tajam saat suaminya itu menepuk pelan pahanya. Tidak mungkin kan dia duduk disana saat ada Anshara di ruangan ini?


Anggara terkekeh lalu menarik tangan Andreea agar semakin mendekat dan duduk di pangkuannya. Ia memeluk Andreea dari belakang membuat gadis itu gagal meloloskan diri.


"Kak , ada Shara disini." Andreea berbisik , berharap Anshara tidak mendongakkan pandangannya.


"Sayang, ada yang ingin aku katakan." Pria itu tidak menanggapi protes Andreea.


Andreea diam , menunggu suaminya mengatakan apa yang ingin di bicarakan. Karena sepertinya , ini hal yang serius.


"Aku akan membuka brankas Ayah Ardhan." Anggara menjeda sejenak kalimatnya. "Sebenarnya aku ingin membukanya sejak lama , untuk mencari mungkin saja ada bukti kejahatan seseorang dalam meninggalnya Ayah dan Ibu. Tapi Ayah Thomas bilang , aku hanya bisa membukanya jika sudah menikah denganmu."


Andreea terkesiap. Ia baru tahu , ternyata Anggara sudah mencurigai kematian Ayah dan Ibunya sejak lama. Mungkin sejak awal kematian mereka.


"Jadi kau menikahiku karena ingin membuka brankas itu?" Ia sedikit memiringkan tubuhnya dan mengusap lembut rahang Anggara. Tentu saja ia hanya bercanda , Andreea tahu bukan itu poin yang ingin disampaikan Anggara.


Anggara menegang. Istrinya ini entah sejak kapan semakin berani. Andreea hanya mengusap pelan rahangnya, tapi Anggara sudah berdebar-debar. Dasar jantung murahan.


Anggara terkekeh , menangkup tangan istrinya agar Andreea berhenti bermain-main di wajahnya. "Aku belum sempat membukanya , karena Zack lebih dulu menyelesaikan tugasnya." Ia terdiam sejenak , menelisik raut wajah Andreea yang terlihat tenang. "Mau membukanya bersamaku?"


**

__ADS_1


__ADS_2