Istri Kecil Wakil Presdir

Istri Kecil Wakil Presdir
IKWP - Kedatangan Rachel


__ADS_3

Anshara terus saja menggerutu sejak Anggara mengatakan akan membawa mereka ke kantor SG. Ia sudah lelah sekali, jika tidak bisa jalan-jalan ke mall, setidaknya ia ingin pulang saja.


"Kak , aku ingin pulang!" Nada sebal Anshara yang malah membuat Andreea terkekeh.


"Sebentar saja , aku ada pekerjaan yang mendesak." Anggara tidak memedulikan rengekan adiknya.


"Lagipula kenapa tidak bekerja saja yang benar, malah repot-repot menjemput kami. Sudah benar ada Paman Heri."


"Nanti aku belikan sepasang sneakers."


"Cih. Hanya sneakers, aku bisa minta pada Reea." Anshara mendengus.


Anggara hanya menggelengkan kepalanya sembari melirik Anshara yang duduk di belakang.


Hanya beberapa menit perjalanan, mereka sudah sampai di gedung pusat Stockholm Group. Anggara keluar dengan tergesa lalu memberikan kunci mobilnya pada security yang berjaga.


Anshara dan Andreea terus mengekori pria itu sampai masuk ke dalam lift.


Di dalam lift Anshara menggerutu lagi. "Aku paling malas jika harus ke kantor."


Anggara sama sekali tidak menanggapi. Tidak masalah adiknya itu terus menggerutu , yang penting menurut. Tadinya Anggara ingin mengajak dua gadis itu makan siang di luar , lalu mentraktir mereka beberapa barang. Tapi tidak lama Damar menelepon , mengatakan ada beberapa temuan Zack yang perlu di periksa. Tidak mungkin kan dia membiarkan Anshara dan Andreea naik taksi? Heri sudah ia suruh pulang tadi.


Langkah Anggara melambat saat baru saja keluar dari lift, ia menangkap keributan tepat di depan ruangannya.


Ia mengernyit lalu mendengus jengah saat terlihat Rachel ada disana.


Raisa dan Damar yang tiba-tiba menunduk sopan membuat Rachel memutar kepalanya. Dan saat mendapati Anggara disana , amarahnya meledak.


"Ga! Kau menikahi putri keluarga Dee?" ada raut kesal setengah mati di matanya.


Anggara tidak menggubris , ia sengaja berjalan cepat dan sebelum membuka pintu ruangannya ia sempat melirik Damar dengan tatapan isyarat yang beruntungnya Damar cepat mengerti.


"Mari Nona , Nyonya. Saya antar ke ruangan Tuan Thomas." ucapnya pada Andreea dan Anshara yang mematung setelah Rachel mengekori Anggara masuk ke dalam ruangannya.


Mereka tidak bertanya lagi, berbalik arah dalam sekejap untuk memasuki lift yang tadi membawa mereka naik.

__ADS_1


Sesaat setelah pintu lift tertutup, tubuh Andreea luruh ke lantai. Ia terisak , menangkup wajahnya dengan kedua tangan.


"Ree.." Anshara yang terkejut, ikut berjongkok.


"Dia... yang membunuh kedua orang tuaku?" tanyanya mendongak menatap Damar dari bawah.


"Saya.. tidak berhak memberi jawaban, Nyonya." Serba salah , melihat istri tuannya begitu terluka , ia tidak tega. Tapi ia juga belum tahu , sampai dimana hal yang boleh ia ceritakan pada gadis itu.


Andreea tidak memprotes. Ia menunduk lagi untuk melanjutkan tangisnya sampai beberapa lama. Damar bahkan sampai harus menahan pintu lift demi memberi waktu pada Andreea menyelesaikan tangisnya.


**


Rachel terus mengekori Anggara hingga pria itu duduk di kursi kerjanya. Wajahnya terlihat jelas sedang marah. Ia bahkan berkacak pinggang setelah tadi juga sempat membanting pintu.


"Ga, jawab aku! Kau menikahi putri keluarga Dee?" Rachel melemparkan clutch merah maroon yang ia bawa ke atas meja di hadapan Anggara.


"Apa kau tidak punya sopan santun? Tentang pernikahanku, apa hubungannya dengan kerjasama kita?" Anggara menatap tajam.


Rachel terkesiap. Dia terlampau emosi saat mendengar perusahaan tempat Ayahnya menggantungkan hidup --Dee Corporation-- mengumumkan presiden direktur yang baru.


"Apa semudah itu pengangkatan presiden direktur?" Rachel mengernyit.


"Dia menantu Ardhani Dee. Hah! Harusnya kita temukan gadis itu lebih dulu! Keluarga Stockholm ini benar-benar licik. Pria itu menikahkan putranya dengan anak Tuan Dee pasti untuk menguasai seluruh harta Dee."


"Siapa?"


Darmawan menoleh. "Siapa? Stockholm? Thomas Stockholm. Dan putranya , Anggara Stockholm."


Semenjak ia tahu Anggara adalah pewaris salah satu perusahaan properti terbesar di Indonesia, Rachel sudah menandainya sebagai calon suami potensial. Lalu pagi ini ia dengar pria itu sudah menikah , ia merasa kepalanya akan meledak. Itulah penyebab tindakan impulsifnya saat ini, mendatangi kantor Anggara dengan emosi yang meluap-luap.


"Maaf , aku hanya terkejut. Aku baru tahu kau sudah menikah. Terlebih , putri Tuan Dee? Aku tidak menyangka karena yang ku tahu putri Tuan Dee masih usia remaja."


Anggara mengernyit , tatapan matanya sungguh mengerikan. Rachel bahkan sampai menelan ludah untuk mengatasi rasa gugupnya. "Kenapa pernikahanku membuatmu sangat murka?"


"Ehm." Rachel berdehem , lalu mendekati Anggara dan menyentuh lengannya yang langsung di tepis kasar oleh pria itu.

__ADS_1


"Maksudku , kau tahu , aku masih sangat mencintaimu. Aku pikir, ada kesempatan kedua untuk hubungan kita. Aku sama sekali tidak mendengar tentang pernikahanmu. Jadi ini membuatku terkejut. Hatiku sakit sekali." Persetan dengan harga diri, jika bisa merebut Anggara dari istrinya , akan ia lakukan.


Anggara menyeringai. "Pergi! Jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku lagi." ucapan Anggara yang pelan tapi penuh penekanan membuat Rachel mundur selangkah.


"Ga , maksudku--"


"Pergi! Atau aku akan menghancurkan Shadiqa Furniture dengan meminjam tanganmu."


Rachel tidak ingin keras kepala. Ia tahu persis kekuatan Stockholm Group. Shadiqa Furniture? Hah , hanya dengan sekali jentikan jari , pria ini bisa membuat semua karyawan Shadiqa menjadi pengangguran.


"Baiklah. Maafkan aku. Aku hanya.. terlalu mencintaimu." Wajah polos yang bersedih itu , Anggara sangat ingin mencakarnya.


**


Anggara memasuki ruangan Thomas dengan tergesa. Tadi, ia sengaja memberi kode pada Damar agar pria itu membawa Andreea dan Anshara ke ruangan Ayahnya. Ia tidak ingin Rachel menyadari keberadaan Andreea disana.


Saat pintu terbuka , Thomas mendongak lalu meletakkan telunjuknya di depan bibir.


Thomas mengedikkan dagu ke arah sebuah pintu yang ada disana. Itu adalah pintu ruangan pribadi Thomas. Di dalamnya ada sebuah ranjang untuk biasa Thomas beristirahat saat lelah. Fasilitasnya lengkap. Sofa , televisi , sebuah lemari, kulkas juga ada. Ada kamar mandi juga. Mengingat Thomas menghabiskan banyak waktu di kantor, ruangan itu sangat menolongnya.


Anggara membuka pintunya perlahan. Di ranjang ukuran king itu terlihat istri dan adiknya sedang tertidur. Anggara tidak ingin mengganggu , ia tutup kembali pintu dan mendekat ke meja kerja Ayahnya.


"Wanita itu mengatakan sesuatu?" Thomas langsung bertanya saat Anggara baru menjatuhkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Thomas.


"Cih mana mungkin. Perempuan licik itu berperan seperti wanita yang patah hati karena pria idamannya menikahi wanita lain."


Thomas menganggukkan kepalanya. "Tidak masalah." Ia lalu melempar pelan tabletnya ke hadapan Anggara. "Temuan Zack. Kau datang untuk memeriksa ini , kan?"


Anggara meraihnya. Meneliti satu persatu apa yang tertera disana, tidak lama ia menyeringai.


"Bisa kita akhiri ini segera? Aku sudah sangat muak." Anggara mendongak menatap Ayahnya.


Thomas mengangguk pasti. "Darmawan , pria itu, pastikan ia sangat menderita hingga memohon agar kita mengirimnya untuk menemui Ardhan dan Miranda saja." gumamnya pelan dengan sorot mata yang penuh kemarahan.


**

__ADS_1


__ADS_2