Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - Dia Istriku


__ADS_3

"Andreea!" Giselle mengejar Andreea yang sudah lebih dulu keluar dari kelasnya.


Sejak semalam , Giselle sudah memutuskan tidak akan pergi ke kampus lagi. Selain karena videonya di kantor polisi yang sudah tersebar , juga karena ia tidak siap bertemu dengan Andreea. Gadis yang sudah tiga tahun belakangan ini ia hina dan rendahkan kedudukan sosialnya , ternyata jauh lebih kaya raya dibanding dirinya. Lebih memalukannya lagi, bisnis keluarga yang ia bangga-banggakan , ternyata hanyalah remahan kecil dari bisnis keluarga Andreea.


Ah benar , kenapa dia tidak pernah menyadari nama belakang Andreea. Padahal selama ini ia sering mendengar Ayah dan kakaknya menyebut-nyebut Tuan Dee.


Sepanjang ingatannya , Andreea sama sekali tidak pernah menanggapi ocehannya. Gadis itu hanya memutar bola matanya malas , dan berlalu begitu saja.


Andreea menoleh, lalu berhenti demi menunggu Giselle mendekat.


"Reea , aku--"


"Jangan minta maaf! Aku ingin kau merasa bersalah seumur hidupmu." Andreea mendelik. "Dan jangan berterima kasih! Apa yang aku lakukan tadi, bukan untuk membantumu. Aku hanya tidak suka jika orang lain membicarakan keluargaku." Andreea berbalik. Terdengar suara Giselle yang mulai terisak di balik punggungnya. "Jika mungkin , menghindar lah dari pandanganku. Aku tahu ini tidak adil untukmu, tapi melihat wajahmu mengingatkanku pada Ayah dan kakakmu. Aku harap kau mengerti." ucapnya pelan tanpa menoleh , dan berlalu begitu saja bersama Anshara di sampingnya.


Giselle terus terisak dengan Imel yang mengusap punggungnya untuk menenangkan.


"Cih. Drama Queen!" Siska yang entah muncul dari mana bersama seorang gadis , melirik sinis.


"Benar kata Andreea , kau memang tidak tahu diri. Selama ini, uang jajan Giselle lah yang menghidupimu kalau kau lupa!" Imel menatap tajam mantan temannya itu.


"Halah. Tetap sa--"


"Dan kau!" Imel beralih menatap seorang gadis di samping Siska. Risa , gadis itu juga cukup berada. Terlihat dari beberapa barang yang melekat di tubuhnya, Imel tahu itu cukup mahal. "Bersiaplah! Lintah seperti dia tidak akan berhenti menghisap darah siapapun yang ada di sekitarnya." telunjuknya mengarah pada Siska , meski matanya menatap tajam Risa.


Sedetik kemudian Imel menarik Giselle --yang sejak tadi hanya menangis-- menjauh dari sana.


**

__ADS_1


Kabar tentang ditangkapnya salah seorang partner eksternal perusahaan membuat semua orang terkejut, baik karyawan maupun direksi. Jika itu tentang kasus kriminal lain , semua orang tidak akan peduli. Tapi ini pembunuhan. Seorang partner eksternal membunuh Presiden Direktur tempat ia menggantungkan hidupnya. Apa yang lebih menarik dari ini untuk di bicarakan?


Anggara memasuki gedung Dee Corp dengan wajah dinginnya. Jika beberapa hari lalu tidak sedikit orang yang mengacuhkannya karena menganggap ia dan Ayahnya berbuat curang untuk menduduki posisi Presiden Direktur, hari ini semua orang yang berpapasan dengan Anggara menunundukkan pandangannya sebagai tanda hormat.


Anggara Stockholm, presiden Direktur yang baru berusia dua puluh tujuh tahun itu mengungkap dalang kematian Ardhani Dee , yang mana polisi saja sudah menutup kasus itu sebagai kecelakaan tunggal. Dan jangan lupakan aura yang menguar dari laki-laki itu. Hanya di tatap tajam saja bisa membuat seseorang merasa tercekik.


Anggara bergegas memasuki ruang meeting yang sudah di siapkan. Ia memang memerintahkan Elisa --sekertarisnya di DC-- untuk mengumpulkan semua direksi dan komisaris di ruang rapat.


"Selamat pagi." Damar menyapa singkat semua orang yang sudah berkumpul di ruang rapat.


"Aku tidak akan berbasa-basi." Anggara bahkan tidak duduk , ia menumpu kedua telapak tangannya di atas meja, sehingga tubuhnya sedikit condong ke depan, lalu menatap satu persatu orang yang hadir disana.


Baru satu kalimat yang di keluarkan pria itu, tapi suasana sudah berubah mencekam.


"Kalian pasti sudah dengar apa yang terjadi pada mendiang Tuan Ardhani Dee dan istrinya." Ia menjeda kalimatnya sejenak. "Perusahaan ini dibangun dengan keringat dan air mata Ayah mertuaku dan tentu saja suatu saat akan jatuh ke tangan istriku , putri tunggalnya. Aku hanya akan memimpin sampai istriku siap mengambil alih tanggung jawab. Ku peringatkan, bekerja saja dengan baik jika masih ingin hidup dengan tenang. Aku tidak akan melepaskan siapapun yang mencoba mengusik keluarga dan perusahaanku. Hanya karena bedebbah itu dengan mudah menyingkirkan Ayah Ardhan, bukan berarti Ayahku itu lemah. Dia hanya terlalu baik dan tidak mudah curiga." Tatapannya masih se tajam tadi.


Semua orang menahan napas, bahkan untuk menelan ludah sendiri rasanya sulit. Anak muda ini bahkan belum lima tahun menduduki jabatan wakil presiden direktur di perusahaan Ayahnya , tapi auranya sudah sangat mematikan.


Anggara berbalik , sudah akan melangkah meninggalkan ruangana.


"Aku tidak akan datang kesini setiap hari karena memiliki perusahaanku sendiri. Tapi ingatlah , ada banyak mata dan telingaku di setiap sudut gedung ini."


Anggara benar-benar keluar dari ruang rapat di ikuti oleh Damar di belakangnya , saat sampai di depan ruangannya Elisa sudah berdiri bersiap mengatakan sesuatu.


"Pak , maaf. Dibawah ada seseorang yang ingin bertemu tapi di tahan oleh resepsionis karena tidak membuat janji."


"Siapa?" Anggara memang tidak ingat memiliki janji dengan siapapun disini.

__ADS_1


"Namanya Andreea dan Anshara. Dua gadis itu bersikeras ingin bertemu dengan Anda."


"Biar saya yang menjemput kebawah , Tuan." Damar inisiatif menawarkan diri.


"Biar aku saja." Anggara berbalik menuju lift yang akan membawanya turun.


Elisa hanya terdiam di tempatnya. Ia kira Anggara akan memintanya untuk mengusir gadis-gadis itu.


Sesampainya dibawah, semua orang terkejut melihat Anggara yang turun sendiri menghampiri dua gadis yang sejak tadi membuat keributan karena bersikukuh ingin naik ke atas.


"Kenapa berdebat disini. Katakan saja siapa dirimu daripada membuang-buang waktu." Anggara mengomel pelan saat mendekati dua gadis pembuat onar itu.


Anshara terkekeh. "Seru sekali. Ah begini rasanya tidak dikenali , jika ke kantor Ayah mana bisa seperti ini."


Anggara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu meraih telapak tangan Andreea untuk ia genggam. Ia angkat genggaman tangannya ke hadapan resepsionis itu.


"Dia istriku. Andreea Dee. Putri tunggal Tuan Ardhani Dee. Ingatlah wajahnya."


Dua orang resepsionis dan dua orang security yang sejak tadi sudah kesal setengah mati dengan ulah kedua gadis ini mendadak menundukkan wajahnya lalu meminta maaf karena tidak mengenali putri bos mereka.


"Tidak apa-apa. Seharusnya kami memperkenalkan diri. Maafkan kami." Andreea jadi tidak enak sendiri.


"Dan ini adikku. Anshara Stockholm. Mereka sudah dipastikan akan sering datang bersama. Jadi ingat juga wajahnya." ucap Anggara lagi memperkenalkan Anshara.


Beberapa orang karyawan yang kebetulan ada di lobby juga mulai memindai wajah dua gadis yang baru saja di kenalkan Presiden Direktur mereka.


Diantara mereka ada yang berdecak kagum, baru pertama kali melihat seperti apa wajah putri tunggal Tuan Dee karena memang Ardhani tidak pernah mempublikasikan putrinya. Cantik sekali.

__ADS_1


**


__ADS_2