
Setelah membuat keributan dengan memecat dua puluh enam orang yang terlibat kecurangan di dalam perusahaan Dee Corporation, Anggara melenggang keluar gedung. Ia seperti tidak peduli saat semua karyawan menampilkan raut cemas dan ketakutan. Pemecatan besar-besaran ini, Anggara ingin semua orang mengingatnya dan di masa depan mereka akan lebih berhati-hati.
Sesampainya di gedung SG, Anggara langsung di sibukkan dengan pekerjaannya. Rapat bersama Sony Setiawan adalah yang pertama ia lakukan.
"Terima kasih banyak , Tuan. Senang bekerja sama dengan Anda." Sony menjabat tangan Anggara setelah beberapa saat lalu terjadi kesepakatan.
Anggara hanya mengangguk lalu beranjak hendak mengantar Sony keluar.
Tetapi belum sampai benar-benar keluar dari ruangan , Sony berbalik.
"Ah , maaf saya baru ingat. Beberapa hari lalu , ada dua orang yang datang ke kantor saya , mengatakan hal-hal tidak masuk akal."
Anggara mengernyit. Apa ini ada hubungannya dengan dirinya?
"Mereka menawarkan sebuah kerjasama untuk mengkhianati Anda."
"Huh?" Anggara nampak sedikit terkejut.
Sony terkekeh. "Entah orang-orang itu darimana datangnya. Mereka tidak memperkenalkan diri dengan baik. Hanya terus mengatakan tentang beberapa keuntungan jika saya mengkhianati Anda." Pria ini nampak menerawang, mengingat lagi apa yang terjadi hari itu.
"Apa aku terlihat sebodoh itu? Mengkhianati Stockholm Group, yang benar saja." Sony menggerutu pelan.
Anggara tersenyum kecil. "Jangan khawatir, aku akan suruh orang menyelidikinya."
Sony mengangguk. "Bukan hal besar. Aku juga tidak mau repot-repot memikirkannya." Ia tersenyum. "Kalau begitu saya permisi."
Setelah Sony benar-benar keluar dari ruangannya, Anggara menatap Damar yang terlihat sama bingungnya.
"Katakan pada Zack tentang apa yang kita dengar barusan. Ck. Siapa lagi yang ingin bermain-main." Anggara menggerutu sembari berjalan menuju mejanya.
Anggara membuka ponselnya yang sejak tadi belum ia sentuh. Ada banyak pesan dari Zack berisi foto-foto Andreea dan Anshara di kampus. Anggara memperhatikan satu persatu , tidak ada yang mengkhawatirkan. Anshara dan Andreea nampak beraktifitas seperti biasa. Dari beberapa video yang dikirim, juga terdengar jelas obrolan mereka. Tidak ada masalah , mereka menjalani hari seperti biasa.
Anggara melemparkan ponselnya ke atas meja. Orang-orang Zack ini, bekerja dengan baik. Mereka bisa mengawasi adik dan istrinya dari dekat. Terbukti dari banyaknya video yang mereka ambil, entah bagaimana caranya.
Damar memasuki ruangan Anggara dan segera mendekat. "Mereka orang-orang suruhan Darmawan, Tuan."
Anggara tahu, yang di maksud Damar adalah dua orang yang diceritakan Sony tadi.
"Ck. Apa dia masih memiliki uang untuk membangun tim di belakangku?"
__ADS_1
"Kami sudah mengambil semuanya. Termasuk tabungan pribadi Rachel , juga simpanan perhiasan."
Anggara mengangguk. "Abaikan saja. Lagipula Sony Setiawan tidak menanggapi mereka."
"Baik , Tuan. Menurut saya juga itu hanya tindakan impulsif tanpa rencana apapun."
**
Satu bulan berlalu sejak penangkapan Darmawan dan Rachel, Andreea sudah benar-benar mengikhlaskan semuanya. Susah payah ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa apapun yang dia lakukan, kedua orang tuanya tidak bisa kembali. Mengikhlaskan atau terus terpuruk , itu adalah pilihan.
"Sayang , bangun." Anggara mengecupi wajah istrinya yang masih bergelung di balik selimut.
Andreea hanya menggumam pelan , lalu semakin mengeratkan tubuhnya menempel pada dada Anggara. Ia menyembunyikan wajahnya disana , seperti ingin menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya.
Anggara menahan napasnya, lalu mengusap pelan pinggang Andreea. Ia masih saja gugup ketika di dekati Andreea dengan tiba-tiba begini.
"Bangun , sayang. Atau aku akan memakanmu lagi." Suaranya sudah terdengar parau. Hal normal kan jika pria mudah terpancing hasrattnya , terlebih kondisi mereka yang saling menempel tanpa pakaian dan hanya di tutupi selembar selimut.
Andreea tersenyum meski matanya masih terpejam, ia mengecupp pelan dada suaminya. Tidak , itu bukan mengecup. Ia menjilat dada suaminya seperti menjilat lolipop.
Astaga.
Andreea terkekeh, perlahan ia membuka matanya. "Aku masih mengantuk. Biarkan aku tidur sebentar lagi, hum?"
"Jangan harap!" Anggara lekas mencium bibir Andreea. Lembut, tapi semakin lama semakin menuntut.
Tangannya? Jangan ditanya , sudah pasti menjelajahi bagian-bagian tubuh istrinya yang entah sejak kapan menjadi candu.
Sudah hampir dua minggu lalu Andreea mulai menyerahkan dirinya pada Anggara. Tidak seperti kekhawatiran Anggara , momen pertama kali mereka menyatu, berjalan dengan baik. Jika mengingat hari itu, mereka hanya akan mengenang hal indah. Padahal selama ini Anggara pikir , meluluhkan hati Andreea tidak akan mudah. Ia berusaha menahan diri sebaik mungkin, agar tidak memaksa yang berujung menyakiti istrinya. Ia tidak menyangka , malam itu semua terjadi begitu saja padahal awalnya mereka hanya saling mencium dan meraba.
Andreea meremat kencang bahu Anggara ketika mencapai puncaknya, membuat Anggara menghentak semakin kuat untuk menyusul pelepasan istrinya.
"Kau suka?" Tanya Anggara saat mereka selesai dan kini berbaring miring saling berhadapan. Ia memainkan anak rambut Andreea yang nampak berantakan.
Andreea mengangguk malu-malu.
"Mau lagi?"
Andreea memukul kuat dada Anggara , lalu mendelik sebal sedangkan Anggara hanya terkekeh.
__ADS_1
"Ah , istriku ini sudah dewasa. Aku pikir , kau akan menyiksaku hingga nanti lulus kuliah."
Andreea mengernyit. "Apa selama ini, Kak Gara tersiksa?"
"Tentu saja. Ada gadis cantik dan seksi yang setiap hari berkeliaran di depanku, tidur seranjang denganku tapi tidak bisa ku sentuh."
"Ck. Kau selalu menciumku tiba-tiba."
"Maksudku ini , dan ini." Anggara meremat gemas buah dadaa dan **** ***** Andreea.
Andreea menggigit pelan bibirnya. Cepat-cepat ia menarik dirinya sebelum hasrattnya terpancing lagi.
"Salah sendiri, kenapa tidak minta." Ia memukul pelan lengan Anggara dan berniat turun dari ranjang tapi Anggara menahan lengannya dan malah menariknya semakin masuk ke dalam pelukan.
"Ah , harusnya aku minta saja?"
"Kak Gara! Sudah, aku mau mandi." Andreea memukul pelan dada Anggara.
Anggara terkekeh. Gadis ini selalu saja memukul dirinya jika sedang malu-malu.
"Katakan! Kau pernah mencuri ciuman saat aku sedang tidur?"
"Tidak pernah! Yang benar saja!" Andreea mengerucutkan bibirnya.
Anggara semakin tergelak. Di matanya, Andreea masih saja gadis remaja yang kekanak-kanakan. Sangat lucu.
"Ehm." Anggara berdehem pelan , lalu semakin memeluk erat Andreea.
Jika sudah begitu, Andreea tahu suaminya itu ingin mengatakan hal penting , jadi ia hanya diam. Menunggu apa kira-kira yang ingin dikatakan Anggara.
"Hari ini adalah sidang vonis Darmawan dan empat orang lain yang terlibat menyakiti Ayah dan Ibu." Anggara menjeda kalimatnya lalu mengusap lembut punggung Andreea , ia ingin menyalurkan ketenangan pada istrinya itu.
"Apa masih ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Atau ada yang ingin kau lakukan pada mereka?" kali ini Anggara menunduk, menatap mata Andreea yang juga sedang menatapnya.
Andreea menggeleng. "Aku sudah melepaskan semuanya. Mereka di hukum , sudah cukup untukku."
Anggara tersenyum lalu mencium bibir istrinya. "Setelah ini, ayo kita berbahagia."
Pagi ini akhirnya Anggara yakin, bahwa Andreea sudah mengikhlaskan semuanya.
__ADS_1
**