
Andreea menatap kotak besi di hadapannya yang tersembunyi di salah satu sisi dinding ruangan mendiang Ayahnya itu. Setelah tadi sejenak mempertimbangkan, akhirnya Andreea setuju untuk membuka brankas itu bersama Anggara. Toh seperti umumnya sebuah brankas , mungkin isinya hanya beberapa berkas penting perusahaan.
Seorang pria berusia empat puluhan sedang berusaha membukanya , karena baik Andreea maupun Anggara tidak ada yang mengetahui kombinasi angka yang digunakan Ayahnya sebagai pengaman. Jadi mereka meminta bantuan seorang ahli.
"Terbuka , Tuan. Biar kami bantu sekaligus untuk pengaturan pin baru." Pria itu menatap Anggara saat brankas terbuka.
Anggara hanya mengangguk saja. Menunggu seorang pria lain mengotak atik kotak besi itu sebelum meminta Anggara mengatur kombinasi delapan angka untuk pengamanan.
Setelah dua pria itu pergi , Anggara menarik tangan Andreea agar mendekat. "Periksalah. Kau adalah putri tunggal Ayah Ardhan. Kau lebih berhak."
Andreea menggeleng pelan. "Kak Gara saja , pasti banyak berkas penting disana. Aku tidak mengerti."
Anggara tidak memaksa. Ia maju beberapa langkah lalu mengeluarkan semua isi brankas di hadapannya.
Benar , ada beberapa berkas penting perusahaan. Beberapa cek , giro, dan entah apa lagi. Anggara memeriksanya satu persatu , dan perhatiannya jatuh pada sebuah amplop coklat tanpa logo apapun. Anggara membolak-balik amplop itu dan hanya menemukan nama serta alamat perusahaan Ardhani sebagai penerima. Tidak ada nama pengirim disana.
Anggara mengernyit , lalu menarik Andreea agar kembali duduk di meja kerjanya. Ia membuka amplop itu setelah memastikan Andreea duduk nyaman di pangkuannya.
Hanya ada selembar surat, dan sebuah flashdisk. Anggara mengabaikan flashdisknya untuk lebih dulu membuka surat yang ada.
Yang terhormat, Tuan Ardhani.
Maaf karena tidak sopan mengirim surat seperti ini.
Perkenalkan , saya Cleopatra.
Tiga baris itu sudah membuat suasana menegang. Baik Anggara maupun Andreea menebak-nebak siapa si pengirim surat dan apa isinya.
Saya adalah keponakan dari Darmawan Sudjono. Beliau mengelola dua restoran dibawah Dee Corp, jika Tuan lupa.
Informasi yang akan saya sampaikan , mungkin membuat Tuan terkejut. Tapi saya pikir , lebih baik Tuan tahu agar bisa memastikannya sendiri.
Beberapa hari lalu, tanpa sengaja saya mendengar tentang rencana pembunuhan terhadap Tuan oleh Paman dan sepupu saya sendiri.
Maafkan saya menyampaikannya seperti ini , tapi saya terlalu takut untuk datang menghadap Tuan tapi juga tidak bisa berpura-pura tidak tahu apapun.
__ADS_1
Tolong, Tuan. Saya tidak ingin paman saya melakukan kesalahan sebesar itu.
Berikut saya sertakan juga bukti rencana mereka.
Terima kasih banyak, jika Tuan berkenan merahasiakan informasi ini dari Paman dan Sepupu saya.
Tertanda , Cleopatra.
Anggara menghela napas setelah tadi tanpa sadar menahan napasnya. Ia menoleh pada Andreea yang air matanya sudah meleleh.
"Kak, Ayah pasti sudah membacanya 'kan?" Andreea serasa tercekik. Sudah ada seseorang yang membocorkan rencana keji Darmawan, tapi Ayah dan Ibunya tetap tidak selamat.
Anggara mengangguk. "Sepertinya sudah." Ia meyakini itu karena amplop surat di tangannya sudah tersobek di bagian atas , pertanda sudah pernah dibuka.
Andreea terisak, membuat Anshara yang tidur di sofa berjengkit kaget lalu dengan langkah lebar mendekati Andreea. "Ada apa? Apa yang terjadi?" Selain Andreea yang menangis disana , Ia juga dapat melihat jelas raut wajah Anggara yang bersedih.
Andreea menghambur ke pelukan Anshara. Ia terus terisak , padahal kemarin ia sudah berjanji tidak akan menangis lagi.
"Bawa Andreea istirahat di dalam." Anggara mengedikkan dagu ke arah sebuah pintu di ujung ruangan. Anshara tebak , itu adalah sebuah kamar seperti yang ada di ruangan Ayahnya.
"Istirahatlah dulu di kamar dengan Shara , aku akan mencari tahu tentang ini , hum?" Anggara mengusap lembut punggung Andreea dan gadis itu mengangguk sembari berlalu dari sana.
"Apa Ayah mertuaku memiliki orang kepercayaan? tanya Anggara pada Elisa.
Wanita itu mengernyit.
"Maksudku , yang bekerja dalam bayangan." Anggara seperti menangkap kebingungan Elisa.
Elisa lekas mengangguk. "Ada Tuan. Namanya Mark , dia menangani hal-hal yang tidak biasa. Ada beberapa orang juga yang bekerja dibawahnya."
Anggara mengangguk cepat. Ia bisa menangkap bahwa Mark ini tidak berbeda dengan Zack. Bekerja di balik layar untuk tugas-tugas yang tidak biasa.
"Minta dia datang menemuiku sekarang juga. Atau jika tidak mungkin, boleh besok pagi."
Elisa mengangguk. "Saya akan menghubungi dia." Ia berbalik lalu dengan cepat menghubungi seseorang yang di maksud.
__ADS_1
Damar mendekat pada Anggara. "Apa ada masalah , Tuan?" Mengingat ia juga mendengar suara tangis Andreea yang belum berhenti sampai sekarang.
Anggara mendorong pelan surat tadi , lalu memijit pelipisnya. Memberikan waktu pada Damar untuk membaca surat dari seseorang bernama Cleopatra.
Tunggu , Cleopatra? Apa itu Cleopatra yang ia kenal?
"Cari tahu tentang pengirim surat itu. Aku mengenal seseorang bernama Cleopatra saat kuliah S1 , sepertinya dia. Kau bisa mulai dari sana."
Damar mengangguk setelah tadi menyelesaikan dengan cepat bacaan suratnya. Ia juga berbalik , untuk segera menghubungi Zack.
Elisa kemudian masuk kembali ke dalam ruangan. "Mark masih di Surabaya. Tapi dia menyanggupi akan langsung terbang dan menemui Tuan paling lambat pukul tujuh malam."
Anggara mengangguk lalu dengan isyarat menyuruh Elisa keluar. Diraihnya flashdisk yang tadi ia temukan bersama surat itu, kemudian menimbang-nimbang apa perlu ia membukanya.
Anggara melirik sebentar ke arah pintu kamar yang tertutup , lalu memutar video yang ada di dalam flashdisk. Ia sengaja menggunakan earphone agar audio tidak terdengar orang lain. Ia takut sesuatu di dalam sana membuat Andreea terluka lagi.
Video itu menampilkan gambar yang bergoyang tidak jelas , seperti sedang di rekam diam-diam dengan jarak aman.
"Kecelakaan tunggal saja. Itu tidak akan mencurigakan." suara Rachel yang pertama kali terdengar saat video di putar. Di layar sana juga terlihat jelas kamera sedang menyorot punggung Rachel dan Darmawan.
Anggara mengepalkan tangannya. Ternyata ide kecelakaan muncul dari bibir Rachel. Melihat pola video , Anggara menebak si perekam sudah mendengar beberapa hal sebelum ia mulai merekam.
"Kita harus memikirkan dengan baik. Ardhani Dee bukanlah seseorang yang mudah di bunuh." Itu Darmawan yang bicara.
Benar , Ayah mertuanya bukan seorang biasa yang bisa dengan mudah di celakai. Sudah tahu begitu , tapi orang-orang itu benar-benar nekat melakukannya.
"Aku kesal sekali , kita membuang-buang waktu. Aku menyesal meninggalkan kekasihku , meski Anggara tidak terlalu kaya , tapi dia pekerja keras. Hidupku tidak akan terlalu menderita jika bersamanya."
Anggara mengernyit. Kenapa namanya di sebut-sebut.
"Berhenti merengek! Kekasihmu itu tidak akan mampu membuat keluarga kita bahagia. Setidaknya kau harus menikahi seseorang yang memiliki bisnisnya sendiri. Bukannya karyawan yang hanya menunggu gaji tiap akhir bulan!" Suara Darmawan yang memekik membuat Anggara mengetatkan rahangnya.
"Aku sangat mencintai Anggara! Jika aku tahu anak Ardhani Dee adalah seorang perempuan, aku tidak akan meninggalkan Anggara. Untuk apa selama ini Ayah menjilatnya seperti Anjing , mencari tahu tentang anaknya saja Ayah tidak bisa!"
Anggara menutup laptopnya meskipun video itu belum selesai. Ia melemparkan earphone yang tadi ia pakai ke sembarang arah. Napasnya memburu , dadanya sesak.
__ADS_1
Kematian Ayah dan Ibu mertuanya , ada sangkut pautnya dengan dirinya?
**