Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - Kedatangan Mark


__ADS_3

Anggara terkekeh, lalu menarik dirinya menjauh dari atas Andreea. Jika bukan karena ucapan Andreea , ia pasti sudah lupa jika ini masih siang hari.


Anggara duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia merentangkan sebelah tangannya dan meminta Andreea mendekat.


"Aku ingin mengatakan sesuatu."


Andreea mengangguk. Ia cukup tahu bahwa suaminya pasti ingin mengatakan hal penting.


"Tentang isi brankas Ayah." Anggara menjeda sejenak kalimatnya. Apa Andreea akan marah padanya? Tapi gadis itu berhak tahu kan?


"Kau lihat tadi, ada satu flashdisk juga di dalam amplop yang di kirim Cleo."


Ah , Andreea ingat. Cleopatra. Tapi tunggu, Cleo?


Andreea mengernyit. Kenapa terdengar Anggara sangat dekat dengan seseorang bernama Cleopatra itu.


"Ah , Cleopatra. Aku pernah menjalin hubungan dengannya saat masa kuliah dulu." Anggara seperti menyadari rasa penasaran Andreea. "Aku tidak tahu apa itu Cleopatra yang sama. Aku sudah meminta seseorang untuk mencari tahu."


Andreea menghela napas. Sebenarnya berapa banyak mantan kekasih suaminya. Pada akhirnya , ia hanya mengedikkan bahunya kesal.


Anggara mengulum senyumnya , boleh 'kan kalau dia percaya diri saat ini Andreea sedang cemburu?


"Sayang, ini bukan waktunya untuk cembu--"


"Aku tidak cemburu!"


Anggara tertawa terbahak-bahak. Tidak cemburu tapi memotong cepat ucapannya lengkap dengan mata yang melotot lebar.


"Baik , baik." Anggara meredakan tawanya dengan susah payah, lalu menatap Andreea lembut. "Isi flashdisk itu , aku sudah melihatnya. Apa kau ingin tahu?"


Andreea terdiam , menimbang-nimbang apa perlu dia mengetahui isi flashdisk itu? Toh apapun isinya , kedua orang tuanya sudah tiada. Apapun isinya , Anggara pasti akan mengatasi semuanya 'kan?


"Memang apa isinya?" tanya Andreea pelan , ia menundukkan wajahnya. Sejujurnya ia tidak siap , andai di dalam sana ada fakta baru yang tidak kalah menyakitkan.


Anggara membelai pelan kepala istrinya. "Percakapan Rachel dan Darmawan. Alasan mereka membunuh Ayah dan Ibu juga ada disana. Jika kau ingin melihatnya , aku akan mengizinkan. Tapi jika tidak , itu akan lebih baik."


Sesaat kemudian, Andreea menggeleng. Ia menatap Anggara dengan memaksakan senyumnya. "Aku sudah merelakan semuanya. Kematian Ayah dan Ibu adalah takdir meski dengan cara yang menyakitkan. Orang-orang itu akan dihukum , sudah cukup untukku. Jika aku lebih banyak tahu lagi, aku takut akan semakin terluka."

__ADS_1


Anggara mengangguk. "Begitu sudah benar. Serahkan semuanya padaku dan Ayah. Kau hanya harus berbahagia , hum?"


Andreea merangsek maju semakin mendekati Anggara , ia memeluk tubuh suaminya dan menenggelamkan wajahnya di dada Anggara.


"Aku akan hidup dengan baik dan bahagia , agar Ibu dan Ayah tidak khawatir." gumamnya pelan. "Terima kasih sudah sangat menyayangiku seperti Kak Gara menyayangi Shara.


Anggara mengernyit, ia lekas mendorong kedua lengan Andreea menjauh agar bisa menatap wajahnya.


Di dorong tiba-tiba membuat Andreea terkejut , ia sudah ingin melemparkan protes saat lebih dulu Anggara mengecupp singkat bibirnya.


"Mana ada kakak yang mencium adiknya begini." Ia mengecupp lagi bibir Andreea , kali ini lebih lama. "Bisa-bisanya kau menyamakan dirimu dengan Shara." Anggara berdecak sebal.


Andreea terkekeh. Ia melompat ke atas pangkuan Anggara dan mengalungkan lengannya di leher pria itu. "Benar juga, mana ada adik yang mencium kakaknya begini." Kali ini, ia yang mengambil inisiatif mencium Anggara lebih dulu.


"Sudah ku bilang jangan menggodaku. Ini masih siang."


Andreea terkekeh lalu turun dari sana. "Aku akan ke bawah menemui Ibu."


**


Anggara sudah duduk berhadapan dengan seorang pria usia empat puluhan di dalam ruangannya. Mark, pria dengan pakaian biasa, hanya celana pendek dan kaos hitam polos. Sneakers putih dan sebuah topi di kepalanya. Siapa yang akan menyangka dia adalah orang yang bekerja menantang bahaya.


Mark mengangguk. "Tentu saja , Tuan."


Anggara memang melewatkan makan malam dirumah dengan alasan masih ada pekerjaan. Tadi sore ia kembali ke kantor DC karena sesuai informasi Elisa , Mark akan menemuinya pukul tujuh malam.


"Apa aku perlu memperkenalkan diri?"


"Tidak, Tuan." Mark menggeleng cepat. "Saya lah yang harus memperkenalkan diri." Ia berdehem pelan saat dilihat Anggara menganggukkan kepalanya. "Saya Mark, sudah kira-kira dua belas tahun bekerja di bawah Tuan Dee."


Anggara mengernyit. Pria ini tidak berbeda jauh dengan Zack yang sudah hampir lima belas tahun bekerja dengan Ayahnya. "Kau sudah sangat berpengalaman, tapi lengah?"


"Maafkan saya."


Pria itu menunduk. Anggara bisa melihat penyesalan besar disana.


"Aku membuka brankas Ayah mertuaku tadi. Ada surat yang dikirimkan seseorang tentang informasi rencana pembunuhan. Apa Ayah Ardhan sempat melihatnya?" Anggara ingin memastikan sekali lagi , karena meskipun surat itu ditemukan dalam keadaan sudah terbuka di brankasnya, meski sudah berulang kali Anggara memikirkan, ia belum bisa menyimpulkan kenapa Ayah mertuanya tidak bertindak apapun.

__ADS_1


Mark mengangguk. "Tuan Dee langsung meminta saya menyelidiki semuanya secara diam-diam."


"Apa yang kau temukan?"


"Penggelapan dana di dua restoran yang di kelola Darmawan. Pria itu sempat mendengar kabar anak tunggal keluarga Dee yang akan menyelesaikan pendidikan dan kembali ke kediaman Dee. Dia mulai mendekati Tuan Ardhani dan secara tersirat menyodorkan putrinya agar Tuan Dee menjadikannya menantu. Tuan Dee menyadari itu."


"Tapi Ayah tidak mengambil tindakan?"


Mark mengangguk lagi. "Tuan Dee ingin tahu sejauh mana mereka bertindak. Kami memasang pengawasan lebih. Kami bahkan bisa menemukan salah satu mobil yang sudah di sabotase." Ia menghela napas. "Kami lengah dengan mobil pribadi Nyonya Dee yang pagi itu di gunakan ke Bogor untuk wisuda Nona Reea."


"Pelakunya?"


"Seorang pria paruh baya, tukang kebun di kediaman Tuan Dee."


Anggara mengeraskan rahangnya. Setahu dia , diantara lima orang yang ditangkap atas pembunuhan Ayah dan Ibu mertuanya , tidak ada satupun orang yang berada di sekitar keluarga Dee. Kecuali Darmawan dan Rachel, semuanya orang luar yang tidak mengenal secara pribadi keluarga Dee.


"Kau kehilangan dia juga?"


Mark menggeleng. "Dia yang lebih dulu kami habisi, Tuan."


Anggara nampak terkejut. "Kau membunuhnya?" Bagaimanapun, menghilangkan nyawa seseorang tidak dibenarkan.


"Tidak." Mark nampak berpikir sejenak. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tidak secara langsung. Kami hanya melepasnya di salah satu tempat di Bhutan."


Anggara mengernyit. "Bhutan?"


Mark mengangguk salah tingkah. "Gangkhar Puensum."


"Ck." Anggara berdecak. Laki-laki di depannya ini sedikit gila. Ia melepaskan seorang pria tua di tengah pegunungan dengan cuaca paling ekstrim di dunia. Bagaimana cara Mark membuangnya kesana? Pemerintah setempat bahkan tidak pernah membuka pendakian. Sudah bisa di pastikan , pria itu tewas bahkan sebelum dua puluh empat jam.


"Kami sangat marah, Tuan dan Nyonya Dee bahkan sangat baik padanya. Tapi pria itu berkhianat sampai menyebabkan Tuan dan Nyonya kehilangan nyawa." Mark menggerutu. Ia sama sekali tidak menutupi amarahnya.


"Sudahlah! Kembali ke Darmawan. Jadi pria itu ingin menyodorkan Rachel untuk menjadi menantu Ayah Ardhan? Lalu ketika ia tahu Ayah hanya memiliki satu putri, dia merencanakan pembunuhan?"


Mark mengangguk. "Sepertinya dia gelap mata. Takut jika penggelapan dananya terendus. Setelah mengurus tukang kebun itu, saya berencana menghabisi mereka juga. Tapi lalu saya dengar tentang pernikahan Nona Dee dengan Anda. Saya dengar juga Tuan Stockholm menyelidiki diam-diam tentang kecelakaan itu. Jadi saya menunggu sembari mengawasi dua orang itu dari jauh." Mark harus mengakui, cara kerja Stockholm memang lebih memuaskan. Ketimbang membunuh, menghabisi seluruh yang dimiliki musuh lebih membuat orang-orang itu menderita. Jujur saja , Mark jauh lebih tenang saat mengetahui Nona mudanya ada dibawah perlindungan keluarga Stockholm.


Mark menyodorkan sebuah flashdisk di hadapan Anggara. "Lintah-lintah di dalam Dee Corporation."

__ADS_1


**


__ADS_2