
Anggara lebih memilih sofa ketimbang kursi kerja untuk menjatuhkan bokongnya di ruangan milik mendiang Ardhani --yang kini menjadi ruangannya--.
Ia menyandarkan kepalanya, lalu memijit pelan. Setelah beberapa menit memejamkan mata , Anggara mengamati ruangan ini. Tidak terlalu luas, jika dibandingkan dengan ruangan Thomas di Stockholm Group. Selain satu set sofa , ada juga sebuah kursi dan meja kerja yang menempel pada jendela besar di belakangnya. Beberapa lukisan dan pajangan yang ada disana, tidak luput dari pengamatan Anggara.
Anggara menoleh saat terdengar suara pintu dibuka. Damar , memasuki ruangan dengan setumpuk berkas ditangannya.
"Tuan , apa kita tidak terlalu membuang waktu?" Damar berdiri tepat disamping Anggara sembari mengulurkan satu buah map.
Anggara membuka satu persatu halaman berkas yang baru saja diberikan Damar. "Aku juga tidak sabar. Tapi Ayah benar, bisa-bisa mereka akan lolos dengan mudah jika kita gegabah."
Semalam , Anggara pun mengusulkan pada Thomas agar mereka cepat menjebloskan Darmawan dan orang-orang yang terlibat atas kematian Ardhani dan Miranda ke penjara. Tapi Thomas malah memintanya melakukan hal lain.
"Hancurkan dulu hidupnya , ambil semua yang mereka miliki, setelah itu biarkan mereka membusuk di penjara." ucap Thomas semalam.
Dan Anggara setuju. Penjara bukan apa-apa jika mereka masih memiliki uang. Kematian Ayah dan Ibu mertuanya , tidak cukup hanya dibayar dengan kurungan.
"Apa menurutmu penjara saja cukup?" Anggara menoleh pada Damar yang menunggu jawabannya.
Damar mengangguk mengerti. "Baik , Tuan. Saya akan meminta Zack untuk menelusuri semua hal tentang Darmawan dan putrinya."
.
"Diskusikan juga dengan Doni."
Doni adalah asisten pribadi Thomas.
__ADS_1
Damar melangkah keluar setelah memahami perintah Anggara.
**
Sejak pagi, Andreea hanya mengurung diri di kamarnya. Ia hanya keluar untuk sarapan dan mengantar Anggara ke halaman.
"Jangan banyak berpikir , aku dan Ayah akan memastikan mereka semua membayar setimpal atas kematian Ayah dan Ibu." pesan Anggara tadi sebelum ia berangkat ke kantor.
"Kau ingin makan sesuatu?" Anshara yang sejak tadi menemani kakak iparnya itu bertanya.
Andreea menggeleng pelan, lalu menangis lagi. Entah sudah berapa banyak air matanya yang keluar sejak semalam.
Anshara mendekat lalu memeluk Andreea erat. "Tidak apa-apa menangis, tapi kau tetap harus makan. Paman dan Bibi pasti sedih melihatmu begini."
"Ayah dan Ibuku ... dibunuh." Andreea masih terisak.
Semalam Anggara menawarkan hal yang sama tapi Andreea menolak. Sebelum pelaku kejahatan pada orangtuanya di hukum, rasanya Andreea tidak sanggup mengunjungi makam mereka.
Andreea menggeleng. "Apa Ayah atau Kak Gara menceritakan sesuatu tentang orang-orang yang mencelakai Ayah dan Ibuku?"
"Hum!" Anshara mengangguk.
Saat Anggara turun setelah Andreea tertidur semalam , Anshara mendengar dengan jelas diskusi Ayah dan Kakaknya itu. Mereka berdiskusi di ruang tengah , tidak peduli ada Anita dan Anshara disana. Artinya hal ini boleh kan diceritakan pada Andreea?
"Menurut Ayah dan Kak Gara , pelakunya adalah seseorang bernama Darmawan dan putrinya, Rachel." ucap Anshara saat dilihat Andreea seperti menunggu penjelasan.
__ADS_1
Andreea mengernyit. Ia tidak mengenal kedua orang itu, artinya mereka tidak berhubungan dekat dengan keluarganya.
"Tunggu, Rachel?"
"Hum. Kau ingat? Wanita yang bertemu denganmu di kantor? Ternyata Kak Gara dengan sengaja memakai produk furniture dari perusahaan wanita itu bekerja untuk hotel SG."
"Sengaja? Artinya .. Ayah dan Kak Gara sudah mengetahui tentang kecelakaan Ayah dan Ibuku?"
"Sepertinya begitu. Selama ini mereka menyelidiki karena kecelakaan itu mencurigakan. Ban meletus? Yang benar saja. Ayah bahkan memiliki tenaga profesional untuk mengurus semua kendaraan di rumah. Paman Ardhan juga pasti begitu."
Andreea meremat dress bagian paha. Tatapannya menerawang. "Darmawan dan Rachel.. apa hubungan mereka dengan Ayah dan Ibuku?"
"Entahlah , yang ku dengar Darmawan bekerja untuk Paman Ardhan, dan Rachel adalah putrinya."
Andreea menangis lagi. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
"Cepat habiskan air matamu. Setelah ini ayo kita memesan banyak makanan. Jangan menangis lagi dan jangan menjadi lemah , kau memiliki keluarga Stockholm sekarang."
"Hatiku.. sakit sekali."
"Besok kita harus pergi kuliah , cukup hari ini membolosnya. Jadi tegakkan dagumu , jangan tunjukkan kelemahan dan kesedihanmu. Pamerkan saja kekuasaan suamimu."
"Apa yang kau bicarakaaaan?" Andreea melempar bantal ke wajah Anshara dengan kesal.
Anshara mendekatkan wajahnya ke arah Andreea setelah berhasil menyingkirkan bantalnya. "Ayah bilang orang-orang itu kini mengincarmu." ucapnya setengah berbisik.
__ADS_1
"APAAA?"
**