Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - THE END, Aku Mencintaimu


__ADS_3

Andreea berjalan perlahan mendekati Anggara yang masih bergelung di balik selimut. Di tangannya sudah ada sebuah handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Niatnya untuk membangunkan Anggara tiba-tiba lenyap. Ia duduk di tepi ranjang , memandangi wajah suaminya yang sedang terlelap.


Andreea terkekeh. Bagaimana bisa pria dingin yang selalu ia tatap diam-diam itu kini menjadi suaminya. Dulu bahkan Andreea tidak berani menatap mata Anggara lebih dari dua detik. Dimatanya , Anggara sangat sulit di dekati.


Andreea menerawang. Ingatannya kembali pada masa belasan tahun silam dimana ia dan Shara tumbuh bersama-sama karena kedua orang tua mereka sering sekali bertemu. Hingga usianya menginjak lima tahun , Anggara yang berusia empat belas tahun masih sering sekali menemani ia dan Anshara bermain. Lari-larian mengejar kupu-kupu , berenang , bahkan Anggara sering membacakan dongeng untuk keduanya. Tapi semenjak Anggara memasuki masa sekolah menengah , pria itu mulai menjaga jarak. Andreea jadi jarang melihatnya meski sedang berkunjung ke kediaman Anshara. Terlebih setelah ia memasuki sekolah menengah dan tinggal di asrama, mereka sudah hampir tidak pernah bertemu.


"Apa aku se tampan itu?" Anggara yang masih memejamkan mata , mengagetkan Andreea.


Andreea berdecak lalu berdiri ingin menjauh tapi Anggara secepat kilat meraih tangannya hingga Andree terduduk lagi di tepi ranjang.


"Kenapa hanya memandangiku? Wajahku ini, kau boleh menciumnya hingga puas." Anggara membuka mata , menatap wajah Andreea yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya. Tangan Andreea yang ada dalam genggamannya, ia bawa semakin dekat hingga bisa disentuh oleh bibirnya.


"Selamat pagi, sayangku. Aku mencintaimu." ucap Anggara tiba-tiba setelah mencium pelan telapak tangan Andreea.


Andreea mengerjap lalu membuang asal pandangannya karena salah tingkah. Ia meremat ujung bathrobe yang ia kenakan.


Astaga jantung sialan.


Anggara terkekeh lalu bergeser untuk mengubah posisi menjadi duduk. Ia meraih handuk kecil di tangan istrinya lalu mendorong pelan Andreea agar membelakanginya. Sedetik kemudian , pekerjaan mengeringkan rambut dengan handuk itu beralih di kerjakan oleh Anggara.


"Aku mencintaimu." ucap Anggara lagi sambil terus mengeringkan rambut istrinya.


Andreea masih mematung. Ia meremat kuat bathrobe di bagian dada. Selama ini pernyataan Anggara sebatas aku menyayangimu, aku akan menjagamu. Aku mencintaimu , baru kali ini Andreea mendengarnya.


Anggara menarik Andreea agar mendekat , ia melempar asal handuk kecil ditangannya lalu memeluk tubuh Andreea dari belakang.


"Aku mencintaimu , dengar tidak?"


Andreea mengangguk, tidak tahu harus menjawab bagaimana.

__ADS_1


"Lalu kenapa diam saja?"


"Ehm." Andreea berdehem pelan. "Aku.. gugup."


Anggara terkekeh. Ia menyingkap sedikit bathrobe di bagian bahu Andreea , lalu mengecup pelan disana. Meninggalkan desiran memabukkan di hati Andreea.


Tangan kiri Anggara menyelinap masuk ke dalam bathrobe Andreea lalu menyentuh bagian dada istrinya. "Benar. Kau sangat gugup. Jantungmu berdetak sangat kencang."


Andreea menahan napas. Anggara memang membicarakan jantung , tapi telinganya dapat mendengar suara pria itu sudah sangat parau pertanda hasrattnya terpancing. Terlebih saat tangan yang tadi berpura-pura memeriksa jantungnya , kini sudah meremat pelan area yang sama.


"Kak.. aku.. baru saja mandi." Andreea sudah tersengal. Susah payah ia mengeluarkan kalimatnya.


"Kau mencintaiku tidak?" Anggara seperti tidak mendengar ucapan istrinya. "Tidak apa-apa jika kau belum mencintaiku. Aku akan menunggu." ia terus mengoceh sembari mengecup semua bagian bahu istrinya dan tangan yang tidak berhenti bergerak di depan sana.


Andreea berbalik, ia naik ke atas pangkuan Anggara, melingkarkan tangannya hingga ke belakang kepala suaminya. Dengan tubuh keduanya yang menempel tanpa jarak , Andreea mulai mencium bibir Anggara. Tidak seperti biasanya , kini Andreea yang mengambil kendali. Bergerak kasar di atas tubuh Anggara membuat pria itu kehilangan kewarasan.


**


"Perhatikan langkahmu , sayang." Anggara tentu saja tahu sedang di tatap sedemikian lekat. Ia tersenyum lalu membelai rambut Andreea sebelum mereka melanjutkan langkah menuju area tengah pemakaman.


"Ayah , Ibu , aku datang." Andreea berjongkok di antara makam kedua orang tuanya.


"Maafkan aku baru sempat menemui Ayah dan Ibu." Andreea menghela napas sejenak. "Tidak , aku bukan tidak punya waktu, hanya saja aku tidak punya keberanian." ucapnya lirih.


Andreea mulai membersihkan beberapa daun kering yang berserakan di atas makam orang tuanya.


"Maafkan aku karena pernah berpikir Ayah dan Ibu tega sekali meninggalkanku sendiri disini."


"Ayah, jangan khawatir tentang apapun lagi. Kak Gara, Ayah Thomas , dan Ibu Anita menjagaku dengan sangat baik." Andreea menaburkan sekantong plastik penuh kelopak mawar merah dan melati putih.

__ADS_1


Setelah makam Ayahnya dipenuhi kelopak bunga , Andreea meletakkan satu buket berisi dua puluh lima batang mawar merah di atasnya. Ia mendongak , tersenyum pada Anggara yang sejak tadi setia disampingnya.


Kemudian Andreea berbalik, menghadap makam Ibunya. Seperti yang ia lakukan tadi, ia juga menaburkan sekantong penuh kelopak mawar merah dan melati putih di atas makam Miranda.


"Ibu , beristirahatlah dengan nyaman. Orang-orang yang menyakitimu dan Ayah sudah di hukum , jangan khawatir lagi." Andreea mengusap cepat air matanya yang jatuh keluar. "Ah padahal aku sudah berjanji tidak akan menangis lagi. Tidak apa-apa, nanti di rumah Anshara pasti bisa menghiburku." Andreea terkekeh.


"Aku bawakan Anggrek Jingga kesukaan Ibu." Andreea meletakkan satu buket Anggrek berwarna jingga itu di pusara Miranda.


Begitulah Andreea menghabiskan sekitar tiga puluh menit di makam Ayah dan Ibunya. Menceritakan banyak hal , tentang ia yang mulai kuliah , tentang Anshara yang selalu mengganggunya , tentang Thomas dan Anita yang sangat menyayanginya. Dan tentang Anggara. Ia menceritakan semuanya. Anggara yang memimpin Dee Corp , Anggara yang menangkap para penjahat itu , dan Anggara yang mencintainya.


Sesekali Andreea terkekeh , seolah Ayah dan Ibunya ada di hadapannya sedang mendengarkan ia bercerita.


"Ayah , Ibu. Aku harus pulang , maafkan aku tidak bisa lebih lama mengunjungi kalian. Kami seharusnya datang lebih pagi tapi tadi Kak Gara membuatku mandi dua kali." Andreea melirik sengit suaminya lalu mereka berdua terkekeh.


Sebelum beranjak dari sana, Anggara mengusap pelan nisan Ardhani. Di dalam hatinya, ia berjanji akan membuat Andreea bahagia seumur hidupnya hingga Ardhani tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi.


Andreea bergelayut di lengan Anggara yang sedang mengemudi. Setelah beberapa bulan tidak mengunjungi makam Ayah dan Ibunya , hari ini ia sangat emosional. Kenangan-kenangan kedua orang tuanya kembali menyeruak ke dalam ingatan. Ia menoleh , mencuri ciuman di pipi kiri Anggara.


"Aku mencintaimu." ucapnya tiba-tiba tanpa menjauhkan wajahnya dari sana.


Anggara menginjak rem dengan tiba-tiba. Sebuah mobil dan dua buah sepeda motor di belakangnya terdengar mengumpat kesal. Anggara membuka jendela mobilnya , lalu meminta maaf kepada orang-orang yang terkejut di belakangnya.


"Katakan lagi!" Anggara menatap Andreea yang terkekeh di sampingnya.


"Aku mencintaimu!"


**


THE END

__ADS_1


__ADS_2