Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - Jadwal Anggara


__ADS_3

Anggara mengernyitkan keningnya. “Siapa?” tanyanya menatap Raisa yang berdiri di depannya.


“Nona Rachel datang Tuan. Apa Tuan ingin menemuinya?” Raisa mengulangi pertanyaannya, karena Anggara memang tidak memiliki janji dengan perwakilan dari Shadiqa Furniture.


Ah ternyata Anggara tidak salah dengar, memang Rachel yang datang. Ia berpikir sejenak , haruskah menemui Rachel atau tidak setelah tadi pagi mendengar beberapa laporan dari orang yang ia tugaskan untung menguntit semua kegiatan Rachel dan Darmawan.


“Suruh dia masuk, dan biarkan pintunya tetap terbuka.”


Raisa mengangguk tanpa banyak bertanya lagi segera keluar untuk selanjutnya mempersilahkan Rachel masuk.


“Silahkan Nona, Tuan ada di dalam.” Raisa membuka pintu lebar-lebar.


Rachel mencebik. Menatap Raisa sinis sebelum benar-benar masuk ke dalam.


Sedang Raisa mendengus. Menatap heran pada punggung wanita itu.


“Ada apa dengannya?” gumam Raisa sambil melangkah menuju mejanya.


“Apa ada masalah dengan kontraknya?” Anggara berjalan menuju sofa, setelah mempersilahkan Rachel duduk.


“Ah tidak, bukan itu.” Rachel tersenyum manis, senyum yang setahun lalu sangat memabukkan bagi Anggara.


Anggara mengernyit. “Jadi apa yang membawamu kemari?” tanyanya setelah menjatuhkan bokongnya di sofa seberang yang berhadapan dengan Rachel.


Rachel membenahi duduknya. Mengangkat kaki kanan untuk kemudian ia letakkan diatas paha kirinya.

__ADS_1


“Aku hanya tiba-tiba ingin makan siang bersamamu.” Rachel lagi-lagi tersenyum. Menatap lurus mata Anggara, tanpa segan sedikitpun. “Apa kau senggang? Aku akan reservasi meja di restoran tempat kita biasa makan siang berdua.”


“Ah sayang sekali tapi pekerjaanku sedang banyak.” Jawab Anggara tanpa basa-basi.


Rachel terkesiap. Tidak menyangka sama sekali jika akan mendapat penolakan. “Baiklah, maafkan aku. Lain kali aku akan mengirim pesan jika akan datang.”


Setelahnya wanita itu berdiri, melempar senyum terbaiknya dan berpamitan. Keluar dari sana dengan perasaan kesal karena apa yang baru saja terjadi tidak sesuai dengan harapannya.


Raisa yang sejak tadi samar-samar mendengar percakapan antara Anggara dan Rachel pun menahan tawanya. Bukan salah dia kan jika tidak sengaja mendengar, salahkan Anggara yang menyuruhnya untuk tidak menutup pintu.


Raisa terus menunduk, berpura-pura fokus pada berkas di hadapannya. Ia berencana tidak akan menyapa, hanya pura-pura tidak tahu saat Rachel keluar dari ruangan Anggara.


Hingga ia mendengar mejanya di ketuk. Pertanda ada seseorang yang meminta perhatiannya.


“Ah Nona, sudah selesai?” Raisa mendongak, berpura-pura terkejut. Lalu berdiri sopan.


“Tentu saja. Semua janji Tuan Anggara melalui saya. Anda bisa menghubungi saya jika ada masalah dengan kerjasama Shadiqa dan SG.” Jawabnya masih sangat sopan.


“Setiap pagi, berikan jadwal Anggara di hari itu padaku. Kirim pesan saja.” Ucap Rachel tegas, dengan tangan yang bersedekap di dada.


“Ya?”


“Ck. Ku bilang berikan jadwal Anggara setiap hari padaku.”


“Maaf Nona, saya tidak bisa.”

__ADS_1


“Jangan membantahku atau kau akan menyesal.”


“Saya tetap tidak bisa.” Raisa mulai tidak senang. Ia bahkan tidak ragu untuk menatap tajam Rachel di depannya.


“Kau tidak tahu siapa aku?” Rachel geram setengah mati. Hanya sekertaris, tapi berani membantahnya.


“Tidak.” Raisa terus saja melawan, kali ini ia juga mengangkat kedua tanyannya bersedekap di dada.


Belum sempat Rachel kembali membuka mulutnya, sudah terdengar suara pintu ruangan Anggara terbuka dan sosok Anggara yang muncul disana.


“Ada apa ini?” tanyanya setelah melihat Raisa sepertinya bersitegang dengan Rachel.


“Nona Rachel meminta saya mengirimkan jadwal Tuan setiap hari.” Jawab Raisa tegas, lalu melirik Rachel sinis. “Saya menolak.” Sambungnya lagi.


Jawaban Raisa membuat Rachel gelagapan.


“Bukan begitu… maksudku..” Rachel berjalan mendekat sembari memikirkan alasan apa yang tepat.


“Untuk apa?” Anggara kembali bertanya, kali ini menatap Rachel curiga.


“Tidak.. kau kan sibuk sekali, jadi aku hanya ingin mencari waktu yang tepat agar kita bisa makan siang bersama.” Rachel meraih lengan kanan Anggara. Tapi pria itu seketika menyingkir.


“Kendalikan dirimu. Ini kantor.” Anggara bergumam sambil menatap Rachel malas. “Jika sudah selesai pergilah.” Setelah mengatakan kalimat itu Anggara berlalu.


“Aku makan siang dengan Ayahku, katakan pada Damar untuk menemuiku di ruangan Ayah.” Ucapnya pada Raisa sebelum masuk ke dalam lift.

__ADS_1


Meninggalkan Raisa yang mengangguk patuh dan Rachel yang menatapnya kesal.


**


__ADS_2